Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Aliansi Goyah, Negara-Negara Dunia Mulai Tak Percaya pada AS
ilustrasi Amerika Serikat (freepik.com/freepik)
  • Survei global menunjukkan penurunan tajam kepercayaan publik terhadap AS, termasuk di negara sekutu lama seperti Kanada, Italia, Prancis, dan Jerman yang mulai mengevaluasi ulang posisi aliansinya.
  • Kebijakan luar negeri AS yang makin sulit ditebak membuat sekutu Eropa meningkatkan belanja pertahanan dan memperkuat kapasitas keamanan sendiri di tengah ketidakpastian dukungan Washington.
  • Negara berkembang seperti Brasil, India, dan China juga menurunkan tingkat kepercayaan pada AS, menandakan pergeseran menuju tatanan dunia multipolar dengan kerja sama yang lebih fleksibel.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Perubahan arah geopolitik dunia belakangan terasa makin cepat dan bikin banyak negara mulai menghitung ulang posisi aliansinya. Salah satu sinyal paling kuat datang dari survei persepsi publik lintas negara yang menunjukkan turunnya tingkat kepercayaan terhadap Amerika Serikat.

Buat kamu yang mengikuti isu global, perubahan sentimen seperti ini penting karena sering menjadi petunjuk awal arah hubungan dagang, keamanan, sampai investasi internasional. Menariknya, tren ini gak hanya terlihat di negara sekutu tradisional, tapi juga di banyak ekonomi berkembang.

Artinya, dunia sedang bergerak menuju fase hubungan internasional yang lebih cair dan pragmatis. Dari sini, kamu bisa melihat bahwa kepercayaan global kini menjadi faktor penting yang menentukan arah kekuatan geopolitik baru.

1. Sekutu lama mulai menjaga jarak

ilustrasi Gedung Putih, pemerintah AS (pexels.com/Ramaz Bluashvili)

Survei dari Munich Security Conference memperlihatkan penurunan persepsi positif terhadap AS di banyak negara sekutu lama. Kanada mencatat penurunan paling tajam dengan perubahan minus 52 persen, disusul Italia dan Afrika Selatan yang sama-sama minus 21 persen. Prancis juga turun 17 persen, sementara Jerman dan Jepang masing-masing melemah 15 persen dan 16 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap peran AS sebagai mitra strategis mulai mengalami erosi.

Kalau kamu lihat lebih dalam, pola ini bukan sekadar fluktuasi biasa, lho. Inggris yang selama ini dikenal punya hubungan sangat dekat dengan AS juga turun 13 persen. Penurunan yang terjadi hampir merata di negara-negara sahabat lama memberi sinyal bahwa ada evaluasi ulang terhadap posisi Washington dalam peta aliansi global. Sentimen publik seperti ini sering kali menjadi cerminan dari kekhawatiran yang lebih besar di level kebijakan.

2. Kebijakan yang sulit ditebak bikin sekutu waspada

ilustrasi ekspor impor (pexels.com/Kai Pilger)

Salah satu pemicu utama perubahan persepsi ini adalah arah kebijakan AS yang dianggap makin sulit diprediksi. Pergeseran posisi perdagangan, ancaman tarif, sampai retorika ekspansi wilayah membuat banyak negara mulai lebih berhati-hati dalam membaca langkah Washington. Wacana soal Greenland hingga candaan menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 ikut memunculkan perasaan gak nyaman di antara negara sahabat. Hal ini menunjukkan bahwa ucapan politik bisa berdampak langsung pada tingkat kepercayaan global.

Respons paling terasa terlihat di Eropa, terutama dalam isu keamanan. Jajak pendapat Eurobarometer Januari 2026 menunjukkan 43% responden di Prancis dan 32% di Jerman mendukung peningkatan belanja pertahanan. Dukungan ini menandakan publik Eropa mulai merasa perlu memperkuat kapasitas sendiri di tengah ketidakpastian dukungan tradisional dari AS. Saat negara sekutu mulai fokus membangun payung keamanan mandiri, itu menjadi sinyal bahwa struktur aliansi lama sedang mengalami pergeseran.

3. Negara berkembang ikut mengubah arah pandang

ilustrasi pasar tradisional di India (unsplash.com/Alin Andersen)

Perubahan sentimen ternyata juga meluas ke negara berkembang. Brasil turun 20%, India 10%, China 9%, sementara Afrika Selatan menyentuh 21%. Meski gak sedalam Kanada, pola ini menunjukkan bahwa negara-negara di luar blok Barat juga sedang mengevaluasi ulang posisi AS dalam strategi global mereka. Kamu bisa melihat ini sebagai bagian dari dunia yang makin multipolar, di mana kekuatan ekonomi dan politik gak lagi bertumpu pada satu poros saja.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa ketidakpastian strategis kini dirasakan lintas kawasan. Amerika Latin, Asia, sampai Afrika menunjukkan kecenderungan serupa meski dengan skala berbeda. Banyak negara tampaknya mulai mengutamakan pendekatan yang lebih fleksibel sesuai kepentingan nasional masing-masing. Dari sisi geopolitik, ini membuka kemungkinan lahirnya poros kerja sama baru yang lebih dinamis.

Turunnya kepercayaan terhadap AS di berbagai kawasan menunjukkan bahwa dunia sedang memasuki fase baru dalam hubungan internasional. Sekutu lama mulai lebih waspada, sementara negara berkembang ikut menyesuaikan arah kepentingannya. Perubahan ini bisa berdampak besar pada perdagangan, investasi, dan stabilitas keamanan global dalam beberapa tahun ke depan.

Buat kamu yang suka mengikuti isu ekonomi dan geopolitik, tren seperti ini penting diperhatikan karena sering menjadi sinyal awal perubahan kekuatan dunia. Saat kepercayaan mulai bergeser, aliansi global pun ikut bergerak menuju bentuk yang lebih fleksibel.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team