Jakarta, IDN Times - Berpergian menggunakan pesawat bagi Herawati bukanlah sekadar berpindah tempat. Tapi lebih dari itu merupakan perjuangan melawan trauma dan rasa takut yang luar biasa. Setiap kali akan melakukan perjalanan baik di dalam negeri maupun ke luar negeri, rasa takut dan was-was sudah membayanginya. Namun karena harus menjenguk anaknya yang sedang menempuh pendidikan di Jepang, Herawati tak bisa menghindari untuk menggunakan pesawat.
"Saya orangnya penakut, saya trauma banget yang namanya pesawat, setiap naik pasti gemetaran, tapi ini karena jenguk anak dan pakai Singapore Airlines jadi saya berani," ujar Hera panggilan akrab Herawati kepada IDN Times, menceritakan pengalamannya menggunakan pesawat Singapore Airlines, Jumat (6/3/2026).
Hera baru saja pulang dari Jepang pada 15 Februari 2026 usai menjenguk anaknya. Dari Jepang, ia dan suaminya, Deni, memilih menggunakan Singapore Airlines. Sedangkan saat berangkat dari Jakarta ke Singapura dan dari Singapura ke Jepang ia dan suami menggunakan Scoot, maskapai penerbangan yang merupakan anak perusahaan Singapore Airlines.
Ini bukan kali pertama ia menggunakan Singapore Airlines (SIA) untuk pergi ke Jepang, tahun sebelumnya ia juga menggunakan maskapai asal Singapura ini, saat menjenguk anaknya pada awal 2025.
Meski harga tiket tidak bisa dibilang murah, namun Hera dan suaminya lebih memilih menggunakan Singapore Airlines, karena kenyamanan di dalam pesawat bisa menghadirkan rasa aman dan membuatnya dapat menaklukkan rasa takut terhadap ketinggian.
"Dari takeoff, landing, bahkan di atas itu guncangannya halus gak bikin was-was, suara mesin pesawatnya juga halus, hampir gak ada suara, bikin saya nyaman," kata ibu 3 anak yang tahun ini genap berusia 43 tahun.
"Kenapa ya cara menerbangkannya (bisa) beda dengan pesawat yang lain. Aneh aja, padahal pesawat sama aja dengan yang lain, tapi yang udah saya rasain beberapa kali, nyaman aja. Gak bikin orang penakut kayak saya trauma. Udah nyaman dengan Singapore Airline, saya gak mau ganti lah (menggunakan maskapai yang lain), sampai gitu saya mikirnya," ujar Hera.
Hal lain yang juga membuat Hera enggan berpaling dari Singapore Airlines adalah makanannya selama di perjalanan. "Makanannya recomended, es krimnya mewah," ujarnya.
Tak hanya soal makanan, selama penerbangan Hera juga bisa menikmati beragam hiburan dari konten digital yang disediakan SIA. Bahkan suaminya masih tetap bisa bekerja selama penerbangan dengan adanya fasilitas wifi yang tersedia di pesawat. Karena fasilitas-fasilitas tersebut, Hera mengungkapkan, suaminya telah menjadi member SIA.
Pengalaman mewah selama penerbangan juga dirasakan Reza Riandra saat terbang menggunakan Singapore Airlines ke Nagoya, Jepang pada Oktober 2025 lalu. Kepada IDN Times, Jumat (6/3/2026), Reza mengungkapkan ia ke Jepang bersama ibu dan adiknya untuk berwisata.
"Gue senang pakai Singapore Airlines (SIA) karena transit di Changi, transitnya aja udah berasa liburan," katanya sambil tertawa.
Menurutnya, fasilitas-fasilitas yang diberikan SIA tergolong mewah. Apalagi dia mendapatkan tiket dengan harga promo. Kemewahan sudah mulai dirasakannya saat memilih dan memesan makanan dari Book the Cook di aplikasi SIA, 24 jam sebelum terbang.
"Makanan di pesawatnya enak, banyak pilihan, untuk Muslim, Hindu, vegan dan ada vegan total juga. Bisa di-custom juga. Ibu gue milih makanan untuk Muslim," ujarnya.
Reza mengatakan, sang ibu yang telah berumur 75 tahun, tak mengeluh sedikitpun selama dalam perjalanan meski jarak yang ditempuh dari Singapura ke Jepang sekitar 6-7 jam. Hal ini antara lain karena kabin pesawat luas dan kursi penumpang yang nyaman.
