Comscore Tracker

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di Dunia

Update perkembangan tahapan uji coba vaksin

Jakarta, IDN Times - Vaksin untuk menangkal penyakit yang disebabkan virus corona jenis baru, COVID-19, menjadi harapan bagi setiap negara yang terpapar penyakit mematikan ini. COVID-19 masih melanda di hampir seluruh negara di dunia. Sebagian negara bahkan dikabarkan mulai memasuki gelombang kedua pandemik. 

Pemerintah Indonesia melalui PT Bio Farma pun berencana mengembangkan vaksin COVID-19. Bio Farma, selaku induk holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor farmasi, akan menggandeng Tiongkok untuk mengembangkan pembuatan vaksin virus corona di dalam negeri.

Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan pihaknya masih melakukan komunikasi dengan lembaga vaksin di Tiongkok yang bernama Sinovac. Saat ini, Tiongkok sudah memiliki vaksin yang sedang dalam uji klinis tahap kedua. 

"Kami juga lagi lakukan koordinasi dengan mereka, bagaimana kalau seandainya vaksin uji klinis berikutnya serta juga untuk proses pembikinan massalnya itu nanti bisa dilakukan di Bio Farma," kata dia dalam RDP dengan Komisi VI DPR secara virtual, Selasa (21/4).

Selain itu, Bio Farma juga berencana melakukan kolaborasi dengan lembaga The Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI). Hingga saat ini, lembaga tersebut sedang meninjau proposal yang telah dikirimkan Bio Farma ke CEPI.

Kandidat Doktor bidang Rekayasa Genetik dan peneliti vaksin Universitas Oxford, Muhammad Hanafi mengungkapkan saat ini sudah ada 95 sampai 100 vaksin untuk COVID-19 yang dikembangkan perusahaan dan universitas di seluruh dunia. Namun, dari jumlah tersebut hanya 33,4 persen atau sekitar lima atau enam vaksin yang sukses masuk clinical trial phase atau uji coba dalam manusia.

"Sebagian besar masih dikembangkan di lab bukan dalam pengujian manusia. Salah satu yang sudah diujikan masuk ke clinical trial atau uji klinis dan sudah diujikan ke manusia adalah vaksin yang dikembangkan di Oxford," kata Hanifi di program Ngobrol Asik by IDN Times, Sabtu (9/5). 

Berikut IDN Times laporkan langkah demi langkah perkembangan pembuatan vaksin COVID-19 di berbagai negara yang mencobanya.

2 Juli: Uji terhadap manusia vaksin BNT162b1 oleh BioNTech Jerman dan Pfizer AS tunjukkan kemajuan

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di Dunia(Ilustrasi vaksin COVID-19) IDN Times/Arief Rahmat

Uji coba klinis terhadap manusia yang dikembangkan perusahaan farmasi asal Jerman, BioNTech bekerja sama dengan raksasa farmasi Amerika Serikat Pfizer, menunjukkan tanda-tanda yang positif. Proyek ini juga melibatkan Moderna, CanSino Biologics, dan Inovio Pharmaceuticals.

Uji fase 1 dan 2 ini dilakukan terhadap 45 orang berusia 18 tahun hingga 55 tahun. CEO BioNTech Ugur Sahin mengatakan uji coba tersebut menunjukkan vaksin yang diberi nama BNT162b1 itu tidak beracun dan memicu respons sistem antibodi dan sistem tubuh melawan virus.

29 Juni: Sinovac dari CanSino Biologics diujicobakan selama setahun ke militer Tiongkok

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaAnggota staf dengan alat pelindung diri (APD) berdiri di depan laboratorium bergerak untuk tes nukleat asam, di sebuah pusat olahraga di distrik Daxing menyusul penyebaran baru penyakit virus korona (COVID-19) di Beijing, China, Selasa (23/6/2020). ANTARA FOTO/China Daily via REUTERS

Vaksin Sinovac dari CanSino Biologics, perusahaan biotech asal Tiongkok melaju ke tahap selanjutnya setelah menjadi yang terdepan dalam pengembangan vaksin virus corona. Proyek vaksin yang sempat menggandeng Brasil sebagai tempat uji coba itu, sudah diujicobakan kepada kepada militer Tiongkok.

