TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

TikTok Sensor Konten yang Dianggap Merugikan Tiongkok

Misalnya soal demonstrasi di Hong Kong

Pendukung pro Tiongkok mengibarkan bendera di sebuah pusat perbelanjaan di Harbour City, Hong Kong, pada ANTARA FOTO/REUTERS/Jorge Silva

Beijing, IDN Times - Aplikasi populer asal Tiongkok, TikTok, memberlakukan penyensoran terhadap konten-konten yang dianggap merugikan pemerintah pusat di Beijing. Media sosial tersebut membatasi, bahkan menghapus, segala video yang berhubungan dengan Tragedi Tiananmen, kemerdekaan Tibet, serta kelompok keagaaman terlarang Falun Gong.

Laporan dipublikasikan oleh The Guardian pada Rabu (25/9) setelah menerima bocoran dokumen yang berisi panduan kebijakan perusahaan dan mengungkap detil masalah itu. Menurut data Sensor Tower, TikTok merupakan salah satu dari aplikasi paling banyak diunduh di seluruh dunia selama 18 bulan terakhir.

Baca Juga: Bos Tik Tok Masuk Daftar Orang Terkaya Dunia, Ini Sosok Zhang Yiming

1. TikTok jadi alat untuk mendorong agenda Tiongkok

Ilustrasi media sosial. unsplash.com/Merakist

Panduan kebijakan tersebut membagi dua jenis konten terlarang. Pertama, ada konten yang ditandai sebagai "pelanggaran" dan oleh karena itu harus dihapus dari situs serta aplikasi. Pemilik akun juga berpotensi diblokir dari TikTok. Kedua, konten yang dianggap kurang berbahaya disebut "untuk dilihat sendiri".

Di kategori ini, konten yang dimaksud hanya didistribusikan secara terbatas melalui logaritma tertentu. Alhasil, pengguna tidak tahu apakah mereka telah mengunggah konten yang melanggar atau tidak sebab logaritma aplikasi tidak bisa diketahui olehnya.

2. Kebijakan sensor tidak spesifik

Ilustrasi pengguna smartphone. unsplash.com/Robin Worrall

Menurut analisis The Guardian, panduan tersebut masuk ke dalam bagian yang mengatur  "ujaran kebencian dan keagamaan". Dalam setiap kasus, kebijakan tersebut didesain untuk membuat peraturan-peraturan tersebut seakan berada dalam konteks yang terlihat untuk tujuan umum, bukan pengecualian spesifik.

Misalnya, kritik tentang sistem sosialis Tiongkok yang ternyata digolongkan ke dalam larangan konten berisi "kritik/serangan terhadap kebijakan, aturan sosial negara mana pun, seperti monarki konstitusional, monarki, sistem parlementer, pemisahan kekuasaan, sistem sosialisme, dan sebagainya."

3. Dugaan sensor muncul di The Washington Post

Ilustrasi seorang perempuan sedang memotret dengan smartphone. unsplash.com/Clem Onojeghu

Dokumen yang diperoleh The Guardian sendiri melengkapi kecurigaan tentang penyensoran TikTok seperti yang pertama kali dilaporkan oleh The Washington Post pada Rabu (25/9). Dalam pemberitaannya, media itu menyebut sejumlah peneliti mulai khawatir dengan apa yang terjadi dengan TikTok.

Ini karena aplikasi tersebut "terbukti sebagai satu dari beberapa senjata paling efektif milik Tiongkok dalam perang informasi global". Menurut para peneliti, TikTok di Tiongkok "tetap tersandera oleh ide rezim berkuasa tentang konten yang layak dan penyensorannya, dan mereka mengarah ke bagaimana Partai Komunis menggunakannya sebagai alat propaganda untuk audiens muda".

Baca Juga: Foto-foto Markas TikTok yang Millennials Banget Suasananya

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya