Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Anak-anak Gaza Kembali Sekolah, Belajar di Tenda Tanpa Fasilitas
ilustrasi sekolah di tenda darurat (pexels.com/Mehdi Khoshnejad)
  • Sebanyak 541 ribu siswa Gaza kembali belajar tatap muka sejak 19 September 2026 di tenda dan bangunan rusak, setelah hampir tiga tahun tanpa sekolah formal.
  • Hampir 98 persen bangunan sekolah di Gaza rusak atau hancur; murid dan guru menghadapi ketiadaan meja, kursi, buku, alat tulis, serta risiko keselamatan.
  • Lebih dari 300 siswa di Sekolah Ahbab Shujayea belajar di tenda pengungsian beralaskan kardus dengan jam terbatas, sementara bantuan tas dan alat tulis dilaporkan terhambat masuk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Ratusan ribu anak di Gaza kembali menjalani pembelajaran tatap muka di tenda darurat, bangunan yang rusak, dan struktur sementara setelah hampir tiga tahun tanpa sekolah formal. Tahun ajaran baru yang dimulai pada Sabtu (19/9/2026) itu berlangsung dengan fasilitas sangat terbatas, termasuk tanpa ketersediaan meja, kursi, buku catatan, maupun pena.

Kementerian Pendidikan dan Pendidikan Tinggi Palestina mencatat 541 ribu siswa kembali belajar di ruang darurat setelah penurunan kekerasan pasca-gencatan senjata Oktober 2025. Sebelumnya, sebanyak 317.332 siswa mengikuti pembelajaran secara langsung, sedangkan 120 ribu lainnya menjalani kelas virtual bersama guru dari Tepi Barat.

Risiko keselamatan masih membayangi para siswa walau tingkat kekerasan telah menurun, termasuk akibat insiden dua siswa yang tewas pada awal September. Rana Totah (30), warga terdislokasi dari Zeitoun, mengantar kedua putranya ke sekolah Kotamadya Gaza yang terdiri dari sepuluh tenda di al-Katiba, Gaza City bagian barat. Totah bahkan telah menyiapkan kebutuhan anak-anaknya sejak malam sebelumnya demi menyambut hari pertama sekolah.

“Jujur saja, hari ini adalah hari yang indah bagi saya. Bahkan terasa seperti Idul Fitri,” kata Totah, dikutip Al Jazeera.

1. Infrastruktur sekolah Gaza rusak parah

ilustrasi sekolah rusak (pexels.com/Khaled Akacha)

Kondisi fasilitas pendidikan di Gaza masih mengalami kerusakan berat akibat rentetan serangan militer. Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) melaporkan hampir 98 persen bangunan sekolah di Gaza rusak atau hancur, sementara lebih dari 93 persen memerlukan rehabilitasi besar maupun pembangunan ulang.

UNICEF juga mencatat sekitar 700 ribu anak berusia empat hingga 17 tahun kehilangan akses sekolah formal tatap muka selama tiga tahun ajaran berturut-turut. Dari jumlah tersebut, 420 ribu anak sama sekali tak memperoleh pembelajaran langsung, sedangkan pejabat pendidikan memperkirakan 660 ribu siswa kehilangan akses terhadap pendidikan rutin.

Dilansir US News, sedikitnya 540 ribu siswa diperkirakan mengikuti kelas tatap muka di fasilitas darurat yang didukung UNICEF, sementara pembelajaran daring tetap berjalan. Di Khan Younis, seorang siswa bernama Moayed Abu Mustafa menceritakan pengalamannya kembali belajar setelah tiga tahun absen dari bangku sekolah.

“Terakhir kali saya pergi ke sekolah adalah tiga tahun lalu. Sekarang, kita memulai tahun ajaran baru, ini adalah tahun kegembiraan, kebahagiaan, dan kesuksesan,” kata Mustafa.

Ia menegaskan tetap bertekad untuk belajar meskipun harus duduk di lantai tenda tanpa ventilasi, tanpa sepatu layak, serta tanpa perlengkapan alat tulis.

2. Guru Gaza mengajar dengan fasilitas terbatas

ilustrasi anak berangkat sekolah (pexels.com/Ahmed akacha)

Kegiatan belajar di dalam tenda berlangsung dengan sarana pendidikan yang amat terbatas. Nesma Nahid Abu Asim, seorang guru matematika sejak 2010 yang kini mengajar melalui program UNICEF, terlihat menulis di papan tulis saat siswa kelas enam duduk di atas kasur dengan buku catatan di pangkuan.

Asim menyoroti minimnya fasilitas dasar yang berpengaruh langsung terhadap kegiatan belajar para muridnya di lokasi darurat.

“Pendidikan adalah hak bagi setiap siswa. [Tetapi] siswa datang tanpa alat tulis dasar atau buku pelajaran, sementara meja dan kursi sebagian besar tidak tersedia. Siswa datang ke sekolah hari ini dalam situasi yang berbahaya, dalam situasi perang,” kata Asim, dikutip Al Jazeera.

Menurut Asim, kondisi tersebut memang menyulitkan siswa tetapi bukan sesuatu yang mustahil untuk dijalani. Ia menilai kesulitan terbesar adalah jika pendidikan sampai terhenti, sehingga pembukaan tahun ajaran baru menjadi langkah penting agar anak-anak dapat kembali mengenyam pendidikan.

3. Sekolah Gaza berbagi tenda pengungsian

ilustrasi daerah terdampak perang (pexels.com/Ahmed akacha)

Di Sekolah Ahbab Shujayea dekat kawasan pelabuhan Gaza City, lebih dari 300 siswa dari sembilan kamp pengungsian belajar di tenda-tenda usang. Inaam al-Batreekhi, direktur sekolah tersebut, menjelaskan bahwa siswa kelas satu hingga enam duduk berdesakan di lantai beralaskan kardus, sementara waktu belajar dibatasi dari pukul 8 hingga 11 pagi demi alasan keselamatan.

Batreekhi mencemaskan kondisi fasilitas darurat itu ketika menghadapi perubahan cuaca yang ekstrem.

“Kita bisa belajar hari ini, kita bisa duduk di lantai hari ini. Namun besok, ketika hujan turun, kita tidak akan bisa,” kata Batreekhi.

Batreekhi yang mengajar secara sukarela berharap kegiatan belajar dapat kembali ke gedung sekolah resmi yang dilengkapi meja dan kursi. Otoritas Palestina menyatakan pengiriman bantuan berupa tas sekolah dan alat tulis dari UNICEF sempat dicegah masuk oleh pihak Israel. Ibrahim Ramadan, Direktur Pendidikan Khan Younis Timur, mencatat sekitar 22 ribu siswa dan lebih dari 770 pekerja pendidikan, termasuk 532 guru, telah tewas selama konflik.

Otoritas Palestina mencatat lebih dari 73 ribu orang tewas dalam serangan Israel sejak Oktober 2023, yang dipicu oleh serangan pejuang pimpinan Hamas yang membunuh sekitar 1.200 orang di Israel selatan. Saat ini pasukan Israel masih menguasai lebih dari 60 persen wilayah Gaza. Badan COGAT Israel tidak memberikan tanggapan kepada Reuters terkait pembatasan logistik maupun serangan ke sekolah, sementara tuduhan penggunaan sekolah untuk kepentingan militer ditampik oleh pihak Hamas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article