Comscore Tracker

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di Dunia

Vaksinasi perdana sudah dilakukan di sebagian besar negara

Jakarta, IDN Times - Pertengahan tahun lalu, sejak virus SARS-CoV-2 alias virus corona penyebab COVID-19 dinyatakan menjadi pandemik oleh WHO, para pengembang vaksin berlomba-lomba memulai proyek mereka dan menjadi yang terdepan. Sejumlah perusahaan farmasi dan bioteknologi serta lembaga-lembaga penelitian pun berkolaborasi dalam pengembangan itu.

Pfizer, perusahaan farmasi asal Amerika Serikat yang menggandeng perusahaan bioteknologi Jerman, BioNTech, menjadi salah satu yang paling diunggulkan sejak awal. Masih dari AS, perusahaan bioteknologi Moderna juga disebut-sebut menjanjikan. Universitas Oxford Inggris lantas bekerja sama dengan perusahaan multinasional berbasis Inggris-Swedia, AstraZeneca, juga disorot selama pengembangan vaksin mereka.

Dari Negeri Tirai Bambu, tempat asal virus corona, pengembangan vaksin juga digencarkan. Perusahaan farmasi milik negara, Sinopharm bahkan mengerjakan dua penelitian di dua laboratorium berbeda, di Wuhan dan Beijing. Perushaan pengembang vaksin Tiongkok, CanSino Biologics pun tentu tak mau ketinggalan. 

Salah satu perusahaan yang paling terdengar namanya di Tanah Air adalah Sinovac Biotech. Perusahaan biofarmasi ini mengembangkan vaksin bernama CoronaVac--vaksin yang paling pertama dipastikan pemerintah RI untuk digunakan dalam vaksinasi massal. Sinovac mengerjakan tahapan uji klinis fase III mereka secara multicenter, di Indonesia, Brasil, Turki, dan Cile. Bangladesh yang semula direncanakan menjadi lokasi uji klinis akhirnya menolak.

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaInfografik vaksin-vaksin terdepan di dunia (IDN Times/Sukma Shakti)

Akhir tahun lalu hingga kini, sejumlah negara sudah disibukkan dengan agenda vaksinasi massal. Indonesia menggelar vaksinasi perdana pada 13 Januari lalu. Pada 7 Desember, Inggris menjadi yang pertama melakukan vaksinasi massal, disusul AS dan Kanada pada 14 Desember. Mereka semua menggunakan vaksin Pfizer.

Sejumlah negara Uni Eropa seperti Belgia, Prancis, Jerman, Yunani, Hongria, Finlandia, Denmark, Italia, Spanyol, Swiss, Belarus, Kroasia, Polandia, Serbia, Malta, Republik Ceko, dan Slovakia sudah memulai juga vaksinasi warga mereka. Begitu pula negara Amerika Latin seperti Argentina, Kosta Rika, Meksiko, dan Cile. Di Timur Tengah, Turki, Syprus, Arab Saudi, Kuwait, Oman, Qatar, dan sudah melakukan vaksinasi perdana. 

Lalu, di Asia, Tiongkok telah melakukan vaksinasi darurat kepada tenaga militer dan tenaga kesehatan bahkan sejak Juni, setelah mereka memberika izin penggunaan terbatas pada vaksin CanSino. Namun, vaksinasi secara umum pada publik belum dilakukan. Izin penggunaan darurat (emergency used autorization/EUA) pertama mereka berikan kepada vaksin Sinopharm pada Desember lalu. Sedangkan Sinovac, yang sudah mendapatkan EUA dari Indonesia, justru belum mengantongi EUA Tiongkok.

Menyusul Indonesia, India juga menjadi Asia sudah melakukan vaksinasi massal, setelah berhasil megembangkan vaksin mereka sendiri di bawah perusahaan Bharat Biotech. Di Asia Tenggara, Singapura menjadi negara pertama yang melakukan vaksinasi perdana. Mereka menggunakan vaksin Pfizer.

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaInfografis Rencana Pengadaan Vaksin pada 2021 (IDN Times/Arief Rahmat)

Di tahun ini, perlombaan yang disorot di seluruh penjuru dunia bukan hanya dalam pengembangan dan produksi vaksin COVID-19. Namun, kini perhatian dunia sudah lebih menuju pada perlombaan mengamankan pesanan vaksin bagi kebutuhan negara masing-masing.

Amnesty International dan beberapa organisasi lainnya yang tergabung dalam Aliansi Vaksin Rakyat (PAV) melaporkan bahwa 53 persen dari vaksin-vaksin COVID-19 yang kemanjurannya menjanjikan sudah diborong dan bahkan ditumpuk oleh negara-negara kaya, sebagaimana dilaporkan BBC, Rabu, 9 Desember 2020.

Analisis aliansi tersebut menunjukkan negara-negara kaya sudah membeli lebih dari cukup stok vaksin COVID-19 bahkan bisa melakukan tiga kali vaksinasi ke seluruh penduduknya. Kanada contohnya, memesan stok vaksin untuk semua warganya hingga bisa melakukan lima kali vaksinasi. Israel diberitakan bahkan bisa melakukan 10 kali vaksinasi untuk setiap warganya dengan jumlah stok vaksin yang mereka pesan. 

Fakta ini mengkhawatirkan karena negara-negara dengan berpendapatan rendah tidak akan mampu memberikan vaksin bagi semua warganya. Menurut penghitungan Aliansi Vaksin Rakyat, negara berpendapatan rendah hanya mampu melakukan vaksinasi terhadap 1 dari 10 warga mereka. 

Badan Kesehatan Dunia (WHO) melakukan berbagai upaya agar semua negara bisa memperoleh vaksin COVID-19. Salah satunya melalui insitusi Global Alliance for Vaccine and Immunization (Gavi) dalam COVAX Facility. Bersama Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), Gavi membentuk COVAX Facility.

COVAX adalah terobosan kolaborasi global yang bertujuan mempercepat pengembangan dan pembuatan vaksin COVID-19, serta menjamin akses yang adil dan merata bagi setiap negara di dunia. Indonesia telah tergabung di COVAX sejak akhir tahun lalu dan menjadikan ini menjadi solusi pengadaan vaksin melalui jalur multilateral, selain jalur bilateral dengan perusahaan pengembang vaksin langsung.

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaData mengenai negara dan jenis vaksin COVID-19 yang dipesan (IDN Times/Sukma Shakti)

Baca Juga: Dirut Bio Farma Akui Indonesia Susah Cari Pasokan Vaksin COVID-19

11 Februari: Malaysia beri vaksinasi gratis juga buat warga negara asing di negaranya

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di Dunia(ANTARA FOTO/Malaysia's Ministry of Health/Muzzafar Kasim/Handout via REUTERS)

Pemerintah Malaysia mengumumkan kabar gembira bagi warga asing yang bermukim di negara tersebut. Mereka berencana akan memberikan vaksin COVID-19 gratis kepada semua warga asing, termasuk WNI. 

Informasi itu disampaikan oleh Menteri Sains, Teknologi dan Inovasi Malaysia Khairy Jamaluddin melalui akun media sosialnya pada Kamis (11/2/2021). Keputusan itu diambil dalam rapat kabinet pemerintahan Perdana Menteri Muhyiddin Yassin pada Rabu malam kemarin. 

"Kabinet telah memutuskan bahwa warga asing yang bermukim di Malaysia akan menerima vaksin COVID-19 secara gratis di bawah Program Nasional Imunisasi," demikian keterangan tertulis kementerian yang dipimpin Khairy pada hari ini. 

"Program ini akan melibatkan diplomat, ekspatriat, pelajar, pasangan dari warga Malaysia yang merupakan warga asing dan anaknya, pekerja asing, warga asing pemegang kartu UNHCR," katanya lagi. 

