Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
TPST Bantargebang Terus Dibebani, DKI Mulai Olah Sampah dari Pasar
Pasar Induk Kramat Jati. (IDN Times/Dini Suciatiningrum)
  • Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mendorong pengurangan beban TPST Bantargebang lewat program pengolahan sampah organik di pasar tradisional, dimulai dari Pasar Kramat Jati.
  • Sampah organik sekitar lima ton per hari diolah menjadi pupuk cair dan kompos, bekerja sama dengan perusahaan swasta serta Pupuk Indonesia untuk mendukung pertamanan Jakarta Timur.
  • Program ini bertujuan menekan volume sampah ke Bantargebang sekaligus menghasilkan produk bernilai guna demi pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan di ibu kota.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pak Gubernur Pramono datang ke pasar di Kramat Jati karena sampahnya banyak sekali, sampai lima ton tiap hari. Sekarang sampah di pasar itu mau dipisah dan diolah, biar tidak semua dikirim ke tempat sampah besar di Bantargebang. Sampah sayur dan buah nanti bisa jadi pupuk buat taman di Jakarta Timur. Pemerintah kerja sama dengan orang pasar, perusahaan, dan Pupuk Indonesia supaya kota jadi lebih bersih.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Inisiatif pengolahan sampah di Pasar Kramat Jati menunjukkan langkah konkret Pemprov DKI Jakarta dalam mengubah tantangan menjadi peluang. Dengan melibatkan masyarakat, swasta, dan Pupuk Indonesia, program ini tidak hanya menekan beban TPST Bantargebang tetapi juga menghasilkan pupuk bernilai guna yang mendukung pertamanan kota serta memperkuat praktik pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mulai mendorong pengurangan beban sampah ke TPST Bantargebang lewat pengolahan sampah organik di pasar tradisional. Salah satu titik yang menjadi perhatian ialah Pasar Kramat Jati yang memproduksi sekitar lima ton sampah per hari.

Saat meninjau uji coba pengolahan sampah di Pasar Jaya Area 7 Kramat Jati, Senin (11/5/2026), Pramono menegaskan program pemilahan sampah mulai dijalankan bersama masyarakat dan pihak swasta. Langkah itu difokuskan pada pengolahan sampah organik maupun anorganik agar tidak seluruhnya berakhir di Bantargebang.

“Hari ini sebagai tindak lanjut dari program pemilahan sampah yang kemarin sudah kita canangkan, maka Pemerintah DKI Jakarta melalui Pasar Jaya akan bekerja sama dengan masyarakat yang mempunyai concern (perhatian) untuk penanganan sampah, terutama sampah organik dan anorganik,” kata Pramono, Senin.

1. Hasilkan lima ton sampah setiap hari

Kebakaran Pasar Induk Kramat Jati, Pedagang Mulai Pindah Hari Ini (dok. Pemprov DKI Jakarta)

Dia mengatakan, sampah organik dari pasar nantinya diolah menjadi pupuk cair dan pupuk komposit untuk mendukung kebutuhan pertamanan di Jakarta Timur. Pemprov DKI juga menggandeng perusahaan swasta serta Pupuk Indonesia dalam pengelolaan tersebut.

“Seperti kita ketahui di tempat ini, kurang lebih setiap hari 5 ton, nanti bekerja sama dengan perusahaan swasta untuk menghasilkan output yang akan bermanfaat bagi pertamanan dan juga yang lainnya, dan juga dengan Pupuk Indonesia,” ujarnya.

3. Pasar diharapkan hasilkan produk nilai guna

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dalam acara BUMD Leaders Forum Putri Duyung Ancol, Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026)/(dok/Pemprov DKI)

Program ini menjadi bagian dari Pemprov DKI menekan volume sampah yang selama ini terus dikirim ke Bantargebang. Pemerintah daerah menilai pengolahan sampah langsung dari sumbernya menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap TPST yang selama ini menampung sampah Jakarta.

3. Pasar diharapkan hasilkan produk nilai guna

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memimpin pemberantasan ikan sapu-sapu di Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026). (IDN Times Dini Suciatiningrum)

Selain mengurangi timbunan sampah, pengolahan limbah organik pasar juga diharapkan menghasilkan produk bernilai guna dan memperkuat pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan di ibu kota.

Editorial Team