Comscore Tracker

[WANSUS] Begini Kata Pejabat WHO Soal Penanganan COVID-19 di Indonesia

Simak wawancara IDN Times bersama Penasihat Dirjen WHO

Jakarta, IDN Times- Virus Corona atau COVID-19 menjadi momok yang mengerikan di Indonesia. Jumlah kasus positif dan meninggal dunia masih terus meningkat, belum menunjukkan tanda-tanda akan terjadinya penurunan. Jika melihat tingkat kematiannya (case fatality rate/CFR), Indonesia “bersaing” dengan Italia untuk menempati urutan teratas.

Kantor perwakilan World Health Organization (WHO) di Asia Tenggara bahkan memprediksi episentrum virus corona yang semula terpusat di Wuhan, berpindah ke Eropa, kemudian ke Amerika Serikat, akan beralih ke Asia Tenggara. Jika Indonesia dan negara ASEAN lainnya tidak mengambil tindakan secara cepat dan tepat, bisa dipastikan prediksi tersebut akan terjadi.

Kendati begitu, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom, optimistis Indonesia bisa menghadapi gelombang Corona yang saat ini sudah menewaskan sekitar 191 orang per Sabtu (4/4).

“Kami bekerja sangat dekat dengan Indonesia. Kami banyak melakukan diskusi dengan Menteri Luar Negeri dan Presiden. Kami memiliki sikap yang sama dalam merespons ini dan kami akan meningkatkan kerja sama dengan terkait COVID-19 di Indonesia,” kata Tedros saat konferensi pers WHO, Senin (30/3) kemarin.

Lantas, apa yang dimaksud oleh Tedros sebagai peningkatan kerja sama menurut Tedros? Kemudian, bagaimana sesungguhnya WHO melihat kebijakan Indonesia dalam menghadapi pandemik ini?

Untuk mencari tahu jawabannya, IDN Times melakukan wawancara dengan Penasihat Dirjen WHO untuk urusan Gender dan Pemuda, Diah Satyani Saminarsih. Perempuan yang karib disapa Ade ini merupakan satu-satunya dan perempuan Indonesia asal pertama yang menjadi penasihat orang nomor satu di WHO. Ade resmi berkantor di Genewa, Swiss sejak 2018 silam.

Sebelum bekerja dari Markas Besar WHO, Ade pernah menjadi Staf Khusus untuk Menteri Kesehatan Nila Djuwita Faried Anfasa Moeloek sepanjang 2014-2018. Mundur lagi ke belakang, pada 2010-2014, alumni Seattle University ini pernah bekerja di Kantor Kepresidenan berkutat dengan Millennium Development Goals (MDGs).

Lantas, apa kata Ade terkait penanganan COVID-19 di Indonesia? Simak wawancara eksklusifnya berikut ini.

[WANSUS] Begini Kata Pejabat WHO Soal Penanganan COVID-19 di IndonesiaInstagram/@adediah

Tingkat kematian akibat virus corona di Indonesia termasuk salah satu yang tertinggi di dunia. Apakah WHO memiliki catatan terkait negara-negara dengan CFR yang tinggi?

Yang pertama harus harus dicatat adalah (penanganannya) tidak boleh terlambat, karena kita harus belajar dari keterlambatan negara-negara lain dalam menghadapi ini. Kalau mau di balik, yang diperlukan untuk menangani ini secara efektif dan efisien dalam menyelamatkan manusia adalah kecepatan dan ketepatan. Jadi dua-duanya harus berjalan beriringan. Artinya, cepat melakukan isolasi, tapi tepat juga melakukan tes, penelusuran, dan perawatan. Itu sangat mudah diucapkan tapi sangat sulit diterapkan, terutama dalam kondisi pandemik. Karena pandemik berarti seluruh dunia mengalami kasus dan kegawatan kesehatan yang sama.

Kemudian, apa yang harus dilakukan Indonesia?

