Comscore Tracker

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di Dunia

Update perkembangan tahapan uji coba vaksin

Jakarta, IDN Times - Vaksin untuk menangkal penyakit yang disebabkan virus corona jenis baru, COVID-19, menjadi harapan bagi setiap negara yang terpapar penyakit mematikan ini. COVID-19 masih melanda di hampir seluruh negara di dunia. Sebagian negara bahkan dikabarkan mulai memasuki gelombang kedua pandemik. 

Pemerintah Indonesia melalui PT Bio Farma pun berencana mengembangkan vaksin COVID-19. Bio Farma, selaku induk holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor farmasi, akan menggandeng Tiongkok untuk mengembangkan pembuatan vaksin virus corona di dalam negeri.

Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan pihaknya masih melakukan komunikasi dengan lembaga vaksin di Tiongkok yang bernama Sinovac Biotech. 

"Kami juga lagi lakukan koordinasi dengan mereka, bagaimana kalau seandainya vaksin uji klinis berikutnya serta juga untuk proses pembikinan massalnya itu nanti bisa dilakukan di Bio Farma," kata dia dalam RDP dengan Komisi VI DPR secara virtual, Selasa (21/4).

Selain itu, Bio Farma juga berencana melakukan kolaborasi dengan lembaga The Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI). Hingga saat ini, lembaga tersebut sedang meninjau proposal yang telah dikirimkan Bio Farma ke CEPI.

Kandidat Doktor bidang Rekayasa Genetik dan peneliti vaksin Universitas Oxford, Muhammad Hanafi, mengungkapkan saat ini, sudah ada 95 sampai 100 vaksin untuk COVID-19 yang dikembangkan perusahaan dan universitas di seluruh dunia. Namun, dari jumlah tersebut hanya 33,4 persen atau sekitar lima atau enam vaksin yang sukses masuk clinical trial phase atau uji coba terhadap manusia.

"Sebagian besar masih dikembangkan di lab bukan dalam pengujian manusia. Salah satu yang sudah diujikan masuk ke clinical trial atau uji klinis dan sudah diujikan ke manusia adalah vaksin yang dikembangkan di Oxford," kata Hanifi di program Ngobrol Asik by IDN Times, Sabtu (9/5). 

Berikut IDN Times melaporkan langkah demi langkah perkembangan proyek pembuatan vaksin COVID-19 di berbagai negara.

Perkembangan status vaksin di seluruh dunia

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaInfografik Perkembangan Vaksin COVID-19 di Dunia (IDN Times/Arief Rahmat)

27 Oktober: Pemerintah ralat soal batal beli vaksin AstraZeneca

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaMenko bidang perekonomian Airlangga Hartarto (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membantah kabar Indonesia batal membeli vaksin AstraZeneca yang berasal dari salah satu perusahaan Inggris tersebut. Dia mengatakan hingga saat ini pemerintah belum memutuskan pembatalan vaksin COVID-19 dari AstraZeneca tersebut.

"Berita itu tidak sepenuhnya benar karena belum diputuskan," ujar Airlangga dalam siaran langsung di channel YouTube BNPB Indonesia, Selasa (27/10/2020).

Airlangga mengatakan AstraZeneca memiliki kelebihan untuk memproduksi vaksin dalam jumlah besar dengan harga terjangkau. Tetapi, ketersediaannya belum bisa dalam waktu dekat ini.

"Iya baru masuk di kuartal kedua 2021. Karenanya, arahan Pak Presiden terhadap vaksin-vaksin seperti AstraZeneca, Novavax dan lainnya itu tetap dikaji dan tentunya nanti dilihat sesuai dengan kebutuhan yang ada di Indonesia dan juga dilihat kerja samanya ke depan," tuturnya.

27 Oktober: Kemajuan vaksin Merah Putih masih terkendala impor

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaBio Farma ( ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro mengatakan, ada tantangan tersendiri dalam pembuatan vaksin COVID-19 dalam negeri. Salah satu tantangan yang dihadapi, kata Bambang, adalah proses impor yang lama karena adanya pandemik virus corona ini.

Bambang mengatakan, dalam pengembangan vaksin Merah Putih, ada beberapa bahan yang didatangkan dari luar negeri. Seperti hewan untuk uji coba yang harus diimpor dari negara lain.

"Memang ada bahan-bahan yang tetap harus diimpor misalnya sel mamalia, bahkan hewan untuk uji coba pun itu kita impor. Jadi terkadang proses impor termasuk reagen ini yang bisa men-delay aktivitas penelitian," jelas Bambang.

27 Oktober: Pemerintah tegaskan vaksinasi massal ditunda

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi Penyuntikan Vaksin (IDN Times/Arief Rahmat)

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Dany Amrul Ichdan mengatakan bahwa pemerintah telah memutuskan untuk menunda rencana vaksinasi COVID-19 secara massal. Awalnya, pemerintah optimistis tahap distribusi antivirus Corona itu kepada masyarakat dapat dilakukan pada November 2020.

“Masalah vaksin ini dinamis. Keputusan ini kan dinamis. Tentu dengan melihat masalah di lapangan, supaya ini lebih baik, ini mundur untuk memenuhi kehati-hatian,” ujar Dany di tayangan Indonesia Lawyers Club, Selasa (27/10/2020).

Rencana awalnya, vaksinasi dilakukan secara terbatas dengan target adalah para petugas medis yang menjadi garda terdepan penanganan COVID-19. Vaksin juga rencananya diberikan kepada prajurit TNI, Polri, Satpol PP dan aparat penegak hukum yang berada di lapangan dalam pengendalian COVID-19 serta pasien dengan komorbid. 

26 Oktober: AstraZeneca klaim uji klinis vaksin mereka berhasil picu imunitas lansia

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di Duniaunsplash.com/CDC

Bakal vaksin COVID-19 yang tengah dikembangkan oleh perusahaan farmasi asal Inggris, AstraZeneca, diklaim berhasil memicu respons imun relawan mereka yang berusia lansia dan lebih muda. Hal ini semakin mendorong rasa optimistis bahwa uji klinis bisa menghasilkan vaksin COVID-19 yang sukses. 

Stasiun berita Al-Jazeera, Senin 26 Oktober 2020 melaporkan, selain bisa memicu imunitas di tubuh lansia dan kaum lebih muda, vaksin yang diberi nama AZD1222 itu juga memiliki risiko efek samping yang rendah terhadap relawan. Perkembangan ini jelas dipandang bisa menjadi faktor penting untuk mengendalikan pandemik COVID-19. 

Akibat penyakit yang pertama kali muncul di Wuhan, Tiongkok, kehidupan normal dua miliar penduduk bumi langsung berubah. Selain itu, 43 juta penduduk dunia telah tertular dan sebanyak 1,15 juta di antaranya meninggal akibat penyakit COVID-19. 

"Temuan ini membuat kami lebih bersemangat karena respons imunogenisitas antara orang dewasa dan lansia mirip. Bahkan, reaktogenisitas pada orang dewasa yang lebih tua terlihat rendah," ungkap juru bicara AstraZeneca. 

Namun, perusahaan yang bermitra dengan Universitas Oxford itu tidak menyampaikan secara detail data-data yang mendukung klaim mereka. Salah satunya, kapan mereka akan menerbitkan hasil uji klinis tahap ketiga di jurnal ilmiah. Bila tahapan itu dilalui, maka peluang untuk memperoleh izin edar vaksin lebih besar. 

27 Oktober: 25 Staf KBRI di Abu Dhabi sudah disuntik vaksin COVID-19

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaGedung KBRI di Abu Dhabi, UEA (www.facebook.com/@kbriabudhabi)

Sebanyak 25 staf di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, dilaporkan sudah menerima vaksin COVID-19, meski belum ada vaksin yang disetujui oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Mereka yang menerima vaksin terdiri dari staf lokal dan diplomat Indonesia. 

Konfirmasi itu disampaikan pejabat bidang penerangan, sosial dan budaya (Pensosbud) KBRI Abu Dhabi, Nur Ibrahim kepada IDN Times melalui pesan pendek, Senin, 27 Oktober 2020. Nur menjelaskan, vaksin COVID-19 diberikan sesuai dengan aturan yang berlaku di Uni Emirat Arab (UEA). 

"Justru lebih banyak staf nondiplomat, pegawai setempat yang sehari-hari menjalankan kegiatan perlindungan dan pelayanan publik," ungkap Nur. 

Lantaran jenis pekerjaan di KBRI membutuhkan banyak interaksi dengan publik, maka diputuskan staf dan diplomat Indonesia ikut disuntikkan vaksin COVID-19. Nur mengatakan, proses imunisasi dilakukan pada Rabu, 21 Oktober 2020 lalu. "Sebanyak 25 staf KBRI yang dinyatakan sehat telah mendapatkan vaksinasi secara sukarela usai menjalani prosedur pemeriksaan kesehatan," katanya lagi.

26 Oktober: Bio Farma gandeng Pusat Kesehatan TNI AD

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaLogo Biofarma (Website/biofarma.co.id/)

Kepala Pusat Kesehatan TNI Angkatan Darat (Puskesad) Mayjen TNI A Budi Sulistya mengatakan Bio Farma akan melibatkan Puskesad dalam proses pembuatan vaksin COVID-19 untuk penanggulangan pandemi COVID-19 di Indonesia. "Untuk saat ini sudah ada nota kesepahaman (MoU) dengan Bio Farma. Tentu kita akan dilibatkan dalam waktu dekat," kata Budi, Senin (26/10/2020).

Proses pembuatan vaksin saat ini, kata dia, masih dalam proses filling atau pengisian dosis. Proses filling pun, menurutnya, tidak mudah karena menyangkut sterilisasi, pengemasan, dan lainnya. "Bagaimana vaksin ini dikemas secara terukur, sehingga perlu teknik yang profesional," kata Budi.

26 Oktober: Jokowi keluarkan 7 arahan mengenai vaksinasi COVID-19

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaJokowi beri sambutan di Puncak Acara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-92 pada Rabu (28/10/2020) (Dok. Biro Pers Kepresidenan)

Presiden Joko "Jokowi" Widodo menggelar rapat terbatas mengenai rencana pengadaan dan pelaksanaan vaksinasi bersama menteri kabinet. Dalam rapat tersebut, dia meminta para menterinya untuk mengutamakan keamanan vaksinasi. Menurutnya, penyuntikan vaksin harus melalui tahapan-tahapan atau uji klinis yang benar.

Dia mengeluarkan tujuh poin arahan tentang vaksinasi ini:

  • Semua tahapan vaksin harus berdasarkan sains dan standar kesehatan.
  • Vaksinasi harus direncanakan dengan matang meski pemerintah ingin bergerak cepat.
  • Harga vaksin mandiri harus terjangkau bagi masyarakat.
  • Menteri harus jelaskan detail kepada masyarakat bagaimana akses dan proses vaksinasi.
  • Menteri diminta menjelaskan prioritas awal vaksinasi.
  • Sebelum vaksinasi harus ada simulasi

25 Oktober: Peru tolak teken kesepakatan pembelian vaksin AstraZeneca

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaPerusahaan farmasi AstraZeneca pbs.org

Pemerintah Peru ogah menandatangani kesepakatan pembelian bakal vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca. Perdana Menteri Walter Martos mengatakan perusahaan farmasi asal Inggris itu gagal menyediakan data bakal vaksin yang diminta oleh pemerintah. Selain itu, AstraZeneca hanya bisa menyediakan vaksin COVID-19 lebih sedikit dibandingkan perusahaan farmasi lainnya. Belum lagi, harga jual vaksinnya yang ditawarkan ke Pemerintah Peru lebih mahal. 

"Mereka menawarkan kami pasokan vaksin dalam jumlah yang sangat sedikit bila dibandingkan dengan laboratorium yang lain. Sedangkan, laboratorium lain bisa menawarkan jumlah pasokan lebih banyak dengan harga yang lebih rendah," ungkap PM Martos yang dikutip dari laman Russia Today (RT) pada Minggu (25/10/2020). 

Selain itu, Martos juga mengklaim AstraZeneca mewajibkan adanya pembayaran uang muka di awal. Uang itu bisa saja hilang bila tidak memenuhi standar keamanan yang ditentukan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). 

Pernyataan serupa sempat disampaikan oleh mantan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Achmad Yurianto ketika berbicara kepada IDN Times melalui telepon pada Kamis, 22 Oktober 2020 lalu. Indonesia rencananya akan memesan 100 juta vaksin COVID-19 dari AstraZeneca. Namun, meski belum diputuskan secara resmi, pria yang akrab disapa Yuri itu mengatakan klausul serupa tertuang di dalam kontrak pembelian vaksin buatan AstraZeneca. 

24 Oktober: BPOM bantah vaksinisasi COVID-19 batal November gegara tidak ada izin

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaKepala BPOM Penny K Lukito jabarkan penemuan obat ilegal (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) membantah bahwa pihaknya tidak memberikan izin penggunaan darurat (emergency use authorization) vaksin CanSino Biologics dan Sinopharm dari Tiongkok yang akan tiba di Indonesia pada pertengahan November mendatang.

Kepala BPOM Penny Lukito menjelaskan, sampai hari ini belum ada kepastian dari Pemerintah terkait rencana penyuntikan vaksin COVID-19 fase pertama yang diperuntukan bagi garda terdepan penanganan pandemik tersebut. Oleh sebab itu, Penny membantah jika BPOM disebut tidak memberikan izin penggunaan darurat. 

"Bukan seperti itu. Tidak ada yang batal disuntikkan, karena memang belum ada kepastian rencana penyuntikan di November, baru proses persiapan imunisasinya nanti,” kata Penny saat dihubungi IDN Times, Sabtu (24/10/2020).

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menyebut ada kemungkinan vaksinasi massal akan gagal dilakukan pada November lantaran belum mendapat izin dari BPOM.

23 Oktober: AstraZeneca dan Johnson&Johnson lanjutkan percobaan vaksin COVID-19

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di Duniawww.astrazeneca.com

Pada Jumat (23/10/2020), raksasa farmasi Inggris-Swedia, AstraZeneca, menyatakan akan melanjutkan uji coba vaksin COVID-19, AZD1222. Sebelumnya, pada hari Rabu (21/10/2020), Wall Street Journal memberitakan bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah memberi lampu hijau bagi perusahaan farmasi tersebut untuk melanjutkan pengembangan vaksin.

"Perizinan untuk memulai kembali uji coba klinis di seluruh dunia adalah kabar baik karena memungkinkan kami untuk melanjutkan pengembangan vaksin demi mengalahkan pandemi ini. Kita harus berkaca pada kehati-hatian yang ditunjukkan oleh regulator independen untuk melindungi masyarakat dan memastikan vaksin tersebut aman sebelum disetujui untuk digunakan,” papar CEO AstraZeneca, Pascal Soriot, dalam sebuah keterangan resmi di laman AstraZeneca.

Selain AstraZeneca, perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS), Johnson & Johnson (J&J), hari Jumat kemarin juga mengabarkan bahwa mereka akan melanjutkan proses rekrutmen peserta percobaan vaksin COVID-19, melansir Reuters.

22 Oktober: Indonesia batal pesan vaksin AstraZeneca

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di Duniaachmad yurianto (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Setelah melalui berbagai pertimbangan, Indonesia akhirnya memutuskan batal membeli 100 juta vaksin COVID-19 buatan perusahaan farmasi asal Inggris, AstraZeneca. Hal itu lantaran AstraZeneca tak bersedia bertanggung jawab bila terjadi kegagalan produksi vaksin corona pada pertengahan 2021. Sementara, Indonesia diminta sudah harus membayar down payment (DP) senilai US$250 juta atau setara Rp3,67 triliun. 

"Di dalam kontrak kesepakatan (dengan AstraZeneca) mengatakan ini kan belum ada produksinya, jadi uang muka (yang dibayarkan) akan digunakan untuk membangun produksi di Thailand. Di klausul lainnya bila terjadi kegagalan dalam produksi (vaksin COVID-19) maka mereka tidak boleh disalahkan. Ya, kami tidak jadi pesan," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Achmad Yurianto kepada IDN Times saat dihubungi pada Kamis (22/10/2020). 

Yuri membenarkan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi didampingi Menteri BUMN Erick Thohir ikut bernegosiasi mengenai produksi vaksin COVID-19. Tetapi, AstraZeneca, kata Yuri tetap pada keputusan kontrak tersebut. 

Ia menjelaskan keputusan itu sudah tegas diambil oleh pemerintah dengan tidak membayar DP yang jatuh tempo pada Selasa, 20 Oktober 2020 lalu.

21 Oktober: Relawan vaksin AstraZeneca di Brasil meninggal karena COVID-19

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaPerusahaan farmasi AstraZeneca pbs.org

Seorang dokter yang menjadi relawan vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi AstraZeneca meninggal karena terpapar virus corona. Peristiwa itu terjadi di Brasil, salah satu negara yang melakukan uji klinis vaksin COVID-19. 

Stasiun berita BBC, Rabu, 21 Oktober 2020 melaporkan badan kesehatan di Brasil, ANVISA menerima laporan mengenai kematian relawan vaksin AstraZeneca pada 19 Oktober 2020 lalu. Harian Brasil, O Globo, yang mengutip pernyataan dari seorang sumber, melaporkan dokter itu ada di dalam kelompok yang tidak vaksin eksperimental, alias tidak masuk ke dalam kelompok yang menerima vaksin corona. Dokter itu meninggal lantaran kerap bersinggungan dengan pasien COVID-19. 

Stasiun berita BBC menyebut dari semua relawan yang terlibat dalam proses uji klinis, hanya separuhnya yang diberi vaksin eksperimental COVID-19. Sisanya, vaksin meningitis yang telah memiliki lisensi. Tidak ada satu pun relawan atau keluarganya yang tahu vaksin mana yang mereka terima. Dengan metode ini bisa memudahkan para peneliti untuk membandingkan hasil dari kedua kelompok dan memastikan apakah vaksin tersebut manjur. 

Dalam pernyataan tertulisnya AstraZeneca mengaku mereka tak bisa mengonfirmasi mengenai kasus per individu yang mengikuti proses uji klinis. Tetapi, mereka memastikan semua prosedur telah diikuti dengan ketat. 

"Semua peristiwa medis yang signifikan dinilai dengan cermat oleh peneliti pada tahap uji klinis, komite pemantau keamanan independen, dan otoritas pengatur," kata perwakilan AstraZeneca dalam keterangan tertulis. "Penilaian ini tidak menimbulkan kekhawatiran tentang kelanjutan studi yang sedang berlangsung," kata mereka lagi. 

16 Oktober: Indonesia bakal dapat jatah vaksin harga subsidi untuk 20 persen penduduk

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaPenandatanganan kesepakatan pembelian vaksin COVID-19 AstraZeneca dengan Indonesia (Dokumentasi Kementerian Luar Negeri)

Indonesia sudah bersurat kepada Gavi--salah satu pemimpin COVAX selain WHO dan CEPI untuk bisa memperoleh vaksin melalui platform COVAX/AMC. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memastikan Indonesia dan 166 negara lainnya memperoleh jatah vaksin corona sebanyak 20 persen dari jumlah penduduk. 

Direktur Jenderal Multilateral Kementerian Luar Negeri, Febrian A Ruddyard mengatakan Indonesia memperoleh vaksin COVID-19 dengan harga subsidi. Jatah vaksin COVID-19 yang diperoleh hanya 20 persen dari jumlah populasi di Indonesia atau sekitar 53,6 juta dosis.

"Harga (vaksin) ini lebih murah daripada beberapa negara lain yang dianggap memiliki kemampuan ekonomi yang lebih besar," kata Febri ketika berbicara dalam diskusi virtual pada Jumat (16/10/2020) di Jakarta. 

Ia mengatakan jatah vaksin yang diberikan oleh COVAX tidak mungkin lebih dari 20 persen populasi di masing-masing negara. Sebab, prinsip yang diterapkan dalam pendistribusian vaksin bukan untuk memenuhi kebutuhan semua populasi di negara tersebut. "Prinsipnya lebih kepada some people in all countries (sebagian orang di seluruh negara)," ujarnya lagi. 

12 Oktober: Pemerintah rilis rincian jadwal pengadaan 260 juta dosis vaksin Sinovac

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaMarkas Sinovac Biotech di Haidian, Beijing, Tiongkok (European Press Agency)

Untuk suplai 260 juta vaksin Sinovac, pemerintah akan mengalokasikan waktu hingga Oktober 2021, dengan rincian sebagai berikut:

30 November 2020: 15 juta dosis vaksin
5 Januari 2021: 10 juta dosis vaksin
28 Januari 2021: 20 juta dosis vaksin
26 Februari 2021: 5 juta dosis vaksin
29 Maret 2021: 32 juta dosis vaksin
30 April 2021: 21 juta dosis vaksin
31 Mei 2021: 20 juta dosis vaksin
29 Juni 2021: 33 juta dosis vaksin
31 Juli 2021L: 30 juta dosis vaksin
30 Agustus 2021: 26 juta dosis vaksin
30 September 2021: 29 juta dosis vaksin
30 Oktober 2021: 19 juta dosis vaksin

12 Oktober: Indonesia deal 100 juta dosis vaksin COVID-19 dengan AstraZeneca Inggris

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di Duniaamp.france24.com

Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Airlangga Hartarto mengatakan bahwa AstraZeneca telah berkomitmen menyediakan 100 juta vaksin COVID-19 untuk Indonesia. Untuk tahap pertama, perusahaan asal Inggris tersebut akan menyiapkan 50 juta vaksin.

"Sekarang sedang berangkat Menkes (Terawan Agus Putranto), Menlu (Retno Marsudi), Menteri BUMN (Erick Thohir) untuk mempersiapkan 50 juta yang di-order pertama dan dibayar," kata Airlangga dalam diskusi virtual, Senin (12/10/2020).

12 Oktober: Menlu Retno dan Menteri BUMN Erick terbang ke Inggris dan Swiss bahas pengadaan vaksin

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaMenlu Retno Marsudi (Dok. IDN Times/Istimewa)

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri BUMN Erick Thohir bersama tim Kementerian Kesehatan akan terbang ke London, Inggris dan Jenewa, Swiss untuk membahas vaksin COVID-19.

"Tujuan utama dari perjalanan ini antara lain mengamankan komitmen dari sumber lain untuk vaksin COVID-19 dalam rangka kerja sama vaksin bilateral," kata Retno dalam konferensi pers virtual, Senin (12/10/2020).

Selain pertemuan bilateral, Retno juga akan menemui dan berdiskusi dengan Dirjen WHO, GAVI, dan CEPI dalam Framework COVAX Facilities untuk membahas kerja sama vaksin dalam konteks multilateral. Selain itu, pemerintah Indonesia juga akan mendorong penguatan kerja sama jangka menengah dan jangka panjang antara Bio Farma dengan mitranya di luar negeri.

6 Oktober: Tiongkok ajukan izin penggunaan vaksin COVID-19 tanpa lisensi ke WHO

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi petugas medis di Wuhan, Tiongkok (ANTARA FOTO/China Daily via REUTERS)

Tiongkok sedang dalam pembicaraan agar vaksin COVID-19 yang telah diproduksi secara lokal bisa digunakan dalam skala global. Koordinator WHO untuk obat-obatan esensial dan teknologi kesehatan kawasan Pasifik Barat, Socorro Escalate, mengatakan bahwa Tiongkok telah berdiskusi dengan WHO untuk memasukkan vaksinnya ke dalam daftar penggunaan darurat.
 
Kondisi itu memungkinkan vaksin untuk digunakan massal meski belum terlisensi.
 
"Secara potensial melalui penggunaan darurat ini, daftar kualitas dan keamanan vaksin ini dan kemanjurannya dapat dinilai. Kemudian ini dapat disediakan untuk pemegang lisensi kami," kata Escalante dilansir The Strait Times, Selasa (6/10/2020).  
 
Sebelumnya, Negeri Tirai Bambu itu telah menyuntikkan vaksin kepada ribuan pekerja dan kelompok rentan lainnya. Meskipun uji klinisnya belum selesai, Tiongkok menilai kondisi darurat memungkinkan supaya mereka divaksinasi lebih awal.

5 Oktober: Jokowi meneken perpres soal pengadaan vaksin

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaPresiden Jokowi memberikan keterangan pers soal UU Cipta Kerja (Dok. Biro Pers Kepresidenan)

Presiden Joko "Jokowi" Widodo meneken Peraturan Presiden (Perpres) Peraturan Presiden Nomor 99 Tahun 2020 tentang Pengadaan Vaksin dan Pelaksaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemik COVID-19. Perpres tersebut diteken Jokowi pada 5 Oktober 2020 lalu.

"Pemerintah menetapkan jenis dan jumlah Vaksin COVID-19 yang diperlukan untuk pelaksanaan vaksinasi COVID-19," tulis Perpres tersebut.

Dalam Perpres tersebut, Menteri Kesehatan mendapatkan kewenangan untuk menetapkan jenis dan jumlah vaksin COVID-19. Namun, semua harus melalui pertimbangan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN).

"Dalam rangka penetapan jenis Vaksin COVID-19 sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan memberikan persetujuan penggunaan pada masa darurat (emergency use authorization) atau izin edar," tulis aturan dalam Perpres itu lagi.

5 Oktober: Kemenkes gelar simulasi uji coba vaksin COVID-19 di puskesmas di Bali

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi. Uji coba vaksin (Foto diambil oleh S. Hawkey untuk WHO)

Kementerian Kesehatan menggelar simulasi uji coba vaksin COVID-19 di Puskesmas Abiansemal 1, Kabupaten Badung, Bali. Simulasi tersebut digelar selama dua hari lalu yakni dari 5-6 Oktober 2020. Lokasi ini merupakan yang kedua setelah sebelumnya dilakukan persiapan serupa di Kota Bogor, Jawa Barat.

Meski masih tahap simulasi, Kemenkes memastikan vaksin yang akan diberikan kepada peserta imunisasi aman sehingga tidak akan berdampak buruk bagi kesehatan. Sebab, vaksin terpilih telah melewati sejumlah rangkaian uji coba dan telah teruji secara klinis.

“Sekarang sedang diteliti dan diupayakan untuk meminimalisir risiko-risiko yang akan terjadi, kalau memang ada risiko pasti tidak akan kita lakukan. Yang sudah diberikan ini, yang sudah aman,” kata Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit M Budi Hidayat dilansir laman kemkes.go.id, Rabu (7/10/2020).

5 Oktober: Bio Farma asumsikan harga vaksin COVID-19

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi Bio Farma. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Direktur Utama PT Bio Farmasi Honesti Basyir mengasumsikan harga vaksin COVID-19 mencapai Rp200 ribu per dosis. Vaksin kerja sama dengan Sinovac asal Tiongkok tersebut hingga saat ini, masih dalam proses uji klinis tahap akhir. 

"Saya gak mengatakan harganya seperti ini, (tapi) diasumsikan. Katakanlah Rp200 ribu rupiah satu dosis, artinya 2 dosis 400 ribu," katanya di Komisi VI DPR, Senin (5/10/2020).

Menurut Honesti, setiap orang membutuhkan dua kali vaksinasi sehingga dibutuhkan sebanyak 340 juta dosis vaksin tersedia pada tahun depan. Dengan begitu, kata Honesti, pihaknya membutuhkan biaya pengadaan yang cukup besar, hingga mencapai triliunan rupiah.

"Kemungkinan nanti pada saat vaksin Covid diproduksi butuh biaya yg cukup besar karena pengadaan vaksin ini mulai dari beli bahan baku sampai produksi," ujarnya.

2 Oktober: 70 persen vaksin COVID-19 diberikan ke usia produktif

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaInfografik kelelahan mental pada tenaga medis/ Arief

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan vaksin COVID-19 yang akan diberikan kepada 160 juta penduduk Indonesia, sebagian besar untuk mereka yang berusia produktif.

"Target vaksinasi untuk 160 juta orang dan kebutuhannya antara 320-370 (dosis). Ini targetnya diberikan pada mereka yang berusia produktif atau 70 persen dengan usia 15-59 (tahun)," kata Airlangga dalam Konferensi Pers virtual Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN), Jumat (2/10/2020).

Vaksin ini juga nantinya diprioritaskan kepada mereka yang berada di garda terdepan. Baik itu tenaga kesehatan (nakes), dokter, perawat, petugas medis, TNI-Polri hingga Satpol-PP. "Dan tentunya dipertimbangkan juga untuk pasien dengan komorbid. Dan ini akan melibatkan 10.134 puskesmas, 2.877 rumah sakit," ujarnya.

30 September: Bio Farma akan ajukan izin penggunaan darurat vaksin Sinovac ke BPOM

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi vaksin COVID-19 buatan Sinovac (Dokumentasi Sinovac)

PT Bio Farma akan mengajukan izin darurat penggunaan (emergency use authorization/EUA) vaksin Sinovac ke Badan Pengelola Obat dan Makanan (BPOM) untuk mempercepat akses vaksin COVID-19 bagi publik.

Syarat bisa memperoleh EUA, Bio Farma harus menyampaikan laporan interim mengenai hasil uji klinis vaksin COVID-19 buatan Sinovac yang melibatkan 1.620 relawan. "Laporan interim rencananya akan disampaikan pada Januari 2021," ungkap Direktur Utama Bio Farma, Honesty Basyir, 30 September 2020. 

Sepanjang uji klinis tahap ketiga vaksin Sinovac yang sudah berjalan selama satu bulan, menurutnya, belum ditemukan efek samping yang signifikan. Namun, tim riset uji klinis ketiga vaksin Sinovac baru bisa menilai efektivitas dan efek samping vaksin pada akhir Januari 2021. 

28 September: Jokowi beri waktu 2 pekan bagi menteri kabinet untuk susun rencana penyuntikan vaksin

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaPresiden Joko Widodo tiba di PT Bio Farma (Persero) Bandung untuk meninjau fasilitas produksi dan pengemasan Vaksin COVID-19, Selasa (11/8/2020) (Dok. Biro Pers Kepresidenan)

Presiden Joko "Jokowi" Widodo memberikan waktu dua pekan kepada menterinya untuk menggodok rencana penyuntikan vaksin COVID-19. Jokowi ingin pelaksanaan vaksinasi nanti bisa langsung dilakukan begitu vaksin itu bisa digunakan.

"Saya minta dalam dua minggu ini sudah ada perencanaan yang detail, kapan dimulai, lokasinya di mana, siapa yang melakukan, siapa yang divaksin pertama, semuanya harus terencana dengan baik," kata Jokowi dalam rapat terbatas, Senin (28/9/2020).

Menyambung hal itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pihaknya tengah menyiapkan peraturan presiden (perpres) dan pedoman terkait vaksinasi COVID-19. Kebutuhan dana vaksin yang sudah disiapkan untuk tahun ini sebesar Rp3,8 triliun. Sementara, pada APBN 2021 disiapkan Rp18 triliun.

"Road maps terkait vaksinasi, kemudian juga dashboard tracing program di mana nanti dalam vaksin itu perlu dilakukan tracing siapa yang mendapatkan dan bagaimana efektivitasnya," ujar Airlangga usai rapat terbatas tersebut.

25 September: Pemberitaan media Tiongkok yang sebut vaksin mereka sudah lolos uji menurut WHO itu keliru penerjemahan

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaTangkapan layar berita yang sempat tayang di media Tiongkok lalu dihapus (www.news.cgtn.com)

Media Tiongkok, China Global Television Network (CGTN) keliru melaporkan vaksin COVID-19 buatan Negeri Tirai Bambu itu sudah sukses melewati uji klinis tahap ketiga dan diberikan izin oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Situasi semakin runyam karena berita itu kemudian viral di Tiongkok dan telah diklik sebanyak 460 juta kali di situs Weibo.

Berita disinformasi itu kemudian diamplifikasi oleh dua media nasional yang ikut keliru memberitakan tanpa memperoleh klarifikasi atau mengecek langsung video yang dikutip oleh CGTN. Stasiun berita CGTN pada Rabu, 23 September 2020 lalu menurunkan pemberitaan dengan judul "China's COVID-19 vaccines proven successful in clinical trials: WHO".

Stasiun televisi non Bahasa Mandarin itu menyebut rujukan judulnya dari pernyataan yang disampaikan oleh Kepala Ilmuwan WHO, Dr. Soumya Swaminathan pada Senin, 21 September 2020 lalu.

Dalam sesi briefing dengan media langsung dari kantor pusat WHO di Jenewa, Swaminathan menjawab pertanyaan dari Corrinne jurnalis Bloomberg. Ia menanyakan apakah WHO masih berharap Tiongkok ikut bergabung dengan COVAX, sebuah aliansi yang diinisiasi oleh WHO agar negara kaya dan maju bersedia mendistribusikan vaksin COVID-19 bagi negara tidak mampu. 

Video yang ditayangkan oleh stasiun CGTN pada 23 September 2020 lalu tidak memuat utuh pernyataan Swaminathan dan mengabarkan WHO telah membenarkan bahwa kandidat vaksin COVID-19 buatan Tiongkok terbukti sukses di tahap uji klinis. Padahal, Swaminathan tidak menyatakan hal itu. 

17 September: Vaksin Sinovac sudah diujicobakan ke pegawai mereka dan keluarganya

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaMarkas Sinovac Biotech di Haidian, Beijing, Tiongkok (European Press Agency)

Pada saat vaksin COVID-19 buatan Sinovac Biotech tengah menjalani uji klinis tahap ketiga, ribuan pegawai di perusahaan farmasi itu sudah ditawari ikut program darurat imunisasi massal. Tawaran itu juga berlaku bagi keluarga para pegawai. 

Juru Bicara Sinovac Biotech, Liu Peicheng, mengonfirmasi sekitar 3.000 pegawai dan keluarganya telah ditawarkan disuntik vaksin COVID-19. Petinggi Sinovac Biotech, Yin Weidong, memprediksi restu hasil uji klinis bisa diperoleh pada akhir 2020. 

"Pemberian vaksin juga untuk mencegah epidemi lainnya muncul di musim gugur dan dingin," ungkap Yin pada acara pameran internasional dagang di Beijing dan dikutip harian South China Morning Post

Tiongkok memang telah memberikan lampu hijau penggunaan vaksin COVID-19 untuk pekerja di sektor yang rentan terpapar pandemik, seperti petugas imigrasi dan tenaga medis. Vaksin COVID-19 juga sudah diberikan kepada para penjual di pasar basah Xinfadi. Pasar itu diklaim sebagai sumber munculnya COVID-19, hingga menimbulkan gelombang kedua pandemik di Tiongkok. 

"Bila ada satu saja orang di tempat ini terpapar virus, maka akan menularkan ke ratusan orang lainnya. Strategi pengendalian di Tiongkok perlu diperbaiki dan perbaikan itu salah satunya bergantung kepada vaksin," kata dia lagi. 

17 September: WHO minta farmasi transparan jika ada efek samping dan apakah manjur ke 50 persen relawan

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaPetugas kesehatan menyuntikan vaksin kepada relawan saat simulasi uji klinis vaksin COVID-19 di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Kamis (6/8/2020) (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

WHO meminta agar perusahaan farmasi yang mengembangkan vaksin COVID-19 bersikap transparan. Mereka harus mengungkap data ke publik apakah usai diimunisasi ditemukan efek samping. Sementara, menyikapi beberapa negara yang sudah lebih dulu mengimunisasi rakyatnya dengan vaksin COVID-19 di 2020

Menurut standar yang ada, vaksin yang sedang memasuki proses uji klinis membutuhkan waktu sekitar 12 bulan. Pada proses itulah, para peneliti bisa melihat dampak negatif usai penyuntikan vaksin COVID-19 pada pekan pertama. Dengan begitu, saat vaksin didistribusikan ke seluruh dunia, kemanjurannya sudah teruji. 

Izin darurat untuk penyuntikan yang sudah diberikan kepada perusahaan farmasi itu bisa dicabut bila hasil uji klinis ternyata tidak memenuhi standar minimum yang ditetapkan. Salah satu standar itu yakni vaksin COVID-19 harus manjur ke 50 persen relawan yang ikut terlibat dalam proses uji klinis.

17 September: Vaksin baru bisa terdistribusi merata di dunia pada 2022

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di Dunia(Simulasi uji klinis vaksin sinovac COVID-19 di RSUP Unpad, Kota Bandung) IDN Times/Azzis Zulkhairil

Ilmuwan di Badan Kesehatan Dunia (WHO) mewanti-wanti agar tidak berharap, kehidupan manusia pada 2021 sudah bisa normal seperti sebelum mewabahnya virus corona atau COVID-19. Sebab, vaksin COVID-19 baru akan didistribusikan secara merata di seluruh dunia pada 2022. 

Dikutip dari harian Hong Kong, South China Morning Post (SCMP), Kepala Ilmuwan WHO Soumya Swaminathan mengatakan, melalui inisiatif COVAX, ratusan juta dosis vaksin COVID-19 baru akan terkumpul pada pertengahan 2021. Artinya, bila lancar, maka proses pendistribusian vaksin ke 170 negara yang ikut COVAX, baru terwujud pada pertengahan tahun depan.

Sayangnya, pada pertengahan 2021, pasokan vaksin tidak akan cukup untuk dibagikan ke semua negara. Produksi vaksin akan terus ditingkatkan dan mencapai target dua miliar dosis pada akhir 2021. Oleh sebab itu, kebiasaan mengenakan masker dan menjaga jarak tetap harus dilakukan pada tahun depan. 

"Oleh sebab itu, prediksi orang kebanyakan bahwa pada Januari tahun depan Anda sudah diimunisasi, lalu dunia akan kembali normal, bukan begitu caranya mengakhiri pandemik ini," ungkap Swaminathan, Kamis 17 September 2020. 

17 September: Relawan vaksin AstraZeneca mengalami kondisi neurologis langka

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di Duniawww.astrazeneca.com

Seorang peserta uji coba klinis vaksin AstraZeneca terdiagnosis mengalami gangguan neurologis serius beberapa minggu setelah mendapatkan dosis kedua. Hal ini pertama diumumkan pada Kamis (17/9/2020).

Relawan perempuan berusia 37 tahun yang sebelumnya sehat, harus dirawat di rumah sakit karena mengalami gangguan neurologis bernama mielitis transversa. Suntikan kedua diberikan pada bulan Agustus, sementara gejala muncul pada tanggal 2 September.

Mielitis transversa adalah penyakit neurologis langka yang disebabkan oleh peradangan tulang belakang. Setelah menerima penanganan medis, relawan tersebut pulih dalam waktu kurang dari seminggu setelah kemunculan gejala.

13 September: Universitas Oxford lanjutkan uji klinis Vaksin COVID-19

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi Penyuntikan Vaksin (ANTARA FOTO/AAP Image/David Mariuz via REUTERS)

Setelah sempat dihentikan sementara, Universitas Oxford dan perusahaan farmasi Astra Zeneca akan melanjutkan uji klinis tahap ketiga vaksin COVID-19. Sebelumnya, uji klinis itu sempat dihentikan selama enam hari, lantaran seorang relawan mengalami sakit usai disuntikan vaksin hasil uji mereka. 

Stasiun berita BBC, Minggu (13/9/2020), melaporkan Astra Zeneca dan Universitas Oxford tidak bersedia mengungkap apa penyakit yang dialami relawan tersebut, dengan alasan rahasia. Namun, harian The New York Times melaporkan, relawan yang diimunisasi di Inggris itu didiagnosa "transverese myelitis", sindrom peradangan yang dapat memengaruhi sumsum tulang belakang, yang kemungkinan bisa terjadi karena infeksi virus. 

Meski demikian, pada Sabtu kemarin, 12 September 2020, Universitas Oxford memutuskan kembali melanjutkan uji klinis tahap ketiga. Menurut Oxford dan Astra Zeneca, tahap uji klinis masih aman dilakukan. Informasi itu disambut baik oleh Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock. 

13 September: Pfizer dan BioNTech perluas skala penelitian dan targetkan vaksin dirilis anjir Oktober.

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi: Vaksin. freepik.com/user10860774

Pfizer dan BioNTech sedang bergerak untuk memperbesar skala uji coba fase 3 vaksin COVID-19 mereka sebesar 50 persen. Dengan perluasan ini, mereka menargetkan vaksin mereka akan rampung dan disetujui pada Oktober tahun ini.

Mereka akan meningkatkan skala penelitian menjadi 44 ribu peserta, naik dari target perekrutan awal 30 ribu. Perluasan ini memungkinkan perusahaan farmasi AS dan Jerman ini yakin dapat hasil yang lebih aman dan data kemanjuran vaksin tersebut, serta meningkatkan keragaman peserta penelitian.

Badan pengawas obat dan makanan AS harus menyetujui perubahan tersebut sebelum berlaku. Penelitian Pfizer dan BioNTech kemungkinan akan menjadi yang pertama di AS yang melaporkan data kemanjuran dari uji coba Fase 3. "Kami terus berharap bahwa pembacaan konklusif tentang kemanjuran vaksin ini kemungkinan besar terjadi pada akhir Oktober," kata siaran pers tersebut. 

12 September: Indonesia punya total 330 juta dosis vaksin pada 2021

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaErick Thohir bertemu dengan Wapres Ma'ruf Amin terkait perkembangan vaksin COVID-19 (Dok. Istimewa)

Ketua Pelaksana Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), melaporkan kepada Wakil Presiden Ma'ruf Amin pada Jumat (11/9/2020), bahwa Indonesia akan mendapat 30 juta dosis vaksin COVID-19 pada akhir tahun 2020 dan 300 juta dosis untuk 2021. Vaksin tersebut dipastikan halal. 

"Saya melaporkan kepada Bapak Wakil Presiden tentang proses vaksin halal yang harus menjadi prioritas untuk kita dan sekaligus melaporkan progres perkembangan vaksin, kata Erick dalam keterangan tertulisnya yang diterima IDN Times, Sabtu (12/9/2020).

9 September: Seorang relawan uji klinis vaksin Sinovac di Indonesia positif terinfeksi COVID-19

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi. Kandidat vaksin COVID-19. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Seorang relawan vaksin Sinovac dinyatakan positif COVID-19 setelah pulang dari Semarang, Jawa Tengah. Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 dari Unpad Prof Kusnandi Rusmil menuturkan dari 450 relawan yang menerima suntikan vaksin, hanya satu orang yang setelah pengetesan kesehatan terpapar virus corona.

"Ini positifnya sudah pasti bukan dari vaksin karena kita pakai virus yang dimatikan. Mungkin ada kontak ketika sedang ke Semarang, jalan-jalan," ujar Kusnandi ketika dihubungi pada Rabu 9 September 2020.

Namun, belum dapat dipastikan apakah relawan tersebut termasuk yang mendapatkan vaksin atau plasebo pada suntikan pertama. Kusnandi menjelaskan pada uji klinis itu, terdapat dua kelompok relawan yakni yang mendapat plasebo dan yang mendapatkan vaksin. Uji klinis ini dilakukan dengan prinsip blind observer/observer tersamar, sehingga tidak diketahui relawan mana yang dapat plasebo dan mana yang dapat vaksin.

9 September: Uji klinis vaksin AstraZeneca dan Universitas Oxford disetop sementara

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaPexels.com/cottonbro

Uji klinis vaksin COVID-19 buatan perusahaan farmasi AstraZeneca dan Universitas Oxford, Inggris, yang sudah memasuki tahap akhir, akhirnya dihentikan sementara waktu. Hal itu lantaran ada seorang relawan yang sudah diimunisasi dengan vaksin tersebut tiba-tiba jatuh sakit. 

"Sebagai bagian dari uji coba global secara acak dan terkendali, kami menggunakan proses standar pengujian vaksin. Oleh sebab itu, kami menghentikan sementara secara sukarela agar komite independen bisa meninjau kembali proses keamanan vaksin," kata juru bicara AstraZeneca yang dikutip dari harian Inggris, The Guardian, Rabu (9/9/2020). 

Pada uji klinis tahap ketiga yang dimulai selama beberapa pekan lalu, AstraZeneca dan Universitas Oxford melibatkan 30 ribu relawan. Mereka tersebar di tiga negara yaitu Inggris, Brasil, dan Afrika Selatan. 

6 September: Rusia rilis hasil vaksin Sputnik V

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaJuru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova (www.twitter.com/@emb_rus)

Vaksin COVID-19 yang dikembangkan Rusia dilaporkan telah menghasilkan respons antibodi. Vaksin yang diberi nama Sputnik V ini juga tidak menunjukkan adanya efek samping yang serius.

Dua uji coba vaksin Sputnik V dilakukan pada Juni dan Juli. Makalah The Lancet menyebutkan masing-masing uji coba melibatkan 38 sukarelawan sehat yang diberi vaksin dan vaksin booster tiga pekan kemudian. Para sukarelawan terdiri dari warga berusia 18-60 tahun dan dipantau selama 42 hari.

Seluruhnya tercatat mengembangkan antibodi dalam kurun waktu tiga minggu. Efek samping yang muncul pada umumnya adalah sakit kepala dan nyeri sendi. Uji coba dilakukan dengan label terbuka dan tidak acak. Artinya, tidak ada plasebo dan para sukarelawan menyadari mereka diberi vaksin.

Vaksin Rusia ini diketahui menggunakan strain adenovirus yang disesuaikan. Virus tersebut adalah virus yang biasanya menyebabkan pilek. Hal ini digunakan untuk memicu respons kekebalan tubuh. Melansir dari The New York Times, vaksin berbasis adenovirus juga sedang diuji oleh beberapa tim lain, termasuk AstraZeneca, CanSinoBio dan Johnson & Johnson.

Rusia sendiri mengambil langkah berbeda dengan tim lain dengan cara menggabungkan dua adenovirus menjadi satu vaksin. Pertama disebut Ad26 dan tiga minggu kemudia Ad5 diberikan kepada sukarelawan.

4 September: AS tolak bergabung dari aliansi penemuan vaksin di bawah WHO, COVAX

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaMenteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengadakan konferensi pers di kantor pusat Alliande di Brussels, Belgia, pada 20 November 2019. ANTARA FOTO/REUTERS/Francois Lenoir

Amerika Serikat menolak bergabung dengan aliansi untuk menemukan vaksin COVID-19 secara global. Menurut Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, pemerintahnya enggan bergabung karena aliansi yang terdiri dari 172 negara itu turut melibatkan Badan Kesehatan Dunia (WHO). 

WHO ikut terlibat dalam aliansi pembuatan vaksin yakni GAVI dan CEPI (Coalition for Epidemic Preparedness Innovations), lalu membentuk aliansi lainnya yang diberi nama COVAX. Ia pun mendorong agar negara lain juga ikut terlibat. 

Absennya AS dari COVAX merupakan langkah lanjutan setelah sebelumnya mereka memilih keluar dari keanggotaan WHO. Surat resmi bahwa AS keluar dari keanggotaan WHO telah dilayangkan ke PBB pada Juli lalu.

Kebijakan yang ditempuh oleh Negeri Paman Sam itu dianggap membahayakan kesehatan warganya sendiri dan upaya global dalam menemukan vaksin COVID-19. Sebab, bila nantinya ditemukan vaksin, warga AS terancam tidak akan mendapatkannya. 

3 Maret: Kemajuan vaksin Merah Putih sudah 50 persen

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di Duniainstagram.com/eijkmaninstitut

Kepala Lembaga Biologi Molekular (LBM) Eijkman Amin Soebandrio mengungkapkan, saat ini progres pembuatan vaksin Merah Putih sudah 50 persen. Lembaga Eijkman dijadwalkan bisa selesai dalam waktu 12 bulan atau sekitar Febuari sehingga pada Maret 2021, vaksin Merah Putih bisa diberikan ke industri.

“Saat ini kami tinggal menunggu protein yang akan diekskresikan oleh sel mamalia. Paralel kami juga akan menggunakan sel mamalia mana yang lebih efektif dan efisien, nantinya akan berlanjut uji klinis pada hewan dua atau tiga bulan lagi," kata Amin dalam Digital Media Briefing bertema Dukungan untuk Percepatan Penelitian Vaksin COVID-19, Kamis (3/9/2020).

Sebelumnya, dia juga mengatakan jika uji klinis pada hewan selesai atau lulus, maka akan dilanjutkan uji klinis fase I dan II kepada manusia.

"Insyaallah awal tahun depan, Februari atau Maret, kita harus sudah memberikannya kepada Bio Farma. Diharapkan penyuntikan kepada manusia dilakukan pada pertengahan 2021, sebagau uji klisi fase I dilanjutkan II dan III," ujar dia.

28: Indonesia ditargetkan bisa vaksinasi pada Januari 2021

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaUnsplash/CDC

Presiden Joko "Jokowi" Widodo optimistis masyarakat Indonesia akan hidup normal lagi setelah dilakukan suntik vaksin anticovid-19 pada Januari 2021.

"Insya Allah kita di bulan Januari kita sudah mulai suntik vaksin, biar keadaan masuk ke kondisi normal," kata Jokowi saat membagikan Banpres Produktif di Yogyakarta, seperti yang disiarkan langsung di channel YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (28/8/2020).

Indonesia ditargetkan memiliki 290 juta vaksin COVID-19 pada Januari 2021, baik hasil kerja sama antara Indonesia dengan Uni Emirat Arab (UAE) maupun denganTiongkok.

27 Agustus: Harga vaksin di Indonesia diperkirakan Rp365 ribu-Rp438 ribu

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi Vaksin (IDN Times/Arief Rahmat)

Menteri Badan Usaha Milik Negara atau BUMN menyebut, vaksin COVID-19 akan dibanderol di US$25-US$30 per orang, atau setara dengan Rp365 ribu-Rp438 ribu (asumsi kurs Rp14.600). Tapi menurutnya, Bio Farma juga sedang menghitung ulang berapa harga vaksin yang akan dibanderol ke masyarakat.

"Perhitungan awal untuk istilahnya bukan per dosis tapi untuk satu orang. Satu org dua kali suntik. Jeda waktunya dua minggu," katanya, di Komisi VI DPR, Kamis (27/8/2020).

24 Agustus: Indonesia amankan 340 juta dosis vaksin hingga tahun depan

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIndonesia Perkuat Kerja Sama Internasional untuk Pastikan Ketersediaan Vaksin COVID-19 (Dok. Istimewa)

Usai mengunjungi Tiongkok dan Uni Emirat Arab (UEA), Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi dan Menteri BUMN Erick Thohir melaporkan kepada Presiden Joko "Jokowi" Widodo mengatakan Indonesia sudah mengamankan kebutuhan hingga 340 juta dosis vaksin COVID-19 hingga 2021.

Untuk pendekatan jangka panjang yaitu vaksin yang tengah dikembangkan oleh Lembaga Eijkman, yakni Vaksin Merah Putih. Untuk jangka pendek, Indonesia telah mengamankan 20 sampai 30 juta dosis vaksin di 2020 dari kedua negara tersebut. Kuartal pertama 2021, RI akan mendapat 80 sampai 130 juta sedangkan di kuartal II sampai IV, bakal ada 210 juta vaksin.

"Dengan demikian, kalau kita bicara angka 2021, maka angka yang dapat kita secure adalah 290-340 juta vaksin," jelas dia.

22 Agustus: Indonesia kerja sama dengan Uni Emirat Arab untuk pasokan 10 juta vaksin tahun ini

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaMenteri-menteri Uni Emirat Arab sedang melaksanakan Rapat Kabinet. twitter.com/uaegov

Pemerintah Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA) sepakat menyediakan 10 juta dosis vaksin ke Indonesia pada tahun ini. Kesepakatan ini terjalin berkat kerja sama PT Indofarma dengan perusahaan teknologi yang berbasis di Abu Dhabi, G42.

"Pertemuan kita dengan G42 adalah komitmen untuk penyediaan awal vaksin sebesar 10 juta dosis untuk tahun 2020," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam konferensi pers Sabtu 22 Agustus 2020 malam.

20 Agustus: Indonesia-Tiongkok sepakati 50 juta dosis vaksin Sinovac untuk periode November 2020-Maret 2021

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaVirtual konferensi pers dengan Menlu Retno Marsudi dan Men-BUMN Erick Thohir

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengumumkan penandatanganan kerja sama antara Bio Farma dengan Sinovac Biotech dalam pengembangan vaksin. Dengan kesepakatan ini, maka Sinovac akan menyediakan vaksin sebanyak 50 juta dosis vaksin untuk periode November 2020 hingga Maret 2021.

"Dokumen kedua yang ditandatangani adalah MoU untuk komitmen kapasitas vaksin 2021. Jadi setelah Maret di mana Sinovac memberi prioritas kepada Bio Farma untuk bought vaccine setelah Maret 2021 hingga akhir tahun 2021," kata Retno dalam konferensi virtual, Kamis (20/8/2020).

PT Bio Farma dipastikan menerima bulk atau konsentrat Ready to Fill (RTF) vaksin COVID-19 dari Sinovac sebanyak 50 juta dosis pada November 2020 sampai dengan Maret 2021 mendatang. Kepastian itu ditandai dengan penandatanganan Prelimenary Agreement of Purchase and Supply of Bulk Production of COVID-19 Vaccine, yang dilaksanakan pada 20 Agustus 2020 di Hainan, Tiongkok.

Penandatanganan itu dilakukan oleh Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir dengan General Manager Sinovac, Gao Xiang yang disaksikan oleh Menteri BUMN Sekaligus Ketua Pelaksana Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), Erick Thohir, dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Erick Thohir menuturkan, dalam perjanjian itu Bio Farma tidak hanya sekadar mengolah dan mendistribusikan saja, tetapi juga ada unsur transfer teknologi.

"Kita ingin memastikan transformasi dari industri kesehatan kita, di mana Bio Farma kerja sama dengan Sinovac adalah sebuah kerja sama yang win-win, bahwa menyepakati dengan Sinovac dalam hal transfer knowledge, transfer teknologi, ini yang perlu digarisbawahi," ujar Erick.

14 Agustus: Rusia tawarkan bantuan vaksin ke AS tapi Washington tidak menunjukkan minat

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaPresiden Trump dan Presiden Putin dalam sebuah pertemuan. twitter.com/RepsForBiden

Pejabat Rusia di Moskow menawarkan Amerika Serikat "kerja sama yang belum pernah terjadi sebelumnya". Dilaporkan CNN, Rusia mengajak Operation Warp Speed ​​(OWS), lembaga multi-badan AS, untuk mempercepat akses terhadap vaksin dan perawatan COVID-19 yang efektif.

