Jakarta, IDN Times - Pemerintah membentuk satuan tugas khusus operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menanggulangi bencana kebakaran hutan dan lahan di akhir 2026. Desk terpadu yang terdiri dari sejumlah lembaga merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto langsung dalam rapat terbatas pada minggu lalu.
Desk terpadu itu terdiri dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), TNI, Kepolisian, Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Kehutanan. Satgas itu diputuskan mulai efektif dibentuk pada 18 Oktober 2026 lalu.
Salah satu langkah yang diputuskan bersama untuk membantu penanggulangan karhutla yaitu penggunaan dry ice atau es kering untuk disemai dari udara. Di saat yang bersamaan, satgas tersebut juga menyemai garam NaCl agar terjadi hujan buatan.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo mengatakan penyemaian es kering difokuskan di dua provinsi yakni Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah. Sebab, sumber api di dua provinsi itu masih cukup banyak. Apalagi sejumlah bandara komersial di dua provinsi itu lumpuh akibat diselimuti kabut asap.
"Oleh karena itu tim Desk Terpadu mengusulkan metode baru untuk modifikasi cuaca dengan menggunakan dry ice," ungkap Budi di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur pada Rabu (21/10/2026).
"Tujuannya untuk memecah lapisan inversi dengan harapan lapisan inversi itu kemudian bisa terbuka meskipun tidak ada hujan. Begitu lapisan inversi terbuka, asap (dari karhutla) yang tadinya terhalang oleh lapisan inversi dan cukup pekat di bawah bisa sedikit terurai naik ke atas," imbunnya.
Harapan satgas bila hal itu bisa terjadi maka sinar matahari bisa masuk sehingga proses terjadinya hujan bisa terbentuk.
