Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tabrakan Maut Kereta di Bekasi, MTI Duga Ada Faktor Kelalaian Masinis
Evakuasi korban tabrakan maut CommuterLine (KRL) dengan Kereta Jarak Jauh KA Argo Bromo terus berlangsung sejak Senin malam, 27 April 2026 hingga Selasa (28/4/2026) pagi. (IDNTimes/Aryodamar)
  • Kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur melibatkan tabrakan beruntun antara KRL dan KA Argo Anggrek, menewaskan 15 orang serta melukai 88 lainnya akibat dugaan kelalaian masinis melihat sinyal merah.
  • MTI menilai sistem keselamatan kereta masih lemah dan mengusulkan percepatan pembangunan double-double track Bekasi–Cikarang serta peningkatan integrasi antara DJKA dan PT KAI untuk mencegah kecelakaan serupa.
  • Menhub Dudy Purwagandhi menyatakan pihaknya menunggu hasil investigasi KNKT guna memastikan penyebab pasti kecelakaan, sambil memastikan proses evakuasi korban berjalan cepat dan aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
2010

Kecelakaan kereta terjadi di Stasiun Petarukan, Pemalang, melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KA Senja Utama Semarang. Sebanyak 35 orang meninggal dunia, 29 luka berat, dan lima luka ringan.

27 April 2026

Sekitar pukul 20.20 WIB, taksi listrik mogok di perlintasan JPL 85 Ampera dekat Stasiun Bekasi Timur. Taksi tertemper KRL CCRC relasi Jakarta–Cikarang, menyebabkan KRL PLB 5568a tertahan dan kemudian ditabrak KA Argo Anggrek dari belakang.

28 April 2026

MTI menyoroti faktor kelalaian masinis dan kondisi keselamatan sistem persinyalan dalam kecelakaan di Bekasi Timur. Ketua Forum Perekeretapian MTI Deddy Herlambang menyampaikan keterangan resmi dan mengusulkan percepatan pembangunan double-double track Bekasi–Cikarang serta audit PPKT. Pada hari yang sama, Menhub Dudy Purwagandhi menyatakan masih menunggu hasil investigasi KNKT dan memastikan evakuasi korban dilakukan cepat serta hati-hati.

kini

Jumlah korban jiwa mencapai 15 orang meninggal dunia dan 88 orang dirawat di berbagai rumah sakit. Pemerintah menunggu hasil investigasi KNKT untuk menentukan langkah evaluasi lanjutan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Kecelakaan maut terjadi antara kereta Argo Bromo Anggrek dan KRL PLB 5568a di Stasiun Bekasi Timur, menyebabkan 15 orang meninggal dunia dan 88 lainnya luka-luka.
  • Who?
    Masinis KA Argo Bromo Anggrek diduga lalai melihat sinyal berhenti. Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menyoroti faktor keselamatan, sementara Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menunggu hasil investigasi KNKT.
  • Where?
    Peristiwa terjadi di Stasiun Bekasi Timur, tepatnya di perlintasan sebidang JPL 85 Ampera, lintas Jatinegara–Cikarang, Kota Bekasi, Jawa Barat.
  • When?
    Kecelakaan berlangsung pada Senin malam, 27 April 2026 sekitar pukul 20.20 WIB. Keterangan resmi disampaikan keesokan harinya, Selasa 28 April 2026.
  • Why?
    Dugaan awal menyebut masinis tidak melihat sinyal merah berhenti setelah adanya taksi listrik mogok di rel yang menyebabkan rangkaian KRL tertahan dan menciptakan efek domino tabrakan.
  • How?
    Taksi listrik mogok tertemper KRL pertama sehingga kereta berikutnya berhenti mendadak. Kereta Argo Bromo Anggrek
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada dua kereta tabrakan di Bekasi Timur malam hari. Awalnya ada taksi listrik mogok di rel, lalu kereta nabrak taksi itu dan berhenti. Terus datang kereta cepat Argo Anggrek yang nabrak dari belakang. Banyak orang terluka dan ada yang meninggal. Sekarang petugas masih selidiki kenapa masinis tidak lihat lampu merah dan semua orang diminta hati-hati.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di tengah tragedi kecelakaan kereta di Bekasi Timur, langkah-langkah yang diambil menunjukkan keseriusan berbagai pihak dalam memperkuat keselamatan transportasi. MTI segera mengusulkan peningkatan infrastruktur dan integrasi kelembagaan, sementara Kementerian Perhubungan menegaskan pentingnya investigasi independen KNKT serta memastikan evakuasi korban berlangsung cepat, aman, dan terkoordinasi dengan baik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menyoroti dua isu keselamatan kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam. Pertama, mobil listrik yang mogok di perlintasan tanpa palang pintu (JPL 85) dan kedua, masinis yang diduga lalai melihat sinyal berhenti. Akibatnya, kereta menabrak kereta api lain dari belakang atau rear-end collision.

"Kecelakaan kereta api (KKA) serupa berpotensi berulang dengan modus penyebab yang sama sehingga menimbulkan keprihatinan tanpa batas," ujar Ketua Forum Perekeretapian MTI, Deddy Herlambang, di dalam keterangan pada Selasa (28/4/2026).

