TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Trump Iri dengan Anggota Gugus COVID-19 yang Lebih Populer Darinya

Trump tuduh ahli penyakit menular menyesatkan masyarakat AS

(Presiden Donald Trump akhirnya kenakan masker) ANTARA FOTO/REUTERS/Tasos Katopodis

Washington DC, IDN Times -  Presiden Amerika, Donald Trump, lagi lagi mempromosikan hydroxychloroquine sebagai obat COVID-19. Walaupun telah dikecam berbagai pihak mengenai penyebaran informasi yang menyesatkan, Trump tetap membela dirinya di hadapan publik. "Saya hanya bisa mengatakan dari perspektif dan pengetahuan yang saya punya. Saya banyak membaca mengenai hal ini, dan menurut saya, hydroxychloroquine memiliki dampak positif pada tahap awal virus", ungkapnya pada Selasa (28/07) kemarin. Ia juga menambahkan bahwa penggunaan hydroxychloroquine sebagai obat COVID-19 tidak dianjurkan oleh berbagai pihak karena ia lah yang merekomendasikan hal tersebut.

Sejak bulan Maret lalu, Trump sudah mulai mempercayai dan menyebarkan informasi palsu ini. Dua bulan setelah pernyataan di Bulan Maret tersebut, para reporter dikejutkan dengan pernyataan Trump yang mengaku mengkonsumsi dan memberikan kesaksian bahwa obat tersebut ampuh menangkal virus.

Baru baru ini, CNN melaporkan hasil studi The New England Journal of Medicine terhadap 504 pasien positif COVID-19 di Brazil yang diberikan hydroxychloroquine. Studi ini menunjukkan bahwa semua pasien yang dirawat di rumah sakit, baik dengan tingkat COVID-19 ringan maupun sedang tidak menjadi lebih baik dibandingkan dengan perawatan standar setelah diberi hydroxychloroquine selama 15 hari. Selain itu, penggunaan obat malaria ini juga memberikan efek samping berupa detak jantung yang tidak normal dan peningkatan kadar enzim pada liver.

1. Facebook dan Twitter hapus informasi menyesatkan yang dibagikan Trump

Donald Trump Jr, anak tertua presiden AS yang aktivitas akun Twitternya dihentikan selama 12 jam akibat menyebarkan informasi yang menyesatkan. Foto diambil oleh Albin Lohr Jones.

Selain membicarakannya di hadapan publik, Trump juga mempromosikan hydroxychloroquine melalui sosial medianya. Ia membagikan sebuah video yang berisikan sejumlah dokter dari America's Frontline Doctors yang mengatakan bahwa obat malaria tersebut adalah jawaban dari virus ini. "COVID-19 sudah ada obatnya, yakni hydroxychloroquine, zinc, dan Zithromax. Kalian tidak perlu menggunakan masker, virus ini sudah ada obatnya. Saya tahu mereka tidak ingin membuka sekolah. Tidak, orang orang tidak memerlukan lockdown. Pencegahan dan obatnya sudah ditemukan", sebut salah seorang dokter dalam video tersebut.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, video ini disponsori oleh Tea Party Patriots, organisasi koservatif yang mendukung Trump dalam pemilihan presiden mendatang. Video menyesatkan ini menjadi viral dan telah dilihat sebanyak 17 juta kali di Facebook. "Kami menghapus video asli maupun versi lainnya dengan alasan penyebaran informasi yang menyesatkan tentang pengobatan COVID-19", ucap Facebook kepada stasiun berita BBC.

Tidak hanya Trump, putranya juga menyebarkan video serupa di Twitter. Video yang dibagikan oleh Donald Trump Jr ini berisikan potongan klip yang membahas manfaat hydroxychloroquine. Melihat hal ini, Twitter bertindak tegas dengan menghapus tweet tersebut dan memberikan sanksi tidak dapat memposting selama 12 jam.

2. Dr Anthony Fauci bantah klaim yang dikeluarkan Trump

(Ilustrasi obat Hydroxychloroquine) ANTARA FOTO

Dr Anthony Fauci selaku anggota terkemuka gugus tugas COVID-19 dan  Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular membantah seluruh pernyataan Trump mengenai COVID-19. Tidak hanya mempromosikan hydroxychloroquine, Trump juga menyesatkan masyakat dengan menyebarkan informasi sinar matahari, pembersih rumah yang dapat mencegah virus.

"Saya setuju dengan FDA", sebut Fauci di program Good Morning America yang diselenggarakan stasiun berita ABC. "Hydroxychloroquine memang tidak terbukti efektif menangani virus", ungkapnya membantah klaim Trump.

Selain membantah pernyataan Trump mengenai obat anti malaria, Fauci juga sempat berbeda pendapat dengan sang presiden minggu lalu. Pada sebuah pernyataan, Trump mengatakan bahwa virus ini dapat hilang selamanya, sedangkan Fauci mengatakan hal yang berbeda. "COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang, akan lebih baik bila pemimpin dunia dan organisasi kesehatan masyarakat menekan angka virus ke level yang lebih rendah", ucap Fauci seperti yang diberitakan oleh CNBC.

Baca Juga: Presiden Trump Akhirnya Anjurkan Warga AS Pakai Masker di Ruang Publik

Verified Writer

Aviliani Vini

-

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya