Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AS Disebut Mau Bantu Israel Lucuti Senjata Hizbullah
Senjata Hizbullah yang sudah disita oleh pasukan militer Israel (IDF) (commons.wikimedia.org/IDF Spokesperson's Unit)
  • Pemerintah AS dikabarkan siap membantu Israel melucuti senjata Hizbullah, dengan Donald Trump disebut ingin keterlibatan lebih besar dalam operasi tersebut.
  • Serangan udara Israel ke Lebanon sejak Maret 2026 menewaskan lebih dari dua ribu orang dan memaksa jutaan warga mengungsi, menuai kecaman dari PBB.
  • Israel dan Lebanon akhirnya menyepakati gencatan senjata sepuluh hari melalui mediasi AS, sementara Trump meminta kedua pihak menaati kesepakatan demi perdamaian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat dikabarkan bersedia membantu Israel untuk melucuti senjata Hizbullah Lebanon. AS kini juga sedang menyiapkan pasukan untuk melakukan hal tersebut. 

“(Donald) Trump menginginkan hal ini (perlucutan senjata Hizbullah) terjadi. Jadi, kali ini, AS akan jauh lebih terlibat,” kata pejabat senior Israel yang tidak disebut namanya, seperti dilansir Jerusalem Post pada Kamis (16/4/2026). 

1. Israel sudah lama ingin melucuti senjata Hizbullah

Pasukan Hizbullah sedang menyiapkan rudal untuk ditembakkan. (commons.wikimedia.org/Mohammad Hossein Velayati)

Israel memang sudah lama ingin melucuti senjata Hizbullah. Sebab, Israel ingin mengurangi kekuatan Hizbullah dari dalam agar mereka tidak lagi melakukan serangan. Sebab, jika Hizbullah masih punya banyak senjata dan pasukan, mereka akan terus melakukan perlawanan terhadap Israel. 

Sejak 2024, Hizbullah kerap melakukan serangan ke Israel. Puncaknya adalah pada awal Maret 2026 lalu. Hizbullah melancarkan serangan ke Israel untuk membantu Iran berperang melawan mereka dan AS.

Merespons serangan Hizbullah, Israel tentu tidak tinggal diam. Mereka mulai meluncurkan serangan udara ke Lebanon pada 2 Maret 2026 untuk membasmi pasukan Hizbullah. Inilah yang membuat Lebanon akhirnya ikut terlibat dalam perang antara Iran melawan AS dan Israel. 

2. Serangan Israel di Lebanon sudah menewaskan ribuan jiwa

ilustrasi korban jiwa (pexels.com/Mario Wallner)

Sejauh ini, serangan Israel di Lebanon telah menewaskan 2.055 orang. Sementara itu, hampir 6.600 orang lainnya mengalami luka-luka. Di sisi lain, lebih dari 1,2 juta orang di Lebanon juga terpaksa mengungsi ke tempat aman untuk menghindari serangan Israel.  

Serangan Israel ke Lebanon ini sudah dikecam oleh banyak pihak, terutama oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). PBB menilai serangan tersebut mengganggu upaya perdamaian di Kawasan Timur Tengah dan gencatan senjata antara AS dan Iran. 

Untuk mengakhiri serangan, Lebanon sebetulnya sudah berupaya melobi Israel. Namun, upaya tersebut kerap gagal karena Israel ingin tetap menyerang Lebanon sampai Hizbullah benar-benar kalah.  

3. Israel sudah menyepakati gencatan senjata dengan Lebanon

ilustrasi gencatan senjata (pexels.com/Nothing Ahead)

Namun, Lebanon kini bisa sedikit bernapas lega. Sebab, Israel sudah menyetujui gencatan senjata dengan Lebanon selama sepuluh hari. Kesepakatan itu diraih berkait mediasi dari AS.

Oleh karena itu, Presiden AS, Donald Trump, mengingatkan Hizbullah untuk menghormati gencatan senjata dengan Israel. Mereka tidak boleh melakukan serangan kepada Israel selama gencatan senjata berlangsung. Aturan tersebut juga berlaku bagi Israel.

“Saya harap Hizbullah bertindak dengan baik dan benar selama periode penting ini. Ini akan menjadi momen yang luar biasa bagi mereka jika mereka melakukannya. Tidak ada lagi pembunuhan karena pada akhirnya harus ada perdamaian!” kata Trump dalam unggahan di Truth Social dilansir Al Jazeera

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team