Kecelakaan bermula adanya taksi listrik yang mogok di tengah rel pada sekitar pukul 20.20 WIB di sebidang JPL 85 Ampera. Taksi listrik itu kemudian tertemper KRL CCRC relasi Jakarta-Cikarang sehingga kereta di belakangnya, yakni KRL PLB 5568a tertahan dan tidak dapat melanjutkan perjalanan.

Namun, efek domino dari peristiwa itu berlangsung sangat cepat. Sebab, kereta api Argo Anggrek menubruk KRL PLB 5568a. Gerbong paling belakang dari KRL hancur diseruduk kereta api yang diklaim tercepat se-Indonesia tersebut.

Berdasarkan data terakhir, jumlah korban jiwa sudah mencapai 15 orang meninggal dunia. Sedangkan, 88 orang lainnya menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit berbeda.

1. Masinis KA Argo Bromo Anggrek diduga tak lihat sinyal berhenti

Petugas gabungan sedang mengevakuasi korban kecelakaan KRL dan kereta cepat jarak jauh Argo Bromo Anggrek 4 di Stasiun Bekasi Timur, Senin malam (27/4/2026). (IDN Times/Imam Faishal)

Menurut MTI, muncul dugaan masinis kereta api Argo Bromo Anggrek dianggap lalai karena tak melihat sinyal berhenti (warna merah).

"Pada lintas kereta api Jatinegara-Cikarang menggunakan persinyalan open block yang artinya jika ada rangkaian kereta api berhenti, sinyal di belakangnya menyala merah otomatis. Artinya, kereta api yang berada di belakangnya wajib berhenti. Bila masinis lalai atau tidak melihat sinyal warna merah tersebut, dapat dipastikan akan terjadi kecelakaan kereta api menabrak kereta api di depannya," ujar Deddy.

Dia mengatakan, kecelakaan serupa pernah terjadi di Stasiun Petarukan, Pemalang pada 2010 lalu yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Pasar Turi Surabaya yang menabrak KA Senja Utama Semarang relasi Pasar Senen-Semarang Tawang. Ketika itu, jumlah korban meninggal dunia mencapai 35 orang. Kemudian, 29 orang mengalami luka berat dan lima orang luka ringan.

2. MTI usulkan agar dilanjutkan pembangunan double-double track dari Bekasi ke Cikarang

Kecelakaan KRL dan kereta jarak jauh KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin malam (27/4/2026). (Dok. Kemenhub)

Melihat permasalahan yang pelik itu, MTI mengusulkan kepada pemerintah agar pembangunan double-double track dari Bekasi ke Cikarang segera dilanjutkan. Hal itu untuk pemisah perjalanan (track segregation policy) KRL dan kereta api antar kota sehingga keselamatan perjalanan kereta api terjamin.

"Dalam pengendali perjalanan kereta api terpusat (PPKT) diperlukan audit segera, apakah tepat memantau posisi dan mengatur lalu lintas kereta di lintas Bekasi-Cikarang melalui layar dan panel kendali," kata Deddy.

Selain itu, MTI juga menyarankan perlunya upgrade sarana dan prasarana perkeretapian nasional yang lebih mengutamakan keselamatan dan terintegrasi dari manajemen kelembagaan antara regulator dan pemilik prasarana perekeretapian yakni DJKA (Kementerian Perhubungan) serta operator sarana perekeretapian. yaitu PT KAI.

"Integrasi positif kedua lembaga tersebut adalah mutlak dan mendasar untuk pemeriksaan dan perawatan prasarana perkeretapian milik negara," kata dia.

Dari peristiwa kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, kata dia, menunjukkan sistem keselamatan kereta api masih reaktif (post-incident) dan belum berbasis risk-based safety management.

"Minim integrasi antara operasi sarana dan prasarana kereta api," ujar dia.

3. Menhub Dudy memilih menunggu hasil investigasi KNKT

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi saat meninjau langsung ke lokasi kecelakaan KRL dan kereta jarak jauh KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin malam (27/4/2026). (Dok. Kemenhub)

Sementara, Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwagandhi, masih menunggu investigasi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) tentang peristiwa kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. Dia mengatakan, investigasi dari KNKT akan mengungkap penyebab pasti kecelakaan secara objektif dan menyeluruh.

Kemenhub, kata dia, memberikan ruang dan menunggu KNKT untuk melakukan investigasi secara independen agar hasilnya dapat menjadi dasar evaluasi komprehensif ke depan.

Dudy juga menyebut proses evakuasi dan penanganan korban dilakukan secara cepat, terkoordinasi, serta dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian dengan mempertimbangkan keselamatan korban dan petugas di lapangan.

"Mohon doanya dari masyarakat semoga proses evakuasi ini dapat berlangsung dengan cepat, aman, dan tetap mengedepankan keselamatan, serta dapat menyelamatkan korban-korban yang masih ada di dalam kereta api," ujar Dudy, Selasa (28/4/2026).

Editorial Team