Berdasarkan keterangan dari satuan tugas program vaksinasi Malaysia, warga lokal akan diberikan prioritas. Tetapi, mereka memutuskan untuk memberi vaksin COVID-19 bagi warga asing untuk mencegah penularan virus corona. 

"Ini sesuai dengan pendekatan tiada yang selamat, sehingga semua adalah selamat," ujar Khairy. 

10 Februari: Takis Biotech dan Rottapharm Biotech dari Italia meluncurkan uji coba klinis fase 1

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaIlustrasi Suasana Pandemik COVID-19 di Milan, Italia (ANTARA FOTO/REUTERS/Alessandro Garofalo)

Takis Biotech dan Rottapharm Biotech, dua perusahaan vaksin di Italia, meluncurkan uji coba klinis fase 1 pada 10 Februari. Mereka mengembangkan vaksin yang disebut COVID-eVax.

Dilansir dari The New York Times, metode itu menggunakan perangkat khusus menggunakan denyut listrik kecil untuk mengirimkan DNA melalui kulit. DNA memasuki sel, yang menggunakan instruksi genetik untuk membuat protein lonjakan. COVID-eVax diklaim dapat tetap stabil pada suhu kamar.

8 Februari: SK Bioscience dari Korea Selatan luncurkan uji coba vaksin fase 1/2

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaPresiden Republik Korea Selatan, Moon Jae-in (Twitter.com/TheBlueHouseENG)

Perusahaan vaksin Korea Selatan, SK Bioscience, merancang vaksin COVID-19 yang terdiri dari nanopartikel yang ditaburi potongan protein lonjakan virus corona. Pada Agustus mereka menemukan bahwa vaksin yang disebut GBP510 memicu produksi antibodi yang kuat pada monyet.

Setelah bermitra dengan GSK, mereka meluncurkan uji coba fase 1/2 dari vaksin mereka pada hari ini, seperti dilansir The New York Times. Mereka akan meluncurkan uji coba Fase 1 pada akhir November.

8 Februari: vaksin AstraZeneca efikasinya turun, Afrika Selatan tunda vaksinasi

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaVaksin AstraZeneca (cepi.net)

Afrika Selatan memutuskan menunda program vaksinasi nasional, yang memprioritaskan tenaga kesehatan pada kloter pertama. Kebijakan itu diputuskan setelah mempertimbangkan rendahnya efikasi vaksin Oxford-AstraZaneca terhadap COVID-19 varian Afrika Selatan (501Y.V2).
 
Pada pekan lalu, Afsel telah menerima satu juta dosis AstraZaneca untuk digunakan pada pertengahan Februari. Hasil uji klinis vaksin ini menunjukkan tingkat kemanjuran sekitar 75 persen. Studi lanjutan terkait corona 501Y.V2 menunjukkan nilai efikasinya jatuh hingga 22 persen, terpaut jauh dari standar nilai kerja vaksin yang ditetapkan regulator 50 persen. 
 
“Vaksin AstraZeneca tampaknya efektif melawan strain aslinya, tetapi tidak melawan variannya. Kami telah memutuskan untuk menangguhkan sementara peluncuran vaksin,” kata Menteri Kesehatan Zweli Mkhize dikutip dari AP, Senin (8/2/2021).

6 Februari: Tiongkok baru terbitkan izin penggunaan vaksin Sinovac

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaLokasi kantor Sinovac (www.sinovac.com)

Regulator produk medis Tiongkok baru memberikan izin penggunaan vaksin Sinovac pada Sabtu (6/2/2021). Sinovac menjadi vaksin kedua setelah Sinopharm yang diberi lampu hijau untuk disuntikkan kepada masyarakat luas di Tiongkok.
 
Rejimen dua suntikan yang diotorisasi oleh China's National Medical Products Administration pada Sinovac dan Sinopharm diperuntukkan mengejar kekebalan imunitas (herd immunity) dengan menyasar kelompok rentan yang berisiko tinggi terpapar virus corona.

Izin pakai Sinovac yang baru diberikan oleh otoritas kesehatan setempat tentu menjadi catatan menarik. Sebab, beberapa negara seperti Indonesia, Turki, Brasil, Chili, Kolombia, Uruguay, dan Laos telah memberikan izin darurat untuk penggunaan vaksin yang diproduksi oleh Sinovac Life Sciences.  
 
Dilansir dari Channel News Asia, Beijing ternyata masih menanti hasil uji klinis dan analisis efikasi di berbagai negara sebelum memberikan izin penggunaan kepada rakyatnya.

6 Februari: Perusahaan vaksin COVAXX asal AS luncurkan uji coba fase 2

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaIlustrasi Suasana Taipei, Taiwan (IDN Times/Vanny El-Rahman)

Anak perusahaan United Biomedical, COVAXX yang berbasis di New York, telah menciptakan vaksin yang mengandung bagian dari beberapa protein virus. Hari ini, mereka meluncurkan uji coba Fase 2, juga di Taiwan, seperti dilansir The New York Times.

Sebelumnya, pada 11 September, COVAXX mendaftarkan uji coba Fase 1 di Taiwan yang menyebabkan 100 persen sukarelawan memproduksi antibodi tanpa efek samping yang serius. Uji coba Fase 2/3 direncanakan untuk diluncurkan di Brasil.

Pada 25 November, Covaxx mengumumkan perjanjian dengan negara-negara termasuk Brasil, Ekuador, dan Peru untuk memberikan lebih dari 140 juta dosis senilai 2,8 miliar dokar. Pada Januari, COVAXX mengumumkan bahwa mereka juga memulai penelitian praklinis pada vaksin yang dirancang khusus untuk varian virus corona yang baru muncul yang berpotensi menghindari vaksin konvensional.

6 Februari: COVID-19 di dunia baru bisa berakhir 7 tahun lagi

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaIlustrasi prediksi berakhirnya COVID-19 negara-negara di dunia (IDN Times/Arief Rahmat)

Pandemik COVID-19 diperkirakan baru bisa berakhir tujuh tahun lagi secara global. Hal ini bila dihitung berdasarkan kecepatan vaksinasi di dunia saat ini yang dianalisis dari database Bloomberg. Hingga saat ini, vaksinasi COVID-19 di dunia telah diberikan untuk 119 juta penduduk.

"Butuh tujuh tahun penuh untuk memvaksinasi 75 persen populasi global dengan vaksin dua dosis," tulis The Strait Times yang dilansir pada Sabtu (6/2/2021).

Meski negara-negara Barat diperkirakan lebih cepat pulih, namun ada tiga negara yang diprediksi lebih cepat dalam waktu kurang dari setahun. Yakni Israel, Uni Emirat Arab, Inggris, dan Amerika Serikat.

"Israel, negara dengan tingkat vaksinasi tertinggi di dunia saat ini, menuju cakupan 75 persen hanya dalam dua bulan. Begitu juga dengan Uni Emirat Arab. Amerika Serikat akan sampai di sana tepat pada waktunya untuk merayakan Tahun Baru 2022," tulis Strait Times.

4 Februari: Korea Utara minta batuan vaksin ke COVAX

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaPresiden Korea Utara, Kim Jong-un, saat memimpin rapat Kongres Korea Utara. (Twitter.com/Korea_Friend_UK)

Korea Utara telah meminta bantuan vaksin COVID-19 kepada COVAX Facility meski selama ini mengklaim negaranya bebas kasus virus corona. Dilaporkan France 24, permintaan bantuan internasional itu adalah konfirmasi resmi pertama yang pernah dilakukan negara itu.

Menurut laporan distribusi sementara COVAX yang dirilis minggu ini, lembaga itu akan mendistribusikan 1,99 juta dosis vaksin ke Korea Utara. “Semua negara yang menerima alokasi sementara vaksin telah mengajukan permintaan vaksin,” kata Juru Bicara GAVI kepada AFP, Kamis (4/2/2021).

“Alokasi yang dikutip dalam laporan itu mencerminkan perkiraan pasokan terbaru dan mempertimbangkan kesiapan negara dan persetujuan peraturan,” tambahnya.

4 Februari: Inggris uji klinis untuk ketahui apakah dua dosis suntikan bisa gunakan vaksin yang berbeda

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaPerdana Menteri Inggris Boris Johson berada di luar ruangan dimana para teknisi membuat vaksin COVID-19 AstraZeneca di Oxford Biomedica, di Oxford, Inggris (ANTARA FOTO/Heathcliff O'Malley/Pool via REUTERS/WSJ)

Inggris baru saja memulai studi klinis untuk mengetahui, apakah rejimen dua dosis vaksin COVID-19 bisa menggunakan jenis yang berbeda. Studi yang rencananya berlangsung selama 13 bulan menggunakan sampel vaksin Pfizer dan AstraZaneca.
 
Skema dari penelitian ini adalah memberikan vaksinasi awal vaksin Pfizer, kemudian diikuti penguat vaksin AstraZaneca, atau sebaliknya, dengan jarak antar suntikan 4-12 minggu.
 
“Studi ini akan memberi kita wawasan yang lebih luas tentang bagaimana kita dapat menggunakan vaksin, untuk tetap berada di atas penyakit jahat ini,” kata wakil petugas medis Inggris Jonathan Van Tam, dilansir Channel News Asia, Kamis (4/2/2021).

Vaksin menjadi solusi utama untuk menekan angka kematian dari virus yang telah merenggut lebih dari 2,2 juta nyawa umat manusia. Tetapi solusi itu terhambat oleh ketersediaan dan kebutuhan dunia terhadap vaksin.  
 
“Jika vaksin dapat digunakan secara bergantian, ini akan sangat meningkatkan fleksibilitas pemberian vaksin. (Ini) juga dapat memberikan petunjuk tentang cara meningkatkan perlindungan terhadap strain virus baru,” kata ahli kesehatan di Universitas Oxford Matthew Snape.
 
Supaya studi ini memenuhi standar akademik, Snape berharap relawan yang terlibat lebih dari 800 orang yang berusia di atas 50 tahun.

3 Februari: COVAX umumkan segera kirim 330 juta dosis vaksin ke negara-negara miskin

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaCOVAX/Gavi.org

COVAX Facility telah mengalokasikan setidaknya 330 juta dosis vaksin COVID-19 untuk negara-negara miskin dan akan mendistribusikannya dalam waktu dekat. Lembaga yang bertujuan untuk memastikan setiap negara memperoleh akses yang adil ke vaksin COVID-19 itu juga menargetkan untuk menambah jutaan dosis lagi pada paruh pertama tahun 2021.

Dalam pernyataannya pada Rabu (3/2/2021), COVAX Facility mengatakan distribusi akan mencakup rata-rata 3,3 persen dari total populasi 145 negara yang mengambil bagian dalam tahap awal ini.

“Kami akan segera dapat mulai memberikan vaksin penyelamat hidup secara global, hasil yang kita tahu sangat penting jika kita ingin memiliki kesempatan untuk mengalahkan pandemi ini,” kata kepala eksekutif GAVI Seth Berkley kepada wartawan dalam sebuah pengarahan, sebagaimana dilaporkan Channel News Asia.

3 Februari: Meksiko mengeluarkan izin penggunaan vaksin Sputnik V

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaPenumpang komuter di Kota Meksiko, Meksiko, melakukan jaga jarak pada 29 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Jasso

Meksiko memberikan izin penggunaan bagi vaksin Sputnik V yang juga dikenal sebagai Gam-Covid-Vac. Setelah Rusia mengumumkan tingkat efikasi 91,6 persen setelah penyuntikan 2 dosis dengan selang 3 minggu, Meksiko pun memberikan izinnya.

Dilansir The New York Times, Gamaleya memproduksi vaksin COVID-19 bernama Sputnik V, yangawalnya disebut Gam-Covid-Vac. Ini adalah kombinasi dua adenovirus yang disebut Ad5 dan Ad26. Kedua jenis ini telah diuji sebagai vaksin selama beberapa tahun.

Dengan menggabungkan keduanya, para peneliti Rusia berharap untuk menghindari situasi di mana sistem kekebalan dapat belajar mengenali vaksin sebagai benda asing yang perlu dihancurkan.

2 Februari: Tingkat efikasi vaksin Sputnik V berdasarkan uji klinis terbukti 92 persen

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaIlustrasi logo vaksin Sputnik V dari Rusia (www.twitter.com/@sputnikvaccine)

Hasil uji klinis Fase III Sputnik V, sebagaimana dipublikasikan dalam jurnal medis internasional The Lancet, membuktikan bahwa vaksin buatan Rusia itu 91,6 persen efektif untuk memerangi COVID-19. Dilansir dari Channel News Asia, para ahli mengartikannya sebagai senjata baru dunia untuk mengakhiri pandemik yang telah menewaskan hingga 2,2 juta manusia.

Institut Gamaleya Moskow selaku pengembang vaksin telah menjalani uji klinis sejak September 2020 dengan melibatkan 19.866 relawan. Seperempat di antaranya menerima plasebo. Hasilnya, ada 16 kasus gejala COVID-19 di antara penerima vaksin dan 62 di antaranya adalah kelompok plasebo.  

Hal tersebut menunjukkan bahwa rejimen dua dosis vaksin, yang diberikan dengan selang waktu 21 hari, 91,6 persen efektif melawan gejalan COVID-19. Uji klinis juga melibatkan 2.144 relawan yang berusia lebih dari 60 tahun. Hasilpunya pun menggembirakan yaitu 91,8 persen efektif pada komunitas lanjut usia. Tidak ditemukan pula efek samping yang serius dari suntikan vaksin.

Saat ini, Institut Gamaleya sedang menguji apakah vaksin tersebut efektif terhadap varian baru COVID-19. Rusia juga sedang melakukan uji klinis skala kecil dari untuk meningkatkan tingkat kemanjuran antara 73-85 persen hanya pada suntikan pertama.

Sejauh ini, Sputnik V terbukti 100 persen efektif melawan COVID-19 pada tingkat sedang atau berat. Tercatat ada empat kematian penerima vaksin, tapi kasus tersebut telah ditetapkan tidak terkait dengan vaksin.

Beberapa bulan di pengujung 2020, Rusia memutuskan untuk menyuntikkan vaksin Sputnik V kepada sekelompok masyarakat. Langkah tersebut saat itu menuai kritik dari pakar kesehatan karena belum menuntaskan fase-fase uji klinis dan tidak transparan soal data.

2 Februrari: Palestina mulai vaksinasi perdana dengan bantuan vaksin dari Israel

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaPerdana Menteri Palestina, Mohammad Shtayyeh, yang terus mengupayakan segala cara diplomatik guna mencari kedamaian bagi Palestina. twitter.com/PalestinePMO

Otoritas Palestina telah memulai program vaksinasi nasional di Tepi Barat (West Bank) setelah menerima dua ribu dosis vaksin dari Israel. Adapun jenis vaksin yang digunakan pada gelombang pertama ini adalah vaksin Moderna.

“Kami mulai (vaksinasi) nasional hari ini,” kata Menteri Kesehatan Palestina Mai al-Kaila, Selasa (2/1/2021) sebagaimana dilaporkan Al Jazeera.

