Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Afghanistan Terancam Kehilangan 25 Ribu Guru dan Perawat Perempuan
Bendera Afghanistan (unsplash.com/Farid Ershad)
  • UNICEF memperingatkan Afghanistan bisa kehilangan lebih dari 25 ribu guru dan tenaga kesehatan perempuan pada 2030 akibat kebijakan yang membatasi pendidikan serta pekerjaan bagi perempuan.
  • Kekurangan tenaga medis perempuan mengancam layanan kesehatan ibu dan anak, meningkatkan risiko stunting, serta menurunkan akses perawatan di wilayah yang melarang interaksi pasien perempuan dengan tenaga laki-laki.
  • Pembatasan partisipasi kerja perempuan menyebabkan kerugian ekonomi sekitar 5,3 miliar afghani per tahun dan memperburuk kemiskinan serta kebutuhan bantuan kemanusiaan di Afghanistan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) melaporkan pada Senin (27/4/2026), bahwa Afghanistan berisiko kehilangan lebih dari 25 ribu guru dan tenaga kesehatan perempuan pada 2030. Kondisi ini diprediksi akan terjadi apabila kebijakan yang membatasi pendidikan serta lapangan kerja bagi perempuan tidak segera diubah.

Laporan bertajuk The Cost of Inaction on Girls’ Education and Women’s Labour Force Participation in Afghanistan menyoroti dampak dari kebijakan otoritas de facto Taliban. Saat ini, perempuan dilarang bekerja di sebagian besar sektor publik dan anak perempuan hanya diizinkan menempuh pendidikan hingga usia 12 tahun. Jika pembatasan ini berlanjut, ketersediaan tenaga profesional perempuan akan terus menyusut.

1. Proyeksi pengurangan jumlah tenaga pengajar dan medis perempuan

Analisis UNICEF menunjukkan adanya potensi kehilangan 20 ribu guru dan 5.400 tenaga kesehatan perempuan pada 2030. Angka tersebut setara dengan sekitar 25 persen dari total pekerja perempuan di kedua bidang tersebut dibandingkan data tahun 2021. Jika kebijakan ini terus berlaku hingga 2035, jumlah tenaga kesehatan yang hilang diperkirakan meningkat menjadi 9.600 orang.

"Afghanistan tidak boleh kehilangan calon guru, perawat, dokter, bidan, dan pekerja sosial yang mengelola layanan-layanan dasar bagi masyarakat," kata Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell, dilansir US News.

Data terbaru menunjukkan jumlah guru perempuan di tingkat sekolah dasar sudah mulai menurun lebih dari 9 persen, dari sekitar 73 ribu orang pada 2022 menjadi 66 ribu orang pada 2024. Penurunan ini berdampak langsung pada tingkat partisipasi anak perempuan di sekolah, mengingat kehadiran guru perempuan merupakan faktor penentu bagi mereka untuk tetap melanjutkan pendidikan.

2. Dampak pada pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak

Di sektor kesehatan, berkurangnya jumlah pekerja perempuan menghambat akses layanan bagi ibu dan bayi. Di banyak wilayah Afghanistan, norma sosial tidak mengizinkan perempuan menerima perawatan medis dari tenaga kesehatan laki-laki, sehingga peran dokter, perawat, dan bidan perempuan menjadi sangat vital. Kurangnya tenaga medis perempuan ini secara langsung membatasi layanan kesehatan reproduksi dan meningkatkan risiko kesehatan bagi anak-anak.

Laporan UNICEF juga mengaitkan rendahnya tingkat pendidikan ibu dengan penurunan indikator kesehatan anak. Anak yang lahir dari ibu tanpa latar belakang pendidikan cenderung tidak menerima imunisasi lengkap dan lebih rentan mengalami stunting. Angka stunting pada anak balita diperkirakan dapat meningkat dari 44,7 persen menjadi 45,6 persen jika tidak ada intervensi kebijakan.

3. Kerugian ekonomi dari pembatasan partisipasi kerja perempuan

Pembatasan partisipasi kerja perempuan juga menimbulkan kerugian ekonomi yang nyata. UNICEF memperkirakan kebijakan ini merugikan perekonomian Afghanistan sekitar 5,3 miliar afghani (Rp1,25 triliun) per tahun. Jumlah kerugian ini diprediksi terus membengkak seiring berkurangnya jumlah perempuan terdidik yang memasuki pasar tenaga kerja.

Krisis ini terjadi saat kebutuhan bantuan di Afghanistan mencapai titik tertinggi. Pada 2026, sekitar 21,9 juta orang atau hampir separuh dari total populasi diperkirakan membutuhkan bantuan kemanusiaan, termasuk sekitar 8 juta anak-anak.

"Membatasi akses pendidikan menengah bagi anak perempuan di Afghanistan menghambat potensi pembangunan negara. Hal ini memperpanjang kemiskinan pada tingkat keluarga dan komunitas, menurunkan kualitas kesehatan, serta menghambat pertumbuhan ekonomi yang seharusnya digerakkan oleh generasi perempuan terdidik," kata Catherine Russell, dilansir UN News.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team