ilustrasi kemarau (Unsplash.com/Joshua Woroniecki)
BMKG mengingatkan, fenomena El Nino harus perlu diwaspadai, karena dapat menyebabkan curah hujan berkurang, suhu terasa lebih panas, meningkatkan risiko kekeringan, hingga membuat ketersediaan air lebih terbatas.
BMKG memprediksi, sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau 16,3 persen wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Wilayah tersebut meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian kecil wilayah Kalimantan dan Sulawesi.
Berdasarkan analisis BMKG, puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada Agustus 2026. Pada periode ini, sebanyak 429 ZOM atau sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami puncak musim kemarau.
Selain itu, sebagian wilayah diprediksi mengalami puncak kemarau lebih awal pada Juli, yaitu sekitar 12,6 persen wilayah.
Wilayah tersebut meliputi sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan bagian tengah dan utara, serta sebagian kecil Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga wilayah barat Pulau Papua. Memasuki September, puncak musim kemarau diperkirakan masih terjadi di sebagian Lampung, sebagian kecil Jawa, dan sebagian besar Nusa Tenggara Timur.
Selain itu, kondisi puncak kemarau juga diprediksi terjadi di wilayah Sulawesi bagian utara dan timur, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, serta sebagian kecil Pulau Papua. BMKG memproyeksikan sifat musim kemarau 2026 secara umum akan bersifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya di 451 ZOM atau sekitar 64,5 persen wilayah Indonesia.