Vaksinasi nasional diawali dari Tepi Barat, daerah yang dikuasai oleh Hamas dan diblokade oleh Israel. Kebijakan pendudukan Israel menyebabkan beberapa wilayah, termasuk Tepi Barat, kesulitan untuk memperoleh akses vaksin.

Di tengah keterbatasan, kata al-Kaila, tenaga medis akan menjadi kelompok prioritas gelombang pertama vaksinasi nasional. “Kami telah memberikan prioritas tertinggi kepada personel kesehatan dan mereka yang bekerja di unit perawatan intensif,” tambah dia.

Pada Minggu (31/1/2021) lalu, Israel telah berjanji untuk mendistribusikan lima ribu dosis vaksin Pfizer kepada Pelestina pada pekan pertama Februari. Vaksin tersebut digolongkan sebagai bantuan kemanusiaan di tengah pandemik COVID-19.

2 Februari: 11 juta dosis vaksin Sinovac tiba di Indonesia

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaKedatangan vaksin tahap 2 pada Kamis (31/12/2020) (IDN Times/Maya Aulia)

Duta Besar Indonesia untuk Singapura Suryopratomo atau akrab disapa Dubes Tommy, mengatakan saat ini pengiriman vaksin virus corona (COVID-19) dari Tiongkok ke Indonesia sedang mengalami transit di Singapura.

Dalam sebuah pesan singkat kepada IDN Times, Dubes Tommy mengatakan, vaksin COVID-19 buatan Sinovac Life Sciences Co. Ltd tersebut kemungkinan akan tiba di Indonesia pada hari ini, Selasa (2/2/2021) pukul 09.30 WIB.

“Transit di Singapura pengiriman vaksin Sinovac 11 juta dosis pemesanan Bio Farma Bandung dari Sinovac Life Sciences Co. Ltd. Beijing menuju Indonesia, menggunakan Singapore Airlines SQ 0801 pada 2 Februari 2021 pukul 00.10 WS, dan akan tiba di Indonesia pada 2 Februari 2021 pukul 09.30 WIB,” tulisnya.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memesan vaksin corona Sinovac dalam jumlah besar. Batch pertama vaksin yang dipesan telah tiba di Indonesia pada 6 Desember 2020 lalu.

Saat itu, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan, vaksin Sinovac yang tiba di Bandar Udara Soekarno-Hatta diangkut menggunakan pesawat Garuda dengan kargo khusus. Saat itu sebanyak 1,2 juta dosis vaksin dalam bentuk jadi tiba di Indonesia pukul 21.30 WIB.

31 Januari: Indonesia dapat jatah 13,7-23,1 juta dosis vaksin AstraZeneca gratis dari COVAX

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaMenlu Retno Marsudi dalam rapat COVAX AMC-19 (www.kemlu.go.id)

Pemerintah Indonesia lewat Kementerian Luar Negeri telah menerima konfirmasi mengenai alokasi tahap awal vaksin multilateral, yaitu dari mekanisme COVAX Facility.

“Sesuai dengan surat dari Gavi, di tahap awal, Indonesia akan menerima 13,7-23,1 juta dosis vaksin AstraZeneca yang akan dikirim melalui 2 tahap, yaitu kuartal I, sebanyak 25-35 persen, dan kuartal II sebanyak 65-75 persen dari alokasi awal tersebut,” kata Menteri Luar Negri Retno Marsudi lewat keterangan tertulisnya, Minggu (31/1/2021).

Distribusi vaksin akan dilakukan setelah vaksin AstraZeneca mendapatkan WHO EUL (Emergency Use Listing).

“Termasuk telah mendapatkan validasi dari kelompok Independent Allocation of Vaccines Task Force (AIVG) dan ketersediaan suplai dari manufaktur sesuai dengan perkiraan awal,” ujarnya.

29 Januari: Regulator Eropa Setujui Penggunaan Vaksin COVID-19 Astrazeneca-Oxford

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaIlustrasi vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca (www.france24.com)

Regulator obat Eropa, European Medicines Agency (EMA), menyetujui penggunaan vaksin virus corona yang dikembangkan oleh AstraZeneca dan Universitas Oxford pada Jumat (29/1/2020). EMA mengatakan pihaknya telah menilai keamanan dan keefektifan vaksin tersebut.

Vaksin itu juga telah direkomendasikan dengan konsensus otorisasi pemasaran bersyarat formal yang diberikan oleh Komisi Eropa, badan eksekutif Uni Eropa (UE), ujarnya. Lembaga itu juga mengatakan bahwa vaksin kemungkinan akan bisa digunakan pada orang tua.

“Dengan opini positif ketiga ini, kami telah memperluas gudang vaksin yang tersedia untuk negara-negara anggota UE dan EEA untuk memerangi pandemi dan melindungi warga,” kata Emer Cooke, direktur eksekutif EMA, dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat.

Cooke juga mengatakan Komite Produk Obat untuk Penggunaan Manusia (CHMP) EMA telah melakukan pemeriksaan yang ketat terhadap vaksin itu. “Seperti dalam kasus sebelumnya, CHMP telah mengevaluasi vaksin ini secara ketat, dan dasar ilmiah dari pekerjaan kami mendukung komitmen kuat kami untuk menjaga kesehatan warga UE,” kata Cooke seperti dikutip dari CNBC.

Sebelum mendapat persetujuan EMA, vaksin ini sudah digunakan di Inggris dan telah disetujui penggunaannya di negara itu pada akhir Desember.

28 Januari: Efikasi vaksin Novavax berdasarkan uji klinis di Inggris 89,3 persen

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaIlustrasi Vaksin (IDN Times/Arief Rahmat)

Hasil uji klinis fase III vaksin COVID-19 Novavax di Inggris menunjukkan tingkat kemanjuran (efikasi) hingga 89,3 persen. Vaksin yang diproduksi pada gelombang kedua ini juga diklaim ampuh melawan virus corona varian Inggris atau B117 yang memiliki daya penularan lebih cepat.
 
“NVX-CoV2373 adalah vaksin pertama yang menunjukkan tidak hanya kemanjuran klinis yang tinggi terhadap COVID-19, tetapi juga kemanjuran klinis yang signifikan terhadap varian Inggris dan Afrika Selatan yang berkembang pesat,” kata Presiden dan Kepala Eksekutif Novavax Stanley C. Erck dalam keterangan pers yang dirilis pada Kamis (28/1/2021).

Uji klinis fase III Novavax di Inggris melibatkan 15 ribu peserta berusia 18-84 tahun, sekitar 27 persen di antaranya berusia di atas 65 tahun. Analisis pertama didasarkan pada 62 kasus, di mana 56 kasus COVID-19 diamati pada kelompok plasebo versus 6 kasus yang diamati pada kelompok NVX-CoV2373, menghasilkan efikasi vaksin 89,3 persen.
 
Analisis awal menunjukkan bahwa strain varian Inggris yang semakin lazim terdeteksi di lebih dari 50 persen kasus gejala yang dikonfirmasi PCR, 32 varian Inggris, 24 non-varian, 6 tidak diketahui. Berdasarkan PCR yang dilakukan pada strain dari 56 dari 62 kasus, kemanjuran oleh strain dihitung menjadi 95,6 persen terhadap strain COVID-19 asli dan 85,6 persen terhadap strain varian Inggris.

27 Januari: Israel klaim 82 Persen lansia sudah disuntik vaksin COVID-19

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaPerdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (www.twitter.com/@netanyahu)

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato di acara The Davos Agenda World Economic Forum (WEF) pada Rabu (27/1/2021). Dalam kesempatan tersebut, ia mengklaim Israel menjadi salah satu negara tercepat di dunia dalam vaksinasi COVID-19.

