Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
KSP Dudung Anggap Ricuh di Aceh Ulang Segelintir Oknum
Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman (IDN Times/Ilman Nafi'an)
  • KSP Dudung Abdurachman menyebut kericuhan hingga penurunan Merah Putih di Aceh dilakukan segelintir oknum, sementara masyarakat Aceh dinilainya mendukung NKRI.
  • Dudung menyatakan situasi Aceh telah kondusif dan Merah Putih kembali dikibarkan pada hari yang sama. Pemerintah pusat berkoordinasi dengan Pemprov Aceh untuk memperbaiki berbagai persoalan masyarakat.
  • Kericuhan terjadi saat peringatan 21 tahun perdamaian RI-GAM di Banda Aceh, ketika massa mengibarkan Bendera Bulan Bintang, PBB, dan putih, serta menyuarakan tuntutan politik dan lingkungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman, mengatakan kericuhan berujung penurunan bendera Merah Putih di Aceh, pada Sabtu (15/8/2026) dilakukan oleh segelintir oknum. Menurutnya, rakyat Aceh pro terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kalau menurut saya itu hanya oknum-oknum aja. Rakyat Aceh itu NKRI. Dan itu memanfaatkan situasi, emang tanggal 15 Agustus itu kan hari perdamaian ya, cuman ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan. Itu hanya segelintir oknum saja," ujar Dudung di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.

Dudung memastikan, suasana di Aceh sudah kondusif. Menurutnya di hari yang sama saat kericuhan, bendera Merah Putih juga kembali dikibarkan di Aceh.

"Kondusif sudah, kan tidak lama terus kemudian Merah Putih berkibar lagi," ucap dia.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas), Yusril Ihza Mahendra, mengatakan pemerintah pusat terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Aceh terkait masalah yang terjadi.

"Dan tentu juga, kita akan bekerja bersama-sama mengatasi berbagai kekurangan yang terdapat di dalam masyarakat yang menjadi tugas kita bersama untuk perbaiki keadaan," kata Yusril.

Sebelumnya, kericuhan bermula saat massa yang berkumpul memperingati 21 tahun perdamaian antara Republik Indonesia (RI) dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, mulai mengibarkan Bendera Bulan Bintang pada Sabtu (15/8/2026). Selain itu, bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan bendera putih juga turut dikibarkan.

Berdasarkan laporan IDN Times di Aceh, ribuan warga telah berkumpul sejak usai Salat Subuh untuk mengikuti doa dan zikir bersama dalam rangka memperingati perdamaian Aceh. Selain berdoa dan berzikir, sejumlah massa juga menyampaikan orasi mengenai kondisi Aceh, termasuk persoalan lingkungan dan tuntutan politik.

Tidak lama kemudian, massa mulai mengeluarkan Bendera Bulan Bintang dan membentangkan sambil berjalan jalan di halaman masjid raya kebanggaan masyarakat Tanah Rencong tersebut.

Tidak hanya membentangkan bendera, teriakan merdeka juga mewarna kegiatan doa bersama dan zikir dalam memperingati 21 tahun antara Republik Indonesia (RI) dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Massa juga turut membawa spanduk berisi pesan-pesan, di antaranya "Homeland or Death", "Aceh Call For The World", "Acheh Has Every Right To Be", "Self Determination We Want to Stand Alone as s Sove Pelan Nation".

Editorial Team

Related Article