Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Legislator: Kegiatan di Balik Penguasaan Kawasan Hutan Tesso Nilo Harus Ditelusuri
patroli penjaga hutan dengan gajah di Taman Nasional Tesso Nilo (commons.wikimedia.org/A. C. Shapiro)
  • Azis Subekti meminta penertiban Tesso Nilo menelusuri jaringan ekonomi dan pihak yang memperoleh keuntungan dari perambahan kawasan.

  • Penanganan perlu memeriksa penguasaan lahan, transaksi, pembiayaan, perdagangan hasil perkebunan, serta dokumen pertanahan.

  • Pemulihan Tesso Nilo ditargetkan mencapai 66.704 hektare hingga 2028, dengan keberhasilan diukur dari pulihnya ekosistem dan berkurangnya perambahan berulang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Senin (12/10/2026)

Azis Subekti menyampaikan bahwa hubungan antara modal, penguasaan tanah, administrasi, perdagangan, dan pengawasan perlu ditelusuri untuk memahami berulangnya kehilangan hutan.

hingga 2028

Program reforestasi Tesso Nilo ditargetkan mencapai 66.704 hektare.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Azis Subekti meminta kegiatan di balik penguasaan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo ditelusuri dan jaringan ekonomi yang memungkinkan perambahan diputus.
  • Who?
    Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra Azis Subekti menyampaikan pandangan tersebut.
  • Where?
    Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau.
  • When?
    Azis menyampaikan keterangannya pada Senin (12/10/2026).
  • Why?
    Penertiban dinilai tidak menyelesaikan persoalan apabila pihak yang memperoleh keuntungan dari kerusakan lingkungan tidak dimintai pertanggungjawaban.
  • How?
    Dengan memeriksa seluruh mata rantai kegiatan ekonomi, termasuk penguasaan lahan, transaksi tanah, pembiayaan perkebunan, perdagangan hasil perkebunan, dan pengawasan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Azis Subekti meminta agar orang yang mendapat untung dari perambahan Tesso Nilo ikut diperiksa, bukan hanya orang yang bekerja di kebun. Pemerintah juga memulihkan hutan dengan menanam pohon. Pemulihan ditargetkan mencapai 66.704 hektare hingga 2028. Hutan dan habitat satwa diharapkan pulih, sementara perambahan tidak berulang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dorongan untuk menelusuri jaringan ekonomi di balik perambahan dapat membuat pemulihan Tesso Nilo lebih menyeluruh. Program reforestasi yang ditargetkan mencapai 66.704 hektare hingga 2028 juga disertai perhatian pada pulihnya ekosistem, habitat satwa, dan perlindungan masyarakat terdampak agar penertiban tidak menimbulkan ketidakadilan baru.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra Azis Subekti mengingatkan bahwa penyelamatan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau, harus mampu memutus jaringan ekonomi yang selama ini memungkinkan perambahan hutan terus berlangsung. Penertiban kawasan dinilai tidak akan menyelesaikan persoalan apabila pihak yang memperoleh keuntungan dari kerusakan lingkungan tidak dimintai pertanggungjawaban.

Azis menilai, persoalan Tesso Nilo tidak cukup dipahami hanya dari berkurangnya tutupan hutan. Di balik kerusakan kawasan konservasi, terdapat persoalan penguasaan tanah, transaksi ekonomi, pembiayaan perkebunan, dan lemahnya pengawasan.

“Peta kerusakan menjelaskan di mana hutan hilang. Untuk mengetahui mengapa kehilangan itu berulang, kita harus menelusuri hubungan antara modal, penguasaan tanah, administrasi, perdagangan, dan pengawasan,” kata Azis dalam keterangannya, Senin (12/10/2026).

1. Penertiban terhadap perkebunan ilegal perlu menjangkau pihak yang mengendalikan kegiatan ekonomi

potret Tempat Kejadian Perkara kematian bayi gajah Khalista Lestari di Taman Nasional Tesso Nilo (instagram.com/herryheryawan)

Menurut Azis, penertiban terhadap perkebunan ilegal perlu dilaksanakan secara menyeluruh hingga menjangkau pihak yang mengendalikan kegiatan ekonomi di balik penguasaan kawasan.

