Comscore Tracker

Amien Rais Bicara tentang Batalnya Aksi di Monas 20 Mei 1998

#21TahunReformasi Memaksa Soeharto turun

Yogyakarta, IDN Times - Bagaimana Amien Rais mengenang kembali Reformasi Mei 1998? Awal Mei 2018, IDN Times menemui sosok yang pernah mendapat sebutan sebagai Lokomotif Reformasi itu, di rumahnya di kawasan Pandean Sari, Yogyakarta.

Pagi hari, 3 Mei 2018 itu, Amien Rais sudah menerima tamu. Para guru dari SMA Budi Mulia Dua mengantarkan Amel, murid kelas 2 SMA di sekolah itu untuk bersama 10 siswa SMA dari Indonesia, mengikuti Olimpiade Sains di Pittsburg, AS.

Istri Amien Rais, Kusnasriyati Sri Rahayu, memulai aktivitas di dunia pendidikan dengan mendirikan Taman Kanak-Kanak di musala yang terletak di kawasan rumah mereka pada 1987. 

Kini, Yayasan Budi Mulia Dua yang didirikan pasangan Kusnasriyati dan Amien Rais telah menjelma menjadi 17 sekolah dan beragam usaha lain, termasuk SD Internasional Budi Mulia Dua di kawasan Tajem, Yogyakarta. 

Amien Rais mengenakan jas, rapi. Tasniem Fauzia, putrinya yang kini mengelola sekolah, sempat berkomentar, “Bapak rapi pakai jas karena mau diwawancarai, ya?” Amien Rais menjawab sambil tertawa, ”Ini kan mau hadir di UGM, ada promosi doktor. Lulusan sekolah kita juga.”

Berikut cuplikan wawancara dengan Amien Rais.

1. Jauh sebelum Mei 1998, Anda sudah gencar menyuarakan perlunya reformasi, bahkan suksesi kepemimpinan nasional. Mengapa?

Amien Rais Bicara tentang Batalnya Aksi di Monas 20 Mei 1998IDN Times/Yogie Fadila

Jadi sebelum Mei 1998 itu saya sudah sering mengangkat isu politik yang sangat sensitif. Bahkan, 1993 di Muhamadiyah saya mengatakan perlunya suksesi kepemimpinan nasional sebagai syarat untuk reformasi. Jadi selama Pak Harto masih kukuh menjadi presiden, saya yakin berdasarkan analisa dan insting saya saat itu tidak mungkin ada pembaruan, karena sudah diploting demokrasi kita itu demokrasi Pancasila, tidak berdasarkan oposisi, kemudian semua keputusan penting ada di satu tangan yaitu di Istana Negara, di tangan Pak Harto, sebagai Presiden.

Kemudian waktu itu saya lihat ini kita bentuknya Republik serasa Kerajaan, jadi bahkan cagub, cawalkot, cabup itu dipilih oleh DPRD. Kemudian supaya ada performa demokrasi itu ada calon pendamping, tapi calon pendamping itu tidak untuk dipilih. Yang dipilih partai itu pasti yang bukan pendamping, sehingga lantas apa kata Pak Harto itu jadi keputusan. Di situ saya agak mulai gelisah. Jadi karena pendidikan (S3) di Chicago dan saya melihat keadaan dunia saat itu, memang saya melihat kalau Indonesia tidak ada perubahan itu bisa mengalami keterbelakangan. 

Karena itu saya membuat 10 tesis mengapa harus ada suksesi, mengapa Pak Harto sebaiknya turun panggung. Sepuluh tesis itu antara lain pertama, saya ingatkan kita itu republik bukan kerajaan, kalau kerajaan itu kita gak bisa ganti raja atau ratu kecuali mangkat atau sakit keras. Sementara republik itu ada turnover, setiap 4-5 tahun. Jadi ada sirkulasi kekuasaan berdasarkan pemilihan umum. 

Kemudian yang kedua, juga saya mengatakan bahwa sebuah kekuasaan yang makin mutlak itu korupsinya juga mutlak. Karena saya mempunyai tesis korupsi paling dahsyat itu pasti di seputar Istana. (Korupsi) di sekitar bupati, gubernur, DPR itu kecil-kecil dibanding di pusat kekuasaan. Jadi berlaku ada idiom kekuasaan bahwa yang korup melahirkan korupsi yang kuat. 