Seluruh dunia ingin menyelamatkan penduduknya, ingin memberikan yang terbaik untuk warganya, sehingga alat (perlindungan dan kedokteran) menjadi susah, kekurangan tenaga medis menjadi faktor yang sangat berat. Indonesia baru mengalami saat ini. Tapi sebenarnya apa yang terjadi di Tiongkok, Italia, dan Iran, sekarang di Spanyol dan Amerika, kita harus belajar dari apa yang mereka tidak lakukan sehingga tidak boleh kita ulang. Dan kita harus melihat Jepang, Korea Selatan, dan Singapura, apa yang mereka berhasil kerjakan dan apa yang bisa kita contoh sehingga diadaptasikan dengan Indonesia. Ini barangkali keuntungan, walau sebenarnya gak ada yang diuntungkan, karena kita kenanya belakangan, kita bisa melihat apa yang bisa dilakukan negara lain. Kalau terlewatkan dan tidak jeli melihat segitu banyak referensi yang sudah ada, dan kita mengulang kesalahan dari negara lain, pertaruhannya adalah nyawa manusia.

Menurut Anda, apakah Indonesia sudah meniru praktik terbaik dari berbagai negara?

Saya harap sudah, saya harap lewat Gugus Tugas dan masukan para ahli, Indonesia bisa belajar dari kesalahan. Dan saya yakin rekan-rekan dari WHO Indonesia juga membantu sekuat tenaga dalam memberikan cara-cara teknis yang dianggap tepat oleh WHO untuk menangani ini. Jadi kembali berulang kepada komitmen Pemerintah Indonesia, tapi dalam situasi pandemik ini political commitment untuk menyelamatkan manusia itu yang harus dikedepankan. Dan itu yang bolak-balik disuarakan oleh Pak Tedros.

Apakah bisa dikatakan negara-negara dengan CFR tinggi adalah negara yang sistem kesehatannya lemah?

Betul. Jadi memang sejak awal wabah atau outbreak terjadi, pesan itu yang dikemukakan oleh Dirjen WHO, bahwa ini kalau menyebar, yang paling banyak dampak negatifnya adalah di negara yang sistem kesehatannya lemah. Dan kalau kita lihat kenapa Italia CFR bisa 10 persen sementara Jerman bisa di bawah 1 persen, itu karena sistem kesehatannya bagai bumi dan langit, yang satu lebih kuat, yang satu lemah. Itu yang saya maksud kita harus belajar dari negara lain. Indonesia harus lihat di mana posisi sistem kesehatannya, seberapa kuat untuk menangani, menampung, merawat, menyembuhkan nyawa segitu banyak orang, yang akan mengakses sistem kesehatan dalam waktu yang bersamaan.

Baca Juga: Virus Corona: Robohnya Infrastruktur Kesehatan di Negeri Kita

[WANSUS] Begini Kata Pejabat WHO Soal Penanganan COVID-19 di IndonesiaIDN Times/Arief Rahmat

Lantas, bagaimana Anda melihat sistem kesehatan Indonesia hari ini?

Termasuk kategori yang tidak kuat. Bisa karena alokasi anggaran yang mungkin karena sifatnya terdesentralisasi. Jadi ada beberapa hal yang itu bukan berarti satu negara lebih baik dari negara lain, tentu Indonesia gak mau dibilang lebih jelek (sistem kesehatannya) dari negara lain, bukan seperti itu. Tapi memang itu sebuah fakta yang harus kita hadapi saat ini dan kita harus berpikir bagaimana kita bisa memperkuat sistem kesehatan kita untuk menyelamatkan nyawa manusia.

Melihat lemahnya sistem kesehatan di Indonesia dan tingginya CFR, berdasarkan konferensi pers WHO 30 Maret lalu, Dirjen Tedros masih yakin kalau penyebaran COVID-19 masih bisa ditangani. Dia bahkan mengaku tetap menjaga intensitas komunikasi dengan Menlu dan Presiden, serta rutin membantu Indonesia. Maksudnya bantuan apa yang diberikan ya?

WHO memiliki 194 negara anggota, ibaratnya seorang ayah atau ibu yang harus membagi kasih sayang secara merata kepada 194 anaknya. Dengan support dan bantuan teknis, diharapkan bisa memperkuat political commitment yang dibutuhkan. Kita harus sadari di sini, bahwa pada titik ini, kesehatan sudah keluar dari jalur teknisnya, menjadi suatu hal yang sangat politis. Kenapa? Karena apa pun keputusan yang diambil presiden akan berdampak terhadap kebebasan individu, perdagangan, ekonomi. Jadi komunikasi yang dijalin antara pemerintah dengan WHO sudah ke sana, tetapi WHO mandatnya adalah untuk memberikan dukungan teknis. Tentu WHO akan memberikan perhatian lebih kepada negara-negara yang sistem kesehatannya lemah.

