Jakarta, IDN Times - Dewan Perdamaian (BoP) Gaza dikabarkan bakal mulai mengelola pusat pengungsian warga Palestina yang ada di Gaza. Menurut laporan media Israel, Israel Hayom, Selasa (30/6/2026), kebijakan ini bakal dimulai dalam beberapa pekan ke depan. Kebijakan ini akan membuat seluruh pengungsian di Gaza tidak lagi dikelola oleh Hamas.
Tak Lagi Hamas, BoP Bakal Mulai Kelola Pusat Pengungsian di Gaza

- Dewan Perdamaian (BoP) Gaza akan mengambil alih pengelolaan pusat pengungsian dari Hamas, dimulai di Tel Al-Sultan dengan dukungan pasukan perdamaian internasional International Stabilization Force.
- Kebijakan ini menjadi langkah awal BoP membentuk pemerintahan transisi di Gaza serta memulai rekonstruksi wilayah dengan dana sumbangan dari UEA, Qatar, Arab Saudi, Kuwait, dan Amerika Serikat.
- Upaya rekonstruksi Gaza terhambat karena sebagian besar negara penyumbang belum menyerahkan dana yang dijanjikan, sementara Presiden AS Donald Trump menyebut belum ada dana tersedia untuk proyek tersebut.
BoP bakal mulai mengelola semua pusat pengungsian di Gaza secara bertahap. Untuk tahap pertama, BoP akan mulai mengelola pusat pengungsian di Tel Al-Sultan, sebuah wilayah yang ada di dekat Kota Rafah. BoP bakal menugaskan pasukan perdamaian internasional bernama International Stabilization Force di sekitar pengungsian tersebut.
1. Pasukan perdamaian di sekitar pengungsian Gaza bakal menggantikan tugas IDF

Keberadaan International Stabilization Force di sekitar pusat pengungsian yang ada di Gaza bakal menggantikan tugas pasukan pertahanan Israel (IDF). Sebab, IDF akan fokus menjaga Yellow Line. Yellow Line sendiri merupakan garis demiliterisasi yang memisahkan Gaza menjadi dua bagian. Bagian barat dikuasai oleh otoritas Palestina, sedangkan bagian timur dikuasai oleh Israel.
Dilansir Anadolu Agency, BoP juga bakal menambah fasilitas umum yang ada di pengungsian Gaza. Beberapa di antaranya, seperti karavan dan pusat medis. Sebab, kedua fasilitas tersebut sangat penting bagi kemaslahatan warga Palestina yang sedang mengungsi di Gaza.
2. BoP ingin mulai mengontrol Gaza

Kebijakan pengelolaan pusat pengungsian di Gaza ini merupakan langkah BoP untuk membuat pemerintahan transisi di wilayah tersebut. Sebab, BoP tidak ingin Gaza terus dikuasai oleh Hamas. BoP menilai milisi itu kerap melakukan serangan ke IDF sehingga menganggu gencatan senjata dan upaya perdamaian.
Di sisi lain, BoP juga berencana untuk segera merekonstruksi Gaza. Sebab, itu merupakan tujuan utama mengapa BoP didirikan pada Februari lalu. BoP bakal menggunakan dana dari sejumlah negara anggota yang bersedia menyumbang untuk merekonstruksi Gaza. Negara-negara itu terdiri dari Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Arab Saudi, Kuwait, dan Amerika Serikat.
3. Anggota BoP banyak yang belum menyerahkan uang sumbangan

Namun, cita-cita rekonstruksi Gaza oleh BoP tadi agak sedikit terhambat. Sebab, banyak negara-negara penyumbang yang hingga kini belum menyerahkan sumbangan dananya kepada BoP.
Oleh karena itu, BoP meminta semua negara yang sudah bersedia menyumbang dana untuk rekonstruksi Gaza agar segera menyerahkan sumbangannya. Sebab, jika tidak ada dana, maka rekonstruksi Gaza tidak akan terwujud. Terlebih, Presiden AS, Donald Trump, yang juga merangkap jabatan sebagai Ketua BoP, mengatakan bahwa dana untuk merekonstruksi Gaza sama sekali tidak ada.

















