Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AS Tuntut Israel Usut Tuntas Penganiayaan Jurnalis di Tepi Barat
ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/D Goug)
  • AS mendesak Israel menyelidiki, menangkap, dan mengadili pelaku penganiayaan terhadap fotografer The Washington Post, Heidi Levine, di Tepi Barat.
  • Levine diserang saat meliput pemukim bertopeng yang memukuli petani Palestina; meski memakai rompi pers, ia dipukul, ditendang, dan dirampas barang-barangnya.
  • Levine mengalami patah tulang rusuk dan tulang belakang serta cedera lain, sementara Netanyahu menyatakan insiden masih diselidiki dan mempertanyakan pelakunya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) menuntut otoritas Israel menyelidiki tuntas aksi penganiayaan terhadap jurnalis foto senior Heidi Levine di Tepi Barat yang diduduki. Fotografer asal AS yang bekerja untuk The Washington Post tersebut dilaporkan diserang saat bertugas pada Kamis (15/10/2026) waktu setempat.

Kedutaan Besar AS di Yerusalem mengecam kekerasan kriminal tersebut dan menyerukan penyelidikan, penangkapan, hingga pemidanaan terhadap pihak yang bertanggung jawab. Pihak perwakilan diplomatik menegaskan bahwa keselamatan warga negaranya merupakan prioritas tertinggi bagi pemerintahan Presiden Donald Trump.

1. Kecaman keras diplomatik AS dan desakan sanksi pidana

Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee (U.S. Embassy Jerusalem, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee melontarkan kecaman keras melalui unggahan di media sosial X atas insiden penganiayaan tersebut. Dia menyebut penyerangan terhadap fotografer perempuan tak bersenjata itu sebagai aksi teror keji yang dilakukan oleh para pengecut bertopeng. Meski tidak secara eksplisit menyebut identitas kelompok pelaku karena penyelidikan masih berlangsung, dia menuntut siapa pun yang terlibat dijatuhi hukuman penjara bertahun-tahun.

Pernyataan bernada tegas dari Huckabee ini menunjukkan sikap yang jauh lebih kuat dibanding respons awal Departemen Luar Negeri AS. Sebelumnya, Deplu AS bersikap lebih hati-hati dengan sekadar menyatakan mengecam kekerasan kriminal oleh pihak mana pun. Sementara itu, Pemimpin Redaksi Eksekutif The Washington Post Matt Murray menyatakan kemarahan lembaganya dan mendesak otoritas Israel mengusut lebih dari selusin orang yang terlibat.

2. Kronologi penyerangan saat liputan panen zaitun

ilustrasi kamera (unsplash.com/D Yang)

Insiden bermula saat Heidi Levine mendokumentasikan aksi sekelompok pemukim bertopeng yang memukuli petani Palestina di kebun zaitun. Kendati mengenakan rompi pers khusus yang menandai profesinya, dia dipukul hingga tersungkur ke tanah oleh para penyerang. Menurut keterangan para saksi mata yang dilaporkan TRT World, para pemukim memukulinya secara brutal lalu merampas paspor, telepon genggam, dompet, serta perlengkapan kamera miliknya.

Levine mengungkapkan bahwa dirinya dihujani tendangan berkali-kali, bahkan para penyerang sempat memaksanya bangkit berdiri lalu menendangnya kembali. Mengutip keterangannya kepada para wartawan yang dilansir The New Arab, dia mengatakan, "Mereka terus menendang dan menendangku, mungkin sekitar 50 kali". Dia menambahkan bahwa rompi antipeluru (flak jacket) dan helm yang dipakainya menjadi faktor penting yang mencegah serangan itu berakibat fatal, sebelum warga Palestina tiba untuk menolongnya.

3. Kondisi medis korban dan bantahan Benjamin Netanyahu

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (UK Government, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Akibat penganiayaan tersebut, Levine dilarikan ke fasilitas medis karena menderita patah tulang rusuk, empat ruas tulang belakang patah, luka tusuk, lebam akibat pemukulan, serta cedera parah pada jarinya. Pejabat rumah sakit pada Sabtu (17/10/2026) mengonfirmasi bahwa korban masih dirawat dalam kondisi sedang dengan fraktur tulang belakang, setelah sebelumnya dijadwalkan menjalani operasi pada Sabtu pagi. Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mengecam pembiaran akuntabilitas hukum oleh Israel yang dinilai kian memicu serangan terhadap para jurnalis di Tepi Barat.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru berupaya menebar keraguan atas kejadian tersebut dengan menyatakan peristiwanya belum jelas dan masih dalam penyelidikan. Menjelang pemilihan umum parlemen pada 27 Oktober 2026, Netanyahu berdalih penyerangan itu bisa saja direkayasa atau dilakukan oleh warga Palestina maupun aktivis sayap kiri jauh. Dia menegaskan penolakan terhadap pemanfaatan insiden yang masih diperdebatkan tersebut untuk memojokkan ratusan ribu warga Yahudi di Yudea dan Samaria.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article