Episentrum Corona yang awalnya di Wuhan mulai pindah ke Eropa kemudian pindah ke Amerika Serikat. Selanjutnya, muncul prediksi bahwa episentrumnya akan pindah ke Asia Tenggara, bagaimana WHO melihat prediksi ini?

Jadi WHO terbagi 6 regional office, salah satunya untuk Asia Tenggara. Awal bulan Maret, regional director WHO untuk Asia Tenggara sudah mengirimkan surat kepada petinggi kesehatan di negara-negara anggota ASEAN, sudah memberikan warning dan dukungan bahwa Asia Tenggara bisa menjadi hardest hit. WHO akan mendukung negara-negara yang ada di kawasan Asia Tenggara, begitu kira-kira bunyi statement-nya. Saya rasa itu benar, gelombang coronavirus ini seperti tsunami, awalnya di Wuhan bergulung ke Eropa, ke Amerika, sekarang ke Asia Tenggara. Kita bisa lihat kalau sekarang ombaknya datang menerjang. Satu-satunya cara untuk mempersiapkan diri adalah dengan memperkuat sistem kesehatan dan menahan laju persebaran virus dengan cepat. Karena kalau kita lihat Italia, dia sistem kesehatannya sudah hampir collapse itu.

Terkait obat dan vaksin, bagaimana kabar terbaru dari WHO?

Dalam setiap outbreak akan selalu ada masalah mengenai obat dan vaksin. Dari sudut obat, sekarang untuk menghemat waktu, maka WHO meluncurkan multinational trial untuk istilahnya drug repurposing. Jadi obat-obat yang sudah beredar di luar, diuji coba kembali agar bisa dipakai untuk bisa menangani COVID-19, bagaimana first-line regimen dan second line-nya. Jadi nanti kita gak usah bikin obat baru. Supaya obat COVID-19 jadi lebih cepat dan menghemat. Kenapa? karena vaksinnya baru akan keluar 12-18 dari sekarang. Karena kalau kita bisa melewati pandemik ini, pasti ada sebagian populasi yang akan sakit lagi karena belum ada vaksinnya, anti-bodinya, makanya obatnya ada dulu, baru nanti ada vaksinnya.

Ada berapa jenis obat yang diuji coba kembali oleh WHO?

Avigan, Remdesivir, Azithromycin, dan Hydroxychloroquine adalah 4 obat yang diuji coba. Itu berdasarkan rekomendasi banyak negara yang diberikan pada saat kapan. Seperti misalnya Hydroxychloroquine diberikan pada saat sudah positif tapi dalam kondisi yang masih baik, tapi ada Remdesivir diberikan kapan, nah ini yang dikumpulkan informasinya dari WHO dan kemudian diujicobakan mana yang lebih baik.

 

Baca Juga: Begini Penjelasan RSUA Soal Pemberian Obat pada Orang yang Tes Corona

[WANSUS] Begini Kata Pejabat WHO Soal Penanganan COVID-19 di IndonesiaInstagram/@adediah

Muncul juga wacana Herd Immunity sebagai salah satu solusi untuk menangani Corona. Bagaimana WHO menyikapi wacana ini?

Itu tidak disarankan dalam penanggulangan corona. Herd immunity itu muncul untuk vaksin, itu adalah imunitas yang muncul dari satu komunitas tertentu yang sudah kebal. Jadi kalau misalnya ada 100 orang dalam satu komunitas tertentu, kemudian yang divaksin sekitar 99,5 persen, maka terciptalah herd immunity atau yang sakit kemudian men-developed anti-bodi sehingga menciptakan herd immunity. Tapi tidak demikian dengan COVID-19. Karena kita tidak bisa membiarkan orang sakit yang tanpa ada obatnya.

Ada desakan kepada WHO supaya menindak tegas Tiongkok. Bahkan, mulai muncul seruan boikot WHO dan PBB kalau tidak berani “menghukum” Tiongkok. Bagaimana WHO menanggapi ini?

