Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Lirih Ibu Kandung Nizam Bocah Sukabumi di DPR: Anak Saya Ingin Keadilan
Komisi III DPR menggelar audiensi bersama ibu kandung almarhum Nizam Syafei, seorang bocah asal Kabupaten Sukabumi yang diduga disiksa oleh ibu tirinya hingga merenggang nyawa. (IDN Times/Amir Faisol).
  • Lisnawati, ibu kandung NS, menyampaikan harapannya di Komisi III DPR agar kematian anaknya yang diduga akibat penganiayaan ibu tiri mendapat keadilan.
  • Ketua Komisi III DPR Habiburokhman berjanji akan mengawal kasus ini secara penuh dan memastikan proses hukum berjalan adil bagi korban.
  • Kuasa hukum Lisnawati mengungkap sejumlah kejanggalan, termasuk luka-luka pada tubuh NS serta sikap ayah korban yang tidak hadir saat pemakaman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ibu kandung bocah NS (14) yang tewas karena diduga dianiaya ibu tiri di Sukabumi, Lisnawati, menyampaikan harapannya ke Komisi III DPR. Lisnawati ingin sang anak mendapatkan keadilan.

"Saya hanya anak.... anak saya pengin dapat keadilan yang setimpal," lirih Lisnawati dalam rapat di Komisi III DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026).

Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman menyatakan akan mengawal kasus ini. Ia memastikan akan memperjuangan keadilan bagi NS.

"Tentu Bu, kita all out untuk memperjuangkan keadilan untuk anak Ibu," tutur Habiburokhman.

Sementara itu, kuasa hukum Lisnawati, Mira Widyawati, dalam rapat tersebut turut mengungkap kejanggalan di balik tewasnya NS, termasuk luka lebam hingga luka bakar di tubuh korban.

"Kejanggalan itu berupa luka-luka lebam (bekas) tumpul dan luka bakar di luar. Kemudian pada saat kejadian, Ibu Lisnawati itu dipanggil atau ditelepon oleh mantan suaminya atau Bapak AS, di-chat untuk datang ke rumah sakit untuk melihat anaknya pada kondisi dia sakit, belum meninggal," ujar Mira.

Ia menyebut, sebelum kematian NS pada 18 Februari 2026, ayahnya sempat berbicara soal pemakaman ke Lisnawati. Sang ayah disebut meminta maaf jika usia anak ini tak panjang.

"Jadi pada tanggal 15 Pak, Februari, mereka ada chat. Chat-nya itu isinya bahwa ini anaknya sakit katanya, dalam bahasa Sunda, Pak. Tapi kalau diterjemahkan begitu," ujar Mira.

"Terus kata klien kami, 'apa sudah dibawa ke dokter?', 'Belum' katanya gitu. 'Kenapa?', 'Nggak ada waktu,' begitu. Kemudian lanjut ada lagi WhatsApp selanjutnya, 'Minta maaf ya kalau misalnya anak ini tidak panjang umur'. Minta maaf, dan mungkin akan dimakamkan di makam keluarga ini namanya, dekat makam bapaknya atau kakek dia," kata dia.

Selain itu, kliennya disebut baru mendapat kabar lagi di hari kematian sang anak. Berdasarkan klaim sang ayah, korban NS mengalami sakit paru-paru. Selama empat tahun, Lisnawati sulit berkomunikasi dengan sang anak. Ibu kandungnya melihat NS dalam kondisi sudah meninggal dunia dan dikafani.

Mira juga menyertakan kejanggalan lain, yaitu saat ayah NS tak menghadiri pemakaman. Pihaknya mempertanyakan sikap dari ayah NS.

"Jadi empat tahun terakhir mereka tidak bertemu, bertemu-temu sudah menjadi jenazah anak ini, begitu. Nah, di situ di acara pemakaman, Bapak kandungnya tidak hadir, Pak. Tidak ada. Entah ke mana, begitu. Jadi itu kejanggalan yang kita terima," kata dia.

Editorial Team