TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Kanselir Jerman: Putin Gak Akan Menang meski Menghanguskan Ukraina

Jerman sebut serangan Rusia makin memperkuat Ukraina

Kanselir Jerman Olaf Scholz (Twitter.com/ Bundeskanzler Olaf Scholz)

Jakarta, IDN Times - Kanselir Jerman Olaf Scholz, pada Kamis (20/10/2022). berpidato di hadapan anggota Bundestag atau parlemen Jerman. Scholz mengatakan bahwa taktik perang bumi hangus yang dilancarkan pasukan Rusia tidak akan memenangkan pertempuran di Ukraina.

Scholz juga menyampaikan, Rusia berusaha menggunakan energi sebagai senjata. Moskow disebut berusaha menghentikan pasokan gas ke Uni Eropa (UE). Blok itu sendiri berusaha membatasi harga gas impor yang itu tidak disepakati oleh Berlin.

Baca Juga: Masuk Daftar Organisasi Teroris, Rusia Larang PNS Gunakan WhatsApp 

1. Taktik bumi hangus Rusia justru memperkuat mitra Ukraina

salah satu kota di Ukraina yang diserang Rusia (Pexels.com/Алесь Усцінаў)

Sejak Rusia mencaplok secara ilegal empat wilayah Ukraina, pasukan Moskow semakin meningkatkan serangannya. Dalam dua minggu terakhir, Rusia menghujani kota-kota Ukraina dengan rudal balistik dan drone kamikaze.

Serangan Rusia itu telah merusak sekitar 30 persen tenaga listrik Ukraina, sehingga Kiev harus melakukan penjatahan setrum kepada warganya.

"Kami tidak akan membiarkan eskalasi terbaru Moskow. Taktik bumi hangus tidak akan membantu Rusia memenangkan perang. Mereka hanya akan memperkuat persatuan dan tekad Ukraina serta mitranya," kata Scholz dikutip The Guardian.

Scholz juga mengatakan bahwa pembicaraan tentang operasi militer khusus dan kemenangan cepat Rusia di Ukraina, merupakan kebohongan dan propaganda Kremlin.

2. Penentuan patokan harga gas bisa berakibat serangan balik

Scholz juga menyampaikan, Rusia menggunakan energi dan kelaparan sebagai senjata. Ini mengacu pada krisis energi di Eropa dan ancaman kelaparan global yang dipicu perang.

UE sedang berusaha untuk bersepakat menurunkan harga energi tapi terjadi perpecahan untuk membatasi harga impor gas. Sebanyak 27 anggota dari blok tersebut diharapkan mendukung patokan harga pembelian gas alam cair secara bersama.

Namun, Jerman dan Belanda tidak sepakat dengan hal itu. Kedua negara tersebut adalah pembeli gas terbesar di Eropa dan pusat perdagangan gas utama di blok itu.

Melansir Reuters, Scholz berpendapat bahwa kesenjangan harga gas yang dipaksanakan secara politis memiliki resiko serangan balik. Ini misalnya produsen akan menjual gas di tempat lain, sehingga berdampak buruk dengan UE hanya menerima lebih sedikit pasokan.

Baca Juga: Menlu Madagaskar Dicopot Usai Dukung Resolusi PBB yang Kutuk Rusia

Verified Writer

Pri Saja

Petani Kata

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya