Oleh karena itu, Kemendagri meminta penyaluran kedua komoditas pangan pokok tersebut lebih ditingkatkan lagi. Ini mengingat cadangan beras pemerintah (CBP) sangat berlimpah dan stok Minyakita di Bulog dan ID Food masih mencukupi.
Kemendagri Minta Pemda Atasi Harga Cabai Naik

- Kemendagri meminta pemda segera mengendalikan kenaikan harga cabai yang terjadi di 242 daerah, termasuk bekerja sama dengan Kementan melalui program CPCL untuk meningkatkan produksi cabai merah.
- Tomsi Tohir mengapresiasi stok beras nasional mencapai 5,19 juta ton, namun tetap menekankan pentingnya distribusi optimal oleh Bulog agar harga beras di daerah tidak melebihi HET pemerintah.
- Kemendagri mencatat kenaikan harga minyak goreng dan beras pada awal Mei 2026, sehingga meminta peningkatan penyaluran komoditas SPHP dan Minyakita karena stok nasional masih mencukupi.
Jakarta, IDN Times - Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Sekjen Kemendagri), Tomsi Tohir, meminta jajaran pemerintah daerah yang di wilayahnya mengalami kenaikan harga cabai agar segera mengambil langkah pengendalian. Sebagai contoh, harga cabai di Kota Malang kini mengalami kenaikan hingga menjadi Rp80 ribu hingga Rp90 ribu. Bahkan, berdasarkan data Kemendagri per 11 Mei, ada 242 daerah yang komoditas cabai mengalami kenaikan.
"(Pemda) boleh tidak membantun atau tidak bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk menanam cabai dengan catatan jangan (sampai harga) cabainya naik," ujar Tomsi dikutip dari keterangan tertulis, Senin (11/5/2026).
Dia mengatakan, masih ada daerah yang belum bekerja sama dengan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mendukung program Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) khusus untuk peningkatan produksi cabai merah. Kemendagri juga mencatat ada daerah yang menolak alokasi kawasan cabai untuk program CPCL.
Meski begitu, Tomsi tetap meminta pemda dapat mengendalikan harga cabai merah. Sebab, kenaikan itu akan berdampak langsung kepada masyarakat.
1. Kemendagri apresiasi stok beras sangat berlimpah

Tomsi turut mengapresiasi stok beras yang berlimpah dan mencapai 5,19 juta ton. Angka itu, kata Tomsi, merupakan capaian tertinggi sepanjang sejarah. Namun, Tomsi juga tetap meminta Perum Bulog agar akses distribusi beras ke daerah berlangsung optimal. Sebab, masih ada sejumlah daerah yang mengalami kenaikan harga beras.
"Tolong, Ibu (Perum Bulog) data kan daerah-daerah (harga beras) masih tinggi. Minta dihubungi untuk Bulog-nya supaya penyalurannya ditingkatkan," ujar Tomsi.
Dia pun mewanti-wanti bahwa harga eceran tertinggi (HET) merupakan standar pemerintah dalam memonitor kenaikan harga komoditas.
2. Kemendagri yakin pemda mampu mengendalikan harga komoditas

Tomsi menyadari tantangan dan dinamika untuk membuat harga sejumlah komoditas stabil di daerah bukan langkah mudah. Namun demikian, berkaca dari berbagai kondisi yang pernah dialami pada tahun-tahun sebelumnya, daerah terbukti mampu mengendalikan harga.
Oleh karena itu, dia mendorong daerah agar belajar dari pengalaman dalam mengatasi kenaikan harga. Terutama pada musim penghujan maupun kemarau.
"Dengan rapat yang setiap minggu, dengan bertahun-tahun kita mengalami musim yang sama, musim penghujan, panas, gelombang tinggi, kita harus sudah bisa mengatasi kebiasaan-kebiasaan itu. Kita sudah bisa mengatasi kesulitan-kesulitan kita itu," kata Tomsi.
3. Kemendagri juga sempat catat kenaikan harga minyak goreng

Selain komoditas cabai dan beras yang mengalami kenaikan, sebelumnya minyak goreng pun ada di situasi serupa. Bahkan, pada pekan pertama di bulan Mei kemarin, kenaikan harga beras dan minyak goreng belum dapat diredam.
Padahal, Perum Bulog telah meningkatkan penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan Minyakita.
BPS mencatat, harga rerata nasional beras medium pada pekan pertama Mei 2026 adalah Rp14.331 per kilogram (kg), naik 0,03 persen dibandingkan April 2026. Harga beras tersebut masih di atas rerata nasional harga eceran tertinggi (HET) beras medium Rp13.500 per kg.
Dalam perbandingan yang sama, harga rerata nasional beras premium juga naik 0,28 persen menjadi Rp16.128 per kg. Harga beras tersebut juga masih di atas rerata nasional HET beras premium Rp14.900 per kg.
"Harga beras dan minyak goreng itu masih terus naik meskipun jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga beras telah berkurang," ujar Direktur Statistik Harga Badan Pusat Statistik (BPS), Sarpono.

















