Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
OTT BNPB Terkait DSP Kebencanaan, Anggota DPR Singgung Hukuman Mati
Anggota Komisi III DPR RI Abdullah. (Dok. Media PKB)
  • Abdullah kecewa terhadap OTT KPK di lingkungan BNPB yang berkaitan dengan dugaan penyalahgunaan dana siap pakai kebencanaan.

  • Ia meminta KPK bekerja sama dengan BPK untuk mengaudit tata kelola keuangan BNPB secara menyeluruh.

  • KPK menetapkan lima tersangka dan menyita uang, emas, serta aset kripto dalam perkara tersebut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
sejak tahun 2022

Abdullah menyebut praktik dugaan korupsi di BNPB diinformasikan terjadi sejak tahun 2022. Ia meminta KPK menelusuri kemungkinan korupsi saat bencana nasional pada periode tersebut.

Rabu (14/10/2026)

Ketua KPK Setyo Budiyanto menyampaikan temuan uang, emas, dan aset kripto setelah tangkap tangan di Sleman, DI Yogyakarta.

Kamis (15/10/2026)

Abdullah menyatakan kecewa terhadap OTT KPK di lingkungan BNPB dan meminta audit menyeluruh atas tata kelola keuangan BNPB.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    OTT KPK di lingkungan BNPB mengungkap dugaan penyalahgunaan Dana Siap Pakai untuk penanganan bencana.
  • Who?
    Abdullah, KPK, BPK, lima tersangka, termasuk Bima Setyawan yang disebut sebagai adik Kepala BNPB.
  • Where?
    Di lingkungan BNPB; keterangan Ketua KPK disampaikan di Sleman, DI Yogyakarta.
  • When?
    Dugaan praktik disebut terjadi sejak tahun 2022, sedangkan keterangan terkait OTT disampaikan pada 14 dan 15 Oktober 2026.
  • Why?
    Dugaan korupsi berkaitan dengan penyalahgunaan dana siap pakai dan proses pengadaan dalam kondisi darurat bencana.
  • How?
    KPK melakukan OTT, menetapkan lima tersangka, serta menyita uang Rp3,3 miliar, emas, dan aset kripto.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Abdullah kecewa karena ada OTT KPK di BNPB saat banyak orang menghadapi kebakaran hutan. Uang bencana diduga dipakai tidak sesuai. KPK menetapkan lima tersangka, termasuk adik Kepala BNPB. KPK juga menemukan uang, emas, dan aset kripto. Sekarang perkara ini masih diproses dan diminta diaudit lebih luas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Permintaan Abdullah agar KPK berkoordinasi dengan BPK membuka ruang pemeriksaan yang lebih menyeluruh terhadap tata kelola keuangan BNPB. Langkah tersebut dapat membantu memastikan penggunaan dana siap pakai diperiksa sesuai kebutuhan, tepat sasaran, dan tidak disalahgunakan, sementara proses hukum tetap berjalan berdasarkan bukti serta ketentuan yang berlaku.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah kecewa dengan operasi tangkap tangan (OTT) di lingkungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Korupsi di BNPB diduga terkait penggunaan dana siap pakai (DSP) kebencanaan.

Kasus ini terungkap ketika masyarakat di sejumlah wilayah masih berjibaku dengan ‘badai’ kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Saya sangat kecewa dengan peristiwa OTT KPK di lingkungan BNPB. Jika terbukti korupsi, iblis pun minder melihat perbuatan seperti itu,” kata Abdullah kepada wartawan, Kamis (15/10/2026).

“Di saat masyarakat di sejumlah daerah sedang berjuang menghadapi Karhutla berkepanjangan dengan dampak yang sangat parah, kita justru mendapati dana kebencanaan disalahgunakan,” imbuh dia.

1. KPK diminta gandeng BPK untuk audit keuangan BNPB

Ilustrasi OTT KPK. (IDN Times/Anjani Asra)

Abdullah meminta KPK tidak berhenti pada penanganan perkara ini saja. KPK didesak untuk mendalami lebih jauh terkait kemungkinan adanya penyimpangan dalam pengelolaan anggaran di sektor lain di lingkungan BNPB.

