Jakarta, IDN Times - Memoar berjudul "Broken Strings" karya aktris dan penyanyi Aurelie menjadi perhatian belakangan ini. Suara Aurelie sebagai penyintas child grooming dan luka lama yang dialaminya memantik lagi pandangan soal bagaimana penanganan dan perlindungan anak di negeri ini masih jadi catatan.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan bahwa pelaku child grooming kerap memanipulasi relasi dan emosi anak hingga batas kekekerasan yang ada jadi abu-abu.
"Child grooming sering kali tidak terdeteksi sejak dini karena minimnya pengetahuan kita, orang dewasa yang berada di sekitar anak, tentang apa itu grooming. Pelaku kerap memanipulsi relasi dan emosi anak sehingga batas kekerasan menjadi kabur," kata anggota KPAI sekaligus Pengampu Klaster Anak Korban Kekerasan Seksual, Dian Sasmita dikutip Senin (19/1/2026).
