Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rumah Para Tokoh Sejarah di Menteng yang Kini Jadi Museum
Museum Sejarah Jakarta (unsplash.com/Alif Zainuri)
  • Empat bangunan bersejarah di Menteng kini menjadi museum publik yang menyimpan jejak tokoh, peristiwa, dan perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.

  • Museum Jenderal Besar A.H. Nasution dan Museum Sasmitaloka Ahmad Yani mendokumentasikan penculikan serta gugurnya korban dalam peristiwa 1965 melalui koleksi dan ruang kediaman asli.

  • Museum Perumusan Naskah Proklamasi menandai penyusunan teks Proklamasi pada 16 Agustus 1945, sementara Museum Joang ’45 memamerkan koleksi perjuangan dan kendaraan presiden pertama.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Empat kediaman dan bangunan bersejarah di Menteng kini berfungsi sebagai museum publik yang menyimpan koleksi serta dokumentasi perjuangan dan peristiwa penting kemerdekaan Indonesia.
  • Who?
    A.H. Nasution, Ahmad Yani, Laksamana Tadashi Maeda, Soekarno, Mohammad Hatta, Ahmad Soebardjo, para pemuda Indonesia, serta tokoh pejuang kemerdekaan terkait dengan koleksi museum.
  • Where?
    Museum berada di Menteng dan sekitarnya, Jakarta Pusat: Jalan Teuku Umar, Jalan Lembang No. 67, Jalan Imam Bonjol No. 1, serta Jalan Menteng Raya 31.
  • When?
    Peristiwa sejarahnya berlangsung antara 1945 dan 1965. Museum A.H. Nasution diresmikan 3 Desember 2008, Museum Perumusan Naskah Proklamasi ditetapkan 24 November 1992, dan Museum Joang ’45 diresmikan 1974.
  • Why?
    Bangunan-bangunan tersebut dijadikan museum untuk menyimpan dan menampilkan jejak kehidupan tokoh, perumusan Proklamasi, perjuangan kemerdekaan, serta peristiwa penculikan dan penembakan pada 1965.
  • How?
    Rumah dan gedung dialihfungsikan menjadi museum yang memamerkan ruang bersejarah, foto, dokumen, barang pribadi, senjata, replika, kendaraan, lukisan, dan koleksi peninggalan perjuangan kepada masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Menteng, Jakarta, ada empat rumah dan gedung lama yang sekarang jadi museum. Rumah Jenderal A.H. Nasution dan Ahmad Yani menyimpan kisah sedih tahun 1965. Rumah Laksamana Maeda dipakai membuat teks Proklamasi. Museum Joang ’45 menyimpan barang para pejuang. Sekarang orang bisa datang melihat foto, benda, dan tempat bersejarah itu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Transformasi kediaman dan bangunan bersejarah di Menteng menjadi museum membuka ruang bagi masyarakat untuk mendekati perjalanan kemerdekaan melalui tempat, koleksi, dan dokumentasi yang nyata. Ruang-ruang yang dahulu bersifat pribadi atau memiliki fungsi lain kini menjaga ingatan tentang tokoh, peristiwa, serta perumusan Proklamasi agar dapat terus dikenali pengunjung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, tak hanya dikenal sebagai salah satu kawasan permukiman elite di Ibu Kota. Di balik deretan bangunan dan jalan yang ramai, terdapat sejumlah rumah yang pernah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Indonesia.

Rumah sejarah para tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia itu, kini telah berubah menjadi ruang publik yang menyimpan berbagai cerita masa lalu.

Pengunjung dapat melihat kembali jejak kehidupan para tokoh sekaligus peristiwa penting yang pernah berlangsung di dalamnya.

Berikut empat rumah tokoh sejarah di kawasan Menteng yang kini menjadi museum!

1. Rumah A.H. Nasution jadi Museum Jenderal Besar A.H Nasution

Ilustrasi tertembaknya Ade Irma Suryani di Museum AH Nasution (IDN Times/Febriyanti Revitasari)

Di Jalan Teuku Umar, Menteng, terdapat rumah yang pernah menjadi kediaman Jenderal Besar A.H. Nasution. Rumah tersebut kini dikenal sebagai Museum Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution.

Dikutip dari laman museum.co.id, rumah ini berkaitan dengan salah satu peristiwa kelam dalam sejarah Indonesia. Museum tersebut menyimpan dokumentasi dan koleksi yang berkaitan dengan peristiwa penculikan terhadap DR. Abdul Haris Nasution pada 1 Oktober 1965 oleh Pasukan Tjakrabirawa G-30S/PKI yang gagal dilakukan.

Namun, dalam peristiwa tersebut, putri kedua beliau, Ade Irma Suryani Nation dan ajudannya, Kapten Anumerta Pierre Andreas Tendean gugur.

Kisah itu tidak hanya tersimpan dalam foto atau benda-benda koleksi. Ruang-ruang di rumah tersebut menjadi bagian dari narasi sejarah yang memperlihatkan bagaimana sebuah peristiwa nasional pernah berlangsung begitu dekat dengan kehidupan pribadi seorang tokoh.