Ketiga, saya mengatakan bahwa pemerintahan sentralisasi itu memang menyebabkan ketimpangan luar biasa antara ibu kota dan di luar ibu kota, bahkan juga ketimpangan Barat dan Timur.

Jadi waktu itu, kelihatan sekali bahwa pemerintah daerah itu gak bisa membangun karena budget-nya itu sudah diambil oleh pusat. Jadi seluruh kekayaan dari sumber daya alam dan lain-lain itu memang disetor langsung ke pusat, baru dikembalikan ke daerah kurang dari 2,5 persen. Sehingga saya bergurau bahwa itu lebih kecil dari zakat 2,5 persen. 

Makanya desentralisasi itu perlu, cuma begini saya dulu merasa keliru menggunakan istilahnya. Jadi kalau republik federal, lihat Australia, Swiss, Jerman, itu federal, Amerika juga sebenarnya federal karena negara bagiannya itu banyak, bisa lebih menjamin keadilan, yang kemudian karena negara itu sangat luas kalau pusat memegang kendali pasti ada penumpukan korupsi semakin banyak.

Malah belakangan saya dengar komentar, 'Pak Amien istilah itu bisa berbeda tapi sama, Pak Amien gelorakan otonomi daerah itu persis seperti federal karena tersebar, sehingga daerah bisa menentukan budget sendiri, akan mengontrol, mengawasi kekayaan yang ada di pangkuan bumi yang bersangkutan'. Kemudian alhamdulillah itu sudah terlaksana.

Juga kebebasan pers ya, karena dulu kan hantu bredel itu luar biasa. Walau pun memang kebebasan pers itu sekarang ini tidak ada tanggung jawabnya, jadi rumusnya kan jadi kebebasan gak ada tanggung jawab akan chaos jadi semaunya. Hoax jadi hiasan setiap jam, kemudian fitnah bertaburan, pelecehan dilakukan saling ganas antar kekuatan politik, itu cyber dibiayai sampai jumlahnya fantastis, kerjaannya itu menghantam pola politik dengan segala macam sumpah serapah. Memang ini menjadi menurunkan roh demokrasi kita, (harusnya) ada etika ada fatsun.

2. Bergulirnya Reformasi 1998 dipercepat oleh Tragedi Trisaksi 12 Mei. Di mana Anda saat itu?

Amien Rais Bicara tentang Batalnya Aksi di Monas 20 Mei 1998ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Sesudah penembakan, jadi sebelum itu saya ke Lamongan. Kemudian saya ditemani oleh Fahri Hamzah sekarang wakil ketua DPR. Fahri Hamzah ini bukan PAN (Partai Amanat Nasional), tapi kemudian gabung Partai Keadilan, belum ada sejahteranya waktu itu. Dia dengan saya dekat sekali. Kemudian di Lamongan sampai di Madiun saya dapat telepon dari Mas Parni Hadi (saat itu Pemimpin Redaksi Koran Republika, red). “Mas Amien di mana? Jangan masuk ke Jakarta dulu, ini ada informasi A1, Anda akan ditangkap,” kata Mas Parni. 

Sampai ke Sragen, Pak Sri Edi Swasono, kakaknya Mas Sri Bintang Pamungkas, telepon. “Pak Amien nang endi? Di mana?” Jawab saya, di Jawa Tengah. Lalu, Mas Sri Edi bilang, “Jangan masuk Jakarta dulu, Anda pasti ditangkap.” Terakhir telepon dari Pak Adi Sasono almarhum. Dia kan juga dulu HMI, akrab. Bapaknya dan Bapak saya itu sangat bersahabat. Jadi ia wanti-wanti, “Please jangan datang ke Jakarta, Anda akan ditangkap.”