Menurut Netanyahu, Israel telah menyuntikkan vaksin virus corona kepada 82 persen dari total populasi orang lanjut usia (lansia) atau di atas 60 tahun. Ia menargetkan vaksinasi terhadap lansia bisa mencapai 95 persen dalam waktu dekat.

“Akan ada lebih banyak (mutasi) di masa depan. Itu artinya kami harus balapan secepat yang kami bisa,” kata Netanyahu dihadapan Presiden WEF, Børge Brende.

26 Januari: PM Boris Johnson minta maaf karena kasus kematian akibat COVID-19 di Inggris tembus 100 ribu orang

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaANTARA FOTO/REUTERS/Phil Noble

Kematian akibat virus Sars-CoV-2 yang lebih tinggi daripada kematian warga sipil Inggris Raya akibat Perang Dunia II, sekitar 100.162 orang, mengantarkan pemerintahan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Boris Johnson dalam tekanan. Melalui video singkat yang dirilis pada Selasa (26/1/2021), Johnson mengungkapan penyesalan yang sangat mendalam karena gagal menekan angka kematian.
 
“Saya sangat menyesal atas setiap nyawa yang telah hilang dan, tentu saja, sebagai perdana menteri, saya bertanggung jawab penuh atas semua yang telah dilakukan pemerintah,” kata Johnson.
 
“Apa yang dapat saya katakan kepada Anda adalah bahwa kami benar-benar melakukan semua yang kami bisa, dan terus melakukan segala yang kami bisa untuk meminimalisasi hilangnya nyawa dan meminimalkan penderitaan,” tambah dia.

Hingga Senin (25/1/2021), sebanyak 6.853.327 orang telah menerima suntikan dosis pertama dan 472.446 orang sudah menerima suntikan kedua. Pemerintahan Johnson menargetkan semua kelompok rentan dan tenaga medis tuntas divaksinasi pada pertengahan Februari.

25 Januari: vaksinasi Pfizer di Israel menunjukkan hasil sukses

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaIlustrasi Suasana Pandemik COVID-19 di Israel (ANTARA FOTO/Oded Balilty)

Pada Senin (25/1/2021), Kementerian Kesehatan Israel dan Maccabi merilis data baru tentang orang-orang yang telah menerima suntikan kedua, menunjukkan nilai efikasi yang sangat tinggi. Kementerian menemukan bahwa dari 428 ribu orang Israel yang telah menerima dosis kedua, seminggu kemudian hanya 63 atau 0,014 persen yang tertular virus.
 
Demikian pula data Maccabi menunjukkan bahwa, lebih dari seminggu setelah menerima dosis kedua, hanya 20 dari sekitar 128.600 orang atau sekitar 0,01 persen yang tertular virus. Sebagai informasi, nilai efikasi uji klinis Pfizer terbukti 95 persen ampuh setelah menerima dua dosis untuk mencegah infeksi virus corona. Angka tersebut merujuk kepada subjek yang belum terinfeksi corona.
 
 “Ini adalah data yang sangat menggembirakan. Kami akan memantau pasien dengan cermat untuk memeriksa apakah mereka terus menderita gejala ringan saja dan tidak mengalami komplikasi akibat virus,” kata pakar kesehatan sekaligus wakil presiden Maccabi Anat Ekka Zohar, sebagaimana dikutip dari New York Times.  

25 Januari: Moderna klaim 3 dosis vaksinnya efektif lawan varian baru COVID-19 strain Inggris dan Afsel

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di Duniawww.modernatx.com

Perusahaan bioteknologi Amerika Serikat (AS) Moderna memaparkan, studi laboratorium menunjukkan vaksin COVID-19 Moderna tetap efektif untuk melindungi varian virus corona yang pertama kali teridentifikasi di Inggris dan Afrika Selatan.
 
Sebagai informasi, varian virus corona asal Inggris atau B117 dinilai memiliki daya penularan yang lebih cepat dibanding virus corona pada umumnya. Sementara, varian corona asal Afrika Selatan yaitu 501.V2 atau B1351 dinilai oleh sebagian ilmuwan lebih ganas dan lebih cepat menular.

Demi kehati-hatian dan efektivitas, Moderna menganjurkan agar suntikan vaksin dilakukan sebanyak tiga kali. Sejauh ini, skema vaksinasi Moderna adalah dua suntikan dengan jarak empat minggu. Moderna juga akan menguji penambahan penguat kedua dari vaksinnya, yang saat ini telah memulai studi praklinis untuk varian Afrika Selatan.

22 Januari: Pakar AS sebut tingkat efikasi vaksin turun terhadap varian baru COVID-19 Afsel

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaIlustrasi seorang petugas yang melakukan tes usap. Unsplash/JC Gellidon

Pakar kesehatan terkemuka Amerika Serikat (AS) Anthony Fauci menanggapi soal nilai efikasi vaksin terhadap varian baru virus corona yang muncul di Inggris dan Afrika Selatan. Fauci mengatakan nilai efikasi vaksin sangat mungkin berkurang ketika menghadapi varian corona 501.V2.

Jika sebelumnya efikasi vaksin senilai 95 persen, maka nilainya bisa turun hingga 80 persen. “Apa yang mungkin kita lihat adalah penurunan kemanjuran vaksin, lebih banyak di Afrika Selatan daripada Inggris,” kata Fauci dilansir Deadline, Jumat (22/1/2021).
 
Varian COVID-19 asal Inggris atau B.1.1.7 dinilai memiliki daya penularan yang lebih cepat dibanding virus corona pada umumnya. Sementara, varian corona asal Afrika Selatan atau 501.V2 dinilai oleh sebagian ilmuan lebih ganas dan lebih cepat menular.

22 Januari: Pfizer kurangi pengiriman ke negara Eropa hingga setengah dari kuota

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaKotak-kotak berisi vaksin Pfizer BioNTech COVID-19 dipersiapkan untuk dikirim di pabrik produksi Pfizer Global Supply Kalamazoo di Portage, Michigan, Amerika Serikat, Minggu (13/12/2020) (ANTARA FOTO/Morry Gash/Pool via REUTERS)

Perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS), Pfizer, mengonfirmasi akan mengurangi pengiriman vaksin COVID-19 hingga setengah dari kuota pemesanan di negara-negara di Eropa. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung pada akhir Januari hingga awal Februari.

Juru bicara Pfizer Denmark, Line Fedders, menyampaikan penundaan pengiriman vaksin merupakan bagian dari strategi Pfizer meningkatkan produksi menjadi dua miliar dosis per tahun. Pfizer harus meningkatkan produksi vaksin di pabrik yang berada di Puurs, Belgia.

“Itu membutuhkan adaptasi fasilitas dan proses di pabrik yang membutuhkan uji kualitas dan persetujuan baru dari otoritas. Pengurangan sementara akan mempengaruhi semua negara Eropa,” kata Fedders dilansir AP, Jumat (22/1/2021).

21 Januari: Thailand beri izin penggunaan darurat vaksin AstraZeneca

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaSebuah keluarga berdoa di dekat reruntuhan patung Budha tanpa kepala, yang muncul di bendungan yang mengering akibat kekeringan, di Lopburi, Thailand, pada 1 Agustus 2019. ANTARA FOTO/REUTERS/Soe Zeya Tun/File Photo

Badan Pengawas Obat dan Makanan Thailand (Thailnd’s Food and Drug Administration/FDA), telah memberikan persetujuan darurat penggunaan vaksin COVID-19 produksi AstraZaneca, Kamis, 21 Januari 2021.
 
Dilansir The Straits Times, Menteri Kesehatan Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan, negaranya segera mengimpor 200 ribu dosis vaksin AstraZaneca, dengan 50 ribu dosis pertama diperkirakan tiba bulan depan.