Hasil uji klinis tersebut menunjukkan tanda yang positif berupa pencegahan terhadap penyakit akibat virus corona jenis baru ini. Melihat hasil tersebut, Komando Pusat Militer Tiongkok memerintahkan penggunaan vaksin ini terhadap seluruh tentara selama setahun.

28 Juni: Brasil beli bahan vaksin proyek Oxford University dan AstraZeneca

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi Uang Pokok (IDN Times/Arief Rahmat)

Pemerintah Brazil mengumumkan perjanjian dengan Oxford University dan perusahaan farmasi AstraZeneca untuk memproduksi vaksin virus Corona. Otoritas Kementerian Kesehatan Brasil mengatakan mereka akan membayar $127 juta untuk bahan vaksin.

Bahan itu diperkirakan dapat digunakan untuk memproduksi 30,4 juta dosis. Produksi itu akan dibagi dua batch pada bulan Desember dan Januari. Ini akan diproduksi oleh pembuat vaksin lokal Fiocruz.

Dengan begitu, mereka akan bisa segera memulai upaya inokulasi jika vaksin tersebut disertifikasi aman dan efektif. Mereka mengatakan kesepakatan itu sebenarnya untuk 100 juta vaksin yang akan digunakan di negara yang memiliki sekitar 210 juta penduduk itu. 

27 Juni: Thailand akan produksi vaksin sendiri. Penelitian sudah di tahap uji pada monyet

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaSuasana makan siang di sebuah sekolah saat pandemik COVID-19 di Bangkok, Thailand, pada 23 Juni 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Athit Perawongmetha

Thailand memutuskan untuk memproduksi kandidat vaksin COVID-19 sendiri. Penelitian kandidat vaksin masih pada tahap uji pada binatang. Uji coba pada manusia diharapkan bisa dilakukan pada awal Oktober mendatang.

Tes kandidat vaksin kepada sejumlah monyet sedang dilakukan. Pada dosis pertama, hasilnya menunjukkan munculnya antibodi penetralisir yang berarti virus corona bisa dihambat agar tidak masuk atau merusak sel tubuh.
Dosis kedua sudah disuntikkan pada minggu ini dan hasilnya akan keluar dua minggu mendatang. 

Apabila kandidat vaksin mencapai tes klinis, ini akan jadi satu dari sedikit yang mampu dibuat oleh negara-negara berkembang. Begitu ini terjadi, mereka berencana memproduksi sekitar 10.000 dosis kandidat vaksin di San Diego (Amerika Serikat) dan Vancouver (Kanada), baru kemudian mengirimkannya ke Thailand untuk diuji coba kepada manusia.

Ada tiga tahapan uji coba kepada manusia, dan seandainya semua berhasil, maka vaksin akan diproduksi di Thailand. Ia juga menyebut tidak menutup kemungkinan akan ada distribusi ke beberapa negara tetangga atau yang memiliki tingkat perekonomian menengah ke bawah. 

24 Juni: Masuki tahap uji manusia, tiga perusahaan farmasi Tiongkok digandeng negara lain

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaPelancong menggunakan pakaian pelindung saat berada di Bandara Internasional Tianhe Wuhan, Tiongkok, setelah masa karantina berakhir, pada 10 April 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Aly Song

Perusahaan farmasi asal Tiongkok China National Biotec Group (CNBG) bergabung dengan Uni Emirat Arab (UEA) untuk mengembangkan vaksin dan mengumumkan mereka siap memasuki tahap tiga yakni uji coba terhadap manusia (human trial). Mereka optimistis bakal bisa memproduksi vaksin COVID-19 pada 2021.

Pada Rabu (24/6), kerja sama dilakukan antara G42--perusahaan artificial intelligence dan cloud computing yang berbasis di UEA dan Sinopharm Group, farmasi asal Tiongkok yang terafiliasi dengan CNBG.