Sampai di Solo saya sowan ke ibu saya. “Bu, saya mestinya harus ke Jakarta 16-17 Mei nanti, cuma kata teman-teman kemungkinan saya ditangkap, gimana Bu pertimbangannya?” Lalu ibu saya di luar dugaan bilang, “Mien, itu risiko perjuangan, jadi memang saya kan sering mengatakan, Pak Harto itu gak murka, gak marah karena kamu kan dosen biasa di UGM, Pak Harto tinggi jabatannya, tapi sepertinya kamu kan bawa semacam galah, kursi Pak Harto dicengusin (digoyang) Beliau bisa marah, mudah-mudahan gak, kamu anakku, bismillah kamu gak apa-apa.”

Nah, sampai di Yogya, kan anak saya sudah lima waktu itu, kemudian saya beritahu ke istri, saya telepon ke sahabat-sahabat saya, di luar dugaan istri saya bilang: “Mas bismillah, gak apa-apa kok, soal anak-anak saya bisa carikan makan, saya bisa kerja seadanya.” 

Dari situ saya ke Jakarta.

Saya masuk ke Jakarta itu saat itu sudah terjadi bakar-bakaran, tanggal berapa ya tanggal 13 Mei. Jadi waktu bakar-bakaran itu saya mencari taksi bandara Cengkareng yang mau ke kota Jakarta gak ada yang berani. 

Asap membumbung. Saya bilang kepada supir taksi: “Sekarang gini Mas, jadi tolong saya dibawa ke kantor PP Muhamadiyah, di Menteng Raya nomor 62.” Dia tetap gak berani lalu beralasan nanti kalau banyak yang ngamuk-ngamuk kalau mobilnya dibakar gimana?” Lalu saya bilang, “Kamu percaya gak sama saya? Kalau percaya akan saya ganti. Bahkan, kalau perlu saya ganti semuanya kalau dirusak, bismillah.”

Saya sendirian waktu itu, kemudian saya ingat betul ketika lewat Pasar Senen, anak-anak muda banyak sekali, saya sudah berusaha menutup kaca mobil taksi tapi mereka memaksa buka. Waktu saya buka mereka teriak, “Wah, Amien Rais.” Kemudian mereka bilang 'Hidup Amien, hidup Amien' lalu mereka nari-nari di atas kap, saking gemesnya mentung kaca spion, bukan karena marah tapi karena gembira gitu. Lalu saya dipersilakan pergi.

Kemudian, lantas ketika peristiwa Trisakti itu saya bilang, “Saudara-saudaraku, para TNI, para anggota kepolisian, ingat baju Anda itu dari rakyat, senjata Anda dari rakyat, peluru Anda dari rakyat, masa Anda tega? Please, sadar.” Untuk menarik hati mereka saya sampai bilang, “Hidup TNI, Hidup Polri.”

Dari Muhammadiyah ke Trisakti saya dikawal beberapa teman dari Perguruan Silat Tapak Suci.

Catatan redaksi:

Awal Mei 1998 memang beredar kabar bahwa Amien Rais akan ditangkap. Tuduhannya berat, subversi. “Perjuangan saya justru untuk memberdayakan posisi rakyat terhadap negara. Saya keberatan kalau dituduh melakukan gerakan subversif,” kata Amien Rais saat itu.

Sejak marak demonstrasi mahasiswa, nama Amien melesat. Dia menjadi bintang mimbar bebas di mana-mana, termasuk di masjid dan kampus. Amien saat itu ikut dalam berbagai pertemuan dengan pro-reformasi, kaum pembangkang di mata rezim, pula dengan petinggi dalam kalangan militer. 

Sejak awal 1998, praktis tak ada hari di mana Amien Rais tak melakukan penggalangan opini agar reformasi digulirkan. Majalah Panji Masyarakat edisi 25 Mei 1998 mengutip jajak pendapat yang dilakukan Harian Kompas, yang menempatkan Amien Rais dalam posisi teratas sebagai sumber paling dipercayai dalam bidang politik, disusul Jenderal TNI Rudini dan Emil Salim. Bahkan, Jenderal Besar Abdul Haris Nasution meminta rakyat ikuti Amien Rais.

