Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Selat Hormuz Dibuka Lagi, Ranjau Iran Masih Jadi Ancaman

Selat Hormuz Dibuka Lagi, Ranjau Iran Masih Jadi Ancaman
Kapal-kapal sedang berlayar di Selat Hormuz. (commons.wikimedia.org/MC2 Indra Beaufort)
Intinya Sih
  • Iran setuju membuka kembali Selat Hormuz lewat draf kesepakatan perdamaian dengan AS yang dijadwalkan ditandatangani pada 19 Juni 2026, memberi harapan baru bagi pasokan minyak global.
  • Meski dibuka, Selat Hormuz belum aman karena masih dipenuhi ranjau laut buatan Iran; angkatan laut AS telah menemukan sepuluh ranjau jenis Maham 3 dan Maham 7 di wilayah tersebut.
  • Pembersihan ranjau diperkirakan memakan waktu 40–50 hari, sementara operasi militer AS dengan kapal USS Frank E. Peterson dan USS Michael Murphy terus dilakukan untuk mensterilkan jalur pelayaran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Iran akhirnya bersedia kembali membuka Selat Hormuz. Kesediaan itu tertuang dalam draf kesepakatan perdamaian yang akan ditandatangani bersama Amerika Serikat pada Jumat (19/6/2026) mendatang. Kesepakatan ini menjadi harapan baru bagi dunia untuk kembali mendapatkan pasokan minyak dari Timur Tengah. Sebab, jika Selat Hormuz dibuka, kapal-kapal tanker bisa dengan mudah memasok minyak dari Timur Tengah ke pasar global, termasuk ke Indonesia. 

Sayangnya, harapan itu kemungkinan besar harus ditunda lagi. Sebab, kendati Selat Hormuz sudah dibuka, masih ada satu masalah yang harus diselesaikan sebelum kapal-kapal minyak bisa kembali berlayar di sana dengan bebas. Masalah itu adalah ranjau-ranjau yang dipasang oleh Iran. Selat Hormuz rupanya belum dinyatakan aman dilalui oleh kapal karena masih banyak ranjau laut yang dipasang Iran di sana.

1. Jumlah ranjau laut Iran di Selat Hormuz belum diketahui pasti

Ranjau laut.
potret ranjau laut (commons.wikimedia.org/The wub)

Hingga saat ini, belum ada informasi soal berapa jumlah pasti ranjau laut yang dipasang Iran di Selat Hormuz. Namun, sejumlah pihak menduga bahwa Iran telah memasang banyak ranjau di salah satu jalur perdagangan strategis global tersebut. Inilah yang menjadi ancaman bagi kapal-kapal yang akan atau sedang berlayar di sana.

Pada 20 Mei lalu, angkatan laut AS dilaporkan telah menemukan sepuluh ranjau yang ditebar Iran di sekitar Selat Hormuz. AS berhasil menemukan ranjau tersebut berkat penyelidikan yang dilakukan pihak intelijen. Sepuluh ranjau yang ditemukan angkatan laut AS di Selat Hormuz terdiri dari ranjau Maham 3 dan ranjau Maham 7.  

2. Pembersihan ranjau Iran butuh waktu 40 sampai 50 hari

Ranjau laut.
potret ranjau laut (commons.wikimedia.org/Eszcze)

Agar Selat Hormuz kembali aman untuk dilalui kapal, maka hal utama yang wajib dilakukan adalah membasmi semua ranjau Iran yang dipasang di sana. Namun, hal itu tentu tidak mudah dilakukan. Sebab, menemukan ranjau yang disebar Iran di Selat Hormuz bukan perkara mudah. 

Dilansir Jerusalem Post, Senin (15/6/2026), butuh waktu sekitar 40 sampai 50 hari bagi siapa pun yang ingin menyusuri Selat Hormuz untuk menemukan dan membasmi ranjau Iran. Jika operasi ini dilakukan, maka kapal-kapal juga harus menunggu 40 sampai 50 hari sampai mereka bisa kembali berlayar bebas di Selat Hormuz.   

3. Iran memasang ranjau sebagai upaya mengamankan Selat Hormuz

Peta Selat Hormuz.
potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en)

Iran sendiri memasang banyak ranjau laut sebagai upaya untuk mengamankan Selat Hormuz. Langkah ini sudah dilakukan sejak Iran mulai menutup Selat Hormuz pada awal Maret sebagai balasan atas serangan AS dan Israel ke Ibu Kota Teheran. Praktik ini membuat Selat Hormuz jadi tidak aman dilalui kapal dari negara mana pun. 

Untuk membasmi ranjau Iran, AS sudah mulai melakukan operasi militer di Selat Hormuz sejak awal April. Menurut keterangan Komando Tengah AS (CENTCOM), operasi pembasmian ranjau tersebut dilakukan dengan menerjunkan kapal USS Frank E. Peterson dan USS Michael Murphy. Dua kapal tersebut dikabarkan punya kemampuan untuk menghancurkan rudal dan ranjau laut.   

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More