Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AS Mulai Investigasi Imigran usai Serangan ke Iran
ilustrasi bendera Amerika Serikat (unsplash.com/cristina_glebova)
  • DHS meluncurkan investigasi terhadap imigran setelah serangan AS dan Israel ke Iran, guna memperkuat keamanan nasional dari potensi ancaman terorisme di dalam negeri.
  • Pemerintah mulai memantau media sosial kelompok imigran dan melakukan wawancara baru, sementara FBI menyelidiki kaitan penembakan di Austin dengan dugaan aksi teror.
  • Kepala DHS Kristi Noem mengkritik Partai Demokrat karena membekukan pendanaan lembaganya, yang dinilai menghambat persiapan keamanan menjelang Piala Dunia 2026 di AS.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kepala Departemen Keamanan Negara (DHS), Kristi Noem mengumumkan program investigasi kepada imigran. Langkah ini sebagai bentuk perlindungan keamanan negara usai serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran.  

“Aksi DHS untuk menetralisir segala ancaman yang disebut sebagai jaringan teroris di AS menyusul operasi skala besar melawan Iran sejak Sabtu pekan lalu,” terangnya, dikutip dari EFE, Rabu (4/3/2026).

DHS menyebut, ancaman keamanan menyusul serangan ke Iran ini sangat mungkin terjadi di AS. Namun, serangan bukanlah skala besar melainkan serangan kecil dan operasi serangan siber kecil. 

1. Mulai memonitor media sosial dari kelompok imigran

Noem mengatakan bahwa DHS sudah memulai memantau media sosial dari sejumlah kelompok imigran. Selain itu, akan diadakan wawancara jenis baru terhadap kelompok imigran di AS. 

“Kami bekerja setiap hari dengan badan intelijen kami dan rekan pasukan keamanan untuk memastikan bahwa kami menginvestigasi dan mendeteksi segala ancaman terhadap negara di dalam perbatasan,” katanya. 

2. Mencurigai hubungan dengan penembakan di Austin

Otoritas AS masih mendalami keterkaitan kasus penembakan di sebuah bar di Austin, Texas pada Sabtu lalu dengan terorisme imbas serangan ke Iran. Penembakan itu diketahui sudah menewaskan 2 orang dan melukai 14 orang. 

Dilansir The Latin Times, pelaku penembakan adalah warga AS naturalisasi asal Senegal bernaam Ndiaga Diagne. Namun, pelaku akhirnya tewas setelah ditembak oleh aparat keamanan di lokasi kejadian. 

Sementara itu, FBI menemukan adanya Al-Quran di dalam mobil milik Diagne. Alhasil, FBI menduga adanya keterkaitan penembakan ini sebagai upaya terorisme. 

3. Noem tolak Partai Demokrat yang bekukan pendanaan DHS

Pada saat yang sama, Noem mengkritik Partai Demokrat yang membekukan pendanaan untuk menggaji 100 ribu pekerja DHS. Menurutnya, langkah tersebut merusak persiapan keamanan besar untuk memastikan penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di AS. 

Sejak Februari, DHS sudah mengalami kekurangan pendanaan usai anggota parlemen tidak menyetujui peraturan tersebut. Senator dari Partai Demokrat menyatakan penolakan terhadap pendanaan usai kasus penembakan Renee Good dan Alex Pretti di Minneapolis. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team