3. Hari-hari jelang 20 Mei 1998. Tuntutan agar Soeharto mundur menguat. Apa yang Anda lakukan?

Amien Rais Bicara tentang Batalnya Aksi di Monas 20 Mei 1998IDN Times/Yogie Fadila

Di hari-hari itu saya mencoba membaca situasi. Kemudian saya dikatakan “Amien Rais bisa jadi King of Power seperti Filipina.” Saya katakan, kita di Indonesia punya cara sendiri. Kemudian saya dengan teman-teman berpikir, bagaimana jika lakukan syukuran Reformasi 20 Mei di Lapangan Monas? Sekalian Hari Kebangkitan Nasional.

Rencana ini, pengerahan massa ke Monas yang letaknya di depan Istana, rupanya menggelisahkan. Kemudian malam hari sebelum 20 Mei itu, saya didatangi oleh Yusril Ihza Mahendra. Beliau kan saat itu yang suka buat teks pidatonya Presiden Soeharto.

Yusril datang dikawal paspamres yang membawa senjata laras panjang yang besar. Saat itu saya menginap di rumah dinasnya Malik Fajar, waktu itu Beliau belum menteri agama, masih dirjen. Di kawasan Menteng. Yusril bicara, “Pak Amien, melihat tadi pidatonya Pak Amien di Senayan di hadapan puluhan ribu mahasiswa dan kelompok pro-reformasi, memang Pak Harto memutuskan untuk lengser. Kemudian yang akan mengganti otomatis Pak Wapres yaitu Pak Habibie, Pak Harto lewat saya bertanya, Pak Amien setuju gak?''

Saya katakan, “Pak Yusril sampaikan salam hangat kami, salam hormat kepada Pak Soeharto yang kita hormati, itulah yang kita harapkan Beliau lengser untuk melaksanakan reformasi.”

Kemudian jam 1 malam saya sudah mau tidur karena gak tidur 24 jam, itu Pak Yusril datang lagi. “Pak Amien kalau sekarang ini (gedung DPR/MPR) diduduki mahasiswa. Padahal serah-terima jabatan kan harus di depan sidang MPR.” Saya bilang,” Pak Yusril, Anda kan ahli hukum, kalau saya dari segi fiqih saja yang penting kan transfer of authority, jadi pemindahan jabatan dari Pak Harto ke Pak Habibie bisa di manapun.”

Jadi analoginya kita salat menyembah Allah berjamaah itu di masjid, nah kalau masjidnya kena banjir kita bisa salat di trotoar. Trotoar banyak najis misalnya, kita bisa lakukan di pematang sawah. Di mana pun asalkan bersih. Saya pesan, “Pak Harto kami gembira sekali bisa di mana pun gak usah ke MPR.”

Nah, lantas memang waktu itu Pak Akbar Tanjung, menteri-menteri memang menyambangi saya di rumah dinas Malik Fajar itu. Kemudian, ya bicara-bicara bahwa mereka sudah mendengar bahwa Pak Harto akan lengser, tapi yang menarik saya tahunnya belakangan setelah Pak Harto lengser, itu beberapa dokter pribadi Pak Harto silatuhrami ke PP Muhammadiyah, menjelaskan bahwa Pak Harto itu memang seorang pemimpin yang mendahulukan kepentingan rakyatnya.

Artinya begini, pada waktu moment of truth ketika kita sudah ingin Pak Harto turun, Pak Harto tidak lantas menggunakan kekerasan seperti mengerahkan sampai ratusan tank, seperti yang dilakukan tentara China di Tiannanmen. Pak Harto lengser bahkan menghubungi saya, saya juga merasa membuka hotline, sehingga kemudian kita bersyukur tidak ada sesuatu yang perlu disesali walau pun memang huru-hara terjadi di mana-mana. Euforia sampai ada toko yang dijarah.

Baca Juga: 18 Mei 1998, Ketegangan Reformasi Mei Memuncak

4. Mengapa rencana aksi massa 20 Mei 1998 di Monas dibatalkan?

Amien Rais Bicara tentang Batalnya Aksi di Monas 20 Mei 1998AFP/Kemal Jufri

Saya dapat telepon dari Cilangkap (Markas Besar ABRI), saya namanya lupa, dia minta saya membatalkan (syukuran) itu, karena mereka harus tugas menjaga Istana. Soalnya, kata mereka, kalau berubah jadi kegiatan people power mungkin akan dibubarkan oleh mereka dengan risiko apapun. 

