Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
2 Drone Ukraina Nyasar ke Latvia, Hantam Fasilitas Minyak
ilustrasi serangan udara menggunakan drone militer (pexels.com/Yunus KARA)
  • Dua drone Ukraina salah sasaran dan menghantam fasilitas minyak di Kota Rezekne, Latvia, menyebabkan empat tangki rusak namun tanpa ledakan besar karena tangki dalam keadaan kosong.
  • Pemerintah Latvia langsung mengeluarkan peringatan serangan drone, meminta warga tetap di rumah, serta menangguhkan sementara kegiatan sekolah hingga situasi kembali aman.
  • Insiden ini terjadi di tengah perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung empat tahun, dengan berbagai upaya perundingan damai bersama Amerika Serikat yang belum membuahkan hasil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dua drone milik Ukraina dikabarkan menghantam fasilitas penampungan minyak milik Latvia. Kabar tersebut disampaikan langsung oleh pasukan militer Latvia pada Kamis (7/5/2026) pagi waktu setempat. 

Menurut pasukan militer Latvia, drone itu ditembakkan oleh pasukan militer Ukraina untuk menghantam pasukan Rusia. Sayangnya, pesawat nirawak tersebut gagal mengenai target dan jatuh di wilayah Latvia.       

Sebanyak empat tangki minyak Latvia yang terletak di Kota Rezekne dilaporkan rusak akibat terkena drone yang ditembakkan Ukraina. Beruntungnya, tangki minyak tersebut dalam keadaan kosong sehingga tidak terjadi ledakan besar. 

1. Latvia merilis peringatan serangan drone

potret bendera Latvia (pexels.com/Efrem Efre)

Kota Rezekne sendiri merupakan salah satu wilayah Latvia yang berbatasan langsung dengan Rusia. Ukraina dikabarkan memang sering meluncurkan drone melewati wilayah tersebut.  

Imbas insiden ini, Pemerintah Latvia langsung merilis peringatan serangan drone kepada semua warga. Latvia juga meminta semua warganya untuk tetap berdiam di rumah. Ini bertujuan untuk menghindari bahaya serangan lanjutan dari Ukraina. 

Di sisi lain, insiden ini juga memaksa Latvia untuk menghentikan sementara aktivitas belajar mengajar di sekolah yang ada di Kota Rezekne. Pemerintah Kota Rezekne mengatakan bahwa sekolah akan kembali dibuka ketika keadaan sudah kembali normal.  

2. Drone Ukraina sering menyasar wilayah negara lain

potret drone Ukraina (commons.wikimedia.org/Maxim Subotin)

Drone Ukraina sendiri memang sering menyasar wilayah negara lain. Hal ini lantaran senjata tersebut gagal mengenai target militer yang ada di wilayah Rusia. Pada Maret lalu, misalnya, dua drone Ukraina pernah menyasar wilayah Latvia dan Estonia. Kala itu, drone ditembakkan dari wilayah Rusia. 

Di Latvia, drone hanya menghantam tanah dan tidak mengenai bangunan apa pun. Sementara di Estonia, drone Ukraina menghantam pembangkit listrik Auvere. Beruntungnya, tidak ada korban jiwa dan kerusakan berarti imbas insiden tersebut. 

"Drone itu tidak diarahkan ke Estonia. Ini adalah konsekuensi nyata dari perang agresi skala penuh Rusia," kata Menteri Luar Negeri Estonia, Margus Tsahkna, dalam sebuah unggahan di X

Drone Ukraina juga pernah menghantam wilayah Lithuania. Beruntungnya, drone tersebut hanya menghantam danau yang ada di sana. Oleh karena itu, tidak ada korban jiwa dan kerusakan berarti yang timbul imbas insiden tersebut.  

3. Serangan drone terjadi di tengah perang Rusia dan Ukraina yang belum usai

ilustrasi serangan Rusia ke Ukraina (pexels.com/Алесь Усцінаў)

Serangan drone di wilayah Latvia tadi terjadi di saat perang Rusia dan Ukraina masih berlanjut. Padahal, pada Februari lalu, perang di antara kedua negara sudah genap berjalan empat tahun. 

Untuk mengakhiri perang, Rusia dan Ukraina sebetulnya sudah berkali-kali menggelar pertemuan trilateral dengan Amerika Serikat yang berperan sebagai mediator. Namun, semua pertemuan itu berakhir nihil tanpa kesepakatan berarti. 

Pertemuan pertama dan kedua dihelat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 23–24 Januari dan pada 4–5 Februari 2026. Namun, kedua pertemuan tersebut gagal menghasilkan kesepakatan perdamaian antara Rusia dan Ukraina.

Setelah itu, Rusia dan Ukraina lantas menggelar pertemuan ketiga di Jenewa, Swiss, pada 17 dan 18 Februari. Sayangnya, pertemuan tersebut lagi-lagi gagal menghasilkan perdamaian. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team