Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Benarkah Arab Saudi Dorong Trump untuk Serang Iran? Ini Faktanya
Presiden Donald Trump berpartisipasi dalam pertemuan bilateral dengan Putra Mahkota dan Perdana Menteri Mohammed bin Salman Al Saud dari Arab Saudi, Selasa, 18 November 2025. (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Laporan media menyebut Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, sempat berkomunikasi langsung dengan Donald Trump sebelum keputusan serangan AS terhadap Iran diambil.
  • Pemerintah Arab Saudi membantah keras tuduhan tersebut dan menegaskan tidak pernah melobi Washington untuk menyerang Iran, melainkan fokus pada stabilitas serta solusi diplomatik kawasan.
  • Perbedaan narasi ini memperlihatkan kompleksitas komunikasi politik internasional di balik ketegangan AS–Iran yang kini memicu eskalasi militer dan perubahan dinamika geopolitik Timur Tengah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali jadi sorotan setelah muncul laporan bahwa sekutu Washington di Timur Tengah ikut berperan di balik keputusan serangan militer. Nama Arab Saudi terseret dalam isu tersebut.

Namun, muncul dua versi berbeda: satu menyebut ada dorongan langsung ke Gedung Putih dari Arab Saudi, sementara versi lain membantahnya mentah-mentah. Seperti apa penjelasannya?

1. Mohammed bin Salman disebut hubungi Trump sebelum serangan terjadi

Setibanya di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada 13 Mei 2025, Presiden AS Donald Trump tampak berbincang dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed Bin Salman Al Saud. (Foto Resmi Gedung Putih oleh Daniel Torok, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Media Muna Bulletin yang mengutip laporan The Washington Post menyebut Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), melakukan beberapa komunikasi langsung dengan Presiden AS saat itu, Donald Trump, menjelang keputusan serangan terhadap Iran.

Dalam laporan tersebut, MBS disebut menyampaikan kekhawatiran terhadap pengaruh dan ancaman Iran di kawasan. Meski secara publik Riyadh berbicara soal pentingnya diplomasi, komunikasi pribadi itu dikabarkan berisi dorongan agar Washington mengambil langkah lebih tegas.

Laporan yang sama juga menyinggung peran Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang selama ini dikenal konsisten mendesak pendekatan keras terhadap Teheran.

2. Bantahan resmi: Arab Saudi klaim tak pernah melobi

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman Al Saud. (commons.wikimedia.org)

Berbeda dengan laporan tersebut, media resmi Arab Saudi, Saudi Gazette, memuat pernyataan tegas dari perwakilan Saudi di Washington yang membantah klaim adanya lobi untuk menyerang Iran.

Dalam bantahannya, disebutkan bahwa Arab Saudi tidak pernah mendorong AS untuk mengambil tindakan militer terhadap Teheran. Riyadh justru menegaskan komitmennya pada stabilitas kawasan dan solusi diplomatik. Mereka juga menyatakan hubungan dengan Washington tetap berfokus pada upaya mencapai kesepakatan yang kredibel dengan Iran.

3. Lobi diam-diam atau hanya spekulasi politik?

Pangeran Muhammad bin Salman (Twitter.com/واس الأخبار الملكية)

Perbedaan dua narasi ini menunjukkan satu hal: dalam politik internasional, komunikasi di balik layar sering kali lebih kompleks dibanding pernyataan resmi di depan publik. Percakapan antar pemimpin negara bisa saja terjadi tanpa pernah diumumkan secara terbuka.

Di sisi lain, bantahan resmi juga bagian dari strategi diplomatik untuk menjaga posisi dan stabilitas kawasan. Tanpa dokumen terbuka atau konfirmasi langsung dari para pemimpin yang terlibat, publik hanya bisa membaca dari potongan informasi yang beredar.

Konflik antara AS–Israel dan Iran terus berkembang, dengan serangan besar-besaran yang dilakukan oleh koalisi militer di Tehran dan kota-kota lain sebagai respons terhadap ancaman yang dinilai oleh Washington dan sekutunya. Iran juga telah melancarkan serangan balasan ke pangkalan dan wilayah di beberapa negara Teluk, termasuk insiden ledakan di Riyadh yang terdengar di ibu kota. Selain itu, perang ini menyebabkan korban pertama dari militer AS dan keterlibatan lebih luas negara-negara teluk dalam konflik, yang berpotensi mengubah dinamika geopolitik kawasan secara signifikan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team