Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sekjen Kemendagri Siapkan Tim Evaluasi Penanganan Kenaikan Harga Cabai
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Tomsi Tohir dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan evaluasi dukungan Pemda terhadap Program 3 Juta Rumah di Kantor Pusat Kemendagri, Jakarta, Senin (19/10/2026)(Dok. Kemendagri)
  • Kemendagri menyiapkan lima tim untuk memantau dan mengevaluasi penanganan kenaikan harga cabai di daerah.

  • Tim akan berkoordinasi dengan Kementan dan Pemda, termasuk memeriksa hasil bantuan berupa bibit, pupuk, dan sarana produksi pertanian.

  • Pemda diminta mengendalikan inflasi, terutama komponen makanan, minuman, dan tembakau yang berkaitan langsung dengan masyarakat berpenghasilan rendah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Agustus 2026

Inflasi secara year-on-year pada Agustus 2026 berada di level 3,19 persen.

September 2026

Inflasi month-to-month mencapai 0,30 persen. Inflasi year-on-year tercatat sebesar 3,28 persen.

1 Oktober 2026

Data BPS menunjukkan inflasi month-to-month September 2026 meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

Senin (12/10/2026)

Muhammad Tito Karnavian memimpin Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Jakarta dan meminta pemda mengoptimalkan langkah pengendalian inflasi.

Senin (19/10/2026)

Tomsi Tohir menyampaikan penyiapan lima tim untuk memantau dan mengevaluasi penanganan kenaikan harga cabai di daerah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kemendagri menyiapkan lima tim untuk memantau perkembangan dan mengevaluasi penanganan kenaikan harga cabai di daerah.
  • Who?
    Sekretaris Jenderal Kemendagri Tomsi Tohir, Kementan, Pemda, dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah terlibat dalam pemantauan.
  • Where?
    Pemantauan dilakukan di daerah yang harga cabainya tinggi dan telah menerima bantuan dari Kementan.
  • When?
    Hal tersebut disampaikan dalam rapat di Jakarta, Senin (19/10/2026).
  • Why?
    Kenaikan harga cabai perlu ditangani agar tetap terjangkau masyarakat dan pengendalian inflasi berjalan sesuai kondisi lapangan.
  • How?
    Lima tim turun ke daerah, berkoordinasi dengan perwakilan Kementan dan Pemda, serta memeriksa perkembangan penanganan dan hasil bantuan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tomsi Tohir membuat lima tim untuk melihat harga cabai di daerah. Tim itu akan bekerja bersama Kementan dan Pemda. Mereka juga memeriksa bantuan seperti bibit dan pupuk. Pemerintah ingin harga cabai dan makanan tetap bisa dibeli masyarakat. Pemda diminta menjaga inflasi agar tidak makin tinggi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Penyiapan lima tim menunjukkan adanya pemantauan langsung terhadap kenaikan harga cabai dan hasil bantuan pertanian di daerah. Koordinasi antara Kemendagri, Kementan, dan Pemda juga dapat membantu memastikan langkah pengendalian disesuaikan dengan kondisi harga aktual, sementara keterjangkauan pangan tetap menjadi perhatian pemerintah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Tomsi Tohir menyiapkan tim untuk memantau perkembangan harga cabai di daerah sekaligus mengevaluasi penanganan kenaikan harga komoditas tersebut. Langkah ini dilakukan melalui koordinasi dengan Kementerian Pertanian (Kementan) dan pemerintah daerah (pemda), terutama di wilayah yang mengalami kenaikan harga cabai dan telah menerima bantuan dari pemerintah.

Hal tersebut disampaikan Tomsi dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan evaluasi dukungan pemda terhadap Program 3 Juta Rumah di Kantor Pusat Kemendagri, Jakarta, Senin (19/10/2026).

1. Kenaikan harga komoditas cabai rawit dan cabai merah perlu ditangani agar tetap terjangkau oleh masyarakat

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Tomsi Tohir dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan evaluasi dukungan Pemda terhadap Program 3 Juta Rumah di Kantor Pusat Kemendagri, Jakarta, Senin (19/10/2026)(Dok. Kemendagri)

Dalam rapat tersebut, Tomsi menyoroti kenaikan harga cabai yang terjadi di sejumlah kabupaten/kota berdasarkan paparan Badan Pusat Statistik (BPS). Komoditas cabai rawit dan cabai merah menjadi perhatian karena kenaikan harganya perlu ditangani agar tetap terjangkau oleh masyarakat.