Secara negara, Tiongkok sebenarnya memimpin penemuan vaksin dengan kandidat yang siap masuk ke tahap human trial. Tapi perusahaan-perusahaan farmasi Tiongkok terpaksa "meninggalkan negara mereka" dan bergabung dengan proyek di negara lain. Alasannya, karena kasus penularan di Tiongkok yang sudah semakin menipis.

Sebelum CNBG digandeng UEA, proyek vaksin Sinovac dari CanSino Biologics yang digandeng Brasil sudah terlebih dahulu memasuki tahap akhir uji coba ini. Perusahaan farmasi asal Tiongkok ini bekerja sama dengan Instituto Butantan, pusat penelitian biomedical di São Paulo, Brasil pada 11 Juni.

23 Juni: Catatan dari 3 vaksin yang terdepan perkembangannya

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaAnggota staf Tiongkok menyesuaikan bendera Amerika Serikat dan Tiongkok sebelum sesi pembukaan negosiasi dagang antara perwakilan dagang Amerika Serikat dan Tiongkok di Diaoyutai State Guesthouse di Beijing, Tiongkok, pada 14 Februari 2019. ANTARA FOTO/Mark Schiefelbein/Pool via REUTERS/File Photo

Berdasarkan catatan WHO, ada lebih dari 130 tim pengembangan vaksin independen dalam memerangi pandemik ini. Kandidat yang memimpin di antaranya vaksin AZD1222 yang diproduksi oleh Oxford-Astrazeneca dan mRNA dari Moderna Inc. Keduanya berbasis di Amerika Serikat. AZD1222 dari Oxford adalah salah satu vaksin yang dikembangkan paling awal untuk menjalani uji klinis.

Sedangkan Tiongkok, berhasil dengan Sinovac dari CanSino Biologics yang bekerja sama dengan Brasil. Tiongkok juga menggenjot produksi sedikitnya lima vaksin, tapi Sinovac menunjukkan hasil yang paling aman dan paling menjanjikan. Para ahli di sana siap menyarankan vaksin ini mulai digunakan.

Baik vaksin AS maupun Tiongkok, siap untuk melanjutkan tahap uji coba selanjutnya dari prototipe vaksin mereka, mulai Juli. 

17 Juni: Receptor binding site virus di Indonesia tidak unik, vaksin negara manapun bisa berkhasiat

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi corona. IDN Times/Mardya Shakti

Bibit vaksin dari negara manapun di dunia dapat digunakan atau berkhasiat untuk menangkal SARS-CoV-2 atau virus penyebab COVID-19 yang ada di Indonesia. Virus corona yang menyebar di Indonesia tidak lebih ganas dibandingkan yang ada di tempat lain, sehingga tidak membuat antibodi atau vaksin kehilangan khasiatnya.

Virus corona yang ada di Indonesia memang memiliki sedikit perbedaan dengan virus SARS-CoV-2 awal yang berasal dari Wuhan, Tiongkok. Tapi virus di Indonesia itu tidak unik, tidak memiliki perbedaan pada receptor binding site.

"Jika virus corona di Indonesia mengalami perubahan pada binding site, maka vaksin yang ditemukan dari luar negeri bisa saja akan kehilangan khasiat jika digunakan di Indonesia," kata Ahli virologi dari Universitas Udayana Profesor Ngurah Mahardika, dalam konferensi pers di Graha BNPB Jakarta, Kamis (17/6).

16 Juni: Uji terjadap manusia fase 1-2 oleh CNBG Tiongkok menunjukkan hasil yang menjanjikan

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaPetugas medis dengan alat pelindung diri membantu warga berbaris di dalam pusat olahraga untuk uji asam nukleat, setelah adanya kasus baru infeksi virus corona (COVID-19) di Beijing, China, Senin (15/6/2020). ANTARA FOTO/China Daily via REUTERS/pras

Hasil uji klinis tahap awal terhadap manusia yang dikerjakan China National Biotec Group (CNBG) di Beijing mengisyaratkan calon vaksin mereka aman dan efektif. Calon vaksin itu menghasilkan antibodi tingkat tinggi pada semua partisipan yang disuntik dalam fase 1/2 yang melibatkan 1.120 orang yang sehat.

