Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Panas Perkotaan Makin Mengancam, BMKG Hadapi Tantangan Data
Agenda diseminasi riset adaptasi panas perkotaan yang diselenggarakan Rujak Center for Urban Studies, Yayasan Kota Kita dan Arkom Indonesia, di Jakarta, Kamis (22/10/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit)
  • BMKG masih mengembangkan prediksi dan peringatan dini panas dengan informasi yang lebih terperinci hingga tingkat bangunan dan individu.

  • Data panas dihimpun dari stasiun pengamatan, satelit, dan pemodelan, tetapi kepadatan jaringan pengamatan belum merata.

  • Risiko panas berbeda di setiap wilayah karena faktor geografis, lingkungan, bangunan, ventilasi, dan unsur iklim lainnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kamis (22/10/2026)

Diseminasi riset adaptasi panas perkotaan diselenggarakan di Jakarta oleh Rujak Center for Urban Studies, Yayasan Kota Kita, dan Arkom Indonesia. Dalam agenda itu, BMKG mengungkap tantangan pengembangan prediksi dan peringatan dini panas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    BMKG mengembangkan sistem prediksi dan peringatan dini panas ekstrem yang lebih terperinci hingga tingkat bangunan dan individu.
  • Who?
    BMKG, termasuk perwakilan Direktorat Layanan Iklim BMKG, I Dewa Gede Arya Putra, bersama sejumlah institusi.
  • Where?
    Agenda diseminasi riset adaptasi panas perkotaan berlangsung di Jakarta.
  • When?
    Kamis (22/10/2026).
  • Why?
    Informasi panas perlu diterjemahkan menjadi langkah perlindungan masyarakat dan perlu mempertimbangkan kondisi setiap wilayah.
  • How?
    BMKG menggunakan stasiun pengamatan cuaca, satelit, dan pemodelan, serta bekerja sama dengan perguruan tinggi dan dinas kesehatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

BMKG sedang membuat tanda bahaya saat udara sangat panas. Mereka memakai alat cuaca, satelit, dan komputer. Tetapi, mereka masih sulit memberi tahu panas sampai ke setiap rumah dan orang. Panas di tiap tempat juga bisa berbeda karena angin, bentuk bangunan, dan ventilasi. BMKG bekerja dengan kampus dan dinas kesehatan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pengembangan sistem peringatan dini panas menunjukkan adanya upaya untuk membuat informasi cuaca lebih berguna bagi masyarakat. Kerja sama BMKG dengan perguruan tinggi dan dinas kesehatan juga membuka ruang penerjemahan data meteorologi ke langkah perlindungan. Data iklim yang mendukung desain bangunan dan pendinginan pasif turut memperluas pemanfaatannya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan sistem prediksi dan peringatan dini panas ekstrem masih dikembangkan. Salah satu tantangannya adalah menyediakan informasi yang lebih terperinci hingga tingkat bangunan dan menerjemahkan data cuaca menjadi langkah perlindungan bagi masyarakat.

“Untuk menurunkan lagi ke tingkat bangunan itu masih menjadi tantangan ya. Untuk menurunkan lagi sampai ke tingkat perorangan, bangunan, dan level yang lebih kecil itu masih menjadi tantangan,” kata perwakilan Direktorat Layanan Iklim BMKG, I Dewa Gede Arya Putra dalam agenda diseminasi riset adaptasi panas perkotaan yang diselenggarakan Rujak Center for Urban Studies, Yayasan Kota Kita, dan Arkom Indonesia, di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

1. Peringatan dini panas masih dikembangkan

Cuaca panas di Kota Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)

BMKG menyatakan produk prediksi dan peringatan dini panas masih dalam tahap pengembangan. Informasi tersebut disiapkan melalui kerja sama dengan sejumlah institusi, termasuk perguruan tinggi dan dinas kesehatan, agar data meteorologi bisa diterjemahkan menjadi langkah perlindungan bagi masyarakat.

“Perlu ditekankan juga bahwa informasi panas itu bukan cuma berasal dari suhu saja, karena di dalamnya ada beberapa komponen ya, karena panas itu bisa disebabkan oleh suhu, kemudian gabungan dari relatif humidity, kemudian siang hari itu berdasarkan radiasi dari matahari, kemudian pada malam hari juga berdasarkan dari radiasi bumi," ujar dia.

2. Data panas belum terperinci hingga bangunan

ilustrasi cuaca panas (pexels.com/Fatih Turan)

BMKG memanfaatkan stasiun pengamatan cuaca, satelit, serta pemodelan untuk memperkirakan kondisi cuaca dan iklim. Namun, kepadatan jaringan pengamatan belum merata. Informasi yang tersedia juga masih menghadapi tantangan ketika harus diturunkan hingga tingkat bangunan dan individu

Dia menyebut penambahan alat pengamatan dapat memperkuat ketepatan informasi. Namun, pengadaan instrumen tersebut membutuhkan dukungan anggaran, sehingga pemetaan panas di kawasan padat penduduk masih menjadi pekerjaan yang perlu diperkuat.

3. Suhu tinggi tidak selalu berarti risiko panas sama

Cuaca panas di Kota Manado, Sulawesi Utara. IDNTimes/Savi

Menurut BMKG, kondisi geografis dan karakter lingkungan membuat pengalaman panas setiap wilayah berbeda. Kawasan pesisir, misalnya, memiliki karakter paparan angin yang berbeda dari pusat kota. Orientasi bangunan dan ventilasi turut memengaruhi sirkulasi udara serta kenyamanan penghuni.

“Jadi, mungkin informasi selama ini adalah secara makro. Kita kalau misalnya belum scaling lagi ke tingkat sampai ke tingkat desa atau tingkat bangunan, nah itu akan berbeda lagi," kata dia.

Karena itu, informasi suhu perlu dilengkapi indikator kenyamanan termal yang mempertimbangkan berbagai unsur iklim. BMKG juga memiliki data iklim yang dapat digunakan untuk mendukung desain bangunan, termasuk penerapan pendinginan pasif.

“Ya, jadi memang masih menjadi tantangan bagaimana mengkonversi, suhunya sudah overheat itu menjadi tindakan nyata di lapangan, gitu. Nah, itu perlu koordinasi lintas sektoral," kata dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article