Mantan Presiden BJ Habibie (ANTARA FOTO/Retmon)
Setelah menerima telepon dari Jenderal Wiranto, ADC Presiden membisiki Habibie, Jenderal Prabowo ingin menghadap untuk bertemu secara empat mata. Prabowo tak langsung diterima, Habibie minta pertemuan dengan Prabowo diatur setelah ia selesai makan siang bersama keluarga. Meskipun, ia sempat berpikir keras apa untungnya menerima Prabowo. Ia juga bertanya apakah mencopot jabatan menantu Soeharto merupakan langkah tepat.
Sebelum pertemuan berlangsung, Habibie mempertanyakan alasan di balik kebijakan Prabowo mengerahkan pasukan Kostrad ke Jakarta. Menurutnya, sebagai seorang perwira tinggi militer profesional, seorang Pangkostrad seharusnya memahami dan memegang teguh prinsip “Saptamarga” serta “Sumpah Prajurit”. Habibie menilai langkah Prabowo tanpa koordinasi dengan Wiranto merupakan pelanggaran terhadap prinsip disiplin militer.
Dialog antara Habibie dan Prabowo berlangsung tegang. Sebagaimana kebiasaan mereka, pembicaraan selalu berlangsung dalam bahasa Inggris. Prabowo marah dan kecewa karena dicopot sebagai Pangkostrad. Ia anggap Habibie merendahkan keluarga Soemitro dan keluarga mertuanya.
"Ini suatu penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto, Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad," kata Prabowo.
"Anda tidak dipecat, tetapi jabatan Anda diganti," jawab Habibie tenang.
“Mengapa?” tanya Prabowo.
"Saya menyampaikan bahwa saya mendapat laporan dari Pangab bahwa gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, Kuningan, dan Istana Merdeka," jawab Habibie lagi
“Saya bermaksud untuk mengamankan Presiden,” kata Prabowo.
“Itu adalah tugas Pasukan Pengamanan Presiden yang bertanggung jawab langsung pada Pangab dan bukan tugas Anda,” jawab Habibie.
“Presiden apa Anda? Anda naif!” jawab Prabowo dengan nada marah.
"Masa bodoh, saya Presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara yang sangat memprihatinkan,” jawab Habibie mengabaikan kemarahan Prabowo.
“Atas nama ayah saya Prof. Soemitro Djojohadikusumo dan ayah mertua saya, Presiden Soeharto, saya minta Anda memberikan saya tiga bulan untuk tetap menguasai pasukan Kostrad,” mohon Prabowo.
Habibie tetap bersikeras, Prabowo harus menanggalkan jabatannya sebagai Pangkostrad hari itu juga sebelum matahari terbenam.
“Tidak! Sampai matahari terbenam Anda sudah harus menyerahkan semua pasukan kepada Pangkostrad yang baru!” jawab Habibie tegas.
“Berikan saya tiga minggu atau tiga hari saja untuk masih dapat menguasai pasukan saya!” Prabowo masih berupaya keras.
“Tidak! Sebelum matahari terbenam semua pasukan sudah harus diserahkan kepada Pangkostrad baru! Saya bersedia mengangkat Anda menjadi duta besar di mana saja," jawab Habibie sambil menawarkan opsi jabatan baru.
“Yang saya kehendaki adalah pasukan saya!” jawab Prabowo.
“Ini tidak mungkin, Prabowo!”
Sintong Pandjaitan, penasihat Habibie masuk ke ruangan dan mempersilahkan Prabowo meninggalkan Istana Merdeka, tetapi dilarang oleh Habibie. Sintong kemudian bergegas dari ruangan itu.
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Prabowo untuk meminta agar ia dapat berbicara melalui telepon dengan Wiranto. Habibie kemudian menugaskan salah satu ADC Presiden di ruangan itu untuk segera menghubungi Wiranto. Namun, Wiranto tidak dapat dihubungi. Untuk kedua kalinya pintu terbuka, Sintong Pandjaitan mempersilakan Prabowo meninggalkan ruangan.
"Saya masih sempat memeluk Prabowo dan menyampaikan salam hormat saya untuk ayah kandung dan ayah mertua Prabowo," tulis Habibie.