PT Pupuk Indonesia (Persero) terus meningkatkan kapasitas para petani melalui Program Mari Kita Majukan Usaha Rakyat (MAKMUR), yang hingga kuartal I tahun ini telah melibatkan 128 ribu peserta dan menjangkau 151 ribu hektare lahan. (Dok.Istimewa).
Hingga 9 Oktober 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi nasional mencapai 7,1 juta ton atau 72,11 persen dari total alokasi yang ditetapkan pemerintah. Pupuk Indonesia menyatakan penyaluran dilakukan dengan mengacu pada prinsip 7T, yaitu tepat jenis, jumlah, harga, tempat, waktu, mutu, serta sasaran atau penerima.
Untuk memperkuat pengawasan, perusahaan mengoperasikan Command Center yang memungkinkan pemantauan distribusi pupuk dari pabrik hingga petani secara digital dan real-time. Pupuk Indonesia juga memasang CCTV di seluruh gudang untuk memantau kondisi dan ketersediaan stok.
Selain itu, perusahaan dapat memantau transaksi penebusan pupuk berdasarkan nomor induk kependudukan (NIK) petani.
“Kami bisa memantau distribusinya dari hulu ke hilir, bisa mengecek jika ditemukan trouble baik operasional maupun administrasi, kita bisa melakukan verifikasi stok dengan baik,” ujar Saeful.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Alokasi Pupuk Bersubsidi Direktorat Pupuk Kementerian Pertanian, Yustiana Retno Widjawati, menyebut sisa alokasi pupuk bersubsidi yang masih dapat ditebus petani mencapai 2.769.963 ton.
Untuk mengoptimalkan pemanfaatannya, pemerintah melakukan realokasi dengan mempertimbangkan tingkat penebusan di masing-masing provinsi.
“Alokasi pupuk bersubsidi dari provinsi dengan tingkat penebusan yang masih rendah dialihkan ke provinsi yang penebusannya sudah tinggi. Langkah ini dilakukan agar alokasi yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan petani,” ujarnya.