CNBG, yang bernaung pada China National Pharmaceutical Group (Sinopharm) milik negara, mengatakan bahwa calon vaksin lain yang diproduksi oleh unit mereka yang berkedudukan di Wuhan, juga memicu antibodi tingkat tinggi pada para peserta uji klinis tahap awal.

13 Juni: 4 negara gelontorkan Rp12 T untuk membeli 300 juta dosis vaksin bernama AZD1222

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaFoto hanya ilustrasi laboratorium. (Dok. Humas Jabar)

Empat negara Uni Eropa yaitu Italia, Jerman, Belanda, dan Prancis setuju untuk membayar setoran awal sebesar Rp12 triliun untuk membeli 300 juta dosis calon vaksin COVID-19.

Calon vaksin itu diberi nama AZD1222 dan dikembangkan oleh para ilmuwan di Oxford University. Sedangkan produksi massal dilakukan oleh perusahaan biofarma AstraZeneca yang merilis informasi ini di situs resminya.

Pada Sabtu (13/6), AstraZeneca sempat mengumumkan adanya kesepakatan dengan empat negara untuk menyuplai sampai 400 juta dosis vaksin COVID-19, apabila sudah mendapatkan lampu hijau dari pemerintah. Pengiriman rencananya dimulai pada akhir 2020. Untuk memenuhi rencana itu, perusahaan membangun sejumlah supply chain di seluruh dunia.

12 Juni: Indonesia gandeng Norwegia dan Tiongkok untuk temukan vaksin

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi. pixabay.com/geralt-9301

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi mengatakan Indonesia tengah menjalin kerja sama dengan beberapa negara dalam proses pengadaan vaksin COVID-19. Dua di antaranya adalah Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), yang berbasis di Norwegia, dan Sinopec, yang berbasis di Tiongkok.

"Kita menjalin kerja sama dengan para pihak yang sudah kita hubungi antara lain adalah dengan CEPI, tetapi persisnya ada di Norwegia, CEPI ini adalah vaksin yang memang jenisnya rekayasa genetik," ujarnya dalam diskusi virtual 'Tren Geopolitik Dunia di Tengah COVID-19', Jumat (12/6).

29 Mei: Kalbe Farma dan Genexine Korsel memasuki tahap uji klinis vaksin ke manusia

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di Dunia(Pabrik biosimilar Kalbe Farma) ANTARAFOTO/Risky Andrianto

PT Kalbe Farma Tbk menandatangani nota kesepahaman dengan Genexine, Inc, sebuah perusahaan obat biologi dari Korea Selatan, untuk mengembangkan vaksin corona virus baru atau COVID-19. Adapun uji klinis vaksin COVID-19 ini rencananya akan dilakukan pada Juni 2020.

“Kalbe berharap melalui upaya penelitian dan pengembangan vaksin COVID-19 ini secara cepat bisa mendapatkan hasil, sehingga kebutuhan vaksin di Indonesia dapat terjamin ketersediaannya,“ ujarnya. 

Menurutnya, riset vaksin ini telah dilakukan kepada primata, dan telah terbukti menghasilkan antibodi yang mampu menetralisir virus corona, sehingga tahap berikutnya akan diuji kepada manusia.

Kalbe dan Genexine sepakat untuk melakukan uji klinik GX-19 di Indonesia, yakni pengembangan vaksin DNA terhadap virus corona oleh konsorsium dengan Genexine, Binex, the International Vaccine Institute(IVI), GenNBio, the Korea Advanced Institute of Science & Technology (KAIST), and Pohang University of Science & Technology (POSTECH).

21 Mei: Menteri BUMN prediksi vaksin buatan dalam negeri selesai pada 2021

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaMenteri Erick Thohir saat live Zoom bersama pimpinan media (IDN Times)

Menteri BUMN Erick Thohir memprediksi vaksin virus corona atau COVID-19 buatan dalam negeri akan rilis pada 2021 mendatang. Vaksin tersebut adalah buatan perusahaan farmasi milik BUMN yaitu Bio Farma.buatan.

