Gudang EMMO distribusi motor listrik di kawasan industri sentul. IDN Times/Linna Susanti
Sepanjang 2021 hingga 2023, posisi Yenna tidak berubah. Dia tetap tercatat sebagai direktur dalam berbagai perubahan perseroan yang berkaitan dengan penyesuaian kegiatan usaha dan perubahan anggaran dasar perusahaan.
Dalam periode tersebut, PT Yasa Artha Trimanunggal memperluas ruang lingkup usahanya secara signifikan. Berdasarkan data AHU, perusahaan menambahkan berbagai bidang usaha yang mencakup industri komputer, peralatan komunikasi, peralatan listrik, instalasi mesin industri, konstruksi gedung, teknologi informasi, telekomunikasi, perdagangan besar, pergudangan, logistik, hingga penelitian dan pengembangan teknologi.
Perubahan kembali terjadi pada Agustus 2024 ketika perusahaan meningkatkan modal dasar dan modal ditempatkan. Pada saat itu kepemilikan saham Yenna meningkat menjadi 46.750 lembar saham atau senilai Rp4,675 miliar.
Peningkatan terbesar terjadi pada Januari 2025. PT Yasa Artha Trimanunggal menaikkan modal dasar perusahaan menjadi Rp150 miliar. Dalam struktur terbaru, Yenna tercatat memiliki 412.500 lembar saham atau senilai Rp41,25 miliar.
Sementara itu, Komisaris Utama Andri Mulyono memiliki 1.087.500 lembar saham atau senilai Rp108,75 miliar. Dengan komposisi tersebut, Andri menguasai sekitar 72,5 persen saham perusahaan, sedangkan Yenna memiliki sekitar 27,5 persen saham.
Berdasarkan seluruh perubahan yang tercatat dalam dokumen AHU, Yenna Yuniana merupakan satu-satunya nama yang secara konsisten muncul dalam jajaran direksi sejak perusahaan berdiri. Meski terjadi beberapa kali perubahan pengurus, komisaris, dan pemegang saham, posisi Yenna sebagai direktur tetap bertahan hingga awal 2025.