China Desak Israel Hentikan Pembangunan Permukiman di Tepi Barat

- Menlu China Wang Yi mendesak Israel menghentikan dan membatalkan pembangunan permukiman paksa di Tepi Barat, serta menegaskan dukungan Beijing terhadap solusi dua negara.
- China meminta akses penuh ke Gaza untuk mencegah bencana kemanusiaan dan siap mendorong pihak bertikai kembali berunding; Herzog menyebut pembicaraan juga membahas keamanan Israel.
- Gencatan senjata sejak Oktober 2025 belum menghentikan serangan harian di Gaza; sedikitnya 74.000 warga Palestina, termasuk 21.000 anak, tewas dalam tiga tahun serangan Israel.
Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri (Menlu) China, Wang Yi, mendesak Israel menghentikan dan membatalkan pembangunan permukiman secara paksa di Tepi Barat yang diduduki. Pernyataan tersebut disampaikan kepada Presiden Israel Isaac Herzog dalam pertemuan di sela-sela konferensi di Azerbaijan pada 15 Oktober 2026, menurut Kementerian Luar Negeri China pada Jumat (16/10/2026).
"Masalah Palestina adalah ketidakadilan sejarah terbesar abad ini," ujar Wang, seraya menegaskan bahwa mendorong perdamaian dan rekonsiliasi merupakan landasan kebijakan China di Timur Tengah, dilansir The Straits Times.
1. Rekam jejak diplomasi China di Timur Tengah

Ilustrasi bendera China. (unsplash.com/CARLOS DE SOUZA) Beijing juga menilai solusi dua negara sebagai jalan menuju penyelesaian konflik Palestina-Israel. Menurut Wang, prioritas mendesak saat ini adalah membuka akses penuh ke Jalur Gaza untuk mencegah meluasnya bencana kemanusiaan.
China menyatakan kesediannya bekerja sama dengan komunitas internasional, guna mendorong pihak-pihak yang bertikai kembali ke meja perundingan dan mencari penyelesaian konflik. Beijing telah lama mendukung perjuangan Palestina sekaligus mempertahankan hubungan dekat dengan Iran, salah satu rival utama Tel Aviv di kawasan.
China sebelumnya berupaya memainkan peran diplomatik dalam konflik regional. Pada 2023, Negeri Tirai Bambu membantu memulihkan hubungan diplomatik Iran dan Arab Saudi. Lalu, pada 2024, Beijing memfasilitasi kesepakatan antarfraksi Palestina untuk membentuk pemerintahan rekonsiliasi nasional sementara. Namun, kesepakatan antarfraksi tersebut tidak pernah diterapkan.
2. Tel Aviv sambut baik pembicaraan bilateral dengan Beijing
Menanggapi pertemuan tersebut, Herzog menginfirmasi melalui unggahan di platform X bahwa pembicaraannya dengan Wang berfokus pada hubungan bilateral dan situasi di Timur Tengah. Ia menegaskan keinginan Israel untuk mewujudkan perdamaian regional. Herzog juga menyoroti ancaman terhadap keamanan negaranya, terutama dari Iran dan kelompok-kelompok yang didukung Teheran.
Kantor Herzog tidak memberikan komentar ketika dimintai tanggapan mengenai pembahasan terkait Palestina dan permukiman di Tepi Barat. Pernyataan publik kedua pihak tersebut tidak merinci apakah pertemuan mereka menghasilkan kesepakatan konkret mengenai isu itu.
3. Serangan Israel di Gaza telah membunuh lebih dari 74.000 warga Palestina

Serangan udara dan darat Israel di wilayah Gaza, telah menghancurkan wilayah kantong tersebut sejak perang Israel-Hamas meletus pada 7 Oktober 2023. Pihaknya juga terus mengendalikan semua akses ke Gaza. (x.com/UNLazzarini) Sementara itu, situasi kemanusiaan di Gaza masih rapuh. Mereka terus hidup di bawah ancaman serangan Israel, pengungsian, dan tantangan ketahanan pangan yang terjadi secara berkala.
Dilansir BBC, gencatan senjata yang dimulai pada Oktober 2025 telah menghentikan pemboman berskala besar, tetapi serangan harian dan pembunuhan yang dilakukan oleh Israel terus berlanjut. Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas melaporkan lebih dari 1.400 warga Palestina tewas akibat serangan Israel dalam kurun waktu satu tahun terakhir setelah gencatan senjata berlaku.
Gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat merupakan tahap pertama dari kesepakatan untuk mengakhiri eskalasi konflik, yang pecah setelah meletusnya perang pada 7 Oktober 2023. Namun, perundingan untuk melanjutkan kesepakatan ke tahap berikutnya masih terhambat oleh tuduhan saling melanggar ketentuan antara Israel dan Hamas.
Tiga tahun serangan Israel telah menewaskan setidaknya 74 ribu warga Palestina, termasuk 21 ribu anak-anak. Angka tersebut sekitar 1 dari setiap 30 orang, atau 3 persen dari populasi sebelum perang. Otoritas Palestina hanya menghitung kematian yang tercatat di rumah sakit atau yang terdaftar secara resmi. Jumlah korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi karena tidak termasuk orang yang masih terkubur di bawah reruntuhan atau hilang, Al Jazeera melaporkan.






















