Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa Itu Dry Ice yang Dipakai BMKG untuk Bantu Padamkan Karhutla?

4 min read
Apa Itu Dry Ice yang Dipakai BMKG untuk Bantu Padamkan Karhutla?
TNI Angkatan Udara (AU) mengerahkan pesawat Hercules untuk mengangkut bahan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) salah satunya dry ice untuk disemai di atas langit Banjarmasin. (Dokumentasi TNI AU)
  • BMKG mulai memperluas penyemaian dry ice melalui Operasi Modifikasi Cuaca di Sumatra Selatan untuk mengurai kabut asap karhutla di Sumatra dan Kalimantan.
  • Dry ice disebar dari pesawat untuk mengganggu lapisan inversi yang menahan asap, membuka aliran konveksi, serta meningkatkan peluang asap terurai dan awan tumbuh.
  • Uji coba menunjukkan jarak pandang Palembang berangsur membaik, tetapi BMKG menegaskan teknik ini harus berjalan bersama pemadaman darat, patroli, penegakan hukum, dan pencegahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama sejumlah lembaga lainnya mulai mengimplementasikan penyemaian dry ice atau es kering lewat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memadamkan api kebakaran hutan dan lahan. Uji coba pertama sudah dilakukan pada pekan lalu di Sumatra Selatan. Kini penggunaannya akan dilakukan semakin massif untuk membantu pemadaman karhutla.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca, Tri Handoko Seto menjelaskan, OMC dengan es kering diklaim mampu membantu mengurai kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Teknik tersebut menargetkan lapisan inversi atmosfer yang menahan asap di dekat permukaan. Terutama ketika awan potensial untuk penyemaian hujan terbatas.

Dalam pandangan Tri, penyemaian es kering menjadi salah satu langkah taktis untuk mengatasi kondisi atmosfer yang menghambat penyebaran asap. Dalam kondisi tertentu, asap karhutla yang sangat pekat terjebak di lapisan atmosfer dekat permukaan hingga ketinggian 6.000 hingga 7.000 kaki. Bahkan, bisa lebih tinggi.

"Lapisan inversi bertindak seperti tutup yang menghambat pergerakan udara vertikal. Melalui penyemaian dry ice secara akurat dari pesawat di atas lapisan tersebut, kami berupaya menghilangkan tutup inversi ini," ujar Seto di dalam keterangan pada Rabu (21/10/2026).

Sublimasi es kering, kata Tri, memicu pendinginan dan penurunan suhu secara mendadak sehingga pintu aliran konveksi kembali terbuka. Asap kemudian dapat naik secara vertikal untuk terurai dan memperbesar peluang awan untuk tumbuh dan disemai.

  1. 1. Penyemaian es kering bukan untuk mendorong awan segera hujan

    Tim satgas udara saat melakukan uji coba teknologi dry ice di atas wilayah Palembang.
    Tim satgas udara saat melakukan uji coba teknologi dry ice di atas wilayah Palembang. (Dok. BPBD Sumsel)

    Lebih lanjut, kata Seto, penggunaan es kering dalam operasi tersebut memiliki tujuan berbeda dari penyemaian awan untuk memicu hujan. BMKG secara khusus menargetkan lapisan inversi yang menahan asap serta mengintervensi lapisan isoterm untuk mengubah kestabilan udara di atmosfer bagian atas.

    "Upaya tersebut menjadi alternatif taktis ketika kondisi langit cenderung kering dan jumlah awan potensial untuk disemai terbatas," katanya.

    BMKG, kata Seto, menetapkan sejumlah indikator keberhasilan lewat invertensi teknik es kering yakni jarak pandang yang meningkat dan penurunan konsentrasi partikel polutan PM2.5 di udara.

    "Kedua indikator tersebut membantu menggambarkan perubahan kondisi atmosfer dan kualitas udara di wilayah terdampak, termasuk kawasan yang memiliki peran penting bagi obyek vital seperti bandar udara," imbuhnya.

  2. 2. Jarak pandang di Palembang berangsur membaik usai es kering disebar

    Kondisi kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kota Palembang
    Kondisi kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Usai dilakukan penyebaran es kering pada uji coba pertama, BMKG menyebut sudah ada hasil yang terlihat. Salah satu contohnya terjadi di Palembang yakni dengan jarak pandang yang berangsur membaik setelah dilakukan intervensi. Meski begitu, BMKG mengaku tetap memerlukan pemantauan dan analisis data untuk menilai perkembangan dampak operasi secara berkelanjutan.

    "Kami bersyukur, dalam beberapa hari pelaksanaan invertensi dry ice sudah menunjukkan indikasi dampak yang cukup baik. Jarak pandang di wilayah terdampak berangsur membaik. Salah satunya terjadi di Palembang beberapa hari lalu," ungkap Seto.

    Kondisi tersebut penting untuk mendukung operasional armada udara satuan tugas (satgas) termasuk helikiopter water bombing dan pesawat patroli. Selain itu, dengan jarak pandang yang membaik dapat membantu aktivitas penerbangan sipil kembali berjalan normal sesuai kondisi keselamatan.

  3. 3. Teknik es kering bukan satu-satunya cara memadamkan karhutla

    Kondisi kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kota Palembang
    Kondisi kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Seto menambahkan, penyemaian es kering merupakan bagian dari rangkaian penanganan karhutla. Teknik itu bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi kebakaran maupun kabut asap.

    "Upaya itu perlu berjalan beriringan dengan pemadaman di darat, patroli, penegakan hukum serta keterlibatan masyarakat dan organisasi nonpemerintah dalam mencegah dan memadamkan kebakaran," tutur Seto.

    "OMC bukan satu-satunya upaya penanggulangan karhutla," imbuhnya.

    Ia menggarisbawahi semua pihak memiliki tujuan yang sama yakni mengakhiri karhutla secepat mungkin. Oleh ssebab itu, setiap upaya harus berjalan selaras, saling mendukung dan berkesinambungan.

    Ia menambahkan, sinergi lintas instansi menjadi modal penting untuk menghadapi dinamika karhutla di Sumatra dan Kalimantan. BMKG, kata Seto, akan terus mengoptimalkan dukungan berbasis analisis atmosfer melalui OMC.

    "Ini sejalan dengan langkah pemadaman dan pencegahan di lapangan agar penanganan karhutla berlangsung terpadu dan dampak kabut asap terhadap masyarakat serta aktivitas transportasi dapat ditekan," katanya.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More