Meski demikian AS dikabarkan "tidak terbuka" dengan kemajuan Rusia di bidang medis dengan diumumkannya vaksin Sputnik V. "Ada rasa ketidakpercayaan terhadap Rusia di pihak Amerika. Dan kami yakin bahwa teknologi--termasuk vaksin, pengujian dan perawatan--tidak akan diadopsi di AS karena rasa ketidakpercayaan itu," kata seorang pejabat senior Rusia kepada CNN.

Sekretaris Pers Gedung Putih Kayleigh McEnany mengatakan pada hari Kamis (13/8/2020) bahwa Presiden Donald Trump telah menerima laporan tentang vaksin Rusia yang baru itu. McEnany juga membahas vaksin Amerika yang disebutnya sedang melalui pengujian Fase 3 yang "ketat" dan berstandar tinggi.

Pejabat AS lainnya mengatakan kepada CNN bahwa vaksin Rusia dianggap "setengah matang" oleh AS sehingga tidak menarik minat AS secara serius sebelum peluncurannya. "Tidak mungkin AS mencoba (vaksin Rusia) ini pada monyet, apalagi manusia," kata seorang pejabat kesehatan masyarakat pemerintah AS.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Amerika Serikat Alex Azar menyentil Rusia soal klaim mereka sebagai negara pertama di dunia yang telah menemukan vaksin COVID-19. Menurut Azar, ini bukan perlombaan siapa yang lebih dulu menemukan vaksin untuk mencegah penyebaran virus corona yang semakin meluas. 

"Yang paling penting kita bisa memberikan keselamatan, vaksin yang manjur dan datanya disampaikan secara transparan ke publik. Ini bukan perlombaan untuk menjadi negara yang pertama (temukan vaksin COVID-19)," ungkap Azar dalam keterangan pers virtual di tengah akhir kunjungannya ke Taiwan yang dikutip IDN Times, Rabu (12/8/2020). 

12 Agustus: Negara-negara yang tertarik Vaksin Sputnik V Rusia. Presiden Duterte bahkan siap jadi relawan

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIDN Times/Arief Rahmat

Pemerintah Rusia juga mengklaim 20 negara sudah menyatakan tertarik untuk memesan vaksin Sputnik V. Ada enam negara yang berminat melakukan uji klinis tahap ketiga dengan menggunakan vaksin Sputnik V yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Brasil, India, dan Filipina.

Selain itu, ada enam negara yang mereka klaim berminat untuk ikut memproduksi vaksin itu yakni Turki, Kuba, Arab Saudi, Brasil, Korea Selatan, dan India. 

Presiden Filipina Rodrigo Duterte bahkan menawarkan diri menjadi relawan untuk uji klinis vaksin Rusia ini. Hal itu untuk menepis kekhawatiran warganya akan keamanan vaksin Sputnik V.

11 Agustus: Rusia umumkan vaksin Sputnik V buatan mereka siap untuk imunisasi warga

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaVladimir Putin dan Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoygu. twitter.com/KremlinRussia

Presiden Rusia Vladimir Putin pada Selasa (11/8/2020) waktu setempat, mengklaim negaranya telah berhasil menemukan vaksin COVID-19 dan siap melakukan imunisasi massal ke rakyatnya. Putin menyebut persetujuan diberikan setelah vaksin yang diberi nama Sputnik V itu, diuji klinis ke manusia selama dua bulan.

Menurut Putin, semua proses untuk menemukan vaksin telah dilalui oleh para ilmuwan di Rusia dan dinyatakan lolos. Bahkan, untuk memastikan vaksin tersebut aman, Putin menyebut putrinya sudah ikut menerima vaksin tersebut. 

"Saya sekali lagi mengulangi bahwa ini (vaksin COVID-19) telah melalui uji klinis yang dibutuhkan. Yang paling penting dari ini semua, vaksin itu aman dan ampuh," ungkap Putin dalam pertemuan dengan para menteri hari ini, seperti dikutip laman Hindustimes. 

11 Agustus: Uji klinis tahap III perdana dimulai di Eijkman Bandung

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaPetugas kesehatan menunjukan vaksin saat simulasi uji klinis vaksin COVID-19 di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Kamis (6/8/2020) (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Hari ini, Selasa (11/8/2020), uji klinis tahap III perdana vaksin COVID-19 akan dilaksanakan di Gedung Eijkman, Rumah Sakit Pendidikan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung.

Menteri BUMN sekaligus Ketua Pelaksana Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Erick Thohir mengatakan uji klinis tahap III ini lebih cepat dari target yang direncanakan sebelumnya yakni September 2020. 

"Kita bisa majukan tiga minggu. Ini perjuangan luar biasa. Profesor dan para dokter, tentu Bio Farma juga tak kalah pentingnya," ujar Erick, Senin (10/8/2020).

Dia juga mengatakan Presiden Joko "Jokowi" Widodo akan menyaksikan langsung uji klinis tersebut. Tim uji klinis dari Universitas Padjadjaran bertanggung jawab atas persiapan untuk pengujian tersebut, termasuk pengecekan kesehatan relawan.

8 Agustus: Vaksin Rusia rampung! Akan didaftarkan 12 Agustus

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaPresiden Federasi Rusia Vladimir Vladimirovich Putin. twitter.com/EmbassyofRussia

Rusia mengumumkan bahwa vaksin COVID-19 yang mereka kembangkan sudah selesai dan lolos seluruh tahapan uji klinis. Vaksin COVID-19 pertama di dunia ini rencananya akan didaftarkan pada 12 Agustus 2020.

Vaksin tersebut dikembangkan dalam proyek bersama Gamaleya Research Institute dan Kementerian Pertahanan Rusia. Sebelumnya laporan penelitian menyebut, pemeriksaan akhir para relawan yang mengikuti uji klinis telah menunjukkan imunitas. 

"Pengujian-pengujian ini sangat amat penting. Kita harus paham bahwa vaksin ini harus aman. Para profesional di bidang medis dan warga negara senior akan lebih dahulu divaksinasi," kata Menteri Kesehatan Rusia Oleg Gridnev dilansir Sputnik News, Jumat (7/8/2020) waktu setempat atau Sabtu waktu Indonesia.

7 Agustus: Bibit vaksin COVID-19 buatan asli Indonesia Merah Putih siap diuji Januari 2021

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi Vaksin COVID-19 (Website/shutterstock.com)

Wakil Kepala Bidang Riset Fundamental LBM Eijkman Profesor Herawati Sudoyo mengatakan, bibit vaksin COVID-19 Merah Putih akan selesai pada Januari 2021. Setelah itu, bibit vaksin akan siap masuk ke uji klinis.

Vaksin tersebut ialah isolat yang dikembangkan sendiri oleh Indonesia tanpa kerja sama dengan negara lain. 

"Sekarang kita masih belum masuk ke uji hewan, sesudah uji hewan kemudian uji yang lain, setelah itu baru masuk ke uji klinis," tuturnya di Webinar #MenjagaIndonesia: Berburu Vaksin COVID-19 Sampai ke Tiongkok yang diselenggarakan IDN Times di Jakarta, Jumat (7/8/2020).

6 Agustus: ada 7 kandidat vaksin berlaga di tahap 3

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaLacak perkembangan vaksin di dunia (IDN Times/Sukma Shakti)

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengatakan sudah ada tujuh calon vaksin COVID-19 di dunia yang masuk dalam uji klinis tahap tiga. Tujuh kandidat vaksin ini tersebar di sejumlah perusahaan medis dan laboratorium kesehatan di seluruh dunia.

  • Wuhan Institute of Biological Products bersama Sinopharm
  • Beijing Institute of Biological Products bersama Sinopharm
  • BioNTech dan Fosun Pharma bersama Pfizer
  • Sinovac
  • University of Melbourne dan Murdoch Children’s Research Institute
  • University of Oxford dan AstraZeneca
  • Moderna bersmaa NIAID

Wiku mengatakan ada 139 kandidat vaksin yang masuk dalam tahap praklinis. Lalu ada 25 kandidat yang kini berproses di uji klinis tahap 1 dan 17 kandidat uji klinis tahap 2. Dari tujuh yang diuji klinis tahap 3, belum ada satu pun yang lulus uji. 

6 Agustus: BPOM sudah pastikan uji klinis tahap 3 Sinovac aman

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di Dunia(Simulasi uji klinis vaksin sinovac COVID-19 di RSUP Unpad, Kota Bandung) IDN Times/Azzis Zulkhairil

Anggota Tim Komite Etik Penelitian vaksin Sinovac di Indonesia, sekaligus Ketua Badan POM, Penny Kusumastuti Lukito memastikan uji klinis tahap ketiga calon vaksin COVID-19 Sinovac Biotech aman dilakukan kepada manusia.

"Badan POM sudah menjamin aspek produknya, maksudnya dari aspek keamanan, mutunya khasiatnya berdasarkan fase 1 dan 2 untuk bisa melangkah lebih luas lagi diberikan pada masyarakat dalam fase 3," jelasnya. 

Dia mengatakan uji klinis itu akan mulai dilakukan pada Selasa, 11 Agustus 2020. Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) dan Bio Farma mencatat sudah ada 800 orang yang siap jadi relawan uji klinis tersebut. 

4 Agustus: Indonesia tengah menjajaki kerja sama produksi vaksin COVID-19 dengan Amerika Serikat

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaMenlu Retno Marsudi (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Pemerintah Indonesia tengah menjajaki kemungkinan kerja sama produksi vaksin COVID-19 dengan Amerika Serikat. Hal itu terungkap ketika Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menghubungi Menlu AS Mike Pompeo melalui telepon pada Senin, 3 Agustus 2020. 

"Senang bisa mengontak Menlu Pompeo. Saya membahas dua isu, pertama kemungkinan kerja sama mengenai produksi vaksin dan kerja sama lainnya di sektor kesehatan. Lalu, upaya memperkuat perdagangan dan investasi," cuit Menlu perempuan pertama di Indonesia itu melalui akun @Menlu_RI. 

Sebelumnya, Negeri Paman Sam juga sudah memberikan bantuan berupa 1.000 ventilator kepada Indonesia yang diberikan secara bertahap. Pada Selasa, 28 Juli 2020, Kementerian Kesehatan resmi menerima secara simbolis 100 ventilator buatan Vyaire Medical. 

Sementara, berdasarkan informasi dari Kepala Biro Strategis Dukungan Pimpinan (BDSP) Kemenlu Achmad Rizal, perusahaan farmasi yang diajak bekerja sama adalah yang telah berhasil memproduksi vaksin COVID-19 dan kini berada di tahap uji klinis. 

"Ada beberapa vaksin yang sedang di tahap klinis di AS. Di mana kedua pemerintah bisa mendorong kerja sama B to B (antar perusahaan) untuk eksplor kerja sama," ungkap Rizal kepada IDN Times melalui pesan pendek, hari ini. 

Stasiun berita CNN pada Selasa 28 Juli 2020 melaporkan salah satu vaksin buatan perusahaan farmasi AS yang sudah memasuki fase ketiga atau uji klinis yakni yang diproduksi Moderna. Perusahaan itu bermitra dengan Pusat Penelitian Vaksin di Institut Kesehatan Nasional untuk Penyakit Menular. 

Fase uji klinis diharapkan sudah mulai dilakukan pada awal Agustus 2020. Pada tahapan itu, vaksin akan diuji ke 30 ribu sukarelawan dan akan diuji apakah vaksin itu benar-benar melindungi warga dari virus corona. 

Vaksin menggunakan RNA duta (messenger RNA), sebuah molekul yang digunakan oleh sel-sel untuk membentuk protein. Hasil awal dari fase pertama vaksin itu telah diterbitkan di jurnal kedokteran yaitu New England Journal of Medicine pada pertengahan Juli lalu.

Hasil kajian di jurnal tersebut menunjukkan bila vaksin diberikan pada tiga dosis berbeda maka akan memicu imunitas individu yang menerimanya. Semakin tinggi dosis yang diberikan maka semakin tinggi pula respons imunitasnya. 

Pemerintah AS melalui Departemen Kesehatan dan Layanan Publik, telah memborong 100 juta dosis vaksin buatan Pfizer dan BioNTech. Stasiun berita CNN, 22 Juli 2020 lalu mengumumkan nilai kesepakatan yang dicapai senilai US$1,95 miliar. Lantaran telah memesan dalam jumlah banyak, maka Negeri Paman Sam akan mendapatkan tambahan stok vaksin sebanyak 500 juta. 

Saat ini vaksin tersebut masih menjalani proses uji klinis atau tahap ketiga. Di tahap ini, para peneliti akan melihat apakah vaksin COVID-19 ampuh ketika disuntikkan ke manusia. 

Bila hasil uji klinis dinyatakan sukses dan memperoleh lisensi dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) AS, maka pemerintah menargetkan akan mendistribusikan vaksin itu pada kuartal keempat 2020. 

Menteri Kesehatan AS Alex Azar dalam jumpa pers mengatakan pemerintah negeri paman sam mengumpulkan beragam vaksin melalui program yang diberi nama Operation Warp Speed. Tujuannya agar mereka bisa memperoleh satu vaksin COVID-19 yang ampuh bagi warga AS. 

2 Agustus: Rusia siap lakukan vaksinasi massal virus corona pada Oktober 2020

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi Penyuntikan Vaksin (ANTARA FOTO/AAP Image/David Mariuz via REUTERS)

Rusia akan melakukan vaksinasi massal virus corona atau COVID-19 pada Oktober 2020. Menteri Kesehatan Rusia tengah mempersiapkan kampanye vaksinasi massal tersebut, sebagaimana dilaporkan kantor berita setempat pada Sabtu 1 Agustus 2020, setelah sebuah vaksin telah selesai diuji klinis.

