Prof. Ward Berenschot KITLV selaku penulis saat memaparkan hasil ilmiahnya dalam laporan "The Price of Power: Membongkar dan Mengatasi Kuasa Uang dalam Pilkada di Indonesia", di Hotel Erian, Menteng, Jakarta, Senin (29/6/2026). (IDN Times/Rochmanudin)
Para pemenang Pilkada 2024 menghabiskan rata-rata Rp27,4 miliar atau sekitar 1,6 juta dolar AS untuk berkampanye. Jumlah ini semakin tinggi jika ditambahkan dengan alokasi pembiayaan untuk mendapatkan tiket pencalonan dari partai politik atau mahar politik.
"Jika biaya untuk mendapatkan tiket pencalonan tersebut dimasukkan, total pengeluaran meningkat menjadi Rp36,8 miliar atau sekitar 2,1 juta dolar AS," ujar penulis lainnya, Ward Berenschot, Profesor Antropologi Politik Komparatif dari Universitas Amsterdam, dalam kesempatan yang sama.
"Jumlah tersebut kira-kira 7.400 persen dari rata-rata gaji tahunan para bupati dan walikota di Indonesia, dan 468 kali pendapatan tahunan rata-rata warga negara Indonesia," sambung Ward.
Bahkan, menurut peneliti senior Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Asia Tenggara dan Karibia (KITLV) itu, laporan dana kampanye yang resmi ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) secara luas tidak mampu menangkap realitas ini.
"Indonesia Corruption Watch (ICW), misalnya, menemukan fakta bahwa pengeluaran dana kampanye yang dilaporkan jarang melebihi Rp3,5 miliar. Jumlah yang tentu saja sangat kecil jika dibandingkan dengan biaya riil dikeluarkan oleh para kandidat," kata dia.
Dalam laporan tersebut dijelaskan pengeluaran dana kampanye sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dalam memenangkan Pilkada. Data dari riset ini menunjukkan 78 persen pemenang Pilkada 2024 memiliki dana kampanye tinggi.
Selain itu, setiap tambahan pengeluaran sebesar Rp1 miliar oleh sepasang kandidat dibandingkan dengan sepasang kandidat yang lain di wilayah yang sama, berdampak pada peningkatan 0,8 persentase dalam perolehan suara.
Dalam perbandingan internasional, total pengeluaran untuk setiap pemilih di Indonesia yang sebesar 10,53 dolar AS dari para kandidat yang menang, ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain seperti Liberia (7,18 dolar AS), Pakistan (0,80 dolar AS), India (0,60 dolar AS) dan Kenya (0,74 dolar AS).