Cerita Ilham Habibie Dijemput Kendaraan Lapis Baja saat Kerusuhan Mei 98

- Ilham Akbar Habibie menceritakan pengalaman menegangkan saat dijemput kendaraan lapis baja setelah BJ Habibie dilantik menjadi Presiden RI pada Mei 1998 karena situasi keamanan yang belum stabil.
- Keluarga Habibie sempat tinggal di kompleks Istana Negara selama satu hingga dua hari karena rumah mereka dianggap tidak aman akibat ketegangan politik dan perbedaan di internal TNI.
- Ilham mengungkap bahwa menjadi anak presiden bukan hal mudah, sebab keluarganya ikut merasakan tekanan dan sorotan publik di tengah banyaknya penolakan terhadap kepemimpinan BJ Habibie.
Jakarta, IDN Times - Ilham Akbar Habibie mengungkap situasi mencekam yang dialami keluarganya, setelah B. J. Habibie dilantik menjadi Presiden RI pada Mei 1998. Ilham mengaku langsung dijemput kendaraan lapis baja setibanya di Indonesia, karena situasi keamanan saat itu dinilai tidak aman.
Ilham mengatakan dirinya sedang berada di Berlin, Jerman, saat BJ Habibie dilantik menjadi presiden menggantikan Soeharto pada 21 Mei 1998. Dia baru mengetahui kabar tersebut setelah mendengar pesan suara dari ayahnya di hotel tempatnya menginap.
“Saya dengar voicemail-nya, diminta untuk langsung menyalakan TV. Saya nyalakan TV, Bapak lagi dilantik,” kata Ilham dalam keterangannya wawancara khusus dengan IDN Times, dikutip Senin (18/5/2026).
1. Keamanan belum kondusif saat Mei 98

Setelah itu, Ilham diminta segera kembali ke Indonesia. Namun, ketika tiba di Jakarta dua hari kemudian, situasi keamanan disebut masih belum kondusif, sehingga dirinya langsung dibawa menuju Istana Negara.
“Begitu saya tiba saya langsung dijemput langsung dianterin ke Istana,” ujarnya.
Ilham bahkan mengaku diangkut menggunakan kendaraan lapis baja dari bandara menuju kompleks Istana Kepresidenan.
“Saya masuk dalam kayak tank, gitu. Karena kan dirasakan tidak aman, gitu ya,” katanya.
2. Hanya sekitar satu hingga dua hari berada di Istana

Ilham menjelaskan seluruh keluarga sempat ditempatkan di kompleks Istana, karena rumah keluarga Habibie dianggap tidak aman. Dia menyebut saat itu terjadi ketidaksepakatan di internal TNI mengenai pengamanan presiden baru.
“Karena rumah kami waktu itu dirasakan tidak aman,” ujarnya.
Ilham mengatakan keluarganya hanya sekitar satu hingga dua hari berada di Istana, sebelum akhirnya kembali ke rumah keluarga di kawasan Patra Kuningan, Jakarta Selatan.
3. Jadi anak presiden bukan sesuatu yang enak

Meski status ayahnya berubah menjadi presiden, Ilham mengaku, situasi saat kerusuhan Mei 1998 tersebut justru menjadi beban bagi keluarga. Dia mengatakan banyak pihak saat itu menolak BJ Habibie melanjutkan kepemimpinan nasional setelah Soeharto mundur.
“Waktu itu menjadi anak Presiden itu beban. Bukan satu hal yang enak,” kata Ilham.
Menurut Ilham, keluarganya juga ikut menjadi sorotan publik di tengah tekanan politik besar yang dihadapi pemerintahan BJ Habibie pada awal masa reformasi.
“Bapak itu banyak yang menghujat. Jadi ya kita sebagai keluarga tentunya pertama ya kasihan sama Bapak,” ujarnya.



















