Gudang pupuk bersubsidi milik PT Pupuk Indonesia. IDN Times/Debbie Sutrisno
Adapun alokasi awal pupuk bersubsidi tahun 2026 di Jawa Timur sebesar 1.971.817 ton, terdiri atas Urea 964.037 ton, NPK 884.868 ton, pupuk NPK Khusus Kakao 255 ton, Organik 111.670 ton, dan ZA 10.987 ton. Kemudian, alokasi tersebut mendapatkan tambahan 35.146 ton Urea, 76.827 ton NPK, 4 ton NPK Kakao, 32.149 ton Organik, dan 8 ton ZA.
Dari sisi penyaluran, hingga 22 September 2026, realisasi pupuk bersubsidi di Jawa Timur telah mencapai 1.637.764 ton atau 77,4 persen dari total alokasi setelah penambahan. Dengan demikian, masih tersedia sisa alokasi sebesar 478.187 ton yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan petani untuk musim tanam berikutnya.
Rinciannya, realisasi Urea sebesar 764.520 ton (atau 76,5 persen dari realokasi), NPK 767.796 ton (79,8 persen), dan pupuk Organik 94.686 ton (65,8 persen). Adapun realisasi pupuk ZA mencapai 7.602 (69,1 persen) dan NPK Kakao 180 ton (69,5 persen)
Petani di Indonesia akan memulai musim tanam baru sekitar bulan Oktober. Untuk itu Wawan meyakini penyerapan pupuk bersubsidi di Jawa Timur akan optimal hingga akhir tahun 2026.
Lebih lanjut ia menegaskan, ketersediaan stok dan tambahan alokasi tersebut memberikan ruang yang cukup bagi Pupuk Indonesia untuk terus memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi petani Jawa Timur. Pupuk Indonesia juga meyakini ketersediaan pupuk yang cukup akan mendorong peningkatan produktivitas pertanian dalam upaya menjaga ketahanan pangan nasional.
“Kami berharap kebutuhan pupuk bersubsidi petani Jawa Timur dapat terpenuhi hingga akhir tahun. Fokus kami bukan hanya memastikan jumlah pupuk tersedia, tetapi juga memastikan distribusinya tepat waktu dan tepat sasaran sesuai kebutuhan di masing-masing wilayah. Jadi bukan hanya melihat berapa yang sudah tersalurkan, tetapi juga memastikan stoknya ada di titik-titik penyaluran,” jelas Wawan.