Jakarta, IDN Times – Ratusan ribu anak di Gaza kembali menjalani pembelajaran tatap muka di tenda darurat, bangunan yang rusak, dan struktur sementara setelah hampir tiga tahun tanpa sekolah formal. Tahun ajaran baru yang dimulai pada Sabtu (19/9/2026) itu berlangsung dengan fasilitas sangat terbatas, termasuk tanpa ketersediaan meja, kursi, buku catatan, maupun pena.
Kementerian Pendidikan dan Pendidikan Tinggi Palestina mencatat 541 ribu siswa kembali belajar di ruang darurat setelah penurunan kekerasan pasca-gencatan senjata Oktober 2025. Sebelumnya, sebanyak 317.332 siswa mengikuti pembelajaran secara langsung, sedangkan 120 ribu lainnya menjalani kelas virtual bersama guru dari Tepi Barat.
Risiko keselamatan masih membayangi para siswa walau tingkat kekerasan telah menurun, termasuk akibat insiden dua siswa yang tewas pada awal September. Rana Totah (30), warga terdislokasi dari Zeitoun, mengantar kedua putranya ke sekolah Kotamadya Gaza yang terdiri dari sepuluh tenda di al-Katiba, Gaza City bagian barat. Totah bahkan telah menyiapkan kebutuhan anak-anaknya sejak malam sebelumnya demi menyambut hari pertama sekolah.
“Jujur saja, hari ini adalah hari yang indah bagi saya. Bahkan terasa seperti Idul Fitri,” kata Totah, dikutip Al Jazeera.
