Jakarta, IDN Times - Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengungkapkan momen ketika status banned atau cekalnya dicabut oleh otoritas Amerika Serikat (AS). Semua berawal dari pertemuan Sjafrie dengan Menteri Urusan Perang AS, Pete Hegseth di ASEAN Defense Ministers Meeting Plus pada November 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam pertemuan itu Hegseth menyampaikan keinginannya ingin mengundang Sjafrie ke Pentagon, AS.
"Dia bilang 'Pak Menhan bisa gak saya mengundang Menteri Pertahanan Indonesia ke Amerika Serikat tahun 2026?' Dia bilang secara langsung ke saya. Saya juga kaget juga (mendengar) itu. Terus saya bilang 'terima kasih Pak Menteri telah mengundang saya, tapi saya mungkin tidak bisa pergi ke Amerika Serikat.' Menteri Hegseth lalu bertanya lagi kepada saya 'oh, kenapa? Anda kan Menteri Pertahanan.' Saya jawab bahwa saya ini korban dari ban Amerika Serikat," ujar Sjafrie ketika menghadiri rapat kerja dengan komisi I DPR pada Selasa (19/5/2026) di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat.
Ia menjelaskan alasan dicekal masuk ke Negeri Paman Sam karena mantan Pangdam Jaya itu adalah bagian dari pasukan khusus yang pernah bertugas di Timor Timur. Hal itu lantaran personel Kopassus dianggap melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di sana.
"Jadi, seluruh prajurit special forces yang pernah bertugas ke Timor Timur itu di-ban. Sudah 27 tahun, kami di-ban," tuturnya.
Meski pemerintahan telah berganti dan dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), cekal tetap berlaku bagi Sjafrie. Saat hendak mendampingi kabinet SBY ke Negeri Paman Sam, Sjafrie tak memperoleh visa.
"Saya pernah waktu itu mau mendampingi kabinet Pak SBY, (visa) diurus, tahu-tahu di-ban. Tidak boleh atas nama Pemerintah Amerika Serikat," imbuhnya.