Museum Jenderal Besar A.H. Nasution diresmikan pada 3 Desember 2008 (bertepatan dengan hari kelahiran Abdul Haris Nasution) oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

2. Rumah Jenderal Ahmad Yani jadi Museum Sasmita Loka A. Yani

Kediaman Jenderal Ahmad Yani yang kini menjadi Museum Sasmitaloka, di Menteng, Jakarta Pusat. (IDN Times/Febriyanti Revitasari)

Tak jauh dari kawasan tersebut, ada pula rumah yang pernah menjadi kediaman Jenderal Ahmad Yani.

Rumah di Jalan Lembang No. 67, Menteng, Jakarta Pusat, itu kini menjadi Museum Sasmitaloka Ahmad Yani. Keberadaan museum di alamat tersebut dikonfirmasi dalam publikasi resmi TNI AD.

Di tempat ini, pengunjung dapat melihat berbagai peninggalan sejarah yang berkaitan dengan kehidupan Ahmad Yani dan keluarganya.

Rumah ini juga berkaitan dengan salah satu peristiwa kelam dalam sejarah Indonesia. Museum tersebut menyimpan dokumentasi dan koleksi yang berkaitan dengan peristiwa penculikan terhadap sejumlah jenderal oleh gerombolan Partai Komunis Indonesia pada 30 September 1965, sebelum akhirnya dijadikan museum.

Dikutip dari laman Asosiasi Museum Indonesia, museum ini memajang foto di belakang rumah, yakni rekonstruksi penembakan dan penculikan sejumlah Ahmad Yani oleh Pasukan Cakrabirawa, koleksi foto pengangkatan jenazah para Pahlawan Revolusi oleh KKO (Marinir), upacara pemakaman pada 5 Oktober 1965, foto-foto keluarga, penyerahan Kota Magelang dari Belanda diwakili Letkol van Santen kepada Letkol Ahmad Yani, dan foto-foto karier militer Ahmad Yani lainnya.

Selain itu, di dalam kamar tidur Letjen A. Yani juga masih tersimpan beberapa senjata yang menewaskan dia dan tokoh-tokoh lain, replika baju Ibunya yang digunakan untuk membersihkan lumuran darah suaminya, serta barang berharga seperti gaji terakhirnya, perhiasan, dan aksesoris. Di museum tersebut juga masih ada jejak-jejak peluru bekas tembakan yang menewaskan sang jenderal di lokasi tersebut.

3. Rumah Laksamana Tadashi Maeda, Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Museum Perumusan Naskah Proklamasi(dok. Humas Kementerian Kebudayaan)

Bangunan yang berada di Jalan Imam Bonjol No. 1, Menteng, dahulu merupakan kediaman Laksamana Tadashi Maeda, perwira Angkatan Laut Jepang. Rumah tersebut kemudian menjadi salah satu lokasi paling penting dalam rangkaian menuju kemerdekaan Indonesia.

Setelah Soekarno dan Mohammad Hatta kembali dari Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945, keduanya bersama Ahmad Soebardjo menemui Laksamana Tadashi Maeda untuk menjadikan rumahnya sebagai tempat perumusan naskah proklamasi. Perumusan tersebut berlangsung di rumah Maeda yang saat itu berada di Jalan Meiji Dori.

Malam itu, rumah tersebut menjadi tempat berkumpulnya sejumlah tokoh dan pemuda. Di salah satu ruangannya, konsep naskah Proklamasi disusun sebelum akhirnya dibacakan Soekarno pada 17 Agustus 1945.

Pada 1984, pemerintah mulai merealisasikan bangunan tersebut sebagai museum. Kemudian resmi ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi pada 24 November 1992

Kini, masyarakat dapat mengunjungi bangunan tersebut untuk melihat ruang dan koleksi yang berkaitan dengan proses perumusan naskah Proklamasi.

4. Ruang Pemuda Indonesia, Museum Joang ‘45

Potret Museum Joang '45 (dinaskebudayaan.jakarta.go.id)

Terletak di Jalan Menteng Raya 31, Kebon Sirih-Menteng, gedung yang kini dialihfungsikan sebagai Museum Joang ‘45 ini awalnya adalah hotel yang dikelola oleh keluarga “L.C. Schomper,” seorang berkebangsaan Belanda yang telah lama tinggal di Batavia.

Dikutip dari laman Asosiasi Museum Indonesia, ketika Jepang masuk ke Indonesia (1942-1954) dan menduduki Batavia, hotel tersebut diambil alih oleh para pemuda Indonesia dan digunakan sebagai kantor yang dikelola oleh Ganseikanbu Sendenbu (Jawatan Propaganda Jepang), dikepalai oleh seorang Simizu.

Di tempat ini, para pemuda melakukan program pendidikan politik untuk membina pemuda-pemuda Indonesia, yang dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah Jepang.

Museum ini diresmikan pada tahun 1974 oleh Presiden Soeharto. Museum ini menyimpan koleksi benda peninggalan para pejuang Indonesia yang mencerminkan perjuangan kemerdekaan RI. Di antaranya terdapat mobil dinas resmi Presiden dan Wakil Presiden RI Pertama yang dikenal dengan mobil REP 1 dan REP 2, dan Mobil Peristiwa Pemboman di Cikini.

Selain itu ada koleksi foto-foto dokumentasi dan lukisan yang menggambarkan perjuangan sekitar tahun 1945-1950-an. Beberapa tokoh perjuangan juga ditampilkan dalam bentuk patung-patung dada.

Curated For You

Editorial Team

Related Article