Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bandara Riyadh di Saudi Tutup usai Rentetan Serangan Milisi Houthi
ilustrasi bandara (pexels.com/Keegan Checks)
  • Otoritas Saudi memperpanjang penutupan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh hingga pemberitahuan lanjut untuk pemeriksaan keselamatan, setelah serangan Houthi menewaskan 14 orang dan melukai ratusan lainnya.
  • Serangan mengganggu penerbangan secara luas: pembatalan di bandara Saudi mencapai 46,4 persen, sementara sejumlah maskapai regional dan internasional menangguhkan atau membatalkan rute menuju Riyadh.
  • FAA, EASA, dan OPSGROUP memperingatkan risiko rudal serta drone di wilayah udara Saudi; eskalasi turut menekan ekonomi Saudi dan agenda bisnis besar di Riyadh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi memperpanjang penangguhan operasional Bandara Internasional King Khalid di Riyadh hingga pemberitahuan lebih lanjut usai rentetan serangan milisi Houthi Yaman. Penutupan fasilitas transportasi udara tersibuk kedua setelah Jeddah tersebut dilakukan guna menyelesaikan prosedur pemeriksaan keselamatan dan memastikan kesiapan operasional sarana bandara.

Kebijakan penghentian operasional ini menyusul serangan fatal pada akhir pekan yang menewaskan 14 orang serta melukai ratusan orang lainnya. Berdasarkan dokumen Notice to Airmen yang dirilis Senin (12/10/2026), penutupan fasilitas penerbangan di ibu kota Saudi tersebut dijadwalkan berlangsung hingga Sabtu (17/10/2026) pukul 21.00 GMT.

1. Rentetan serangan akibatkan belasan korban jiwa di Riyadh

Pesawat ERJ-170 Saudi Arabian Airlines di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh (DearEdward from New York, NY, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Serangan yang terjadi pada Sabtu (10/10/2026) menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang di Bandara Internasional King Khalid. Peristiwa mematikan ini tercatat sebagai insiden paling fatal di wilayah Saudi dalam kurun waktu lebih dari satu dekade. Serangan berikutnya terjadi pada Minggu (11/10/2026) yang menewaskan satu orang dan melukai belasan orang lainnya.

Pada Senin (12/10/2026) malam, milisi Houthi menyatakan telah menargetkan bandara di Riyadh dengan rudal balistik, sesaat setelah Saudi mengonfirmasi penghancuran satu rudal yang mengarah ke ibu kota. Kelompok milisi tersebut turut mengklaim telah meluncurkan drone ke arah pangkalan udara di Khamis Mushait, meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak Saudi. Mengutip data hitungan Anadolu, sejak 5 Oktober tercatat sebanyak lima bandara di Saudi telah dihantam 10 serangan Houthi yang menewaskan total 20 orang.

Dilansir TRT World, rangkaian gempuran ini berlangsung di tengah eskalasi militer yang terus bergulir antara Saudi dan milisi Houthi sejak Juli, termasuk serangan terhadap infrastruktur penerbangan sipil dan instalasi energi. Saudi sendiri memimpin koalisi militer sejak 2015 untuk menyokong pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Sementara itu, milisi Houthi telah menguasai ibu kota Sanaa beserta sejumlah wilayah provinsi Yaman sejak 2014.

2. Gangguan operasional picu pembatalan penerbangan global

ilustrasi menara pengawas bandara (unsplash.com/Johannes Heel)

Rentetan serangan udara tersebut mengosongkan jalur langit di atas ibu kota Saudi seiring keputusan maskapai penerbangan menghindari kawasan berisiko. Berdasarkan laporan Reuters, firma analitik penerbangan Cirium mencatat tingkat pembatalan penerbangan di seluruh bandara di wilayah Saudi mencapai 46,4 persen. Data pelacak Flightradar24 menunjukkan pesawat komersial menghindari kota Riyadh pada Senin, kendati armada udara masih melintasi ruang udara Arab Saudi untuk mendarat di hub utama Jeddah di pesisir barat negara itu.

Situasi darurat ini mendorong maskapai-maskapai di kawasan Arab membatalkan jadwal perjalanan mereka. Gulf Air asal Bahrain mengumumkan pembatalan seluruh penerbangan ke Riyadh sejak 12 hingga 17 Oktober. Qatar Airways menangguhkan layanan ke Riyadh dan Dammam untuk sementara waktu, disusul Etihad Airways yang membatalkan seluruh rute Abu Dhabi menuju Riyadh hingga Senin (19/10/2026).

Kebijakan pembatalan penerbangan menuju Riyadh diterapkan oleh Kuwait Airways, sementara EgyptAir menangguhkan sementara penerbangan dari Kairo dan Aleksandria hingga operasional dibuka kembali. Dari Eropa dan Amerika Serikat, Lufthansa Group membatalkan seluruh penerbangan ke Riyadh hingga 16 Oktober, Air France-KLM memperpanjang penangguhan penerbangan hingga akhir bulan, dan Delta Air Lines menunda peluncuran jadwal Atlanta-Riyadh sampai Maret 2027. Gangguan besar ini kian memperberat industri penerbangan yang tengah tertekan oleh kenaikan harga bahan bakar jet dan ketegangan geopolitik.

3. Peringatan keselamatan udara dan tekanan terhadap ekonomi

ilustrasi pilot dan co-pilot pesawat (pexels.com/Caleb Woods)

Otoritas Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) telah mengimbau maskapai mereka untuk berhati-hati saat terbang menuju atau melintasi wilayah udara Saudi. Badan keselamatan penerbangan Uni Eropa EASA memperluas peringatan ruang udara menyusul maraknya bahaya rudal dan drone. Organisasi penasihat keselamatan OPSGROUP turut menyarankan maskapai internasional menghindari koridor selatan Timur Tengah dan mengalihkan penerbangan rute Eropa ke Asia melalui Asia Tengah.

Pendiri OPSGROUP Mark Zee menilai rentetan serangan intensif terhadap fasilitas penerbangan sipil ini sebagai peristiwa luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya. "Tingkat serangan intens yang berkelanjutan terhadap penerbangan sipil ini belum pernah terjadi sebelumnya," kata Zee. Dia menilai kondisi berisiko saat ini menuntut industri untuk meninjau ulang gambaran ancaman serta melangkah dengan penuh kehati-hatian. Analis penerbangan John Strickland turut menyampaikan, "Dampaknya meluas melampaui Saudi ke kawasan yang lebih luas dan koneksi globalnya".

Meningkatnya ketegangan ini menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak perekonomian yang lebih luas. Produk domestik bruto riil Saudi sendiri diproyeksikan terkontraksi 3,6 persen pada tahun ini akibat kombinasi sejumlah faktor, termasuk penurunan aktivitas minyak. Serangan ini juga menekan agenda bisnis besar di Riyadh pada bulan ini, termasuk konferensi investasi unggulan serta Kongres Energi WPC yang kehilangan beberapa eksekutif puncak minyak dari susunan acaranya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article