Tak Semua El Nino Sama, Ini Perbedaan dan Dampaknya di Indonesia

- BMKG memprediksi musim kemarau 2026 berpotensi lebih panjang dan kering akibat kemungkinan transisi El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat pada paruh kedua tahun.
- El Nino terbagi dua tipe utama, yaitu konvensional di Samudra Pasifik timur dan Modoki di bagian tengah, dengan dampak berbeda terhadap curah hujan Indonesia.
- Dampak El Nino konvensional cenderung lebih kuat, dapat menurunkan curah hujan hingga 40 persen, sementara peluang Super El Nino 2026 diperkirakan kecil di bawah 20 persen.
Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau pada 2026 di Indonesia berpotensi lebih panjang dan kering, akibat pengaruh fenomena El Nino.
Menurut Pakar Iklim, Dr. Indra Gustari, kondisi ENSO (El Niño-Southern Oscillation) saat ini masih berada pada fase netral, dan diprediksi akan bertahan hingga pertengahan tahun. Akan tetapi, pada paruh kedua 2026 terdapat potensi transisi El Nino mengarah ke intensitas lemah hingga moderat.
“Dengan peluang yang tinggi di angka 50 persen sampai 80 persen untuk semester dua 2026,” jelas Indra, dikutip dari Instagram @infobmkg, Rabu, (27/5/2026).
Selain itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhesena Sopaheluwakan, menjelaskan kecenderungan terjadinya El Nino tahun ini cukup signifikan, dan perlu diantisipasi sejak dini.
“BMKG sudah memprediksi akan terjadi El Nino di kemarau tahun ini. Kecenderungan untuk terjadinya El Nino tahun ini cukup signifikan,” ujar Sena di kanal YouTube Info BMKG, dikutip Rabu.
Meski sering dianggap sebagai satu fenomena yang sama, El Nino sebenarnya memiliki tipe dan tingkat intensitas berbeda, yang dapat memengaruhi musim kemarau di Indonesia. Lalu, apa saja perbedaanya?
Table of Content
1. El Nino memiliki dua tipe utama

El Nino umumnya dibagi menjadi dua tipe utama, yakni El Nino konvensional atau East Pacific El Nino dan El Nino Modoki atau Central Pacific El Nino.
El Nino konvensional ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian timur. Sementara, El Nino Modoki terjadi ketika pemanasan suhu muka laut terpusat di Samudra Pasifik bagian tengah.
Dalam jurnal BMKG berjudul Respon Curah Hujan terhadap El Nino Modoki di Sulawesi, El Nino Modoki disebut memiliki karakteristik yang berbeda dibanding El Nino konvensional.
2. Dampak El Nino konvensional cenderung lebih kuat

Jurnal tersebut menyatakan fenomena El Nino konvensional dan El Nino Modoki sama-sama dapat menyebabkan penurunan curah hujan di Indonesia. Tetapi dampak El Nino konvensional cenderung lebih kuat dibanding El Nino Modoki.
Perbedaan pola pemanasan suhu laut membuat pengaruh kedua tipe El Nino terhadap curah hujan dan musim kemarau di Indonesia, juga dapat berbeda.
BMKG menjelaskan saat El Nino terjadi, pusat pembentukan awan hujan bergeser dari wilayah Indonesia menuju Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur. Kondisi ini menyebabkan curah hujan di Indonesia berkurang dan musim kemarau menjadi lebih kering.
Dalam kondisi tertentu, penurunan curah hujan akibat El Nino dapat mencapai lebih dari 40 persen, terutama pada periode Juni-Juli-Agustus (JJA) dan September-Oktober-November (SON).
3. El Nino juga memiliki tingkat intensitas berbeda-beda

Selain dibedakan berdasarkan tipe, El Nino juga memiliki tingkat intensitas yang berbeda-beda, mulai dari lemah, moderat, kuat, hingga sangat kuat atau Super El Nino.
Perbedaan intensitas tersebut memengaruhi besarnya dampak yang dirasakan di berbagai wilayah, termasuk Indonesia. Semakin kuat intensitas El Nino, maka semakin besar potensi musim kemarau berlangsung lebih panjang dan lebih kering.
Pakar Iklim BMKG, Dr. Indra Gustari, mengatakan peluang kemunculan El Nino dengan kategori sangat kuat pada 2026 relatif kecil.
“Peluang munculnya kategori El Nino sangat kuat di 2026 itu relatif kecil di bawah 20 persen,” ujar Indra, dikutip dari Instagram @infobmkg, Rabu.
4. Super El Nino lebih sering terjadi pada El Nino konvensional

Dalam jurnal BMKG Respon Curah Hujan terhadap El Nino Modoki di Sulawesi juga dijelaskan El Nino sangat kuat atau Super El Nino umumnya terjadi pada El Nino konvensional, seperti pada 1982/1983, 1997/1998, dan 2014/2015.
Sementara, El Nino Modoki umumnya bersifat lebih lemah dibanding El Nino konvensional.
BMKG pun mengimbau masyarakat untuk tetap mewaspadai potensi musim kemarau lebih panjang dan lebih kering pada 2026, meski peluang kemunculan Super El Nino tahun ini relatif kecil.



















.png)