Nah, terus saya pakai mobil Kijang ke Rumah Sakit Islam Jakarta. Disopiri Pak Awien. Saya sendirian pakai sarung, pakai baju batik lusuh gitu masih dari kamar tidur, pakai sandal jepit. Dia mengajak saya. “Pak Amien kita lihat Monas kayak apa katanya (suasananya) seperti mengancam, betul gak?” Setibanya di sana saya lihat di Monas, ada enam Panser, ada sekitar delapan tank. 

Waktu itu ada segerombolan kumpulan tentara itu, saya turun pakai sarung. Mereka menyapa, “Selamat pagi Pak Amien ke sini, Pak?” Wah, mereka senang sekali saya juga tidak anti, lalu saya tanya apa instruksinya? Lalu mereka jawab bahwa belum tahu karena disuruh posisi miring, nanti belakangan instruksinya.

Lalu saya pergi ke teman-teman KKO (Marinir). Mereka juga belum ada instruksi. Kemudian saya pulang. Rupanya seperti yang bicara di telepon dari Cilangkap, bukan hanya gertak sambal. Beneran mereka menjagai Istana secara ketat.

Saya kemudian jam 3 pagi (20 Mei 1998) membagi informasi ke RRI dan ke berbagai stasiun televisi bahwa jam 5 pagi akan ada pesan dari Amien Rais. Saya masih ingat saya katakan: “Kalau ada yang paling kecewa kalau besok tidak terjadi syukuran massal bersyukur atas reformasi tentu saya sendiri, tapi kita harus melihat secara jernih keadaan. Pak Harto sudah sepuh kalau kita ingin Pak Harto yang sepuh itu turun, lantas terjadi backlash, apa kata dunia? Apa kata akhirat? Jadi karena itu, mungkin kita gak ke Monas tapi diganti ke Senayan.”

5. Jumpa pers sebelum jadwal syukuran di Monas, ya. Lalu, apa yang Anda lakukan sesudahnya?

Amien Rais Bicara tentang Batalnya Aksi di Monas 20 Mei 1998IDN Times/Yogie Fadila

Kemudian saya kan gak jadi ke Monas, saya ke Al-Azhar di Kebayoran bertemu dengan teman-teman yang kemudian mendirikan Partai Keadilan (cikal bakal PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN). Di sana ada dua pendapat, “Pak Amien gak usah ke Senayan.” Mereka bilang mungkin akan dilecehkan karena tidak semua dukung saya. Ada juga yang gak suka.

Nah, kemudian ada juga yang bilang, “Gak Pak. Mereka menunggu Bapak, kalau tidak datang aneh sekali. Bismillah saja.” Lalu saya dihubungi Sandra Hamid. Mbak Sandra dari kelompok pro-reformasi. Dia bilang, “Mas Amien mereka menunggu Anda, please come over ke Senayan, ini sudah ditunggu ratusan ribu mahasiswa dan juga pemuda.”

Saya bismillah, lalu berangkat. Saya diberitahu Mbak Sandra bahwa di situ ada Permadi, Buyung Nasution, Pak AM Fatwa, Pak Emil Salim, dan banyak tokoh. Saya masih ingat begitu saya mau masuk ke Senayan kan ada batu-batu sebagai pembatas bahwa tidak boleh masuk, polisi kan melawan. Tapi ketika saya buka salam, mereka menyambut baik, disingkirkan batunya lalu saya boleh masuk. sampai ketika di masuk Senayan. Mereka meneriakkan nama saya juga.

Suasana menurut saya mengharukan sekali, tangan saya dipegang oleh teman Muhammadiyah yang ada di situ. “Mas Amien istighfar, jangan takabur.” Lalu saya istigfar saya gak takabur. Karena kan memang dielu-elukan, saya naik mimbar. Di situ saya katakan, “Pak Harto lihat lah kami ini, kami memang memohon sebaiknya Pak Harto lengser.”

Malamnya, di sini kata para dokternya Pak Harto, ketika malam mau lengser seluruh menteri tidak ada nongol kecuali Pak Saadilah Mursjid, menteri sekretaris negara.

