Israel Siap Berunding dengan Lebanon jika Senjata Hizbullah Dilucuti

- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan kesediaan berunding dengan Lebanon hanya jika Hizbullah melucuti senjatanya dan tercapai perjanjian perdamaian jangka panjang.
- Lebanon dan Israel dijadwalkan menggelar pertemuan pertama di Washington pada 14 April 2026 untuk membahas gencatan senjata, meski langkah ini ditentang oleh Hizbullah.
- Pemerintah Lebanon berupaya menghentikan serangan Israel yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang serta fokus pada rekonstruksi wilayah hancur dan pemulangan pengungsi.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengancam akan meningkatkan eskalasi konflik di Lebanon dalam pernyataannya pada Sabtu (11/4/2026). Ia menegaskan bahwa Israel hanya bersedia melakukan perundingan jika persenjataan Hizbullah dilucuti.
Dalam rekaman pidatonya, Netanyahu menyampaikan bahwa Lebanon telah beberapa kali mendekati Israel dalam sebulan terakhir untuk memulai pembicaraan langsung demi mengakhiri konflik.
“Saya menyetujui hal ini, dengan dua syarat: kami ingin melucuti senjata Hizbullah, dan kami menginginkan perjanjian perdamaian nyata yang akan bertahan selama beberapa generasi,” ujarnya, dikutip dari TRT.
1. Lebanon dan Israel akan melakukan perundingan di AS pada Selasa

Pada Jumat (10/4/2026), kantor kepresidenan Lebanon menyatakan bahwa Beirut dan Tel Aviv telah sepakat untuk mengadakan pertemuan pertama mereka di Washington, Amerika Serikat (AS), pada Selasa (14/4/2026). Langkah ini menuai kecaman dari kelompok Hizbullah.
“Kami dapat mengonfirmasi bahwa Departemen akan mengadakan pertemuan pekan depan untuk membahas negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung dengan Israel dan Lebanon,” kata pejabat Departemen Luar Negeri AS.
Sebelumnya, pada Kamis (9/4/2026), Netanyahu telah memerintahkan para menterinya untuk mengupayakan perundingan langsung dengan Lebanon, dengan mendorong pelucutan senjata Hizbullah.
2. Pemerintah Lebanon terus berupaya akhiri konflik

Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, pada Minggu (12/4/2026), mengatakan bahwa pemerintah tengah berupaya mengakhiri serangan Israel di Lebanon dan mengamankan penarikan pasukan Israel dari seluruh wilayah negara tersebut.
Selain itu, pemerintah juga terus melanjutkan upaya rekonstruksi desa dan kota yang hancur akibat perang serta memungkinkan para pengungsi untuk kembali ke rumah mereka.
“Selatan tidak akan lagi ditinggalkan untuk menghadapi ketakutan, kehancuran, dan kecemasan tentang masa depannya. Perlindungannya, seperti perlindungan seluruh Lebanon, hanya dapat dicapai melalui satu negara yang kuat dan adil," ujarnya, dilansir dari Anadolu.
3. Serangan Israel tewaskan lebih dari 2 ribu orang di Lebanon

Pasukan Israel telah menggempur Lebanon dengan serangan udara mematikan sejak kelompok Hizbullah melancarkan serangan ke negara itu pada 2 Maret 2026, ketika. Konflik terbaru antara keduanya terjadi menyusul serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang turut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan Israel di negara tersebut sejauh ini telah menewaskan sedikitnya 2.055 orang dan menyebabkan 6.588 lainnya terluka. Di antara korban tewas, terdapat 252 perempuan dan 165 anak-anak.


