Ia menilai, penanganan yang hanya berfokus pada penggarap di lapangan berisiko mengabaikan jaringan ekonomi yang menjadi pendorong utama pembukaan kawasan.

“Keberhasilan menghapus perkebunan ilegal dapat kehilangan makna apabila insentif ekonomi untuk membuka kawasan kembali tetap tersedia,” tutur dia.

2. Pembukaan kawasan menghasilkan pendapatan selama bertahun-tahun, tapi kerusakan lingkungan jadi beban masyarakat dan negara

Gajah Lisa saat sedang menyusui bayinya yang baru lahir (IDN Times/ dok Balai Taman Nasional Tesso Nilo)

Azis menjelaskan, persoalan tersebut berkaitan dengan moral hazard, yakni kondisi ketika keuntungan dapat diperoleh pihak tertentu, sementara risiko maupun konsekuensi dari tindakannya dialihkan kepada pihak lain.

Dalam konteks Tesso Nilo, keadaan itu dapat muncul ketika pembukaan kawasan menghasilkan pendapatan selama bertahun-tahun, sedangkan kerusakan lingkungan dan biaya pemulihannya menjadi beban masyarakat maupun negara.

“Moral hazard dapat tumbuh apabila pembukaan kawasan diperkirakan menghasilkan pendapatan selama bertahun-tahun sebelum ditertibkan, atau apabila hasil kebun tetap menemukan pembeli meskipun asalnya bermasalah,” tutur Azis.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pemeriksaan terhadap seluruh mata rantai kegiatan ekonomi, mulai dari pembukaan lahan hingga perdagangan hasil perkebunan.

Pihak yang memperoleh keuntungan dari kerusakan kawasan harus dimintai pertanggungjawaban berdasarkan bukti dan ketentuan hukum yang berlaku.

“Biaya pemulihan perlu dihubungkan dengan tindakan dan keuntungan melalui mekanisme hukum yang relevan,” ungkapnya.

Azis juga mengingatkan bahwa ketegasan penegakan hukum tidak boleh mengabaikan perbedaan antara masyarakat kecil dan pihak yang mengendalikan perkebunan berskala besar. Menurutnya, pemeriksaan terhadap riwayat penguasaan lahan, transaksi tanah, serta dokumen pertanahan diperlukan agar penyelesaian tidak menimbulkan ketidakadilan baru.

Di sisi lain, ia mendukung langkah pemerintah memulihkan Tesso Nilo melalui program reforestasi yang ditargetkan mencapai 66.704 hektare hingga 2028. Namun, keberhasilan pemulihan tidak cukup diukur dari luas kawasan yang telah ditertibkan atau jumlah bibit pohon yang ditanam.

Azis menilai keberhasilan sesungguhnya harus terlihat melalui pulihnya ekosistem, terjaganya habitat satwa, serta berkurangnya risiko perambahan berulang.

“Pengawasan parlemen dan publik perlu mengikuti kondisi lapangan setelah kegiatan seremonial berakhir,” ucap dia.

3. Persoalan Tesso Nilo jadi pelajaran penting mengenai tata kelola sumber daya alam

Seekor bayi gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) betina lahir dari induk bernama Ria di kamp Elephants Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo, Riau pada Rabu (10/6/2026). (Dok. Polda Riau)

Menurut Azis, persoalan Tesso Nilo menjadi pelajaran penting mengenai perlunya tata kelola sumber daya alam yang mampu menghubungkan keuntungan ekonomi dengan tanggung jawab hukum dan lingkungan.

“Tesso Nilo mengajarkan bahwa moral hazard menguat ketika manusia percaya keuntungan dapat menjadi miliknya sementara akibatnya akan selalu dipikul orang lain,” tegas Azis.

Ia menegaskan bahwa pemulihan hutan harus dilakukan dengan tetap menjaga martabat masyarakat yang terdampak kebijakan penertiban.

“Hutan yang pulih dan manusia yang tetap bermartabat akan menjadi bukti bahwa negara telah belajar dari perjalanan panjang ini,” imbuhnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article