Reza juga memuji para pramugari SIA yang dinilainya elegan dan memberikan pelayanan yang bagus, terutama kepada penumpang yang sudah lansia. "Mereka pakai Bahasa Indonesia komunikasi ke ibu gue, jadi ibu gue merasa nyaman," ujarnya.
"To be honest ini seperti perjalanan mewah gue, senang sih dapat mewah dengan harga (tiket) pulang pergi gak sampai Rp7 juta," kata Reza sambil menambahkan film-film yang disediakan SIA cukup update.
"Singapore Airlines pasti pilihan utama gue sih untuk ke luar negeri," lanjut Reza yang pada 2009 juga pernah menggunakan SIA untuk ke Manchester, Inggris. Hanya saja, Reza sedikit mengeluhkan durasi penerbangan yang cukup panjang dari Singapura ke Jepang tanpa transit, karena sebelumnya telah transit di Bandara Changi. Ia berharap jika nanti Singapore Airlines bisa menerapkan aturan transit di tengah-tengah untuk penerbangan jarak jauh yang durasi waktunya panjang.
Soal kenyamanan dan rasa aman juga menjadi alasan Elice Tambu menggunakan Singapore Airlines saat pergi ke Malaysia untuk menemui klien perusahaannya, pada 2016 dan 2017 lalu.
Elice mengaku ke Malaysia menggunakan Singapore Airlines karena hanya dibolehkan menggunakan pesawat tersebut oleh kantornya.
"Kalau gak (naik) Singapore Airline gak pede, emang Singapore Airlines gak pernah sih ada yang aneh-aneh. Safety paling bagus, nol persen kecelakaan, memang harga premium tapi service-nya juga premium, rapih, bersih, super rapi," ujar Elice, Branding Strategy Director MakkiMakki Branding Consultant kepada IDN Times, Jumat (6/3/2026).
Karena harus menggunakan Singapore Airlines ke Malaysia, maka dalam satu hari perjalanan pulang pergi Jakarta-Malaysia, Elice harus merasakan 4 kali takeoff dan 4 kali landing karena harus transit lebih dulu di Bandara Changi, Singapura.
Sementara Nadia, seorang influencer dan travel content creator, mengaku memilih menggunakan pesawat Singapore Airlines untuk terbang ke Singapura saat liburan bersama keluarga, karena fasilitas dan kenyamanan yang diberikan.
"Untuk tingkat kenyamanan aku milih Singapore Airlines. Kabinnya luas, makanannya juga beberapa macam, minumannya bisa refill. Bahkan kalau di kelas premium bisa pilih menu. Sistem hiburannya itu lengkap banget. Fasilitas kursinya gak bisa lupa itu enak banget, value-nya dapat," ujar ibu dua anak ini.
Soal harga tiket, Nadia membandingkannya dengan maskapai lain yang sejenis, masih kompetitif. Bahkan menurut Nadia kadang lebih murah, karena harga tiket SIA sudah all in termasuk untuk biaya bagasi, makan, dan layanan di pesawat.
"Aku milih Singapore Airlines karena pertimbangan harganya juga, pesawat lain harga untuk tiket aja, gak termasuk biaya bagasi. Kalau dihitung-hitung jatuhnya mahal juga. Kalau Singapore Airlines harga sudah termasuk bagasi, makan, lebih sedikit (harganya) ya gak apa-apa. Sering ada promo (harga tiket)," ungkap Nadia kepada IDN Times, Jumat (6/3/2026).
Bahkan, kata Nadia yang mengaku sebagai member Singapore Airlines, anaknya mendapatkan merchandise saat terbang dengan SIA. Saat ini, Nadia tengah mengincar untuk dapat tiket promo Singapore Airlines tujuan Jepang.
"Suka banget naik Singapore Airlines, soal harga gak ngaruh. Sekarang semua maskapai harga tiket tanpa bagasi, kalau dipikir-pikir kenapa gak sekalian ambil maskapai yang harga tiketnya sudah all in, karena jatuh-jatuhnya (total harga tiket) sama aja," ujar Nadia yang memiliki follower di akun Instagramnya, @nadia_arz, sebesar 40,1 ribu orang.
Tak lupa ia berbagi tips agar bisa terbang dengan Singapore Airlines dengan harga tiket sesuai kantong. "Untuk dapat harga murah, Singapore Airlines suka ada travel fair, pantengin tiap tahun, kayak ke Jepang, dia ada rute ke Jepang, pantengin Instagramnya dan sering-sering buka aplikasi Singapore Airlines," ujarnya.
