Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
KPAI: MBG Balita Tak Bisa Disamakan dengan Anak Sekolah
Wakil Ketua KPAI Jasra Putra (Dok/Istimewa)
  • KPAI mengingatkan menu MBG untuk balita perlu disesuaikan dengan usia, tekstur, bentuk, porsi, kepadatan gizi, dan kemampuan makan.

  • Pencatatan distribusi makanan belum menjamin makanan benar-benar dikonsumsi dan memberi manfaat secara biologis bagi balita.

  • Keberhasilan MBG 3B perlu dilihat dari status gizi, tumbuh kembang, serta manfaat makanan bagi ibu dan anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
24 September 2026

KPAI menyampaikan perhatian mengenai kebutuhan khusus ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dalam FGD Penguatan Pengawasan KPAI terhadap MBG 3B.

Senin (28/9/2026)

Wakil Ketua KPAI Jasra Putra mengingatkan risiko makanan tercatat tersalurkan secara administratif, tetapi tidak seluruhnya dikonsumsi balita.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    KPAI mengingatkan menu MBG untuk balita tidak bisa disamakan dengan menu bagi anak usia sekolah.
  • Who?
    Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), termasuk Wakil Ketua KPAI Jasra Putra.
  • Where?
    Perhatian tersebut disampaikan dalam FGD Penguatan Pengawasan KPAI terhadap MBG 3B.
  • When?
    FGD berlangsung pada 24 September 2026, sementara pernyataan Jasra disampaikan Senin (28/9/2026).
  • Why?
    Balita memiliki kebutuhan makanan dan kemampuan makan yang berbeda, sehingga makanan yang tersalurkan belum tentu dikonsumsi dan memberi manfaat.
  • How?
    Menu perlu disesuaikan dengan usia, tekstur, bentuk, ukuran potongan, porsi, kepadatan zat gizi, serta kemampuan makan anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

KPAI bilang makanan MBG untuk balita tidak boleh sama seperti makanan anak sekolah. Makanan harus cocok dengan umur, bentuk, tekstur, dan cara makan balita. Ada makanan yang tercatat sudah dibagikan, tetapi belum tentu habis dimakan. KPAI ingin melihat gizi dan tumbuh kembang anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perhatian KPAI memperluas ukuran keberhasilan MBG 3B, dari sekadar pencatatan distribusi menjadi pemantauan status gizi dan tumbuh kembang. Penyesuaian menu dengan kebutuhan balita juga membuka ruang agar makanan yang diberikan lebih sesuai dengan kemampuan makan dan manfaat yang diharapkan bagi anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengingatkan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk balita tidak bisa disamakan dengan menu bagi anak usia sekolah. Selain jumlah dan gramasi, makanan harus disesuaikan dengan usia, tekstur, bentuk dan kemampuan makan anak.

Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra, mengatakan, ada risiko makanan tercatat tersalurkan secara administratif, tetapi tidak seluruhnya dikonsumsi balita karena bentuk atau teksturnya tidak sesuai.

“Jangan sampai secara administrasi makanan terserap 100 persen, tetapi secara biologis manfaatnya tidak sampai kepada anak. Ini yang harus kita cegah,” kata Jasra, Senin (28/9/2026).

1. Kebutuhan balita berbeda

Petugas Posyandu desa ukur, timbang balita. IDN Times/Riyanto.

KPAI menyampaikan hal tersebut dalam FGD Penguatan Pengawasan KPAI terhadap MBG 3B pada 24 September 2026. Dalam forum itu, KPAI membahas kebutuhan khusus ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sebagai penerima manfaat.

KPAI menilai balita memiliki kebutuhan makanan yang berbeda dengan anak usia sekolah. Karena itu, jenis makanan, tekstur, ukuran potongan, porsi, kepadatan zat gizi hingga cara pemberian perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan makan anak.

2. Waspadai sharing plate

Penerima manfaat “Sop Matahari”, yang menjadi andalan warga untuk memenuhi kebutuhan gizi balita dan ibu hamil. IDN Times/Riyanto.

KPAI mengingatkan adanya risiko sharing plate problem. Kondisi ini terjadi ketika makanan secara administratif tercatat tersalurkan, tetapi makanan tidak seluruhnya benar-benar dikonsumsi balita.

Menurut KPAI, persoalan tersebut perlu diperhitungkan dalam desain menu MBG.

“Jangan sampai secara administrasi makanan terserap 100 persen, tetapi secara biologis manfaatnya tidak sampai kepada anak. Ini yang harus kita cegah,” kata Jasra.

Oleh karena itu, standar menu balita menurut KPAI tidak cukup hanya mencantumkan jumlah atau gramasi. Aspek usia, tekstur, bentuk, kepadatan zat gizi dan kemampuan makan anak juga perlu menjadi perhatian.

3. Ukuran keberhasilan bukan porsi

Konferensi Pers KPAI di momen Hari Anak Nasional (HAN) 2025 (Youtube/KPAI)

Jasra meminta pelaksanaan MBG 3B tidak berhenti pada pencatatan distribusi makanan. KPAI mendorong pemantauan status gizi dan tumbuh kembang untuk melihat apakah intervensi benar-benar memberikan manfaat bagi penerima.

“Ukuran keberhasilan MBG 3B pada akhirnya bukan berapa banyak makanan yang dibagikan. Ukurannya adalah apakah ibu dan anak mendapatkan makanan yang aman, tepat, bermutu dan memberikan manfaat bagi kesehatan serta tumbuh kembangnya. Karena kesempatan pada 1.000 hari pertama kehidupan tidak bisa kita ulang,” kata Jasra.

Curated For You

Editorial Team

Related Article