Setelah reformasi saya belum pernah ketemu Pak Harto. Jadi waktu Beliau sakit saya menjenguk sudah depan kamar, kemudian keluarga Pak Harto bilang, “Maaf Pak Amien gak usah masuk saja.”

Baca Juga: 19 Mei 1998, Soeharto Coba Redam Suasana dengan Undang Ulama

6. Menurut Anda, siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas Tragedi Kerusuhan 13-14 Mei 1998?

Amien Rais Bicara tentang Batalnya Aksi di Monas 20 Mei 1998ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

(Menghela napas). Yang jelas yang punya bedil, ya. Kemudian sampai sekarang kan masih remang-remang, bahkan makin gelap. Jadi waktu itu, Pak SBY sudah janji akan dituntaskan. Kemudian Bu Mega juga janji. Kemudian sampai Jokowi juga gak menuntaskan. Artinya, memang perbuatan dilarang hukum, jadi mengapa sudah 20 tahun, beberapa kali berganti presiden tidak ketahuan?

Sementara, polisi kita diacungi jempol oleh intelijen se-Inggris Raya, bahkan CIA, FBI juga mengacungi jempol karena berhasil menangkap seluruh tersangka Bom Bali. Bom Marriot dalam waktu tiga hari terungkap, ketahuan. Kasus (Mei 1998) ini mengapa tidak? Karena masih ada dalang, siapa itu? Ya tentu semua gak tahu, saya juga gak tahu.

7. Reformasi Mei 1998, digerakkan oleh ribuan mahasiswa. Sesudah 20 tahun, bagaimana Anda melihat generasi millennial dan politik negara?

Amien Rais Bicara tentang Batalnya Aksi di Monas 20 Mei 1998IDN Times/Yogie Fadila

Menurut saya keberhasilan dari rezim ini adalah menumpulkan sensitivitas angkatan muda, termasuk mahasiswa, termasuk para intelektualnya. Jadi yang mengelola negeri ini jam terbangnya untuk menjinakkan atau melemahkan oposisi memang pandai sekali. Nah, memang yang bisa lolos dari jebakan ini tidak banyak.

 

Pada 14 Mei 1998, Amien Rais membentuk Majelis Amanat Rakyat (MAR). Konferensi pers dilakukan di Café Galeri, Jakarta. Amien Rais didampingi sejumlah tokoh yaitu Goenawan Mohamad, Toety Heraty Noerhadi, Arifin Panigoro, Albert Hasibuan, Rizal Ramli.

Saat deklarasi MAR, Amien membacakan tiga tuntutan: menyerukan kepada Presiden Soharto agar mengundurkan diri, menyerukan agar aparat keamanan untuk menghindarkan diri dari segala bentuk penggunaan kekerasan kepada rakyat, mengimbau kepada mahasiswa, generasi muda, dan rakyat umum untuk secara sungguh-sungguh dan secepat-cepatnya menciptakan perubahan situasi yang memungkinkan kehidupan masyarakat secara wajar dapat dipulihkan segera.

Gaya bicaranya yang tanpa tedeng aling-aling serta keberaniannya menempatkan AR, demikian inisial namanya, menjadi pembicara yang ditunggu-tunggu. “Demonstrasi itu demokratis. Kurangilah menjarah dan maling, yang mungkin juga diilhami mereka yang ada di atas,” kata Amien di depan ribuan jamaah salat Jumat di Masjid Agung Al Azhar, setelah membacakan deklarasi MAR, Mei 1998. “Cuma satu yang penting. Pak Harto harus mundur,” teriaknya, di sela-sela gemuruh takbir.

Setelah 20 tahun Reformasi, Amien Rais yang kemudian mendirikan PAN bersilang langkah dengan sejumlah teman-teman sesama sosok pro-reformasi. Kepentingan di antara mereka sudah berbeda. Begitu pula patron politiknya. Dalam politik, tak ada yang abadi, kecuali kepentingan.

Baca Juga: Ini Kisah Lahirnya Kebebasan Pers oleh BJ Habibie Awal Era Reformasi

Topic:

  • Yogie Fadila
  • Rochmanudin

Just For You