Sebelumnya, Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir dengan adanya perkembangan teknologi biofarmasetik, pembuatan vaksin bisa dilakukan dengan waktu lebih singkat daripada waktu standar pembuatan vaksin pada umumnya.

"Sebagai contoh, teman-teman sudah dengar sendiri beberapa lembaga penelitian sudah melakukan uji klinis tahap 1 dan mau tahap 2 terhadap vaksin (COVID-19) yang akan dicobakan ke manusia. Artinya ini sangat cepat, tadinya 10 sampai 15 tahun, ini kurang 1 tahun bisa ketemu dan bisa dilakukan tes kepada manusia," jelasnya.

16 Mei: Eijkman Institute mencari pendonor untuk uji klinis vaksin

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaInstagram @eijkmaninstitute

Wakil Kepala Bidang Penelitian Fundamental Lembaga Biologi Molekular (LBM) Eijkman Institute, Herawati Sudoyo mengatakan pihaknya akan segera melakukan tahapan uji klinis untuk pembuatan vaksin.

Saat ini, Eijkman masih mencari pendonor yang diperlukan dalam uji klinis tersebut. Pendonor ini untuk pertama umumnya datang dari hewan-hewan percobaan. Namun setelah melewati beberapa proses, barulah akan diujicobakan ke manusia.

Prof. Amin dari Eijkman institute menginformasikan setidaknya ada beberapa kriteria yang dicari untuk uji coba ini. Mereka yang bisa menjadi pendonor adalah pria maupun perempuan, sehat, bebas dari COVID-19 dan infeksi transfusi, serta memiliki antibodi cukup tinggi. 

13 Mei: Serum Institute di India menjadi yang pertama berencana memasarkan vaksin COVID-19 seharga Rp197 ribu

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaSeorang pria menutup sebagian muka dengan kain sambil melihat keluar dari kereta saat diberlakukan 'lockdown' oleh pemerintah untuk mencegah penularan virus COVID-19, di New Delhi, India, Senin (23/3/2020) (ANTARA FOTO/REUTERS/Adnan Abidi)

Perusahaan swasta yang bergerak di bidang manufaktur obat-obatan murah di India, Serum Institute, berencana mematok harga calon vaksin COVID-19 sebesar Rp197ribu per dosis. Produsen yang berlokasi di wilayah Pune tersebut mengumumkan awal uji coba calon vaksin ke tubuh manusia pada 23 April lalu.

Itu merupakan salah satu uji coba paling awal di dunia. Selain Serum Institute, Dewan Riset Medis India (ICMR) yang merupakan lembaga negara juga ikut perburuan vaksin COVID-19 dengan menggandeng Bharat Biotech yang berlokasi di Hyderabad. 

12 Mei: Pfizer, farmasi raksasa AS menggandeng farmasi Jerman BioNTech SE untuk uji coba vaksin ke manusia, diperkirakan Oktober

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaPexels/Anna Shvets

Pfizer, raksasa produsen obat-obatan di Amerika Serikat yang telah menyatakan kesiapan uji coba vaksin eksperimental ke tubuh manusia pada Mei lalu, kini menggandeng perusahaan farmasi Jerman BioNTech SE. Berdasarkan pelacakan informasi yang tersedia di situs bioworld.com, BioNTech telah mendapatkan izin pengujian dari pemerintah Jerman pada 23 April lalu.

Keduanya juga bersiap uji coba di Amerika Serikat. Untuk mempercepat proses ini, Pfizer sampai mengalihkan produksi obat-obatan lainnya ke kontraktor eksternal, karena ingin fokus terhadap calon vaksin COVID-19.

Melansir CNBC, jika berhasil, perusahaan yang berbasis di New York ini berharap mendapat lampu hijau dari otoritas berwenang Amerika Serikat setidaknya pada Oktober mendatang, untuk melakukan produksi massal. Pfizer mengaku bisa mendistribusikan hingga 20 juta dosis pada akhir 2020, dan kemungkinan ratusan juta setahun berikutnya.

