Fraksi PDIP DPR RI menerima audiensi WALHI terkait persoalan kerusakan lingkungan. (IDN Times/Amir Faisol).
Salah seorang warga yang hadir dalam audiensi tersebut, Kholid Mikdar dari Front Kebangkitan Petani Nelayan di Banten Utara mengeluhkan persoalan lahan masyarakat yang terdampak proyek PIK 2. Keberadaan label proyek strategis nasional (PSN) membuat masyarakat menghadapi persoalan dalam mempertahankan tanah mereka di sekitar proyek.
“Sehingga dengan label PSN itu cara mereka membabi buta. Tanah-tanah kami digusur, dirampas, dengan angka-angkanya yang tidak ridha sama ridha. Mau gak mau, dijual gak dijual, kita urug. kita beli dengan harga yang semena-mena,” ujar Kholid.
Karena itu, DPR didorong untuk mendesak Provinsi Banten mengkaji kembali perubahan tata ruang di daerahnya karena tidak memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan.
“Jangan sampai kemudian kami seperti peta di atas meja, dicorat-coret sembarangan,” ujar dia.
Warga asal Indramayu, Hatta turut mengadukan rencana PSN di kawasan pesisir Pantura karena dinilai mengancam ruang hidup masyarakat.
Hatta mengatakan, masyarakat di wilayah pesisir Pantura, termasuk Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu, telah bergantung pada wilayah tersebut secara turun-temurun.
“Di Indramayu saja itu dari 2.000 hektare lebih, itu sekitar 2.000 KK yang terdampak,” kata Hatta.
Hatta juga mempersoalkan kebijakan relokasi dan pemberian santunan kepada masyarakat terdampak.
“Sedangkan kami bukan fakir miskin, bukan anak yatim, dan bukan korban bencana alam. Di sana kami punya garapan yang selama ini sudah berpuluh-puluh tahun, bahkan 50 tahun lebih,” kata dia.
Sementara itu, salah seorang warga Aceh, Saddam Nawar turut menyesalkan persoalan bencana ekologis yang hingga kini disebut belum sepenuhnya selesai. Di sisi lain, rencana perizinan tambang dan aktivitas perkebunan sawit di wilayah tersebut justru masih terus berjalan.
Dalam audiensi itu, dia mendorong DPR meminta pemerintah segera melakukan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
“Kami menyampaikan ini kepada bapak-ibu agar kiranya bisa mendorong percepatan rehab-rekon pada bencana ekologis. Kemudian selanjutnya, evaluasi perusahaan-perusahaan sampai tuntas, Pak,” kata dia.