20 Januari: Selandia Baru pilih tunda vaksinasi

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaIlustrasi Suasana Selandia Baru (IDN Times/Umi Kalsum)

Otoritas Selandia Baru memiliki strategi yang berbeda mengenai vaksinasi COVID-19. Bila negara lain termasuk Indonesia ingin vaksinasi bisa dilakukan secepatnya, maka Selandia Baru memilih menundanya.

Selandia Baru berencana mulai vaksinasi pada April 2021. Saat itu dilakukan, maka Pemerintah Selandia Baru tak akan mengeluarkan izin darurat penggunaan (EUA) vaksin. Artinya, vaksin COVID-19 yang diterima warga Selandia Baru telah rampung melalui uji klinis tahap ketiga. 

Laman Stuff Selandia Baru, Rabu, 20 Januari 2021 melaporkan, Perdana Menteru Jacinda Ardern mengonfirmasi hal tersebut. Dalam siaran daring melalui Facebook perdana di tahun 2021, Ardern menyatakan saat ini ada lebih banyak negara lain yang membutuhkan vaksin COVID-19. Sehingga, negara-negara tersebut lebih layak untuk diprioritaskan menerima vaksin COVID-19. 

"Ada begitu banyak, banyak negara yang berada dalam kondisi sangat buruk (pandemiknya) yang membutuhkan vaksin untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa," kata Ardern. 

"Meski begitu, kita tetap dalam posisi yang stabil dan siap untuk menerima giliran vaksin (yang sudah dipesan)," lanjut dia. 

Selandia Baru memang termasuk salah satu negara di dunia yang menuai pujian dari komunitas internasional lantaran sukses membendung pandemik COVID-19.

Berdasarkan data yang dikutip World O Meter per Kamis (21/1/2021), ada 2.267 kasus COVID-19 di Negeri Kiwi. Sebanyak 2.166 berhasil sembuh, sedangkan angka kematian hanya mencapai 25 kasus. Sementara, kasus aktifnya sangat kecil yakni 76. 

Ardern menjelaskan, saat ini Selandia Baru tengah memulai proses vaksinasi yang akan digelar pertengahan tahun. Namun, pemerintah sudah memperoleh berbagai informasi dari perusahaan farmasi yang menyediakan vaksin bagi Selandia Baru dan otoritas kesehatan di negaranya.

15 Januari: Norwegia laporkan kematian 23 lansia usai disuntik vaksin Pfizer

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaPetugas medis memperlihatkan vaksin COVID-19 produksi Sinovac sebelum proses penyuntikan menyuntikan ke tenaga kesehatan di RS Siloam TB Simatupang, Jakarta, Kamis (14/1/2021) (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Norwegia mengeluarkan peringatan soal risiko dari pemberian vaksin COVID-19 pada orang yang sangat tua dan sakit parah. Badan Obat Norwegia mengatakan 23 orang telah meninggal di negara itu dalam waktu singkat setelah menerima dosis pertama vaksin mereka.

Dari total kematian tersebut, 13 orang telah diautopsi. Hasilnya menunjukkan bahwa efek samping yang umum mungkin telah berkontribusi pada reaksi parah pada orang tua yang lemah, demikian pernyataan lembaga tersebut seperti dilaporkan Bloomberg, Jumat (15/1/2021).

“Bagi mereka yang memiliki kelemahan paling parah, bahkan efek samping vaksin yang relatif ringan dapat menimbulkan konsekuensi yang serius,” demikian pernyataan Institut Kesehatan Masyarakat Norwegia.

14 Januari: Malaysia kaji pembatalan beli vaksin Sinovac

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaIlustrasi vaksin COVID-19 buatan Sinovac (Dokumentasi Sinovac)

Menteri Sains, Teknologi, dan Inovasi Malaysia Khairy Jamaluddin mempertimbangkan opsi untuk membatalkan pembelian vaksin COVID-19 asal perusahaan asal Tiongkok, Sinovac. Salah satu penyebabnya adalah hasil uji klinis dan tingkat efikasi di berbagai negara kurang memuaskan.
 
“Terkait data efikasi, ada juga beberapa kekhawatiran tentang kemanjuran uji coba Sinovac di Brasil, mengingat Sinovac merupakan salah satu vaksin yang kami negosiasikan untuk dibeli,” kata Jamaluddin di laman daring pribadinya (blog) yang diunggah pada Kamis, 14 Januari 2021.
 
Melihat tingkat efikasi yang rendah dibanding vaksin lainnya, tutur Jamaluddin, banyak pihak mempertanyakan, apakah Negeri Jiran tetap membeli produk tersebut.
 
“Saya ingin menegaskan kembali bahwa ketika bernegosiasi, kami selalu bersikeras vaksin harus disetujui dan didaftarkan oleh Badan Pengatur Farmasi Nasional (NPRA), sebelum perjanjian dioperasionalkan. Itulah mengapa pengembalian deposit adalah kondisi yang telah kami bangun dalam negosiasi,” kata dia.

Keputusan akhir untuk membeli vaksin dari Tiongkok itu bergantung pada evaluasi Kelompok Kerja Teknis Pemilihan Vaksin (TWG) yang diketuai Kalaiarasu Peariasamy, yang juga menjabat sebagai direktur Institut Penelitian Klinis.
 
“TWG sedang menganalisis. Apapun keputusannya, saya ingin meyakinkan Anda bahwa kami hanya akan mendapatkan vaksin yang aman dan manjur untuk orang Malaysia,” kata Jamaluddin.

13 Januari: Menlu retno terpilih jadi pimpinan kerja sama vaksin di COVAX

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di Dunia(Menteri Luar Negeri Retno Marsudi) www.twitter.com/@setkabgoid

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi terpilih menjadi Co-Chair COVAX Advance Market Commitment (AMC) Engagement Group (EG) atau COVAX-AMC EG. Hal tersebut disampaikannya dalam press briefing virtual pada Rabu (13/1/2021).

COVAX Facility dikenal sebagai kerja sama pengembangan vaksin antara World Health Organization (WHO), Global Alliance for Vaccine and Immunization (Gavi) bersama Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI). Ini adalah terobosan kolaborasi global yang bertujuan mempercepat pengembangan dan pembuatan vaksin COVID-19, serta menjamin akses yang adil dan merata bagi setiap negara di dunia.

“Pada dini hari 13 Januari 2021 kami mendapatkan kabar dari GAVI, the Vaccine Alliance melalui PTRI Jenewa bahwa Menteri Luar Negeri Indonesia telah terpilih menjadi salah satu Co-Chair COVAX Advance Market Commitment (AMC) Engagement Group (EG) atau untuk lebih singkatnya disebut COVAX-AMC EG,” kata Retno.

“Pemilihan Co-Chairs telah diselenggarakan secara virtual (e-voting) di Jenewa, dengan tenggat waktu pemilihan sampai tanggal 8 Januari 2021 tengah malam dan diumumkan 12 Januari malam waktu Jenewa,” tambahnya.

14 Januari: Vaksinasi perdana di Turki dilakukan pada Menteri Kesehatan dan Presiden Erdogan

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaANTARA FOTO/REUTERS/Umit Bektas

Menteri Kesehatan Fahrettin Koca menerima suntikan pertama vaksin Sinovac, CoronaVac pada Kamis (14/1/2021). Penyuntikan ini disiarkan secara langsung di televisi setelah Turki secara resmi menyetujui vaksin tersebut pada hari Rabu.

Setelah Koca, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga menerima vaksin di sebuah rumah sakit di Ankara, menurut kantor berita milik negara Anadolu. Studi pendahuluan yang melibatkan lebih dari 7.000 sukarelawan di Turki menunjukkan CoronaVac efektif hingga 91,25 persen.

