Jakarta, IDN Times - Letnan Jenderal Kristomei Sianturi resmi memimpin Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Jumat (16/10/2026) usai menjalani seremoni serah terima jabatan di InaDRTG, Sentul, Kabupaten Bogor. Upacara sertijab itu dilakukan di tengah pengusutan kasus dugaan rasuah dana siap pakai BNPB.
Apalagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengakui telah menggeledah sejumlah ruang kerja di BNPB untuk melengkapi bukti usai melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Salah satu ruang kerja yang telah digeledah yakni ruangan Letjen Suharyanto selaku Kepala BNPB terdahulu. Adik Suharyanto merupakan satu dari lima individu yang telah ditetapkan menjadi tersangka rasuah.
Kristomei mengaku ia bukan sosok baru dalam penanganan bencana. Sebelumnya, ia pernah bertugas di BNPB saat tergabung dalam Satuan Tugas Penanganan COVID-19 pada 2020 lalu. Ketika itu, Kristomei mengaku masih berpangkat kolonel dan diperbantukan di media centre BNPB. Salah satu tugasnya ketika itu mendampingi mantan Kepala BNPB, mendiang Letjen TNI (Purn) Doni Monardo.
"Saya teringat enam tahun lalu, mendampingi Pak Doni Monardo saat itu saya diperbantukan di media centre. Itu salah satu pengalaman kami. Bahkan, saat itu saya juga sempat menginap di kantor BNPB," kata Kristomei seperti dikutip dari keterangan pada hari ini.
"Jadi, bertugas di BNPB bukan hal yang baru. Meskipun itu berlangsung hanya sebentar. Namun, banyak yang berkutat langsung di dalamnya," imbuhnya.