Dalam OTT tersebut, KPK turut meringkus Bima Setyawan— adik dari Kepala BNPB Suharyanto. Adapun, barang bukti yang disita berupa uang Rp3,3 miliar, ratusan gram emas, hingga kripto dengan nilai hingga Rp1 miliar.

“Saya mendesak KPK berkoordinasi dengan BPK untuk melakukan audit menyeluruh terhadap tata kelola keuangan BNPB. Audit ini penting untuk memastikan anggaran penanganan bencana digunakan sesuai kebutuhan, tepat sasaran, dan tidak disalahgunakan,” kata dia.

2. Singgung penerapan hukuman mati karena korupsi anggaran kebencanaan

Uang yang disita dari OTT KPK dalam kasus suap di lingkungan ATR/BPR di Kabupaten Bogor (IDN Times/Lia Hutasoit)

Abdullah menyebut, praktik rasuah di BNPB ini diduga telah berlangsung selama tiga hingga empat tahun terakhir. Obyek dugaan korupsinya berpusat di penyalahgunaan anggaran taktis dana siap pakai yang ditujukan untuk kondisi darurat bencana.

Para pelaku diduga memanfaatkan status kedaruratan yang membolehkan mekanisme penunjukan langsung dengan memanipulasi pengadaan tersebut demi mengeruk keuntungan pribadi.

Abduh kemudian menyinggung soal penerapan Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor).

Beleid itu mengatur kemungkinan penerapan hukuman mati dalam keadaan tertentu, termasuk ketika korupsi dilakukan saat terjadi bencana nasional. Meski saat ini Karhutla belum ditetapkan sebagai bencana nasional, Abduh menyinggung soal periode dugaan korupsi dilakukan.

“Kan informasinya praktik dugaan korupsi ini terjadi sejak tahun 2022. Maka KPK perlu telusuri, apakah ada tindakan korupsi yang dilakukan saat terjadi bencana nasional pada periode tersebut,” ujarnya.

“Memang penerapannya memiliki syarat dan tantangan hukum yang ketat, termasuk isu sol Hak Asasi Manusia (HAM), namun yang perlu digarasbawahi adalah, Indonesia punya aturan mengenai ancaman pidana mati terhadap pelaku korupsi dalam keadaan tertentu, termasuk saat bencana nasional,” imbuh dia.

3. KPK tetapkan 5 tersangka, ada adik Kepala BNPB

Ketua KPK Setyo Budiyanto. (IDN Times/Aryodamar)

Dalam kasus ini, KPK menetapkan lima tersangka dugaan korupsi usai OTT di BNPB. Mereka ialah Gabriel Purwaka Sigit selaku Kasubdit Pengelolaan Bantuan dan Kedaruratan BNPB sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Gabriel Purwaka Sigit, Bima Setyawan selaku adik Kepala BNPB Letjen Suharyanto, Bima Setyawan selaku Tenaga ahli Suharyanto, Richard Erlangga, serta dua pihak swasta yakni Gery dan Syifa.

Ketua KPK, Setyo Budiyanto mengungkapkan, ada sejumlah bukti yang ditemukan ketika tangkap tangan berlangsung. Antara lain uang Rp3,3 miliar, emas seberat ratusan gram, hingga aset kripto.

"Itu dari beberapa pihak, gitu. Tapi spesifikasinya atau detailnya pihak-pihak siapa apa segala macam ya nanti silakan menghubungi jubir atau ke Deputi Penindakan," ujar Setyo di Sleman, DI Yogyakarta, Rabu (14/10/2026).

Setyo menjelaskan, ada dua klaster dugaan korupsi dalam perkara ini. Pertama mengenai konflik kepentingan dan kedua soal suap. Berdasarkan gelar perkara, diduga terjadi penyalahgunaan Dana Siap Pakai (DSP) yang disalahgunakan.

"Dari dana siap pakai inilah kemudian ada proses-proses yang seharusnya dilakukan sesuai dengan ketentuan. Meskipun kami juga melihat ada beberapa persyaratan untuk bisa menggunakan dana siap pakai ini," jelasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article