Broken Strings Aurelie, Menteri PPPA Ingatkan Bahaya Child Grooming

- Child grooming Aurelie bukti ancaman nyata masih terjadi di lingkungan masyarakat
- Praktik child grooming bisa terjadi di berbagai lingkungan dan di mana saja
- Bahkan, sekarang ini praktik child grooming makin banyak terjadi di ruang digital
Jakarta, IDN Times - Aurelie Moeremans menulis memoar pertamanya berjudul, Broken Strings. Kisah yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadinya tersebut, salah satunya menceritakan hubungan toxic serta relasi kuasa yang dialami Aureli semasa belia dengan seseorang yang disebut "Bobby".
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mengungkapkan, tulisan Aureli bisa jadi alarm kekerasan pada anak adalah nyata dan dapat terjadi pada siapa saja. Dalam kondisi itu dibutuhkan upaya bersama untuk menguatkan sistem perlindungan terhadap anak.
“Kami mengajak orang tua, pendidik, dan masyarakat untuk lebih peka, membangun komunikasi terbuka dengan anak, serta berani bertindak, jika menemukan tanda-tanda kekerasan atau grooming,” kata Menteri PPPA, Arifah Fauzi , dikutip Kamis (15/1/2026).
1. Ancaman nyata yang masih terjadi di lingkungan masyarakat

Arifah menjelaskan, child grooming dan kekerasan seksual anak adalah ancaman nyata yang masih terjadi di lingkungan masyarakat, dan butuh kewaspadaan serta peran aktif seluruh elemen, khususnya keluarga dan lingkungan terdekat anak.
“Child grooming dan kekerasan seksual terhadap anak adalah ancaman nyata dan serius yang kerap terjadi secara tersembunyi di sekitar kita. Pelaku biasanya membangun kedekatan dan kepercayaan anak secara bertahap, sebelum melakukan eksploitasi dan kekerasan,” kata dia.
2. Praktik child grooming bisa terjadi di berbagai lingkungan

Arifah mengungkapkan, praktik child grooming bisa terjadi di berbagai lingkungan, termasuk keluarga, komunitas, dan satuan pendidikan. Pola pendekatan yang wajar ini sering luput dari pengawasan.
“Pemahaman masyarakat terhadap tanda-tanda awal grooming menjadi sangat penting, dan dibutuhkan sebagai langkah pencegahan kekerasan seksual terhadap anak. Kami harapkan masyarakat bisa meningkatkan kewaspadaan dan melindungi anak-anak agar tidak terjebak dalam bujuk rayu pelaku,” kata dia.
3. Praktik child grooming makin banyak terjadi di ruang digital

Dengan perkembangan teknologi, praktik child grooming makin banyak terjadi di ruang digital. Pelaku memakai media sosial, gim daring, dan berbagai platform komunikasi untuk menjalin relasi dengan anak, menyamarkan identitas, serta memanipulasi korban secara psikologis.
“Kondisi ini menuntut pengawasan yang lebih kuat dari orang tua, guru di sekolah, lingkungan keluarga dan masyarakat, serta peningkatan literasi digital bagi anak," kata Arifah.

















