Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi penjara (unsplash.com/Khashayar Kouchpeydeh)
ilustrasi penjara (unsplash.com/Khashayar Kouchpeydeh)

Intinya sih...

  • Kekejaman terhadap tahanan Palestina meningkat sejak Oktober 2023, dengan total 100 kematian dan eksekusi sistematis yang belum pernah terjadi sebelumnya.

  • Israel melakukan penangkapan besar-besaran di Gaza dan Tepi Barat, termasuk anak-anak, perempuan, jurnalis, dan tenaga medis Palestina.

  • Lebih dari 9.300 warga Palestina ditahan di penjara Israel, dengan 49% di antaranya tanpa dakwaan atau pengadilan, serta keluarga tahanan tidak diberikan informasi resmi.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kelompok hak asasi tahanan Palestina terkemuka menuduh Israel melakukan genosida sistematis terhadap para tahanan. Mereka mencatat sedikitnya 32 orang meninggal di balik jeruji besi sepanjang 2025.

Salah satu tahanan yang tewas adalah Walid Khaled Abdullah Ahmed, seorang remaja berusia 17 tahun dari Silwad dekat Ramallah. Menurut kelompok hak asasi manusia, Ahmed meninggal setelah berbulan-bulan mengalami kelaparan.

“Fasilitas-fasilitas ini telah berubah menjadi tempat penyiksaan, yang dirancang untuk menghancurkan tahanan secara fisik dan mental melalui penderitaan yang berkepanjangan, disengaja, dan kebijakan eksekusi yang lambat,” demikian isi laporan tahunan yang diterbitkan oleh Komisi Urusan Tahanan Palestina, Masyarakat Tahanan Palestina (PPS) dan Addameer, dikutip dari MEE.

1. Kekejaman terhadap para tahanan bertambah parah sejak Oktober 2023

Berdasarkan informasi yang dibagikan oleh Israel, total 100 tahanan Palestina telah meninggal dalam penjara Israel sejak perang di Gaza meletus pada Oktober 2023. Dari jumlah tersebut, identitas 86 orang telah terungkap.

Menurut kelompok pembela hak-hak tahanan, kekejaman dan eksekusi sistematis terhadap para tahanan Palestina selama 2 tahun terakhir telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan, jumlah korban selama periode ini disebut setara dengan jumlah tahanan yang tewas dalam penjara Israel selama 24 tahun terakhir.

“Mereka menghadapi pembunuhan melalui penyiksaan, kelaparan, penolakan perawatan medis, penerapan kondisi yang mengancam jiwa yang menyebabkan penyebaran penyakit dan epidemi, serta kekerasan seksual, isolasi massal, dan perampasan semua kebutuhan dasar manusia – yang semuanya merupakan alat genosida,” kata kelompok tersebut.

2. Israel juga lakukan penangkapan besar-besaran di Gaza dan Tepi Barat

Laporan itu juga menyoroti penangkapan massal di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki. Sejak Oktober 2023, tercatat lebih dari 21 ribu orang ditangkap di Tepi Barat dan Yerusalem, termasuk 1.655 anak-anak dan 650 perempuan.

Pada 2025 saja, sebanyak 7 ribu orang dilaporkan ditangkap. Angka ini belum termasuk penangkapan di Gaza maupun di kalangan masyarakat Palestina yang tinggal di Israel. Mereka yang kerap menjadi sasaran penangkapan antara lain para jurnalis dan tenaga medis Palestina.

Penangkapan dan interogasi berskala besar yang saat ini masih terus berlangsung juga disertai dengan eksekusi lapangan secara sistematis, pemukulan berat, perusakan yang disengaja, penggeledahan dan perampasan rumah, penyitaan harta benda, penggunaan manusia sebagai tameng, serta teror terorganisir dan pembongkaran rumah milik kerabat tahanan Palestina.

3. Banyak tahanan Palestina ditahan tanpa dakwaan atau pengadilan

Hingga Desember 2025, otoritas Palestina memperkirakan lebih dari 9.300 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, ditahan di penjara-penjara Israel. Sekitar 49 persen di antaranya ditahan tanpa dakwaan atau pengadilan

Laporan menyebutkan bahwa sejak Oktober 2023, keluarga tahanan yang ditangkap dari Gaza tidak diberikan informasi resmi apa pun mengenai keberadaan orang-orang yang mereka cintai.

“Impunitas sistematis sangat penting bagi aparat pendudukan, yang mencerminkan keterlibatan peradilan dalam menutupi kejahatan terhadap tahanan Palestina dan memperkuat kebijakan apartheid dan penganiayaan,” tambah kelompok hak asasi tahanan tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team