Baca Juga: 100 Vaksin virus corona Dikembangkan, 6 Sudah Masuk Uji Coba Manusia

30 April: Jenner Institute dari Oxford University gandeng AstraZeneca mengembangkan vaksin

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi vaksin atau jarum suntik (IDN Times/Arief Rahmat)

Jenner Institute dari Oxford University mengumumkan akan bekerja sama dengan AstraZeneca Inggris untuk untuk membuat prototipe vaksin coronavirus yang dapat diproduksi pada musim gugur tahun ini (September).

Kepala Eksekutif AstraZeneca Pascal Soriot menyatakan mereka akan mempercepat globalisasi vaksin untuk memerangi virus ini. Namun belum ada tanggal pasti kapan produksi vaksin bernama "ChAdOx1 nCoV-19" ini dimulai.

24 April: Tiongkok menyatakan vaksin untuk kondisi darurat akan siap pada September ini

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaPetugas medis dengan baju pelindung (ANTARA FOTO/China Daily via REUTERS)

Tiongkok yang mengembangkan vaksin COVID-19 sejak Jantuati, mengklaim vaksin ini akan siap digunakan pada September tahun ini untuk kondisi darurat. Sedangkan produksi untuk umum akan dilakukan awal tahun depan.

Dilansir dari South China Morning Post (SCMP), Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok, Gao Fu memberi catatan bahwa hal ini tergantung pada kemajuan perkembangan uji coba.

"Vaksin saat ini masih dalam uji klinis fase dua atau fase tiga, sementara dapat digunakan untuk beberapa kelompok khusus orang seperti petugas kesehatan. Kami mungkin memiliki vaksin untuk populasi sehat awal tahun depan," ujar Gao Fu kepada China Global Television Network, Senin (27/4).

Berdasarkan data World Healt Organization (WHO) Tiongkok ada sejumlah proyek pengembangan vaksin COVID-19 yang dilakukan oleh beberapa lembaga.

  • CanSino Biologics Inc./Beijing Institute of Biotechnology (uji fase kedua)
  • Beijing Institute of Biological Products/Wuhan Institute of Biological Products (uji fase pertama) Sinavac juga sedang ujicoba fase pertama.
  • Sinovac (uji fase pertama) 

Baca Juga: Penggunaan Plasma Darah Penyintas COVID-19, Peneliti Vaksin: Hati-hati

7 April: Inovio Pharmaceuticals, perusahaan kedua di Amerika Serikat sudah uji coba vaksin

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaTes swab virus corona (COVID-19) di fasilitas tes One Medical sebagai upaya membatasi penyebaran virus corona (COVID-19) di Bronx, New York City, Amerika Serikat, Selasa 21/4). ANTARA FOTO/REUTERS/Lucas Jackson

Perusahaan kedua di Amerika Serikat (AS), Inovio Pharmaceuticals, siap untuk mulai melakukan tes uji keamanan vaksin virus corona baru. Seperti yang dilansir ABC News, pada Senin (6/4) kemarin Inovio mengatakan telah memiliki izin dari Badan Obat-obatan dan Makanan AS atau Food and Drug Administration (FDA).

Menurut mereka, FDA telah menerima pengajuan Investigational New Drug (IND) dari perusahaan mereka atas INO-4800, yang merupakan suatu calon vaksin yang dibuat untuk mencegah infeksi COVID-19. Inovio Pharmaceuticals menyebut bahwa vaksin itu dibuat menggunakan bagian dari kode genetik virus yang dikemas dalam sepotong DNA sintetis. 

Baca Juga: AS Mulai Lakukan Uji Coba Vaksin Perdana COVID-19 ke Manusia 

27 Maret: Australia mengujicoba vaksin TBC untuk menangkal COVID-19

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi vaksin atau jarum suntik (IDN Times/Arief Rahmat)

Peneliti Australia mengumumkan pada Jumat (27/3), mereka bergerak cepat mencari vaksin untuk menangkal COVID-19. Saat ini, peneliti mengujikan vaksin yang telah digunakan selama beberapa dekade untuk mencegah tuberkolosis (TBC), sebagai vaksin penangkal COVID-19.