Kantor Berita Interfax melaporkan bahwa Menteri Kesehatan Mikhail Murashko mengatakan Gamaleya Institute, sebuah fasilitas penelitian negara di Moskow, telah menyelesaikan uji klinis vaksin. Saat ini dokumen untuk pendaftaran vaksin tengah dipersiapkan untuk didaftarkan.

Murashko mengatakan bahwa para dokter dan guru akan menjadi kelompok pertama yang divaksinasi.

"Kami merencanakan vaksinasi yang lebih luas pada Oktober," kata Murashko, seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (2/8/2020).

Sebuah sumber mengatakan kepada Reuters pekan ini bahwa vaksin COVID-19 potensial pertama Rusia akan mendapatkan persetujuan peraturan lokal pada Agustus dan akan diberikan kepada petugas kesehatan sesudahnya.

Diketahui, Gamaleya Institute telah menciptakan vaksin berbasis adenovirus. Namun kecepatan pergerakan Rusia untuk meluncurkan vaksin tersebut mendorong beberapa media Barat mempertanyakan apakah Moskow menempatkan prestise nasional di atas sains dan keselamatan.

Kepala Dana Investasi Langsung Rusia, Kirill Dmitriev, menyebut keberhasilan Rusia dalam mengembangkan vaksin sama dengan peluncuran Sputnik 1 Uni Soviet pada 1957, yang merupakan satelit pertama di dunia.

26 Juli: Uji klinis Sinovac di Bandung dimulai Agustus, ditarget rampung Januari

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi Vaksin (ANTARA FOTO/AAP Image/David Mariuz via REUTERS)

Uji klinis tahap ketiga vaksin sinovac akan dilakukan mulai Agustus 2020. Sebanyak 2.400 vaksin telah didatangkan ke Indonesia. Vaksin itu akan diujicobakan ke 1.620 sukarelawan, sisanya untuk keperluan uji klinis.

"Ada 2.400 vial. Satu vial atau dosis itu untuk satu orang, akan diujikan untuk 1.620 (sukarelawan). Nanti dibantu dengan reporting. Vaksinasi ini melibatkan semua sukarelawan yang mendaftar," kata Corporate Secretary PT Bio Farma Bambang Heriyanto dalam diskusi virtual Crosscheck, Minggu (26/7/2020).

Menurut Bambang, uji klinis fase ketiga ini akan memakan waktu sekitar enam bulan. Diperkirakan Januari 2021 selesai. "Ada komite etik juga, jadi selama proses uji klinis akan dipantau komite etik apakah ada efek samping, reaksinya seperti apa. Sukarelawan jangan sampai drop out," jelasnya.

24 Juli: Uji klinis vaksin Sinovac terkendala izin Komite Etik dan BPOM

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi vaksin atau jarum suntik (IDN Times/Arief Rahmat)

Uji klinis Vaksin Sinovac yang dibuat untuk melawan virus corona atau COVID-19 oleh Biofarma dan Fakultas Kedokteran Unpad, terhalang izin dari Komite Etik dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Karena kendala ini, Vaksin Sinovac pun belum bisa disebarkan ke beberapa Puskesmas di Bandung, Jawa Barat untuk uji coba.

"Badan POM itu berdasarkan izin dari Komite Etik, sampai hari ini izin dari Komite Etik belum kami dapat," ujar Koordinator Uji Klinis Vaksin Corona di Indonesia Kusnadi Rusmil dalam video conference dengan Provinsi Jabar, Jumat (24/7).

22 Juli: Bio Farma akan menyiapkan vaksin hingga 250 juta dosis jika prototipe Sinovac sudah siap diproduksi massal

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi Vaksin. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan Bio Farma akan menyiapkan 100 juta dosis vaksin per tahun setelah prototipe vaksin hasil kerja sama dengan Sinovac telah selesai melewati uji klinis tahap akhir dan siap diproduksi massal. Saat ini, uji klinis terhadap manusia sedang dilakukan di Indonesia.

"Tapi untuk tahap pertama sesuai target penyelesaian uji klinis Januari, pada saat selesai uji klinis dan izin edarnya keluar, kami sudah menargetkan untuk bisa selesai sekitar 40 juta dosis per tahun," kata Basyir.

Nantinya, dosisnya akan dikembangkan menjadi 250 juta dosis per tahun. Bio Farma bertanggung jawab memastikan kapasitas produksi vaksin bisa dikelola dengan baik. 

21 Juli: Indonesia tergabung dalam 3 proyek vaksin dan kembangkan proyek dalam negeri

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi Vaksin (IDN Times/Arief Rahmat)

Vaksin dari Sinovac Tiongkok

Proyek pertama, PT Bio Farma bekerja sama dengan perusahaan biofarmasi dari Tiongkok, Sinovac. Prototipe vaksin sudah tiba di Bandung sejak 19 Juli dan diuji klinis terhadap manusia. 

Prototipe vaksin SInovac Biotech adalah yang terdepan dalam perkembangan pembuatan vaksin di dunia. Sebelumnya, Sinovac juga telah melakukan uji klinis dengan Brasil.

Vaksin dari Oxford University Inggris

Indonesia juga mendatangkan prototipe vaksin dari Inggris, yang tengah diteliti Universitas Oxford. Vaksin yang diberi nama ChAdOx1 nCoV-19 alias AZD1222 ini sudah menunjukkan hasil positif.

Dari hasil uji klinis yang melibatkan 1.077 orang, sebanyak 90 persen dari responden menghasilkan antibodi terhadap virus Sars-CoV-2 (COVID-19). Dengan hasil awal yang positif ini, pemerintah Inggris langsung memproduksi 100 juta dosis dengan bekerja sama dengan farmasi besar Amerika Serikat, AstraZeneca

Vaksin dari CEPI Norwegia

Indonesia juga menggandeng Koalisi Inovasi untuk Persiapan Pandemik atau Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) yang berkantor pusat di Norwegia. Di dalam negeri, riset vaksin dilakukan oleh konsorsium yang dipimpin oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Kerja sama di antara tiga lembaga ini menjadi cerminan bahwa ketika sudah ditemukan, semua negara bisa memiliki akses yang setara untuk memperoleh vaksin. 

Vaksin Merah Putih dari Konsorsium Nasional

Indonesia juga mengembangkan sendiri prototipe vaksin COVID-19. Proyek ini dilakukan oleh Konsorsium Nasional yang terdiri dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), lembaga riset Eijkman Institute, kementerian terkait, institusi, perguruan tinggi, juga BUMN farmasi Bio Farma.

Studi praklinis akan dilakukan triwulan II-2021 diikuti fase pertama uji klinis yang diperkirakan pada triwulan III-2021. Jika hasilnya bagus, vaksin ini diperkirakan akan tersedia triwulan I-2022.

20 Juli: Proyek vaksin Bio Farma bersama Sinovac masuk tahap uji klinis

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi Vaksin (IDN Times/Arief Rahmat)

Pemerintah sudah mendatangkan kandidat vaksin virus corona yang diproduksi perusahaan Sinovac dari Tiongkok, sejak Minggu 19 Juli 2020. Vaksin ini akan diuji klinis tahap tiga yakni uji kepada manusia di Indonesia. Uji klinis akan dilakukan PT Bio Farma.

Menkes Terawan Putranto  estimasi produksi massal dan tahap siap edar vaksin ini ditargetkan pada awal 2021. Pihaknya akan membicarakan mengenai anggaran terkait proyek ini dengan Kementerian Keuangan.

Koordinator Uji Klinis Vaksin Virus Corona, Kusnandi Rusmil, menyampaikan bahwa Presiden Jokowi telah mendukung penuh pengujian klinis vaksin ini.  "Kami sangat optimis. Kami rencanakan uji klinis ini selesai bulan Januari (2021). dengan jumlah sampel yang ikut uji klinis ini ada 1.620," kata Kusnandi.

17 Juli: Inggris, AS, dan Kanada tuding Rusia dalangi peretasan atas penelitian vaksin

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaMural mirip perawat di Shoreditch, di tengah penyebaran penyakit virus corona (COVID-19) di London, Britain, Selasa (21/4/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Henry Nicholls

Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (NCSC) menuding pemerintah Rusia mendukung peretasan dalam rangka usaha mencuri hasil penelitian vaksin COVID-19 dari berbagai institusi akademik dan farmasi di seluruh dunia.

Inggris, Amerika Serikat dan Kanada mengklaim peretasan dilakukan oleh kelompok bernama APT29 atau Cozy Bear yang hampir pasti merupakan bagian dari lembaga intelijen Rusia. Namun, mereka yang memberikan pernyataan bersama itu tak menyebutkan institusi mana saja yang menjadi sasaran.

Menurut ketiga negara itu, peretas mencoba memanfaatkan kelemahan perangkat lunak untuk mengakses sistem komputer yang rentan. Mereka menggunakan malware WellMess dan WellMail lalu teknik pishing.

Pemerintah Rusia sendiri membantah tudingan NCSC. "Kami tak punya informasi soal siapa yang mungkin meretas pusat-pusat riset dan perusahaan-perusahaan farmasi di Britania Raya," kata Dmitry Peskov selaku juru bicara Vladimir Putin kepada kantor berita Tass.

"Kami cuma bisa katakan satu hal, Rusia tak berhubungan sama sekali dengan upaya-upaya itu."

16 Juli: Vaksin Merah Putih masih 20-30 persen dan ditargetkan baru tersedia triwulan I 2022

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaInstagram @eijkmaninstitute

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengatakan proses pengembangan vaksin Merah Putih baru mencapai 20-30 persen. Menurut Amin, yang ditemukan baru sebatas fondasi. Mereka yang tergabung dalam Konsorsium Nasional untuk mengerjakan itu adalah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), lembaga riset Eijkman Institute, kementerian terkait, institusi, perguruan tinggi, juga BUMN farmasi Bio Farma.

Amin mengatakan pihaknya telah mengamplifikasi bagian virus SARS-CoV-2, yaitu protein S dan N. Kendati membutuhkan waktu lama, gen tersebut telah diperbanyak dan diuji coba ke dalam sel hewan mamalia. Nantinya akan didapatkan protein rekombinan.

"Lalu, akan diteliti lebih lanjut apakah bisa merangsang respons imun. Awalnya akan diujikan ke hewan kecil, lalu hewan yang lebih besar. Kalau hasilnya bagus akan kami serahkan ke industri," katanya.

Presiden Direktur Bio Farma Honesti Basyir mengatakan pihaknya Konsorsium Nasional untuk mengembangkan vaksin COVID-19 lokal. Konsorsium itu akan mengembangkan prototipe vaksin COVID-19 dalam sebuhah proyek jangka panjang di mana Eijkman para institut akan mengembangkan klon prototipe. Klon prototipe tersebut ditargetkan dapat dihasilkan pada Februari 2021.

Bio Farma secara bertahap akan melanjutkan pada tingkat pengembangan. Hal itu dimulai dengan pembangunan optimalisasi proses Master and Working Cell Bank serta produksi lot eksperimen dan scaling up.

"Studi praklinis akan dilakukan triwulan II-2021 diikuti fase pertama uji klinis yang diperkirakan pada triwulan III-2021. Jika hasilnya bagus, mungkin vaksin akan tersedia triwulan I-2022,” kata Basyir.

15 Juli: Pemerintah sampaikan alasan proyek pembuatan vaksin Indonesia

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaDok. Kantor Staf Presiden

Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko menjelaskan, upaya pengembangan produksi vaksin lokal bertujuan untuk menemukan jenis vaksin tertentu yang cocok untuk jenis virus corona di Indonesia. Vaksin yang kemungkinan memiliki karakteristik berbeda dibandingkan dengan jenis virus di negara lain.

"Kita harus segera temukan vaksin untuk mengakhiri pandemik ini. Lakukan kolaborasi antar negara dan lembaga internasional sangat penting sebagai upaya menemukan vaksin ini dalam waktu singkat," kata Moeldoko saat bertemu dengan Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 di Gedung Bina Graha Jakarta, Rabu (15/7/2020).

14 Juli: Menkes sebut proyek vaksin Bio Farma-Sinovac dapat izin edar pada 2021

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi pemantauan uji klinis di RSMH Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Menkes Terawan Agus Putranto mengatakan salah satu penelitian vaksin virus corona hasil kolaborasi konsorsium dalam negeri yakni Bio Farma dan perusahaan asing Sinovac  telah mendapatkan izin edar.

“Untuk kolaborasi internasional pertama PT Bio Farma dan Sinovac Tech, estimasi edar pada awal 2021,” kata Terawan dalam RDP yang disiarkan secara langsung oleh TVR Parlemen, Selasa (14/7/2020) malam.

Menristek Bambang Brodjonegro mengatakan BUMN Bio Farma dan perusahaan biofarmasi Sinovac dari Tiongkok bekerja sama untuk melakukan uji klinis vaksin COVID-19. Uji klinis itu tengah berlangsung di Indonesia.

13 Juli: WHO sebut vaksin yang ditemukan kemungkinan "tidak sempurna"

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaAntrean penumpang di sebuah stasiun kereta api di New Delhi, India, pada 1 Juni 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Adnan Abidi

WHO memperingatkan bahwa vaksin virus corona yang mungkin mulai diproduksi dalam beberapa bulan mendatang kemungkinan "tidak akan sempurna". Salah satu alasannya sebagian karena tidak semua orang akan memiliki akses segera setelah produksi dilakukan.

"Mengharapkan bahwa kita bisa memberantas atau menghilangkan virus ini dalam beberapa bulan mendatang itu tidak realistis," kata Direktur Eksekutif Kedaruratan Kesehatan WHO Mike Ryan, dalam konferensi pers yang disiarkan dari Jenewa, Senin 913/7/2020) waktu setempat.

13 Juli: Jokowi janjikan vaksin diproduksi Januari-April tahun depan

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaPresiden Jokowi di Istana Merdeka, Senin (13/7/2020) (IDN Times/Teatrika Handiko Putri)

Presiden Joko 'Jokowi' Widodo mengatakan vaksin virus corona atau COVID-19 akan bisa diproduksi dalam rentang Januari hingga April 2021. Dia mengatakan, pembuatan vaksin perlu uji klinis selama enam bulan. 

"Perkiraan kita akan masuk produksi antara Januari-April tahun depan (2021), uji klinis sudah sampai 3 kalau gak salah, tapi perlu enam bulan untuk uji terakhir, jadi kira-kira diproduksi Januari sampai April," ujar Jokowi dalam keterangan persnya, di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (13/7/2020).

Indonesia mengerahkan beberapa perusahaan farmasi di Indonesia yaitu PT Bio Farma (persero) dan PT Kalbe Farma Tbk, juga menggandeng perusahaan asing dalam riset produksi vaksin COVID-19. Perusahaan asing itu antara lain, Sinovac Biotech Ltd dari China dan Genexine asal Korea Selatan.

8 Juli: Gugus Tugas sebut proyek vaksin Indonesia sudah selesaikan 8 dari 15 tahapan

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi vaksin atau jarum suntik (IDN Times/Arief Rahmat)

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 mengutip Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 Kemenristek/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ali Ghufron Mukti, memprediksi vaksin lokal akan diproduksi massal dan akan tersedia bagi masyarakat Indonesia pada pertengahan 2021.

Gugus Tugas menyebut proyek vaksin Indonesia sudah menyelesaikan delapan tahap dari 15 yang harus dilalui.

2 Juli: Uji terhadap manusia vaksin BNT162b1 oleh BioNTech Jerman dan Pfizer AS tunjukkan kemajuan

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi vaksin COVID-19 (IDN Times/Arief Rahmat)

Uji coba klinis terhadap manusia yang dikembangkan perusahaan farmasi asal Jerman, BioNTech bekerja sama dengan raksasa farmasi Amerika Serikat Pfizer, menunjukkan tanda-tanda yang positif. Proyek ini juga melibatkan Moderna, CanSino Biologics, dan Inovio Pharmaceuticals.

Uji fase 1 dan 2 ini dilakukan terhadap 45 orang berusia 18 tahun hingga 55 tahun. CEO BioNTech Ugur Sahin mengatakan uji coba tersebut menunjukkan vaksin yang diberi nama BNT162b1 itu tidak beracun dan memicu respons sistem antibodi dan sistem tubuh melawan virus.

29 Juni: Vaksin CanSino Biologics diujicobakan selama setahun ke militer Tiongkok

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaAnggota staf dengan alat pelindung diri (APD) berdiri di depan laboratorium bergerak untuk tes nukleat asam, di sebuah pusat olahraga di distrik Daxing menyusul penyebaran baru penyakit virus korona (COVID-19) di Beijing, China, Selasa (23/6/2020). ANTARA FOTO/China Daily via REUTERS

Vaksin yang dikembangkan CanSino Biologics, perusahaan berbasin di Tianjin Tiongkok melaju ke tahap selanjutnya setelah menjadi yang terdepan dalam pengembangan vaksin virus corona. Proyek yang dikembangkan di laboratorium Beijing Institue Biotechnology ini, sudah diujicobakan kepada kepada militer Tiongkok.

Hasil uji klinis tersebut menunjukkan tanda yang positif berupa pencegahan terhadap penyakit akibat virus corona jenis baru ini. Melihat hasil tersebut, Komando Pusat Militer Tiongkok memerintahkan penggunaan vaksin ini terhadap seluruh tentara selama setahun.

28 Juni: Brasil beli bahan vaksin proyek Oxford University dan AstraZeneca

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi (IDN Times/Arief Rahmat)

Pemerintah Brazil mengumumkan perjanjian dengan Oxford University dan perusahaan farmasi AstraZeneca untuk memproduksi vaksin virus Corona. Otoritas Kementerian Kesehatan Brasil mengatakan mereka akan membayar $127 juta untuk bahan vaksin.

Bahan itu diperkirakan dapat digunakan untuk memproduksi 30,4 juta dosis. Produksi itu akan dibagi dua batch pada bulan Desember dan Januari. Ini akan diproduksi oleh pembuat vaksin lokal Fiocruz.

Dengan begitu, mereka akan bisa segera memulai upaya inokulasi jika vaksin tersebut disertifikasi aman dan efektif. Mereka mengatakan kesepakatan itu sebenarnya untuk 100 juta vaksin yang akan digunakan di negara yang memiliki sekitar 210 juta penduduk itu. 

27 Juni: Thailand akan produksi vaksin sendiri. Penelitian sudah di tahap uji pada monyet

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaSuasana makan siang di sebuah sekolah saat pandemik COVID-19 di Bangkok, Thailand, pada 23 Juni 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Athit Perawongmetha

Thailand memutuskan untuk memproduksi kandidat vaksin COVID-19 sendiri. Penelitian kandidat vaksin masih pada tahap uji pada binatang. Uji coba pada manusia diharapkan bisa dilakukan pada awal Oktober mendatang.

Tes kandidat vaksin kepada sejumlah monyet sedang dilakukan. Pada dosis pertama, hasilnya menunjukkan munculnya antibodi penetralisir yang berarti virus corona bisa dihambat agar tidak masuk atau merusak sel tubuh.
Dosis kedua sudah disuntikkan pada minggu ini dan hasilnya akan keluar dua minggu mendatang. 

Apabila kandidat vaksin mencapai tes klinis, ini akan jadi satu dari sedikit yang mampu dibuat oleh negara-negara berkembang. Begitu ini terjadi, mereka berencana memproduksi sekitar 10.000 dosis kandidat vaksin di San Diego (Amerika Serikat) dan Vancouver (Kanada), baru kemudian mengirimkannya ke Thailand untuk diuji coba kepada manusia.

Ada tiga tahapan uji coba kepada manusia, dan seandainya semua berhasil, maka vaksin akan diproduksi di Thailand. Ia juga menyebut tidak menutup kemungkinan akan ada distribusi ke beberapa negara tetangga atau yang memiliki tingkat perekonomian menengah ke bawah. 

24 Juni: Masuki tahap uji manusia, tiga perusahaan farmasi Tiongkok digandeng negara lain

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaPelancong menggunakan pakaian pelindung saat berada di Bandara Internasional Tianhe Wuhan, Tiongkok, setelah masa karantina berakhir, pada 10 April 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Aly Song

Perusahaan farmasi asal Tiongkok China National Biotec Group (CNBG) bergabung dengan Uni Emirat Arab (UEA) untuk mengembangkan vaksin dan mengumumkan mereka siap memasuki tahap tiga yakni uji coba terhadap manusia (human trial). Mereka optimistis bakal bisa memproduksi vaksin COVID-19 pada 2021.

Pada Rabu (24/6), kerja sama dilakukan antara G42--perusahaan artificial intelligence dan cloud computing yang berbasis di UEA dan Sinopharm Group, farmasi asal Tiongkok yang terafiliasi dengan CNBG.

Secara negara, Tiongkok sebenarnya memimpin penemuan vaksin dengan kandidat yang siap masuk ke tahap human trial. Tapi perusahaan-perusahaan farmasi Tiongkok terpaksa "meninggalkan negara mereka" dan bergabung dengan proyek di negara lain. Alasannya, karena kasus penularan di Tiongkok yang sudah semakin menipis.

Sebelum CNBG digandeng UEA, proyek vaksin Sinovac dari CanSino Biologics yang digandeng Brasil sudah terlebih dahulu memasuki tahap akhir uji coba ini. Perusahaan farmasi asal Tiongkok ini bekerja sama dengan Instituto Butantan, pusat penelitian biomedical di São Paulo, Brasil pada 11 Juni.

23 Juni: Catatan dari 3 vaksin yang terdepan perkembangannya

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaAnggota staf Tiongkok menyesuaikan bendera Amerika Serikat dan Tiongkok sebelum sesi pembukaan negosiasi dagang antara perwakilan dagang Amerika Serikat dan Tiongkok di Diaoyutai State Guesthouse di Beijing, Tiongkok, pada 14 Februari 2019. ANTARA FOTO/Mark Schiefelbein/Pool via REUTERS/File Photo

Berdasarkan catatan WHO, ada lebih dari 130 tim pengembangan vaksin independen dalam memerangi pandemik ini. Kandidat yang memimpin di antaranya vaksin AZD1222 yang diproduksi oleh Oxford-Astrazeneca dan mRNA dari Moderna Inc. Keduanya berbasis di Amerika Serikat. AZD1222 dari Oxford adalah salah satu vaksin yang dikembangkan paling awal untuk menjalani uji klinis.

Sedangkan Tiongkok, berhasil dengan Sinovac dari CanSino Biologics yang bekerja sama dengan Brasil. Tiongkok juga menggenjot produksi sedikitnya lima vaksin, tapi Sinovac menunjukkan hasil yang paling aman dan paling menjanjikan. Para ahli di sana siap menyarankan vaksin ini mulai digunakan.

Baik vaksin AS maupun Tiongkok, siap untuk melanjutkan tahap uji coba selanjutnya dari prototipe vaksin mereka, mulai Juli. 

17 Juni: Receptor binding site virus di Indonesia tidak unik, vaksin negara manapun bisa berkhasiat

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi corona (IDN Times/Mardya Shakti)

Bibit vaksin dari negara manapun di dunia dapat digunakan atau berkhasiat untuk menangkal SARS-CoV-2 atau virus penyebab COVID-19 yang ada di Indonesia. Virus corona yang menyebar di Indonesia tidak lebih ganas dibandingkan yang ada di tempat lain, sehingga tidak membuat antibodi atau vaksin kehilangan khasiatnya.

Virus corona yang ada di Indonesia memang memiliki sedikit perbedaan dengan virus SARS-CoV-2 awal yang berasal dari Wuhan, Tiongkok. Tapi virus di Indonesia itu tidak unik, tidak memiliki perbedaan pada receptor binding site.

"Jika virus corona di Indonesia mengalami perubahan pada binding site, maka vaksin yang ditemukan dari luar negeri bisa saja akan kehilangan khasiat jika digunakan di Indonesia," kata Ahli virologi dari Universitas Udayana Profesor Ngurah Mahardika, dalam konferensi pers di Graha BNPB Jakarta, Kamis (17/6).

16 Juni: Uji terjadap manusia fase 1-2 oleh CNBG Tiongkok menunjukkan hasil yang menjanjikan

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaPetugas medis dengan alat pelindung diri membantu warga berbaris di dalam pusat olahraga untuk uji asam nukleat, setelah adanya kasus baru infeksi virus corona (COVID-19) di Beijing, China, Senin (15/6/2020). ANTARA FOTO/China Daily via REUTERS/pras

Hasil uji klinis tahap awal terhadap manusia yang dikerjakan China National Biotec Group (CNBG) di Beijing mengisyaratkan calon vaksin mereka aman dan efektif. Calon vaksin itu menghasilkan antibodi tingkat tinggi pada semua partisipan yang disuntik dalam fase 1/2 yang melibatkan 1.120 orang yang sehat.

CNBG, yang bernaung pada China National Pharmaceutical Group (Sinopharm) milik negara, mengatakan bahwa calon vaksin lain yang diproduksi oleh unit mereka yang berkedudukan di Wuhan, juga memicu antibodi tingkat tinggi pada para peserta uji klinis tahap awal.

13 Juni: 4 negara gelontorkan Rp12 T untuk membeli 300 juta dosis vaksin bernama AZD1222

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi laboratorium. (Dok. Humas Jabar)

Empat negara Uni Eropa yaitu Italia, Jerman, Belanda, dan Prancis setuju untuk membayar setoran awal sebesar Rp12 triliun untuk membeli 300 juta dosis calon vaksin COVID-19.

Calon vaksin itu diberi nama AZD1222 dan dikembangkan oleh para ilmuwan di Oxford University. Sedangkan produksi massal dilakukan oleh perusahaan biofarma AstraZeneca yang merilis informasi ini di situs resminya.

Pada Sabtu (13/6), AstraZeneca sempat mengumumkan adanya kesepakatan dengan empat negara untuk menyuplai sampai 400 juta dosis vaksin COVID-19, apabila sudah mendapatkan lampu hijau dari pemerintah. Pengiriman rencananya dimulai pada akhir 2020. Untuk memenuhi rencana itu, perusahaan membangun sejumlah supply chain di seluruh dunia.

12 Juni: Indonesia gandeng Norwegia dan Tiongkok untuk temukan vaksin

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi. pixabay.com/geralt-9301

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi mengatakan Indonesia tengah menjalin kerja sama dengan beberapa negara dalam proses pengadaan vaksin COVID-19. Dua di antaranya adalah Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), yang berbasis di Norwegia, dan Sinopec, yang berbasis di Tiongkok.

"Kita menjalin kerja sama dengan para pihak yang sudah kita hubungi antara lain adalah dengan CEPI, tetapi persisnya ada di Norwegia, CEPI ini adalah vaksin yang memang jenisnya rekayasa genetik," ujarnya dalam diskusi virtual 'Tren Geopolitik Dunia di Tengah COVID-19', Jumat (12/6).

29 Mei: Kalbe Farma dan Genexine Korsel memasuki tahap uji klinis vaksin ke manusia

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di Dunia(Pabrik biosimilar Kalbe Farma) ANTARAFOTO/Risky Andrianto

PT Kalbe Farma Tbk menandatangani nota kesepahaman dengan Genexine, Inc, sebuah perusahaan obat biologi dari Korea Selatan, untuk mengembangkan vaksin corona virus baru atau COVID-19. Adapun uji klinis vaksin COVID-19 ini rencananya akan dilakukan pada Juni 2020.

“Kalbe berharap melalui upaya penelitian dan pengembangan vaksin COVID-19 ini secara cepat bisa mendapatkan hasil, sehingga kebutuhan vaksin di Indonesia dapat terjamin ketersediaannya,“ ujarnya. 

Menurutnya, riset vaksin ini telah dilakukan kepada primata, dan telah terbukti menghasilkan antibodi yang mampu menetralisir virus corona, sehingga tahap berikutnya akan diuji kepada manusia.

Kalbe dan Genexine sepakat untuk melakukan uji klinik GX-19 di Indonesia, yakni pengembangan vaksin DNA terhadap virus corona oleh konsorsium dengan Genexine, Binex, the International Vaccine Institute(IVI), GenNBio, the Korea Advanced Institute of Science & Technology (KAIST), and Pohang University of Science & Technology (POSTECH).

21 Mei: Menteri BUMN prediksi vaksin buatan dalam negeri selesai pada 2021

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaMenteri Erick Thohir saat live Zoom bersama pimpinan media (IDN Times)

Menteri BUMN Erick Thohir memprediksi vaksin virus corona atau COVID-19 buatan dalam negeri akan rilis pada 2021 mendatang. Vaksin tersebut adalah buatan perusahaan farmasi milik BUMN yaitu Bio Farma.buatan.

Sebelumnya, Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir dengan adanya perkembangan teknologi biofarmasetik, pembuatan vaksin bisa dilakukan dengan waktu lebih singkat daripada waktu standar pembuatan vaksin pada umumnya.

"Sebagai contoh, teman-teman sudah dengar sendiri beberapa lembaga penelitian sudah melakukan uji klinis tahap 1 dan mau tahap 2 terhadap vaksin (COVID-19) yang akan dicobakan ke manusia. Artinya ini sangat cepat, tadinya 10 sampai 15 tahun, ini kurang 1 tahun bisa ketemu dan bisa dilakukan tes kepada manusia," jelasnya.

16 Mei: Eijkman Institute mencari pendonor untuk uji klinis vaksin

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaInstagram @eijkmaninstitute

Wakil Kepala Bidang Penelitian Fundamental Lembaga Biologi Molekular (LBM) Eijkman Institute, Herawati Sudoyo mengatakan pihaknya akan segera melakukan tahapan uji klinis untuk pembuatan vaksin.

Saat ini, Eijkman masih mencari pendonor yang diperlukan dalam uji klinis tersebut. Pendonor ini untuk pertama umumnya datang dari hewan-hewan percobaan. Namun setelah melewati beberapa proses, barulah akan diujicobakan ke manusia.

Prof. Amin dari Eijkman institute menginformasikan setidaknya ada beberapa kriteria yang dicari untuk uji coba ini. Mereka yang bisa menjadi pendonor adalah pria maupun perempuan, sehat, bebas dari COVID-19 dan infeksi transfusi, serta memiliki antibodi cukup tinggi. 

13 Mei: Serum Institute di India menjadi yang pertama berencana memasarkan vaksin COVID-19 seharga Rp197 ribu

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaSeorang pria menutup sebagian muka dengan kain sambil melihat keluar dari kereta saat diberlakukan 'lockdown' oleh pemerintah untuk mencegah penularan virus COVID-19, di New Delhi, India, Senin (23/3/2020) (ANTARA FOTO/REUTERS/Adnan Abidi)

Perusahaan swasta yang bergerak di bidang manufaktur obat-obatan murah di India, Serum Institute, berencana mematok harga calon vaksin COVID-19 sebesar Rp197ribu per dosis. Produsen yang berlokasi di wilayah Pune tersebut mengumumkan awal uji coba calon vaksin ke tubuh manusia pada 23 April lalu.

Itu merupakan salah satu uji coba paling awal di dunia. Selain Serum Institute, Dewan Riset Medis India (ICMR) yang merupakan lembaga negara juga ikut perburuan vaksin COVID-19 dengan menggandeng Bharat Biotech yang berlokasi di Hyderabad. 

12 Mei: Pfizer, farmasi raksasa AS menggandeng farmasi Jerman BioNTech SE untuk uji coba vaksin ke manusia, diperkirakan Oktober

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaPexels/Anna Shvets

Pfizer, raksasa produsen obat-obatan di Amerika Serikat yang telah menyatakan kesiapan uji coba vaksin eksperimental ke tubuh manusia pada Mei lalu, kini menggandeng perusahaan farmasi Jerman BioNTech SE. Berdasarkan pelacakan informasi yang tersedia di situs bioworld.com, BioNTech telah mendapatkan izin pengujian dari pemerintah Jerman pada 23 April lalu.

Keduanya juga bersiap uji coba di Amerika Serikat. Untuk mempercepat proses ini, Pfizer sampai mengalihkan produksi obat-obatan lainnya ke kontraktor eksternal, karena ingin fokus terhadap calon vaksin COVID-19.

Melansir CNBC, jika berhasil, perusahaan yang berbasis di New York ini berharap mendapat lampu hijau dari otoritas berwenang Amerika Serikat setidaknya pada Oktober mendatang, untuk melakukan produksi massal. Pfizer mengaku bisa mendistribusikan hingga 20 juta dosis pada akhir 2020, dan kemungkinan ratusan juta setahun berikutnya.

Baca Juga: 100 Vaksin virus corona Dikembangkan, 6 Sudah Masuk Uji Coba Manusia

30 April: Jenner Institute dari Oxford University gandeng AstraZeneca mengembangkan vaksin

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi vaksin atau jarum suntik (IDN Times/Arief Rahmat)

Jenner Institute dari Oxford University mengumumkan akan bekerja sama dengan AstraZeneca Inggris untuk untuk membuat prototipe vaksin coronavirus yang dapat diproduksi pada musim gugur tahun ini (September).

Kepala Eksekutif AstraZeneca Pascal Soriot menyatakan mereka akan mempercepat globalisasi vaksin untuk memerangi virus ini. Namun belum ada tanggal pasti kapan produksi vaksin bernama "ChAdOx1 nCoV-19" ini dimulai.

24 April: Tiongkok menyatakan vaksin untuk kondisi darurat akan siap pada September ini

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaPetugas medis dengan baju pelindung (ANTARA FOTO/China Daily via REUTERS)

Tiongkok yang mengembangkan vaksin COVID-19 sejak Jantuati, mengklaim vaksin ini akan siap digunakan pada September tahun ini untuk kondisi darurat. Sedangkan produksi untuk umum akan dilakukan awal tahun depan.

Dilansir dari South China Morning Post (SCMP), Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok, Gao Fu memberi catatan bahwa hal ini tergantung pada kemajuan perkembangan uji coba.

"Vaksin saat ini masih dalam uji klinis fase dua atau fase tiga, sementara dapat digunakan untuk beberapa kelompok khusus orang seperti petugas kesehatan. Kami mungkin memiliki vaksin untuk populasi sehat awal tahun depan," ujar Gao Fu kepada China Global Television Network, Senin (27/4).

Berdasarkan data World Healt Organization (WHO) Tiongkok ada sejumlah proyek pengembangan vaksin COVID-19 yang dilakukan oleh beberapa lembaga.

  • CanSino Biologics Inc./Beijing Institute of Biotechnology (uji fase kedua)
  • Beijing Institute of Biological Products/Wuhan Institute of Biological Products (uji fase pertama) Sinavac juga sedang ujicoba fase pertama.
  • Sinovac (uji fase pertama) 

Baca Juga: Penggunaan Plasma Darah Penyintas COVID-19, Peneliti Vaksin: Hati-hati

7 April: Inovio Pharmaceuticals, perusahaan kedua di Amerika Serikat sudah uji coba vaksin

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaTes swab virus corona (COVID-19) di fasilitas tes One Medical sebagai upaya membatasi penyebaran virus corona (COVID-19) di Bronx, New York City, Amerika Serikat, Selasa 21/4). ANTARA FOTO/REUTERS/Lucas Jackson

Perusahaan kedua di Amerika Serikat (AS), Inovio Pharmaceuticals, siap untuk mulai melakukan tes uji keamanan vaksin virus corona baru. Seperti yang dilansir ABC News, pada Senin (6/4) kemarin Inovio mengatakan telah memiliki izin dari Badan Obat-obatan dan Makanan AS atau Food and Drug Administration (FDA).

Menurut mereka, FDA telah menerima pengajuan Investigational New Drug (IND) dari perusahaan mereka atas INO-4800, yang merupakan suatu calon vaksin yang dibuat untuk mencegah infeksi COVID-19. Inovio Pharmaceuticals menyebut bahwa vaksin itu dibuat menggunakan bagian dari kode genetik virus yang dikemas dalam sepotong DNA sintetis. 

Baca Juga: AS Mulai Lakukan Uji Coba Vaksin Perdana COVID-19 ke Manusia 

27 Maret: Australia mengujicoba vaksin TBC untuk menangkal COVID-19

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaIlustrasi vaksin atau jarum suntik (IDN Times/Arief Rahmat)

Peneliti Australia mengumumkan pada Jumat (27/3), mereka bergerak cepat mencari vaksin untuk menangkal COVID-19. Saat ini, peneliti mengujikan vaksin yang telah digunakan selama beberapa dekade untuk mencegah tuberkolosis (TBC), sebagai vaksin penangkal COVID-19.

Rencananya vaksin untuk TBC atau biasa disebut vaksin BCG akan diujicobakan kepada 4.000 petugas kesehatan di rumah sakit di seluruh Australia. Peneliti di Murdoch Children's Research Institute di Melbourne, Australia, akan melihat apakah vaksin BCG tersebut dapat mengurangi gejala COVID-19.

16 Maret: Amerika Serikat menciptakan vaksin bernama mRNA-1273

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaPerawat membawa alat uji di lantatur pengujian COVID-19, flu dan RSV, di UW Medical Center Northwest di Seattle, Washington, Amerika Serikat, pada 9 Maret 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Lindsey Wasson

Pemerintah Amerika Serikat mulai melakukan uji coba perdana vaksin penyakit COVID-19. Stasiun TV berita BBC, Selasa (17/3), melaporkan uji coba vaksin dilakukan terhadap empat pasien di fasilitas penelitian Kaiser Permanente di Seattle, Washington, Amerika Serikat.

Moderna Inc, perusahaan bioteknologi dari Cambridge dan National Institute of Allergy and Infectious Disease (NIAID) bekerja sama mendukung pembuatan vaksin yang dinamakan mRNA-1273 ini. Vaksin ini berisi kode genetik tidak berbaha --disalin dari virus yang telah menyebabkan kematian lebih dari 7.000 orang tersebut. 

Sebelumnya, uji coba vaksin perdana didanai oleh Institut Nasional Kesehatan. Organisasi ini sudah melakukan uji coba vaksin terhadap hewan yang bertujuan untuk memeriksa apakah vaksin dapat memicu daya tahan tubuh ke hewan. 

Baca Juga: Vaksin Corona Ditemukan! Obat COVID-19 Segera Diproduksi

4 Februari: Menteri BUMN Erick Thohir meminta Bio Farma riset terkait vaksin virus corona

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaErick Thohir pantau apotek kimia farma (IDN Times/Muhammad Athif Aiman)

Jauh sebelum pemerintah secara resmi mengumumkan kasus COVID-19 di Tanah Air, Menteri BUMN Erick Thohir mendorong holding BUMN Farmasi untuk melakukan riset untuk menemukan vaksin virus corona.

"Kita juga dorong Bio Farma dan kawan-kawan mencarikan riset untuk vaksin (corona) juga. Jadi mana tahu kita punya tumbuhan yang bisa dipakai melawan (corona) ini," kata Staf Khusus Kementerian BUMN, Arya Sinulingga, Selasa (4/2).

Menanggapi hal tersebut, PT Bio Farma belum dapat membuat vaksin antivirus corona dalam waktu dekat. Induk dari holding farmasi mengatakan mereka sedang mencari lembaga riset untuk proses pembuatan vaksin tersebut.

"Kalau kita bicara bikin vaksin normal di luar kejadian itu lumayan lama, itu butuh waktu 15 tahun (pembuatannya) dari nol. Makanya kita harus bersama dengan lembaga riset sehingga kita tidak dari nol," kata Direktur Utama PT Bio Farma, Honesti Basyir di Jakarta, Rabu (5/2).

26 Januari: Tiongkok mulai mengembangkan proyek pembuatan vaksin COVID-19

[LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di DuniaSeorang petugas medis dengan baju pelindung (ANTARA FOTO/China Daily via REUTERS)

Tiongkok telah memulai usaha menemukan vaksin yang bisa melindungi manusia dari COVID-19 yang berpotensi mematikan. Dilansir dari New York Post, Mayor Jenderal Chen Wei yang memimpin pengembangan vaksin ini mengatakan bahwa vaksin ini siap diproduksi dalam skala besar.

Chen Wei dari Akademi Ilmu Kedokteran Militer Tiongkok itu menjelaskan, Tiongkok akan merekrut 108 orang yang sehat untuk berpartisipasi dalam uji coba vaksin ini. Uji coba akan dilakukan tahap demi tahap dan akan berlangsung hingga 31 Desember mendatang. Uji coba ini akan melibatkan CanSino Biologics, perusahaan bioteknologi di Hong Kong.

Baca Juga: Sudah Sampai Mana Progres Pengembangan Vaksin untuk Wabah COVID-19?

Topic:

  • Anata Siregar
  • Dwifantya Aquina
  • Rochmanudin

Berita Terkini Lainnya