Namun, suntikan itu berada di bawah pengawasan regulator, setelah data terbaru dari Brasil menunjukkan efikasi hanya 50 persen lebih, sedikit di atas patokan yang ditetapkan WHO agar vaksin efektif untuk penggunaan umum.

13 Januari: Izin penggunaan darurat Sinovac diterbitkan Turki

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaLokasi kantor Sinovac (www.sinovac.com)

Pemerintah Turki menerbitkan izin edar darurat (EUA) vaksin CoronaVac buatan Sinovac Biotech, Tiongkok. EUA vaksin CoronaVac dirilis pada Rabu, 13 Januari 2021, tepat saat Presiden Joko "Jokowi" Widodo akan disuntik vaksin CoronaVac. 

Dikutip dari akun resmi media sosial Menteri Kesehatan Turki, Fahrettin Koca, proses tersebut dilakukan setelah hasil uji klinis tahap ketiga menunjukkan efikasi 91,25 persen. Izin ini diterbitkan meskipun ada data yang bertentangan tentang tingkat kemanjurannya setelah Brasil mengumumkan efikasi CoronaVac hanya 50,4 persen dan Indonesia mengumumkan 65,3 persen.

"Berdasarkan laporan sementara, vaksin dinyatakan aman dan efektif. Kami memutuskan untuk memulai proses mengeluarkan izin penggunaan darurat (EUA). Uji keamanan produk juga sudah dilakukan terhadap kargo vaksin pertama yang sudah diterima," kata Koca dalam keterangan tertulis di akun media sosialnya pada Jumat (8/1/2021). 

Setelah uji keamanan produk selesai, Koca menyebut jika EUA akan diterbitkan. Ia juga memastikan setelah diperoleh informasi bahwa vaksin aman dan efektif, tim peneliti segera menghentikan pendaftaran relawan untuk uji klinis tahap ketiga.  "Hingga saat ini sudah ada 17.700 dosis vaksin yang disuntikan kepada 10 ribu relawan dan hasil akhirnya terus dipantau," ujar Koca.

12 Januari: Brasil umumkan efikasi total vaksin Sinovac hanya 50,4 persen

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaPemakaman massal warga Brasil yang meninggal akibat COVID-19 (ANTARA FOTO/REUTERS/Ricardo Moraes)

Pemerintah Brasil kembali mengumumkan hasil efikasi vaksin COVID-19 buatan Sinovac Biotech. Hasilnya berada di angka yakni 50,4 persen, lebih rendah dibandingkan dengan yang pernah diumumkan pekan lalu. 

Kantor berita Reuters, Selasa, 12 Januari 2021 melaporkan, efikasi hasil uji klinis CoronaVac di Brasil nyaris hanya memenuhi standar minimum yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yaitu 50 persen. Tak heran banyak ahli kesehatan di Brasil yang mengaku kecewa dengan hasil uji klinis vaksin CoronaVac.

Padahal, CoronaVac merupakan satu dari dua jenis vaksin yang disiapkan untuk menghadapi gelombang kedua pandemik COVID-19. 

Beberapa ahli dan pengamat menyatakan kecewa terhadap Institut Butantan yang merilis hasil efikasi, namun hanya mendasarkan pada data yang belum lengkap. Alhasil, hal itu memicu kemunculan ekspektasi yang tak realistis bagi CoronaVac. 

"Kita sudah memiliki vaksin yang baik, tapi bukan yang terbaik di dunia dan bukan vaksin yang ideal," kata ahli mikrobiologi Brasil,  Natalia Pasternak yang mengkritik pengumuman Institut Butantan pekan lalu yang berlebihan. 

Pekan lalu para peneliti di Brasil sempat merayakan hasil uji klinis vaksin CoronaVac yang menunjukkan efikasi 78 persen, sehingga dapat memberi perlindungan bagi kasus COVID-19 yang ringan sampai berat. Tetapi, belakangan mereka menjelaskan sebagai efikasi klinis. 

Direktur medis penelitian klinis Institut Butantan, Ricardo Palacios dan pejabat berwenang di Sao Paulo mengatakan, hasil uji klinis CoronaVac sudah cukup baik. Menilik data penelitian tersebut tidak ada relawan vaksin CoronaVac yang perlu dirawat di rumah sakit meski terinfeksi COVID-19 dan menunjukkan gejala. 

11 Januari: Joe Biden disuntik vaksin COVID-19 dosis kedua

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaCalon presiden Amerika Serikat dari Demokrat Joe Biden memesan milkshake dari restoran Cook Out dengan cucu perempuannya Finnegan Biden di Durham, North Carolina, Amerika Serikat, Minggu (18/10/2020) (ANTARA FOTO/REUTERS/Tom Brenner)

Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden akan menerima dosis kedua vaksin COVID-19 pada hari Senin (11/1/2021) waktu AS, kantornya mengumumkan. Biden pertama kali disuntik vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech di Rumah Sakit Christiana di Newark, Delaware, pada 21 Desember 2020.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata calon presiden berusia 78 tahun tersebut kepada warga AS pada saat menerima suntikan dosis pertama, menurut Channel News Asia.

7 Januari: Brasil umumkan efikasi vaksin Sinovac 78 persen

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaMarkas Sinovac Biotech di Haidian, Beijing (European Press Agency)

Peneliti di Brasil pada Kamis, 7 Januari 2021 menyampaikan vaksin CoronaVac yang dibuat oleh Sinovac Biotech, Tiongkok memiliki efikasi dalam melawan virus corona mencapai 78 persen. Ini merupakan tindak lanjut dari pengumunan pada Desember 2020 lalu yang menyebut efektivitas vaksin di atas 50 persen. Namun, dalam pengumuman kali ini vaksin tersebut dinyatakan aman dikonsumsi oleh orang-orang lanjut usia. 

Kantor berita Reuters, Kamis kemarin melaporkan dalam uji klinis tahap ketiga, Institut Butantan, mitra Sinovac Biotech, turut melibatkan relawan usia lanjut. Mereka termasuk dalam populasi yang rentan terpapar COVID-19. 

Direktur Utama Institut Butantan, Dimas Covas mengatakan uji klinis tahap ketiga di Brasil melibatkan 13 ribu relawan. Ada 218 relawan yang tetap terpapar COVID-19 selama proses uji klinis. Sebanyak 160 relawan hanya diberi plasebo, sedangkan sisanya tetap terpapar COVID-19 meski sudah disuntik vaksin. 

Menurut Covas, vaksin CoronaVac terbukti mencegah relawan agar kondisinya tidak memburuk meski tertular COVID-19. Bahkan, hasil uji klinis turut membuktikan vaksin CoronaVac ampuh mmberikan perlindungan bagi kaum lansia. 

"Tidak ada satu pun relawan yang disuntik vaksin menjadi sakit parah (bila kena COVID-19) dan harus dirujuk ke rumah sakit," kata Covas. 

Ia menambahkan hasil detail dari uji klinis tahap ketiga sudah diserahkan ke otoritas kesehatan yang disebut Anvisa. Hal itu merupakan salah satu persyaratan agar vaksin CoronaVac memperoleh izin edar darurat (EUA) di Negeri Samba.

7 Januari: Israel bersama Pfizer janji vaksinasi selesai akhir Maret

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaPerdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (www.twitter.com/@netanyahu)

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengumumkan hasil negosiasi dengan Pfizer bahwa seluruh warganya yang berusia di atas 16 tahun akan divaksinasi pada akhir Maret 2021. Raksasa farmasi itu telah menjalin komitmen dengan Netanyahu untuk mengirim jutaan dosis tambahan ke Israel.
 
“Kami akan memvaksinasi seluruh populasi yang relevan dan semua orang yang ingin dapat vaksin,” kata Netanyahu pada Kamis (7/1/2021) dilansir dari The Times of Israel. Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan menjadi negara percontohan untuk program vaksinasi di seluruh dunia.