Saya kembali kepada apa yang diucapkan Pak Tedros, saat ini yang kita perlukan adalah solidaritas, jadi bukan saling menghukum dan menghakimi, bukan ini gara-gara kamu. Ini (COVID-19) belum pernah terjadi sepanjang sejarah dunia. Kalau hari ini Indonesia bingung, ya semua negara juga bingung, jadi saya rasa itu (menindak Tiongkok) bukan jalan yang akan diambil WHO.

Dalam rangka memutus penyebaran rantai Corona, Indonesia sedang mempersiapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Adakah catatan yang harus harus Indonesia lakukan terkait PSBB ini?

Intinya adalah membatasi pergerakan virus, virusnya jangan sampai berpindah tempat. Karena virusnya itu hidup di manusia, ada manusia yang saat dia kena virusnya langsung menunjukkan gejala dan ada manusia yang barang kali lebih sehat, tidak ada sakit, tidak merokok, mungkin virusnya hidup di dalam tubuhnya tapi tidak ada gejala. Untuk memastikan agar virusnya tidak berpindah, maka kita manusia yang jadi host-nya virus, kitanya yang harus diam di tempat. Itu adalah dasar karantina wilayah atau di negara lain lockdown, di Indonesia dinamakan PSBB. Tapi intinya yang tidak boleh hilang adalah untuk membatasi virusnya pindah-pindah.

Di Indonesia sedang ramai-ramainya bilik disinfektan dan penyemprotan disinfektan di banyak tempat, apakah hal semacam ini dianjurkan oleh WHO?

Tidak menganjurkan, karena disinfektan itu disemprotkan kepada permukaan keras. Jadi virus corona ini, misalkan saya bicara sekarang ada droplet yang keluar jatuh ke meja, kalau anak saya pegang permukaannya, terus tangannya mengusap wajah, virus itu akan hidup di situ. Jadi sama halnya dengan bilik disinfektan (virus Corona bisa hidup di bilik tersebut dan bila orang lain kena, maka akan terjadi penyebaran). Apa pun zat kimia yang ada (untuk bilik disinfektan) itu tidak efektif. Jadi kalau mau disinfektan itu ruangannya, bukan orangnya

Sejak ditetapkan sebagai pandemik pada 12 Maret 2020, apakah WHO sudah memiliki prediksi kapan pandemik ini akan berakhir?

Kita sangat berhati-hati untuk mengeluarkan bulan atau tahun, sementara ini indikatornya bisa dilihat dari apa yang akan terjadi di agenda global. Rata-rata agenda global mundur sampai Q4 2020 atau hingga awal 2021. Itu kenapa diberikan range waktu yang besar karena beda-beda peak season-nya di berbagai negara. Kalau kita kembali membuka lalu lintas manusia, tentu akan ada risiko baru sehingga kami sangat hati-hati untuk bilang misalnya selesainya bulan X.

Terakhir, saran buat teman-teman millennial, apa yang mereka bisa lakukan supaya bisa berperan dalam memutus rantai penyebaran Corona?

Satu, diam di rumah. Saya tahu bagi teman-teman milenial itu adalah hal yang sulit. Tapi sebisa mungkin tidak pergi dulu, karena kembali lagi diingat bahwa di kita mungkin tidak sakit, tapi begitu kita ketemu orangtua kita yang rentan, virusnya akan hidup subur di orangtua kita. Kalau yang rantau jangan dulu pulang kampung dulu karena kita tidak tahu apakah kita sehat atau tidak. Kedua, khusus untuk anak-anak muda, saya kira bisa mempengaruhi komunitas dan jaringannya dengan informasi yang tepat. Jangan sampai mereka malah menyebar berita bohong. Itu menjadi hal yang krusial bagi anak muda karena mereka adalah digital native. Millennial perlu memahami ini karena populasi muda di Indonesia sangat banyak, itulah yang harus dimanfaatkan.  

Baca Juga: [LINIMASA] Perkembangan Terkini Wabah Virus Corona di Indonesia

Topic:

  • Vanny El Rahman
  • Dwifantya Aquina
  • Jumawan Syahrudin

Berita Terkini Lainnya