Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cerita Direktur SDM Pupuk Indonesia Kena Gempa NTT, Jalanan Terputus

Cerita Direktur SDM Pupuk Indonesia Kena Gempa NTT, Jalanan Terputus
Jalanan terputus menuju Manggarai Timur, Flores, NTT akibat gempa (Dok. Tina T. Kemala Intan)
  • Direktur SDM Pupuk Indonesia, Tina T. Kemala Intan, terjebak gangguan perjalanan kerja dari Ruteng ke Bajawa setelah gempa Magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.
  • Longsor akibat gempa menutup jalan di Manggarai Timur, memaksa Tina dan rombongan putar balik ke Ruteng serta menghambat mobilitas darat antardaerah di Flores.
  • BMKG sempat mengeluarkan peringatan tsunami berstatus siaga di sejumlah wilayah, lalu mengakhirinya pukul 07.30 WIB setelah tidak terdeteksi kenaikan muka laut signifikan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) PT Pupuk Indonesia (Persero), Tina T. Kemala Intan, menceritakan pengalamannya ikut merasakan gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8/2026) pagi. Saat gempa terjadi, Tina tengah berada di Flores.

Tina sejatinya sedang dalam perjalanan kerja di lokasi tersebut. Perjalanannya menuju Kabupaten Bajawa terhenti setelah akses jalan di Manggarai Timur terputus akibat longsor.

Tina mengungkapkan, dia berangkat dari Ruteng menuju Bajawa pada sekitar pukul 05.30 WIT. Menjelang pukul 06.00 WIT, gempa terjadi dan membuat kondisi di sepanjang jalur perjalanan berubah drastis.

“Tadi pagi, pukul 05.30 WIT sedang dalam perjalanan dari Ruteng menuju Bajawa, menjelang pukul 06.00 WIT gempa,” kata Tina kepada IDN Times.

Akibat guncangan tersebut, ruas jalan di wilayah Manggarai Timur tidak dapat dilalui karena tertutup material longsor. Kondisi itu memaksanya bersama rombongan membatalkan perjalanan dan kembali ke Ruteng.

“Saat ini tidak bisa lanjut di Manggarai Timur karena jalan terputus, tertutup longsor, harus putar balik kembali ke Ruteng,” kata Tina.

Peristiwa tersebut menggambarkan dampak gempa yang tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di wilayah terdampak, tetapi juga mengganggu akses transportasi darat di sejumlah kawasan Flores. Putusnya jalur akibat longsor membuat mobilitas warga dan perjalanan antardaerah untuk sementara waktu mengalami hambatan.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan, gempa bumi tektonik yang mengguncang wilayah Flores, NTT berdasarkan hasil analisis terbaru BMKG, gempa tersebut berkekuatan magnitudo 7,7 dan berpotensi memicu tsunami di sejumlah wilayah.

“Peringatan dini tsunami BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi ini berpotensi tsunami dengan tingkat status ancaman: Siaga (0,5 sampai 3 meter) terjadi di wilayah Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, Ende, Flores Timur, Jeneponto,” kata Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama dalam konferensi pers daring, Sabtu (15/8/2026).

Namun, peringatan dini akhirnya resmi berakhir.  Keputusan ini diambil setelah hasil observasi menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan.

“Dengan hasil observasi tinggi muka laut di wilayah terdampak tidak ada lagi kenaikan muka air laut signifikan yang membahayakan, maka peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB,” kata Nelly.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More