Setelah melakukan serangkaian telepon sebanyak 17 kali, kesepakatan ini terjalin karena Israel menjanjikan timbal balik kepada Pfizer untuk membantu perumusan strategi global mengalahkan pandemik.
 
Israel juga membagikan data seputar penanganan corona kepada Pfizer. Awalnya, Israel menolak untuk membagikan data tersebut. Namun, kesepakatan terjalin karena Netanyahu berhasil meyakinkan Pfizer untuk menjual jutaan dosis vaksin ke Israel, lebih dulu daripada negara lain.
 
“Kami dapat melakukan ini karena sistem kesehatan kami termasuk yang paling maju di dunia, benar-benar menjadi cahaya bagi bangsa-bangsa,” ungkap Netanyahu beberapa jam sebelum Israel memasuki lockdown yang paling ketat selama dua minggu ke depan.

6 Januari: Uni Eropa terbitkan izin darurat vaksin COVID-19 Moderna

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di Duniawww.modernatx.com

Badan obat-obatan Uni Eropa (UE) memberi izin penggunaan vaksin COVID-19 Moderna Inc. pada Rabu (6/1/2021). Ini menjadikan vaksin Moderna sebagai vaksin kedua yang akan dipakai blok yang terdiri dari 27 negara itu.

Persetujuan yang diberikan oleh komite obat-obatan manusia European Medicines Agency (EMA) itu diumumkan di tengah tingginya tingkat infeksi COVID-19 di banyak negara UE.

“Vaksin ini memberi kami alat lain untuk mengatasi keadaan darurat saat ini,” kata Emer Cooke, Direktur Eksekutif EMA. “Ini adalah bukti upaya dan komitmen semua yang terlibat bahwa kami memiliki rekomendasi vaksin positif kedua ini hanya dalam waktu kurang dari setahun sejak pandemi diumumkan oleh WHO.”

Persetujuan penggunaan vaksin Moderna mendapat sambutan yang baik dari banyak pihak, termasuk Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. Dalam sebuah postingan di Twitter, von der Leyen mengatakan menyambut baik persetujuan tersebut.

“Kabar baik atas upaya kami membawa lebih banyak vaksin #COVID19 ke Eropa! @EMA_News menilai bahwa vaksin @moderna_tx aman & efektif. Sekarang kami bekerja dengan kecepatan penuh untuk menyetujuinya & membuatnya tersedia di UE,” tulisnya, Rabu.

6 Januari: CDC AS analisis efek samping alergi dari vaksin Pfizer dan Moderna

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di Duniawikimedia.com

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) tengah memantau dengan seksama terhadap individu yang alergi setelah disuntik vaksin corona dari Pfizer-BioNTech dan Moderna. CDC juga menekankan supaya mereka yang alergi tidak diberi suntikan kedua.
 
Dilansir dari Channel News Asia pada Rabu (6/1/2021), badan kesehatan masyarakat Amerika Serikat (AS) mengatakan reaksi alergi terjadi pada tingkat 11,1 per 1 juta vaksinasi. Perbandingannya cukup jauh dengan vaksin flu pada tingkat 1,2 per 1 juta suntikan.

Sejauh ini, CDC sangat jarang mendapati reaksi alergi yang sangat parah sehingga membutuhkan perawatan lebih lanjut. Oleh sebab itu, reaksi tersebut kemungkinan tidak akan mengganggu jalannya program vaksinasi, mengingat virus COVID-19 sudah merenggut lebih dari 357 ribu nyawa warga AS. Adapun hasil dari pemantauan alergi akan segera diunggah di laman website yang diperbarui setiap minggu.

5 Januari: Putin dan Merkel bahas soal produksi vaksin Sputnik V di Uni Eropa

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaPresiden Rusia Vladimir Putin melakukan panggilan video dengan Perdana Menteri Mikhail Mishustin di kediaman resmi Novo-Ogaryovo, Rusia, pada 2 Juni 2020. ANTARA FOTO/Sputnik/Alexei Nikolsky/Kremlin via REUTERS

Kanselir Jerman Angela Merkel melakukan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin membahas vaksin COVID-19. Mereka berdua berbicara melalui sambungan telepon pada Selasa, 5 Januari 2021.

Wakil juru bicara pemerintah Jerman, Ulrike Demmer,  mengungkapkan pada Rabu kemarin, pihaknya terbuka melakukan kerja sama bilateral yang memungkinkan vaksin COVID-19 buatan Rusia, Sputnik V, diproduksi di Uni Eropa (UE).

“Selama panggilan telepon, dia mengatakan bahwa dia terbuka untuk gagasan kerja sama bilateral untuk tujuan memanfaatkan kapasitas produksi Eropa (untuk vaksin Rusia),” kata Demmer menukil Politico. Seorang juru bicara pemerintah Jerman yang berbasis di Brussel juga mengonfirmasi pernyataan yang sama kepada CNBC.

Meski mengatakan membuka kans memberikan izin produksi Sputnik V di Eropa, namun pemerintahan Merkel menyebut jika semuanya tergantung kepada European Medicines Agency (EMA). Kerja sama itu bakal berjalan, dengan catatan EMA memberikan persetujuannya.

4 Januari: AS rencanakan pangkas dosis vaksin untuk percepat vaksinasi

[LINIMASA] Kemajuan Vaksin COVID-19 Terkini di DuniaSeorang sukarelawan meletakkan bendera Amerika mewakili beberapa dari 200.000 nyawa yang hilang di Amerika Serikat dalam pandemi penyakit virus korona (COVID-19) di National Mall, Washington, Amerika Serikat, Selasa (22/9/2020) (ANTARA FOTO/REUTERS/Joshua Roberts)

Pemerintah Amerika Serikat (AS) sedang mempertimbangkan untuk memberikan setengah dosis vaksin COVID-19 Moderna kepada beberapa orang, untuk mempercepat vaksinasi. Kepala Operation Warp Speed program vaksin federal, Moncef Slaoui, mengatakan bahwa para pejabat sedang mendiskusikan rencana tersebut dengan Modernda dan Food and Drug Administration.

Skema vaksinasi awal, setiap orang memperoleh dua suntikan vaksin. Bila gagasan ini disetujui, maka vaksinasi bisa lebih cepat menyentuh seluruh masyarakat karena sejumlah kelompok orang hanya memperoleh satu suntikan vaksin.
 
“Kami tahu bahwa untuk vaksin Moderna dua dosis, (rencana ini) memberikan setengah dosis kepada orang-orang yang berusia antara 18-55, yang berarti secara tepat mencapai tujuan imunisasi dua kali lipat jumlah orang dengan dosis yang kami miliki,” kata Slaoui seperti dikutip dari Channel News Asia, Senin (4/1/2021).

Per Sabtu pagi (2/12/2021), Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) mengatakan telah memberikan 4.225.756 dosis pertama vaksin COVID-19 di negara itu. CDC juga telah mendistribusikan 13.071.925 dosis.

“Penghitungan dosis vaksin yang didistribusikan dan jumlah orang yang menerima dosis pertama adalah untuk Moderna dan Pfizer-BioNTech, divaksinasi pada pukul 09.00 ET pada hari Sabtu,” kata badan tersebut, sebagaimana disampaikan Channel News Asia.

Sebelumnya menurut penghitungan yang diposting pada 30 Desember, badan tersebut telah memberikan 2.794.588 dosis pertama vaksin dan mendistribusikan 12.409.050 dosis.

Baca Juga: [LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di Dunia pada 2020

Topic:

  • Anata Siregar
  • Yogie Fadila

Berita Terkini Lainnya