Untuk menindaklanjuti kondisi tersebut, Kemendagri menyiapkan lima tim yang akan turun ke daerah. Tim tersebut akan memeriksa perkembangan penanganan kenaikan harga cabai, termasuk meninjau hasil bantuan Kementan berupa bibit, pupuk, sarana produksi pertanian (saprodi), dan dukungan lainnya.

“ Kami membentuk lima tim, Pak, lima tim untuk berangkat ke daerah yang (harga) cabainya tinggi dan mendapatkan bantuan dari Kementan, baik itu bibit, pupuk, saprodi, dan lain sebagainya. Kami ingin melihat sejauh mana perkembangan atau hasilnya,” ujarnya.

2. Tim akan berkoordinasi dengan perwakilan Kementan dan Pemda setempat

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Tomsi Tohir (dok. Kemendagri)

Dalam pelaksanaannya, setiap tim akan berkoordinasi dengan perwakilan Kementan dan Pemda setempat. Pemantauan tersebut juga ditujukan untuk mengidentifikasi kendala serta mengevaluasi langkah yang telah dilakukan pemda dalam merespons kenaikan harga cabai.

Tomsi turut mengingatkan pentingnya pemantauan langsung terhadap harga di pasar. Menurutnya, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) perlu mengetahui kondisi harga aktual agar langkah pengendalian yang diambil sesuai dengan situasi di lapangan.

“Ini untuk masyarakat. Nomor satu adalah bahwa harga-harga dapat terjangkau. Ini kewajiban kita,” ujarnya.

Melalui pemantauan dan evaluasi tersebut, Kemendagri berharap koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dapat memperkuat upaya pengendalian harga, khususnya untuk komoditas yang mengalami kenaikan signifikan, sehingga keterjangkauan harga bagi masyarakat tetap menjadi perhatian bersama.

3. Inflasi month to month meningkat dipicu makanan, minuman, tembakau

Pelaksana Tugas (Plt.) Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Tomsi Tohir (dok. Kemendagri)

Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian, meminta pemda mengoptimalkan langkah pengendalian inflasi. Hal ini menyusul kenaikan inflasi secara month-to-month (mtm) pada September 2026 yang mencapai 0,30 persen.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 1 Oktober 2026, angka tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 0,21 persen. Kenaikan inflasi secara bulanan itu dipicu komponen makanan, minuman, dan tembakau.

Sementara, inflasi secara year-on-year (yoy) pada September 2026 tercatat sebesar 3,28 persen. Angka ini juga meningkat dibandingkan Agustus 2026 yang berada di level 3,19 persen.

“Kita perhatikan betul angka ini jangan sampai ke angka di atas 3,5 persen ini target pemerintah. Karena kalau di atas 3,5 persen, desil-1, desil-2, 20 persen masyarakat terbawah itu terasa,” ujar Tito saat memimpin Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang dirangkaikan dengan Penandatanganan Surat Edaran Bersama (SEB) tentang Pengelolaan Sarana dan Prasarana, serta Ketenagaan Penyuluhan Pertanian di Gedung Sasana Bhakti Praja, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin (12/10/2026).

Tito mengatakan, kenaikan inflasi secara month-to-month perlu menjadi perhatian pemerintah daerah. Kenaikan inflasi ini dipicu komponen makanan, minuman, dan tembakau.

Adapun secara year-on-year, sektor transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar. Menurut Tito, kenaikan tersebut salah satunya dipengaruhi meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik geopolitik global.

“Tapi sektor yang paling critical yang harus kita jaga betul adalah makanan minuman, karena berhubungan langsung dengan rakyat yang kelas bawah,” sambung Tito.

Mendagri menilai stabilitas harga pangan perlu dijaga agar kenaikan inflasi tidak semakin menekan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Tito secara khusus meminta daerah yang mencatat angka inflasi tinggi segera melakukan langkah pengendalian. Pada tingkat provinsi, daerah yang menjadi perhatian antara lain Sulawesi Utara, Maluku Utara, Gorontalo, Papua Pegunungan, dan Papua Tengah.

Sementara pada tingkat kabupaten, sejumlah daerah yang perlu mendapat perhatian yakni Minahasa Utara, Minahasa Selatan, Gorontalo, Nabire, hingga Kapuas. Adapun pada tingkat kota, daerah yang masuk perhatian di antaranya Manado, Kotamobagu, Ternate, Sorong, dan Banjarmasin.

Menurut Tito, pemerintah daerah perlu segera berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan komoditas pangan yang mengalami kenaikan harga dapat dikendalikan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article