Rencananya vaksin untuk TBC atau biasa disebut vaksin BCG akan diujicobakan kepada 4.000 petugas kesehatan di rumah sakit di seluruh Australia. Peneliti di Murdoch Children's Research Institute di Melbourne, Australia, akan melihat apakah vaksin BCG tersebut dapat mengurangi gejala COVID-19.

16 Maret: Amerika Serikat menciptakan vaksin bernama mRNA-1273

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaPerawat membawa alat uji di lantatur pengujian COVID-19, flu dan RSV, di UW Medical Center Northwest di Seattle, Washington, Amerika Serikat, pada 9 Maret 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Lindsey Wasson

Pemerintah Amerika Serikat mulai melakukan uji coba perdana vaksin penyakit COVID-19. Stasiun TV berita BBC, Selasa (17/3), melaporkan uji coba vaksin dilakukan terhadap empat pasien di fasilitas penelitian Kaiser Permanente di Seattle, Washington, Amerika Serikat.

Moderna Inc, perusahaan bioteknologi dari Cambridge dan National Institute of Allergy and Infectious Disease (NIAID) bekerja sama mendukung pembuatan vaksin yang dinamakan mRNA-1273 ini. Vaksin ini berisi kode genetik tidak berbaha --disalin dari virus yang telah menyebabkan kematian lebih dari 7.000 orang tersebut. 

Sebelumnya, uji coba vaksin perdana didanai oleh Institut Nasional Kesehatan. Organisasi ini sudah melakukan uji coba vaksin terhadap hewan yang bertujuan untuk memeriksa apakah vaksin dapat memicu daya tahan tubuh ke hewan. 

Baca Juga: Vaksin Corona Ditemukan! Obat COVID-19 Segera Diproduksi

4 Februari: Menteri BUMN Erick Thohir meminta Bio Farma riset terkait vaksin virus corona

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaErick Thohir pantau apotek kimia farma (IDN Times/Muhammad Athif Aiman)

Jauh sebelum pemerintah secara resmi mengumumkan kasus COVID-19 di Tanah Air, Menteri BUMN Erick Thohir mendorong holding BUMN Farmasi untuk melakukan riset untuk menemukan vaksin virus corona.

"Kita juga dorong Bio Farma dan kawan-kawan mencarikan riset untuk vaksin (corona) juga. Jadi mana tahu kita punya tumbuhan yang bisa dipakai melawan (corona) ini," kata Staf Khusus Kementerian BUMN, Arya Sinulingga, Selasa (4/2).

Menanggapi hal tersebut, PT Bio Farma belum dapat membuat vaksin antivirus corona dalam waktu dekat. Induk dari holding farmasi mengatakan mereka sedang mencari lembaga riset untuk proses pembuatan vaksin tersebut.

"Kalau kita bicara bikin vaksin normal di luar kejadian itu lumayan lama, itu butuh waktu 15 tahun (pembuatannya) dari nol. Makanya kita harus bersama dengan lembaga riset sehingga kita tidak dari nol," kata Direktur Utama PT Bio Farma, Honesti Basyir di Jakarta, Rabu (5/2).

26 Januari: Tiongkok mulai mengembangkan proyek pembuatan vaksin COVID-19

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaSeorang petugas medis dengan baju pelindung (ANTARA FOTO/China Daily via REUTERS)

Tiongkok telah memulai usaha menemukan vaksin yang bisa melindungi manusia dari COVID-19 yang berpotensi mematikan. Dilansir dari New York Post, Mayor Jenderal Chen Wei yang memimpin pengembangan vaksin ini mengatakan bahwa vaksin ini siap diproduksi dalam skala besar.

Chen Wei dari Akademi Ilmu Kedokteran Militer Tiongkok itu menjelaskan, Tiongkok akan merekrut 108 orang yang sehat untuk berpartisipasi dalam uji coba vaksin ini. Uji coba akan dilakukan tahap demi tahap dan akan berlangsung hingga 31 Desember mendatang. Uji coba ini akan melibatkan CanSino Biologics, perusahaan bioteknologi di Hong Kong.

Baca Juga: Sudah Sampai Mana Progres Pengembangan Vaksin untuk Wabah COVID-19?

Topic:

  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya