"Pasukan Amerika (Serikat) tetap siaga dan siap untuk terus mempertahankan diri dari agresi Iran," bunyi pernyataan resmi Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam sebuah unggahan di laman X, Minggu (7/6/2026), seperti dikutip Jerusalem Post.
Ganggu Lalu Lintas Kapal, AS Tembak Jatuh Drone Iran di Selat Hormuz

- Militer AS menembak jatuh dua drone dan enam rudal Iran di Selat Hormuz karena dianggap mengganggu lalu lintas kapal serta membahayakan keamanan kawasan.
- Aksi saling serang antara AS dan Iran terjadi bersamaan dengan proses negosiasi damai yang sempat tertunda akibat ketegangan regional, termasuk konflik Israel-Lebanon.
- Presiden Donald Trump menyebut kesepakatan damai dengan Iran semakin dekat, meski upaya perdamaian sering terhambat oleh perbedaan syarat yang diajukan kedua negara.
Jakarta, IDN Times - Pasukan militer Amerika Serikat dikabarkan telah menembak jatuh dua drone Iran di Selat Hormuz pada Sabtu (6/6/2026). Upaya ini dilakukan karena pesawat nirawak tersebut telah mengganggu lalu lintas kapal di selat tersebut.
1. AS juga menembak jatuh rudal Iran

Pada hari yang sama, pasukan AS juga menembak jatuh enam rudal balistik Iran. Keenam rudal tersebut ditembakkan Iran ke beberapa lokasi, yakni ke Selat Hormuz, Kuwait, dan Bahrain. Dalam kesempatan lain, satu rudal Iran dilaporkan gagal mengenai target. Namun, tidak dijelaskan target apa yang dimaksud.
Setelah menembak jatuh rudal Iran, AS lantas kembali meluncurkan serangan ke situs radar militer Iran di Pulau Goruk dan Qeshm. Kedua pulau itu terletak di Selat Hormuz. Tidak berselang lama, Iran langsung melakukan serangan rudal ke pasukan AS. Serangan ini dilakukan Iran untuk membalas AS yang sudah menembak jatuh drone-nya dan menyerang Pulau Goruk dan Qeshm.
2. Aksi saling serang AS dan Iran dilakukan di tengah negosiasi damai

Aksi saling serang antara AS dan Iran tadi terjadi di saat negosiasi perdamaian kedua negara sedang berlanjut. Negosiasi AS dan Iran sebetulnya sempat mandek. Sebab, beberapa waktu lalu, Iran memutuskan untuk menghentikan negosiasi sebagai protes karena Israel tetap menyerang Lebanon meski sudah gencatan senjata.
Saat ini, Iran dikabarkan sedang meninjau proposal perdamaian terbaru yang dikirim oleh AS. Presiden AS, Donald Trump, mengatakan, kesepakatan damai dengan Iran kian dekat usai proposal tersebut dikirim. “Mereka ingin membuat kesepakatan. Kami telah melakukan pembicaraan yang sangat baik selama 24 jam terakhir dan sangat mungkin kami akan membuat kesepakatan,” ujar Trump dilansir Al Jazeera.
3. Trump kerap mengklaim kesepakatan damai AS dan Iran sudah dekat

Trump sendiri memang kerap sesumbar bahwa kesepakatan damai antara AS dan Iran akan segera tercapai. Biasanya, ia menyampaikan klaim-klaim tersebut di Truth Social. Semua klaim tersebut membuat publik berharap perang di Timur Tengah antara Iran melawan AS dan Israel segera usai.
Sayangnya, semua klaim tersebut sering kali meleset. Alih-alih tercapai, upaya perdamaian antara AS dan Iran justru sering mandek. Ini semua karena AS dan Iran sama-sama tidak mau berkompromi soal syarat perdamaian yang diberikan masing-masing.
Di satu sisi, AS kerap menolak proposal perdamaian Iran karena dianggap tidak menguntungkan. Namun, di sisi lain, Iran juga kerap menolak proposal perdamaian AS karena dianggap tidak menguntungkan mereka.



















